
“Aneh sekali,
seharusnya dalam cuaca ekstrim seperti ini aku sudah tidak kuat menahan dingin,
tetap mengapa sekarang aku justru kepanasan dan tak merasakan kedinginan sama
sekali?” Gumamnya dengan heran.
Wiraksara membuka baju atasnya, tetap masih saja dia
merasakan panas di badannya. Dia keluar rumah dan berdiri di tengah halaman. Di
halaman istana dilihatnya salju mulai turun pelahan menutupi halaman dan
tanaman yang sudah rontok daunnya.
Indahnya, halamannya seperti ditutupi kapuk, sepertinya aku
lebih nyaman berada di sini, hawanya tidak terlalu panas, pikir Wiraksara.
Wiraksara duduk di depan rumah dengan santainya tanpa
merasakan kedinginan, bahkan kemudian dia berjalan ke halaman menikmati hujan
salju sambil tertawa dan melompat-lompat seperti anak kecil.
Sebaiknya aku melatih jurus jurus ajian Maha Aji itu di
sini, batin Wiraksara.
Pemuda itu berdiri di tengah halaman lalu memulai
latihannya. Wiraksara mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengendalikan energi Maha
Aji di dalam tubuhnya. Tetapi dia masih kesulitan mengendalikan tenaga dalamnya
yang kekuatannya luar biasa. Hawa panas segera menerjang ke seluruh tubuhnya, Wiraksara
merasakan panas yang tak tertahankan di dalam tubuhnya terutama di bagian punggungnya,
energinya ingin keluar tetapi tidak bisa ada sesuatu yang menghalanginya.
Tersiksa dengan rasa panas yang menyiksa tubuhnya, akhirnya
dia membaringkan tubuhnya di atas salju. Wiraksara merasa lega, perlahan suhu tubuhnya sudah mulai mendingin
karena dinginnya salju.
Cukup lama Wiraksara berbaring di atas salju sampai sajunya
mencair sehingga dia harus berpindah tempat lagi. Dicarinya tempat yang
bersalju sedikit tebal. Lalu tidur di atasmya. Salju yang dingin itu kini
bagaikan kasur bagi Wiraksara. Dia dapat berguling, tengkurap dan berbaring
dengan leluasa di atasnya. Hawa dingin dari salju sangat membantu bagi Wiraksara,
tubuhnya mulai terasa nyaman dan tidak sepanas tadi.
Ketika Wiraksara tengah menikmati tidurnya di atas salju,
tiba-tiba angin dingin bertiup dan datanglah sosok berbaju putih yang mirip
dirinya memandanginya yang sedang tiduran di atas salju.
Wiraksara menoleh terkejut
“Guru, apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa
sampai di China?”
Sengkala hanya tersenyum dan berkata
“Ngger, Jarak dan waktu tempuh bukanlah masalah bagiku. Aku
bisa berada di semua tempat yang aku mau. Dimanapun kau berada aku tetap dapat
menyusulmu.”
“Aku masih tidak dapat mengendalikan energinya Guru. Kalau
dengan sengaja aku menggunakan ajian ini, energi itu muncul tak terkendali
dalam tubuhku. Tetapi jika aku dalam keadaan terdesak, aku dapat mengendalikan
energi itu. Huh, kenapa aku begitu bodoh dalam hal ini,” sesal Wiraksara.
“Jangan berputus asa, kau masih harus banyak belajar.
__ADS_1
Cobalah setiap hari belajar berlatih mengedarkan hawa murni di dalam tubuh lalu
mengalirkannya ke tempat-tempat yang kau mau,” kata Sengkala.
“Sebenarnya aku lebih suka jika kau mengajariku ilmu mu yang
bisa bepergian dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah. Aku ingin pulang
ke Jawa tetapi mereka menahanku di sini sebagai jaminan Hutang. Orang-orang di
sini semua gila, nyawa para abdinya seolah tidak berharga. Hanya satu kesalahan
kecil saja Abdi itu kepalanya akan melayang. Pangeran Gaoxu memperlakukanku
dengan tidak semestinya. Hampir setiap hari dia memukuliku,” ujar Wiraksara
Sengkala memandangnya dengan pandangan prihatin
“Aku tahu, aku juga berada di sana mendampingimu,” kata
Gurunya,
Wiraksara terkejut dan menoleh ke arah gurunya
“Kau mendampingiku? Bagaimana caranya?”
“Kau ingat ketika Gaoxu menggunakan tubuhmu sebagai sasaran
panah? Aku memberimu aba-aba untuk bergeser menghindari panah-panah itu. Lalu
ketika kau melawan Zuyi aku membantumu menyerang Zu yi,” jawab Sengkala.
“Bagaimana kau bisa tahu dimanapun akau berada?”
“Tentu saja Ngger, aku berada di dalam pedang itu, sedangkan
pedang itu ada padamu. Selama tubuhmu masih kuat aku akan terus bersamamu,”
kata Sengkala.
Tiba-tiba dari pintu rumah muncul Tie Shi yang terkejut
melihat Wiraksara sedang berbaring di tanah
“Wiraksara, apa yang terjadi? Mengapa kau tidur di salju?
