KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Pemabuk Tua Misterius


__ADS_3

Malam semakin larut, Maheen dan Wiraksara sudah terlelap


dalam tidurnya. Wiraksara sudah mulai terlelap setelah kelelahan melakukan


perjalanan, tiba-tiba muncul sosok Mpu Sengkala di hadapannya  yang membuatnya terkejut


“Ngger cepat bangunlah, temanmu dalam bahaya!”


Mpu Sengkala mendorong tubuh Wiraksara dengan tongkatnya


kuat-kuat membuat Wirkasara berteriak kesakitan


“Ampun Guru, jangan pukuli saya, badanku sakit semua,


baiklah saya akan segera pergi!”


Mendadak mata Wiraksara terbuka, telinganya menangkap bunyi  debu pasir bergerak di atas genting dan suara


kelebatan baju yang tertiup angin.


Ada penyusup, pasti mereka adalah orang-orang Mehrak yang


mengincar permata itu.  Maheen dalam


bahaya, aku harus membangunkannya, pikir Wiraksara.


Dia keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Maheen.


Rupanya Maheen juga masih belum tidur, mendengar ketukan di kamarnya Maheen


segera membukakan pintu. Ketika pintu di buka Wiraksara langsung memberi tanda


agar Maheen tidak bersuara.


“Ssst…ada orang di atas genting, pasti mereka orang-orang


Mehrak yang mengincar permata Api. Cepat kita harus segera keluar dari sini.”


Maheen mengangguk dan mengambil buntelan permata, sedangkan


Wiraksara menata bantal dan menyelimutinya seolah –olah ada orang sedang


berbaring di ranjang lalu menutup kelambunya. Wiraksara memadamkan lilin di


kamar lalu mengajak Maheen keluar kamar.


“Kita tunggu mereka di luar kamar, aku takut mereka menggunakan


bola asap beracun seperti yang mereka lakukan pada ayahmu,” bisik Wiraksara.


Maheen dan Wiraksara bersembunyi di kerimbunan semak di


taman depan kamar sambil menunggu apa yang akan terjadi. Beberapa saat kemudian


terdengar suara orang melompat dari atap ke taman. Orang-orang itu langsung


menemukan posisi kamar Maheen dengan mudah. Membuat Wiraksara merasa aneh


Orang-orang itu begitu mudah menemukan kamar Maheen .  Mereka ternyata punya banyak mata-mata di


tempat ini atau mungkin mereka telah memaksa salah satu pelayan di tempat ini


untuk mengatakan di mana kami bermalam, batin Wiraksara.


Tak lama kemudian salah satu di antara mereka mengeluarkan


sebuah benda berbentuk bola dan membakarnya sampai berasap lalu dilemparkan ke


dalam kamar melalui jendela setelah melubangi kertas pelapis jendela.


Ah, seperti itu rupanya bola asap beracun yang melukai


Tamaz, batin Wiraksara.


Setelah menunggu beberapa saat, gerombolan itu menyerbu


masuk kamar, salah seorang di antara mereka berteriak


“Gadis itu sudah pergi, kita terkecoh!”


Pemimpin gerombolan penyusup itu hanya mendapati sebuah


ranjang kosong dengan bantal yang ditutup selimut.

__ADS_1


Sontak orang-orang yang ada di situ terkejut bercampur marah


“Sial, kita sudah ditipu mereka!”


“Barang-barang mereka masih ada di sini, pasti mereka hanya


bersembunyi di sekitar tempat ini. Geledah kamar mereka cari permatanya dan


cari mereka di sekitar tempat ini!” Perintah pemimpin gerombolan.


Maheen memeluk erat buntelan permata di dadanya, dia tak


ingin kehilangan permata itu kembali. Bagi dirinya seorang pendeta Majusi,


Permata itu adalah nyawa bagi Api Abadi yang seharusnya masih tetap menyala di


Kuil Kahyangan Api.


Tiba-tiba satu sosok berkelebat di belakang mereka,


terkesiap Maheen dan Wiraksara, orang-orang itu sudah menemukan tempat


persembunyian mereka.


“Mereka ada di taman!” Seru salah satu anggota gerombolan.


Sontak para anggota gerombolan itu mengepung Wiraksara dan


Maheen.


“Kalian tidak akan dapat lolos dari kami,” kata pemimpin


gerombolan.


Terkesiap Wiraksara dan Maheen, mereka hanya berdua sementara


ke 7 orang yang mengepungnya pastilah para pendekar Persia yang berilmu tinggi.


