
Wiraksara melihat Kakek Kwan berjalan sempoyongan mendatangi
Wan Ling sambil membawa botol arak, tampaknya dia sedang mabuk berat .
Bagiamana Kakek Kwan bisa tahu banyak tentang wanita itu? Jangan-jangan
wanita itu memakai susuk atau ajian Malih Rupa seperti yang digunakan Calon
Arang jika sedang menjebak korbannya, batin Wiraksara.
Sementara itu Kakek Kwan kini telah berada dekat dengan Wan
Ling.
“Wan Ling, apa gunanya benda itu bagimu? Apa kau masih
kurang dengan kehidupanmu yang damai di gunung Kunlun? Sudahlah, mengharapkan
permata Api itu hanya akan membuat kacau dunia saja, Kau tak akan pernah tahu
akibat yang ditimbulkan jika ke 4 permata elemen itu bersatu.”
“Kwan Hai San pemabuk tua,lebih baik kau tidak usah ikut campur urusanku!” Bentak
Wan Ling.
“Tapi hal ini urusanku jika kau telah mencelakai temanku
dengan racunmu, cepat berikan penawar racun Penghancur Sukma itu kalau tidak
aku akan memaksamu memberikannya padanya!”
Tangan pemabuk tua itu bergerak menyambar wajah Wan Ling.
Wanita itu menghindar tubuhnya bergeser ke samping. Kembali Kakek Kwan
menyerang Wan Ling, dalam pandangan Wiraksara, kakek Kwan memang tampak mabuk
namun gerakannya ketika menyerang Wan Ling tampak terarah dan terkoordinasi
dengan baik.
Kakek Kwan terus bergerak nenyerang Wan Ling, kini wanita
itu tampak kewalahan menangkis gerakan tangan Kakek Kwan yang bergerak cepat
berusaha menyerang wajah Wan Ling. Selagi Kakek Kwan bertarung dengan Wan Ling
dan para pengikutnya, Wiraksara segera masuk kamar melihat keadaan Maheen.
Terlihat wajah Maheen perlahan mulai membiru. Terkesiap Wiraksara melihat
keadaan Maheen, baginya keselamatan Maheen lebih penting daripada Permata Api
itu. Dia berpikir sejenak lalu mengambil buntelan permata api yang
disembunyikan Maheen di atas kayu blandar kamar.
Tubuh Wiraksara melayang mengambil buntelan permata di atas
blandar, setelah di dapat ditimangnya buntelan itu lalu bergumam
“Persetan dengan permata ini, nyawa Maheen lebih berharga
daripada apapun.”
Wiraksara membawa bungkusan permata itu keluar kamar, di
luar kamar terlihat kakek Kwan sedang melawan Wanling dan para pengikutnya. Wiraksara maju masuk gelanggang lalu berseru
“Nona Wan, berikan penawarnya pada kami setelah itu kami
akan memberikan permata api ini kepadamu. Bagiku nyawa Maheen jauh lebih
berharga daripada permata ini!”
Kakek Kwan dan Wan Ling tampak terkejut mendengar pernyataan
Wiraksara.
“Kau gila Sala, berbahaya jika permata itu sampai jatuh ke
__ADS_1
tangan yang salah!” Seru kakek Kwan.
“Tidak, nyawa Maheen jauh lebih penting, sekarang berikan
penawar racun itu dan aku akan memberikan permata ini kepada kalian!” Seru
Wiraksara sambil mengangkat buntelan berisi Permata Api.
Mata Wan Ling langsung melotot ketika melihat buntelan
permata api di tangan Wiraksara.
“Cepat berikan kepadaku, setelah itu aku akan berikan
penawar ini,” kata Wan Ling.
“Aku tidak sebodoh itu Nona, jika permata ini kuberikan
kepadamu, kau akan ingkar janji dan tidak memberikan penawar racun itu!” Seru
Wiraksara.
“Baiklah, tetapi aku ingin melihat dulu seperti apa permata
api itu. Apakah permata itu permata tulen atau permata palsu!”
Wiraksara membuka kain buntelan, di dalamnya ada sebuah
kitak. Wiraksara membuka kotak dan mengeluarkan isinya. Tampaklah sebutir
permata berwarna merah kekuningan sebesar telur ayam kampung. Semua orang yang
ada di situ berseru kagum melihat permata api di tangan Wiraksara.
“Permata itu ternyata besar dan bersinar
“Inilah permata api itu, sekarang berikan dulu penawarnya,
jika tidak aku tidak akan memberikannya kepadamu!” Ancam Wiraksara.
