KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Berkelana di Dimensi Lain


__ADS_3

“Ngger, kurasa sudah saatnya aku meninggalkanmu dan kaupun


harus segera pergi karena sebuah tugas besar telah menantimu. Gunakan ilmu yang


kau peroleh ini untuk kebaikan.  Ada


saatnya nanti ilmumu akan diuji dalam penderitaan dan kesengsaraan yang kau


alami. Jika kau bisa bersabar, maka kau akan memperoleh kebahagiaan dan kemuliaan


di dunia dan di akhirat. Pelajari terus dan latihlah jurus-jurus ini setiap hari. Pelajari lagi


cara-cara mengendalikan dan menggunakan kekuatan ini agar tidak membahayakan


dirimu dan orang lain,” pesan Mpu Sengkala.


“Baik Guru, aku akan melatihnya setiap hari,” jawab Wiraksara.


“Ingat ya,


jurus-jurus yang kuberikan kepadamu ini harus digunakan untuk kebaikan, jangan


dipakai untuk kejahatan. Sekarang aku pergi dulu,” kata Mpu Sengkala.


Mpu Sengkala berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Wiraksara,


tak lama kemudian tubuhnya lenyap tak berbekas.


Mendadak Wiraksara merasa tubuhnya begitu ringan bagai


kapas, setelah itu dia merasakan tubuhnya terasa melayang dan terlempar ke


dunia nyata. Kini tubuhnya kembali terbaring di di pasir pantai di bawah pohon


tempat dia pertama kali menemukan tubuh pria misterius yang penuh luka. Namun


sosok pria itu sudah tidak lagi berada di situ. Wiraksara melihat matahari


bersinar terang, sinarnya menerobos pepohonan di sekitarnya.


“Huh ternyata aku menginap di pantai, tapi kemana pria itu


pergi ya?”


Pemuda itu tiba-tiba merasa tubuhnya sangat letih dan


perutnya sangat lapar.


Hari ini pasti ibu sudah memasak Mangut Iwak Manyung


kesukaanku, aku harus segera pulang, batin Wiraksara.


Teringat masakan ibunya yang lezat, dia segera berjalan


pulang ke rumahnya ingin segera mandi dan makan kemudian tidur lagi. Setibanya


di rumah, betapa terkejutnya Wiraksara melihat pendopo rumahnya sudah dipenuhi


tamu.


Lho, kenapa rumahku jadi penuh tamu? Pikir Wiraksara.


Wiraksara melangkah masuk halaman rumah dan ketika


orang-orang itu melihat Wiraksara mereka segera menghampiri dan berteriak ribut


“Wiraksara sudah pulang, dia sudah kembali …!”


Wiraksara kebingungan melihat orang-orang itu begitu ribut


menyambutnya. Tak lama kemudian bapak ibunya keluar dari rumah. Ibunya


menyambutnya sambil menangis


“Oalaah Ngger, kemana saja kamu selama ini?”


Wiraksara yang kebingungan hanya menjawab

__ADS_1


“Ibu ada apa ini? Aku kan cuma pergi ke pantai, lagipula aku


hanya pergi semalam, kenapa sampai heboh begini?” Tanya Wiraksara.


“Huh dasar bocah mbolang, kamu itu sudah meninggalkan rumah


selama 5 hari tanpa kabar. Kupikir kamu sudah kembali bekerja di istana. Tetapi


ketika utusan Patih Gajah Lembana mencarimu kemari, aku baru sadar kamu tidak


pulang ke Wilwatikta tetapi mbolang gak jelas kemana,” kata Brajasela ayahnya dengan


marah.


“Tunggu Romo, tadi kau bilang aku pergi meninggalkan rumah


selama 5 hari? Padahal aku hanya pergi meninggalkan rumah baru semalam. Kemarin


aku pergi ke pantai di sore hari melihat matahari terbenam,” ujar Wiraksara.


“Ngger, 3 hari yang lalu kami sudah berusaha mencarimu


kemana-mana, tetapi keberadaanmu masih tetap belum di temukan. Bahkan kami sudah


ke pantai tempat tujuanmu nongkrong di sore hari. Kami sudah mencarimu di


setiap jengkal lahannya, tetapi kamu tidak ditemukan di sana.  Kami malah menemukan mayat laki-laki tak di


kenal dengan tubuh penuh luka, entah siapa yang membuang jenazahnya di situ. Hari


ini di saat kami mengadakan acara doa bersama mendoakanmu, akhirnya kamu baru


pulang. Ya sudah, kamu mandi dulu sana, nanti kita makan bersama-sama,” kata bapaknya.