Wiraksara sudah mulai bersiap mengerahkan ilmu Api Suci Azura Mahda. Namun


ketegangan itu sedikit mencair ketika tiba-tiba datang seorang pria dari arah


luar menuju ke kamarnya. Pria itu tampaknya mabuk, jalannya sempoyongan, di


tidak jelas lagu apa yang dinyanyikan karena suaranya begitu sumbang dan syairnya


juga tidak jelas.


Tanpa merasa sungkan pria itu tiba-tiba masuk ke dalam


kepungan


“Hei,ada keramaian di sini, mengapa kalian tidak mengajakku


serta?”


Semua orang terkesima melihat pria itu yang dengan tenangnya


masuk ke dalam kepungan. Pria itu rambutnya kusut, bajunya kumal dan mulutnya


bau arak. Dia menoleh ke arah Wiraksara dan berkata


“Hei  anak muda mari


temani aku minum arak sambil main mahyong dan teman wanitamu itu suruhlah dia


menyanyi menghibur kita bermain mahyong.”


Wiraksara tertegun melihat kecuekan pria itu


Buseet, orang itu nyadar nggak sih kalau aku sedang dikepung


mau dibunuh? Pikir Wiraksara.


Pria itu menarik tangan Wiraksara dan memberi tanda pada Maheen


untuk mengikutinya.


“Ayo kita ke kamar main mahyong dan kau harus menyanyi untuk


kami Nona cantik.”


Wiraksara dan Maheen berpandangan, namun mereka memakluminya

__ADS_1


karena orang itu memang sedang mabuk berat. Tetapi pemimpin gerombolan mulai


gusar dan membentaknya


“Hei orang tua, minggirlah, kami masih ada urusan dengan


temanmu!”


Orangtua itu tampak kesal karena pemimpin gerombolan


menginterupsi percakapannya dengan Wiraksara.


“Ah kau ini manusia yang membosankan, ayo kalian juga ikut


main mahyong bersama kami biar ramai.”


Pemimpin gerombolan mulai tak sabar dan marah, tangannya


bergerak mendorong pria tua itu. Tetapi entah bagaimana tiba-tiba saja pria itu


sudah berpindah tempat dengan cepat di sisi pemimpin gerombolan lalu


merangkulnya dengan erat.  Pemimpin


gerombolan berusaha membebaskan dirinya namun cengkeraman pria tua itu


dirasakannya begitu kuat sehingga dia tak mampu bergerak.


“Ayo minum arak dulu biar segar dan suasana jadi lebih


hangat!”


Dengan cueknya orang tua itu mendekatkan botol arak ke mulut


pemimpin gerombolan. Dia ingin menolak, tangannya sudah bergerak hendak


menyingkirkan botol arak dari mulutnya. Namun tangannya terasa kesemutan dan


kaku tak bisa bergerak. Botol arak itu sudah dijejalkan ke dalam mulutnya,


pemimpin gerombolan mulai gelagepan karena araknya ada yang sempat tertelan.


Setelah mengumpulkan kekuatannya, baru dia bisa mendorong orang tua itu


menyingkir darinya.


“Pergi kau pemabuk tua yang bau! Singkirkan dia dariku!”


Perintah pemimpin gerombolan penyusup pada anak buahnya.


Orang-orang itu langsung bergerak menangkap pria tua itu.


“Hei  mau apa kalian


menangkapku? Ayolah kita main mahyoing saja daripada harus bermain seperti


ini,!” Ujar orangtua itu.


Tubuhnya bergerak sempoyongan menabrakan diri pada para para


pengepungnya. Anehnya setiap kali ada yang mau menangkap atau melukainya, pria


tua itu selalu saja dapat menghindarinya. Bahkan orang-orang dari gerombolan


pengacau itu banyak yang terdorong jatuh karena tabrakannya.


Dalam pandangan Wiraksara orang tua itu bergerak cepat bagai


angina walaupun gerakannya random seperti orang mabuk.


“Orang ini bukanlah orang biasa, dia adalah seorang


pendekar. Aku tak mengenalnya tetapi mengapadia bersedia menolongku? Mungkinkah


dia seorang prajurit Dongchang atau Jinyiwe, batin Wiraksara.


Saat itu orang-orang mulai ketakutan, sadarlah mereka orangtua


di hadapan mereka itu bukanlah orang biasa melainkan seorang pendekar yang


sakti. Pemimpin gerombolan membentaknya


“Siapa kau sebenarnya?!”

__ADS_1


__ADS_2