Wajah Wan Ling tampak meragu, tetapi sejurus kemudian dia
“Ini penawarnya,mendekatlah kemari ke tengah gelanggang, sekarang kita akan saling bertukar barang!”
perintah Wan ling.
Wiraksara dan Wan Ling bergerak mendekat ke tengah gelanggang,
setelah itu Wiraksara mengulurkan kotak permata sementara Wanling mengulurkan
guci kecil berisi obat. Tangan Wiraksara segera menyambar guci kecil itu
sementara tangan Wan Ling segera menyambar kotak permata itu. Setelah itu mereka bersama-sama melompat
mundur.
Wiraksara segera memberikan penawar racun itu kepada Maheen,
dengan berdebar Wiraksara menunggu hasilnya. Namun wajah Maheen masih juga belum berubah,
terkesiap Wiraksara melihat peristiwa itu.
“Ternyata satu pil saja tidak cukup kuat untuk mengusir racun itu,
dasar perempuan iblis, dia memberi racun dengan takaran ngawur,” gumam
Wiraksara.
Dia mengambil lagi 2 butir pil dari guci lalu langsung
diberikan kepada Maheen. Ditunggunya reaksi obatnya, ternyata setelah diberikan
dosis yang lebih kuat, wajah Maheen mulai menampakan perubahan. Perlahan rona
biru di wajahnya semakin menipis, setelah itu lama-kelamaan warna biru di
wajahnya semakin menghilang, Wiraksara
menghela nafas lega.
Sementara itu Wan Ling tertawa puas setelah melihat permata
__ADS_1
api di tangannya.
“Kita pergi sekarang!” Ajak Wan Ling pada para anak buahnya.
Setelah Wan Ling dan anak buahnya pergi Kakek Kwan segera
masuk ke kamar Maheen dan bertanya dengan cemas
“Sala, bagaimana keadaannya?”
“Setelah kuberi obat penawar racun, rona biru di wajah
Maheen mulai menghilang. Perempuan itu ternyata benar-benar memberikan obatnya,”
kata Wiraksara.
Kakek Kwan memeriksa nadi Maheen setelah itui berkata
“Dudukan dia, aku akan mengeluarkan sebagian racun yang
masih ada di tubuhnya.”
Wiraksara membantu mendudukan Maheen setelah itu Kakek Kwan
menempelkan tangan di punggung Maheen. Beberapa saat kemudian peluh sebesar
biji kedelai mulai membasahi wajah dan tubuh Kakek Kwan, demikian pulan dengan
Maheen, wajah dan tubuhnya mulai berkeringat. Tiba-tiba Maheen terbatuk keras.
“Cepat ambilkan tempolong, racun yang bersarang di tubuhnya
akan dikeluarkan!” Perintah Kakek Kwan.
Wiraksara segera mengambil tempolong ludah di sudut kamar
lalu mendekatkannya ke wajah Maheen.
“Uhuuuk uhuuuk….!” Terdengar Maheen kembali terbatuk.
Tak lama kemudian Maheen memuntahkan darah hitam yang cukup
banyak. Setelah itu tubuh Maheen tumbang ke ranjang.
“Racunnya sudah mulai hilang, tetapi di tubuhnya masih ada
sisa-sisa racun. Obat ini harus diminum rutin setelah seminggu beristirahat
barulah dia akan sembuh,” kata Kakek Kwan.
Wiraksara bernafas lega, Maheen sudah melewati masa
kritisnya. Wiraksara dan kakek Kwan keluar kamar saat itu tiba-tiba Kakek Kwan
bertanya
“Permata api itu akhirnya kau berikan kepada Wan Ling?”
“Ya, bagiku nyawa manusia lebih penting daripada benda
berharga yang ada di dunia ini. Jadi aku berikan saja permata api itu kepada
Nona Wan,” jawab Wiraksara.
Kakek Kwan menghela nafas getun
“Permata 4 elemen bumi itu jika bersatu akan menghasilkan
kekuatan yang dahsyat dan dapat menghancurkan apapun yang ada di bumi. Aku kuatir Wanling memiliki permata dari
elemen yang lain, mungkinkah permata air itu ada padanya?”
Wiraksara tampak terkejut mendengar pernyataan Kakek Kwan
lalu bertanya dengan nada heran
“Permata air? Menurut cerita Tuan Tamaz sebelum meninggal,
permata itu sudah jatuh ke laut sewaktu banjir besar. Jadi tidak mungkin jika
sekte Nona Wan memiliki permata Air.”
__ADS_1