Nanti sakit badanmu kedinginan,” ujarnya dengan cemas.
Tidak apa-apa, aku merasa badanku sangat panas lalu aku
tidur di sini,’ jawab Wiraksara
Tie Shi tertegun mendengar kata-kata Wiraksara.
Dia berasal dari daerah panas, bagaimana mungkin dia bisa tidur
di salju yang dingin seperti ini, ada yang aneh dengan anak ini,” batin Tie Shi
“Sala, tadi aku mendengar kau bercakap-cakap dengan bahasa
yang tidak kuketahui dengan seseorang. Apakah temanmu dari Jawa kemari
mengunjungimu?” tanya Tie Shi
Wiraksara terkejut mendengar pertanyaan itu
Dia tidak boleh tahu tentang kehadiran Sengkala, batin Wiraksara
‘Ehm aku hanya mengigau saja, mungkin karena aku merindukan
kampung halamanku. Kurasa pendinginan ini sudah cukup aku mau tidur di dalam
saja,” ujar Wiraksara sambil bangkit dari tidurnya
“Sala, apa yang membuatmu begitu ingin tidur di salju?
Terlalu lama berada di udara dingin akan membuat jaringan kulitmu mati. Bahkan
kau dapat mematahkan jari tanganmu tanpa terasa sakit jika udara dingin ini
sudah melampaui batas. Kau bukan bangsa yang berasal dari negeri 4 musim, sebaiknya
jangan kau lakukan lagi hal seperti itu, berbahaya,” ujar Tie Shi.
“Betulkah itu?” Wiraksara akhirnya merasa takut.
“Ya tentu saja Sala, kau datang dari daerah panas mana tahu
soal begini,” ujar Tie Shi.
__ADS_1
Apa sebaiknya aku mengaku saja? Ah tapi nanti dia akan
menganggapku gila. Ah, sudahlah lebih
baik aku diam, batin Wiraksara sambil berjalan kembali ke kamarnya.
Hari sudah pagi, namun langit masih tampak gelap walaupun
hari sudah menunjukan pukul 07.00. Tie Shi memasak dendeng babi, dan asinan
lobak, secawan teh sudah tersedia di meja makan.
“Ayo, kita makan dulu sebelum kerja, kalau musim dingin kita
mulai bekerja agak siang. Jam segini di luar masih gelap,” kata Tie Shi.
Sambil sarapan mereka berbincang
“Paman, jika musim dingin begini bagaimana perawatan
kudanya?”
“Kita hanya perlu memberi makan sedikit lebih banyak dari
biasanya, kita juga harus memastikan agar bulu mereka tidak sampai basah. Di
musim dingin bulu mereka tumbuh lebih panjang dan lebat. Kuda-kuda Ferghana ini
tahan dalam cuaca bersalju. Kau bahkan tetap dapat berkuda di musim salju tanpa
harus kuatir mereka akan mati kedinginan,” ujar Tie Shi.
Usai sarapan mereka kembali bekerja, walaupun salju turun
dengan lebatnya, namun mereka tetap harus bekerja dan memberi makan kuda.
Tie Shi melihat Wiraksara sama sekali tidak merasakan
dingin, Wiraksara tetap bekerja dengan semangat mengangkat jerami-jerami untuk
kuda-kuda itu. Sementara Tie Shi mulai merasakan persendiannya terasa kaku dan
sakit jika digerakan. Hal itu sering terjadi jika di musim dingin. Untuk sesaat
dia duduk bersandar di dinding kandang. Melihat Tie Shi tampak kelelahan, Wiraksara
menegurnya
“Paman, paman sakit?” Tanya Wiraksara sambil menghampiri Tie
Shi dengan cemas.
“Tidak, aku tidak apa-apa, ini biasa terjadi jika musim
dingin, biar aku istirahat sebentar nanti juga penyakitnya hilang,” ujar Tie
Shi.
“Paman tidak usah bekerja, biar aku yang menyelesaikannya,”
kata Wiraksara.
Usai bekerja, Wiraksara memapah Tie Shi sambil berjalan
pulang.
“Paman, aku gendong jalan ke rumah ya, jarak dari kandang
kuda ke rumah lumayan jauh, sedangkan Paman tidak kuat berjalan,” kata Wiraksara.
“Ha ha ha ha, belum pernah seumur hidup aku digendong orang
lain, aku si tua ini sekarang jadi tambah rewel dan merepotkan,” kata Tie Shi.
Wiraksara tahu perjalanan itu akan terasa berat baginya jika
dia masih harus menggendong Tie Shi
“Tidak apa-apa, ayo naiklah ke punggungku,” perintah Wiraksara.
“Huup,” Tie Shi naik ke punggung Wiraksara kemudian pemuda
itu membawanya pulang ke rumah mereka.
Sepanjang perjalanan Wiraksara sama sekali tidak merasakan
berat atau lelah.
Setiap kali dalam keadaan darurat kekuatan itu kembali
__ADS_1
dengan sendirinya, tetapi jika aku dengan sengaja menggunakannya, energi itu
hanya berputar seperti pusaran air, tak bisa digunakan, pikinya dalam hati.