KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Racun Wan Ling


__ADS_3

Wiraksara melihat Kakek Kwan berjalan sempoyongan mendatangi


Wan Ling sambil membawa botol arak, tampaknya dia sedang mabuk berat .


Bagiamana Kakek Kwan bisa tahu banyak tentang wanita itu? Jangan-jangan


wanita itu memakai susuk atau ajian Malih Rupa seperti yang digunakan Calon


Arang jika sedang menjebak korbannya, batin Wiraksara.


Sementara itu Kakek Kwan kini telah berada dekat dengan Wan


Ling.


“Wan Ling, apa gunanya benda itu bagimu? Apa kau masih


kurang dengan kehidupanmu yang damai di gunung Kunlun? Sudahlah, mengharapkan


permata Api itu hanya akan membuat kacau dunia saja, Kau tak akan pernah tahu


akibat yang ditimbulkan jika ke 4 permata elemen itu bersatu.”


“Kwan Hai San pemabuk tua,lebih baik  kau tidak usah ikut campur urusanku!” Bentak


Wan Ling.


“Tapi hal ini urusanku jika kau telah mencelakai temanku


dengan racunmu, cepat berikan penawar racun Penghancur Sukma itu kalau tidak


aku akan memaksamu memberikannya padanya!”


Tangan pemabuk tua itu bergerak menyambar wajah Wan Ling.


Wanita itu menghindar tubuhnya bergeser ke samping. Kembali Kakek Kwan


menyerang Wan Ling, dalam pandangan Wiraksara, kakek Kwan memang tampak mabuk


namun gerakannya ketika menyerang Wan Ling tampak terarah dan terkoordinasi


dengan baik.


Kakek Kwan terus bergerak nenyerang Wan Ling, kini wanita


itu tampak kewalahan menangkis gerakan tangan Kakek Kwan yang bergerak cepat


berusaha menyerang wajah Wan Ling. Selagi Kakek Kwan bertarung dengan Wan Ling


dan para pengikutnya, Wiraksara segera masuk kamar melihat keadaan Maheen.


Terlihat wajah Maheen perlahan mulai membiru. Terkesiap Wiraksara melihat


keadaan Maheen, baginya keselamatan Maheen lebih penting daripada Permata Api


itu. Dia berpikir sejenak lalu mengambil buntelan permata api yang


disembunyikan Maheen di atas kayu blandar kamar.


Tubuh Wiraksara melayang mengambil buntelan permata di atas


blandar, setelah di dapat ditimangnya buntelan itu lalu bergumam


“Persetan dengan permata ini, nyawa Maheen lebih berharga


daripada apapun.”


Wiraksara membawa bungkusan permata itu keluar kamar, di


luar kamar terlihat kakek Kwan sedang melawan  Wanling dan para pengikutnya. Wiraksara maju  masuk gelanggang lalu berseru


“Nona Wan, berikan penawarnya pada kami setelah itu kami


akan memberikan permata api ini kepadamu. Bagiku nyawa Maheen jauh lebih


berharga daripada permata ini!”


Kakek Kwan dan Wan Ling tampak terkejut mendengar pernyataan


Wiraksara.


“Kau gila Sala, berbahaya jika permata itu sampai jatuh ke

__ADS_1


tangan yang salah!” Seru kakek Kwan.


“Tidak, nyawa Maheen jauh lebih penting, sekarang berikan


penawar racun itu dan aku akan memberikan permata ini kepada kalian!” Seru


Wiraksara sambil mengangkat buntelan berisi Permata Api.


Mata Wan Ling langsung melotot ketika melihat buntelan


permata api di tangan Wiraksara.


“Cepat berikan kepadaku, setelah itu aku akan berikan


penawar ini,” kata Wan Ling.


“Aku tidak sebodoh itu Nona, jika permata ini kuberikan


kepadamu, kau akan ingkar janji dan tidak memberikan penawar racun itu!” Seru


Wiraksara.


“Baiklah, tetapi aku ingin melihat dulu seperti apa permata


api itu. Apakah permata itu permata tulen atau permata palsu!”


Wiraksara membuka kain buntelan, di dalamnya ada sebuah


kitak. Wiraksara membuka kotak dan mengeluarkan isinya. Tampaklah sebutir


permata berwarna merah kekuningan sebesar telur ayam kampung. Semua orang yang


ada di situ berseru kagum melihat permata api di tangan Wiraksara.


“Permata itu ternyata besar dan bersinar


“Inilah permata api itu, sekarang berikan dulu penawarnya,


jika tidak aku tidak akan memberikannya kepadamu!” Ancam Wiraksara.