Wiraksara ingin menceritakan perihal pertemuannya dengan Mpu


Sengkala dan pria yang mati dalam keadaan mengenaskan di pantai itu, namun dia


khawatir ceritanya tidak dipercaya orang tuannya atau malah justru menambah


masalah baru karena adanya korban pembunuhan. Maka dia memilih untuk diam.


“Pada hari ke2 setelah kamu pergi, seorang utusan dari Patih


Gajah Lembana kemari mencarimu. Dia mengatakan bahwa kamu ditugasi Raja pergi


ke China menghadap Kaisar Yong Le untuk meminta maaf karena telah membunuh 170


delegasi dari China. Besok kamu harus segera berangkat ke Hujung Galuh, kapalmu


sudah menunggumu di sana. Ini surat perintah tugasnya,” kata Brajasela sambil


memberikan lontar kepada Wiraksara.


Dengan enggan Wiraksara membuka lontar itu dan membaca


penugasannya.


“Baiklah Romo, besok aku segera pergi ke Hujung Galuh,” kata


Wiraksara.


Malam harinya, Wiraksara merasa gelisah tidak dapat tidur,


energi ajian Maha Aji di dalam tubuhnya membuatnya kepanasan hingga


tubuhnya berkeringat. Wiraksara mencoba mengatur kembali hawa murninya di dalam


tubuhnya untuk meredakan rasa panas di tubuhnya namun tak juga berhasil. Dia


tidak bisa mengendalikan energi dahsyat yang bergejolak di dalam tubuhnya. Wiraksara


mencoba berendam di dalam kolam pemandian di belakang rumah, namun hawa panas


itu masih saja menguasai tubuhnya bahkan air di dalam kolam itu kini menjadi


hangat.

__ADS_1


Gagal mendinginkan tubuhnya akhirnya Wiraksara memutuskan


untuk berendam di sungai. Wiraksara berangkat ke sungai di dekat rumahnya.


Malam itu suasana sungai begitu gelap, hanya terdengar desau angin dan derik


serangga malam. Angin malam yang dingin bertiup mendinginkan tubuh Wiraksara


malam itu.  Wiraksara segera menceburkan


dirinya di dalam sungai.


“Byuuur!”


“Huuh, lega, di sini sedikit lebih baik, airnya lebih dingin


dan jumlahnya lebih banyak sehingga panasnya bisa menyebar ke seluruh sungai,”


gumam Wiraksara.


Wiraksara sangat menikmati dinginnya air sungai, sekarang,


rasa panas di tubuhnya mulai berkurang. Tiba- tiba munculah sebuah sosok


laki-laki di depannya yang berwajah mirip dirinya, berpakaian serba putih dan tubuhnya


bercahaya. Sosok itu tertawa melihat tingkah Wiraksara.


“Kau ini bagaimana sudah diajari cara mengendalikan energi Maha


Aji tetapi masih saja kau belum mampu mengendalikannya. Lihat, air sungai di sekitarmu


sekarang menghangat padahal saat ini cuaca dingin,” kata sosok itu.


“Aku belum bisa mengendalikan energi yang mengalir di


tubuhku, tolong aku Guru bantu aku mengendalikan panas ini,” kata Wiraksara


dengan wajah memelas.


“Jika kau tidak bisa mengendalikannya, kau bisa berendam di


air dan mengerahkan kelebihan energi itu di telapak kaki dan tanganmu supaya


bisa berpindah panasnya ke media yang lain yaitu air tempatmu berendam,” ujar


Prabu Mpu Sengkala yang langsung lenyap dari pandangan Wiraksara usai


berbicara.


****


Pagi-pagi buta, Wiraksara sudah berangkat naik kapal menuju


Hujung Galuh, sesampainya di Hujung Galuh, hari sudah menjelang maghrib. Sebuah


kapal besar milik kerajaan Majapahit sudah berlabuh di dermaga menunggu


kedatangan Wiraksara.


Wah, ternyata mereka sudah lama menungguku. Huh, gara-gara


bertemu Mpu Sengkala aku jadi berkelana di dunia gaib selama 5 hari, batin Wiraksara.


Ketika naik ke kapal, Wiraksara melihat Gajah Lembana sudah


menunggu kedatangannya. Sang Mahapatih Majapahit itu tampak gelisah mondar-mandir


di atas di atas kapal menunggu kedatangan Wiraksara dengan gelisah.  Sudah 2 hari ini Gajah Lembana sering


mengunjungi  kapal  yang akan memberangkatkannya ke China, menunggu


kedatangan Wiraksara untuk menyampaikan pesan dari Sang Nata sekaligus


memberikan pengarahan tentang apa yang harus di lakukan ketika bertemu Kaisar


Yong Le.

__ADS_1


“Rahayu Gusti Patih,” sapa Wiraksara sambil memberi hormat


kepada Gajah Lembana.


__ADS_2