Wajah Wan Ling tampak meragu, tetapi sejurus kemudian dia


“Ini penawarnya,mendekatlah kemari ke tengah gelanggang,  sekarang kita akan saling bertukar barang!”


perintah Wan ling.


Wiraksara dan Wan Ling  bergerak mendekat ke tengah gelanggang,


setelah itu Wiraksara mengulurkan kotak permata sementara Wanling mengulurkan


guci kecil berisi obat. Tangan Wiraksara segera menyambar guci kecil itu


sementara tangan Wan Ling segera menyambar kotak permata itu.  Setelah itu mereka bersama-sama melompat


mundur.


Wiraksara segera memberikan penawar racun itu kepada Maheen,


dengan berdebar Wiraksara menunggu hasilnya.  Namun wajah Maheen masih juga belum berubah,


terkesiap Wiraksara melihat peristiwa itu.


“Ternyata satu pil saja  tidak cukup kuat untuk mengusir racun itu,


dasar perempuan iblis, dia memberi racun dengan takaran ngawur,” gumam


Wiraksara.


Dia mengambil lagi 2 butir pil dari guci lalu langsung


diberikan kepada Maheen. Ditunggunya reaksi obatnya, ternyata setelah diberikan


dosis yang lebih kuat, wajah Maheen mulai menampakan perubahan. Perlahan rona


biru di wajahnya semakin menipis, setelah itu lama-kelamaan warna biru di


wajahnya semakin menghilang,  Wiraksara


menghela nafas lega.


Sementara itu Wan Ling tertawa puas setelah melihat permata

__ADS_1


api di tangannya.


“Kita pergi sekarang!” Ajak Wan Ling pada para anak buahnya.


Setelah Wan Ling dan anak buahnya pergi Kakek Kwan segera


masuk ke kamar Maheen dan bertanya dengan cemas


“Sala, bagaimana keadaannya?”


“Setelah kuberi obat penawar racun, rona biru di wajah


Maheen mulai menghilang. Perempuan itu ternyata benar-benar memberikan obatnya,”


kata Wiraksara.


Kakek Kwan memeriksa nadi Maheen setelah itui berkata


“Dudukan dia, aku akan mengeluarkan sebagian racun yang


masih ada di tubuhnya.”


Wiraksara membantu mendudukan Maheen setelah itu Kakek Kwan


menempelkan tangan di punggung Maheen. Beberapa saat kemudian peluh sebesar


biji kedelai mulai membasahi wajah dan tubuh Kakek Kwan, demikian pulan dengan


Maheen, wajah dan tubuhnya mulai berkeringat. Tiba-tiba Maheen terbatuk keras.


“Cepat ambilkan tempolong, racun yang bersarang di tubuhnya


akan dikeluarkan!” Perintah Kakek Kwan.


Wiraksara segera mengambil tempolong ludah di sudut kamar


lalu mendekatkannya ke wajah Maheen.


“Uhuuuk uhuuuk….!” Terdengar Maheen kembali terbatuk.


Tak lama kemudian Maheen memuntahkan darah hitam yang cukup


banyak. Setelah itu tubuh Maheen tumbang ke ranjang.


“Racunnya sudah mulai hilang, tetapi di tubuhnya masih ada


sisa-sisa racun. Obat ini harus diminum rutin setelah seminggu beristirahat


barulah dia akan sembuh,” kata Kakek Kwan.


Wiraksara bernafas lega, Maheen sudah melewati masa


kritisnya. Wiraksara dan kakek Kwan keluar kamar saat itu tiba-tiba Kakek Kwan


bertanya


“Permata api itu akhirnya kau berikan kepada Wan Ling?”


“Ya, bagiku nyawa manusia lebih penting daripada benda


berharga yang ada di dunia ini. Jadi aku berikan saja permata api itu kepada


Nona Wan,” jawab Wiraksara.


Kakek Kwan menghela nafas getun


“Permata 4 elemen bumi itu jika bersatu akan menghasilkan


kekuatan yang dahsyat dan dapat menghancurkan apapun yang ada di bumi.  Aku kuatir Wanling memiliki permata dari


elemen yang lain, mungkinkah permata air itu ada padanya?”


Wiraksara tampak terkejut mendengar pernyataan Kakek Kwan


lalu bertanya dengan nada heran


“Permata air? Menurut cerita Tuan Tamaz sebelum meninggal,


permata itu sudah jatuh ke laut sewaktu banjir besar. Jadi tidak mungkin jika


sekte Nona Wan memiliki permata Air.”

__ADS_1


__ADS_2