
Malam semakin larut, Maheen dan Wiraksara sudah terlelap
dalam tidurnya. Wiraksara sudah mulai terlelap setelah kelelahan melakukan
perjalanan, tiba-tiba muncul sosok Mpu Sengkala di hadapannya yang membuatnya terkejut
“Ngger cepat bangunlah, temanmu dalam bahaya!”
Mpu Sengkala mendorong tubuh Wiraksara dengan tongkatnya
kuat-kuat membuat Wirkasara berteriak kesakitan
“Ampun Guru, jangan pukuli saya, badanku sakit semua,
baiklah saya akan segera pergi!”
Mendadak mata Wiraksara terbuka, telinganya menangkap bunyi debu pasir bergerak di atas genting dan suara
kelebatan baju yang tertiup angin.
Ada penyusup, pasti mereka adalah orang-orang Mehrak yang
mengincar permata itu. Maheen dalam
bahaya, aku harus membangunkannya, pikir Wiraksara.
Dia keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Maheen.
Rupanya Maheen juga masih belum tidur, mendengar ketukan di kamarnya Maheen
segera membukakan pintu. Ketika pintu di buka Wiraksara langsung memberi tanda
agar Maheen tidak bersuara.
“Ssst…ada orang di atas genting, pasti mereka orang-orang
Mehrak yang mengincar permata Api. Cepat kita harus segera keluar dari sini.”
Maheen mengangguk dan mengambil buntelan permata, sedangkan
Wiraksara menata bantal dan menyelimutinya seolah –olah ada orang sedang
berbaring di ranjang lalu menutup kelambunya. Wiraksara memadamkan lilin di
kamar lalu mengajak Maheen keluar kamar.
“Kita tunggu mereka di luar kamar, aku takut mereka menggunakan
bola asap beracun seperti yang mereka lakukan pada ayahmu,” bisik Wiraksara.
Maheen dan Wiraksara bersembunyi di kerimbunan semak di
taman depan kamar sambil menunggu apa yang akan terjadi. Beberapa saat kemudian
terdengar suara orang melompat dari atap ke taman. Orang-orang itu langsung
menemukan posisi kamar Maheen dengan mudah. Membuat Wiraksara merasa aneh
Orang-orang itu begitu mudah menemukan kamar Maheen . Mereka ternyata punya banyak mata-mata di
tempat ini atau mungkin mereka telah memaksa salah satu pelayan di tempat ini
untuk mengatakan di mana kami bermalam, batin Wiraksara.
Tak lama kemudian salah satu di antara mereka mengeluarkan
sebuah benda berbentuk bola dan membakarnya sampai berasap lalu dilemparkan ke
dalam kamar melalui jendela setelah melubangi kertas pelapis jendela.
Ah, seperti itu rupanya bola asap beracun yang melukai
Tamaz, batin Wiraksara.
Setelah menunggu beberapa saat, gerombolan itu menyerbu
masuk kamar, salah seorang di antara mereka berteriak
“Gadis itu sudah pergi, kita terkecoh!”
Pemimpin gerombolan penyusup itu hanya mendapati sebuah
ranjang kosong dengan bantal yang ditutup selimut.
__ADS_1
Sontak orang-orang yang ada di situ terkejut bercampur marah
“Sial, kita sudah ditipu mereka!”
“Barang-barang mereka masih ada di sini, pasti mereka hanya
bersembunyi di sekitar tempat ini. Geledah kamar mereka cari permatanya dan
cari mereka di sekitar tempat ini!” Perintah pemimpin gerombolan.
Maheen memeluk erat buntelan permata di dadanya, dia tak
ingin kehilangan permata itu kembali. Bagi dirinya seorang pendeta Majusi,
Permata itu adalah nyawa bagi Api Abadi yang seharusnya masih tetap menyala di
Kuil Kahyangan Api.
Tiba-tiba satu sosok berkelebat di belakang mereka,
terkesiap Maheen dan Wiraksara, orang-orang itu sudah menemukan tempat
persembunyian mereka.
“Mereka ada di taman!” Seru salah satu anggota gerombolan.
Sontak para anggota gerombolan itu mengepung Wiraksara dan
Maheen.
“Kalian tidak akan dapat lolos dari kami,” kata pemimpin
gerombolan.
Terkesiap Wiraksara dan Maheen, mereka hanya berdua sementara
ke 7 orang yang mengepungnya pastilah para pendekar Persia yang berilmu tinggi.
Wiraksara sudah mulai bersiap mengerahkan ilmu Api Suci Azura Mahda. Namun
ketegangan itu sedikit mencair ketika tiba-tiba datang seorang pria dari arah
luar menuju ke kamarnya. Pria itu tampaknya mabuk, jalannya sempoyongan, di
tidak jelas lagu apa yang dinyanyikan karena suaranya begitu sumbang dan syairnya
juga tidak jelas.
Tanpa merasa sungkan pria itu tiba-tiba masuk ke dalam
kepungan
“Hei,ada keramaian di sini, mengapa kalian tidak mengajakku
serta?”
Semua orang terkesima melihat pria itu yang dengan tenangnya
masuk ke dalam kepungan. Pria itu rambutnya kusut, bajunya kumal dan mulutnya
bau arak. Dia menoleh ke arah Wiraksara dan berkata
“Hei anak muda mari
temani aku minum arak sambil main mahyong dan teman wanitamu itu suruhlah dia
menyanyi menghibur kita bermain mahyong.”
Wiraksara tertegun melihat kecuekan pria itu
Buseet, orang itu nyadar nggak sih kalau aku sedang dikepung
mau dibunuh? Pikir Wiraksara.
Pria itu menarik tangan Wiraksara dan memberi tanda pada Maheen
untuk mengikutinya.
“Ayo kita ke kamar main mahyong dan kau harus menyanyi untuk
kami Nona cantik.”
Wiraksara dan Maheen berpandangan, namun mereka memakluminya
__ADS_1
karena orang itu memang sedang mabuk berat. Tetapi pemimpin gerombolan mulai
gusar dan membentaknya
“Hei orang tua, minggirlah, kami masih ada urusan dengan
temanmu!”
Orangtua itu tampak kesal karena pemimpin gerombolan
menginterupsi percakapannya dengan Wiraksara.
“Ah kau ini manusia yang membosankan, ayo kalian juga ikut
main mahyong bersama kami biar ramai.”
Pemimpin gerombolan mulai tak sabar dan marah, tangannya
bergerak mendorong pria tua itu. Tetapi entah bagaimana tiba-tiba saja pria itu
sudah berpindah tempat dengan cepat di sisi pemimpin gerombolan lalu
merangkulnya dengan erat. Pemimpin
gerombolan berusaha membebaskan dirinya namun cengkeraman pria tua itu
dirasakannya begitu kuat sehingga dia tak mampu bergerak.
“Ayo minum arak dulu biar segar dan suasana jadi lebih
hangat!”
Dengan cueknya orang tua itu mendekatkan botol arak ke mulut
pemimpin gerombolan. Dia ingin menolak, tangannya sudah bergerak hendak
menyingkirkan botol arak dari mulutnya. Namun tangannya terasa kesemutan dan
kaku tak bisa bergerak. Botol arak itu sudah dijejalkan ke dalam mulutnya,
pemimpin gerombolan mulai gelagepan karena araknya ada yang sempat tertelan.
Setelah mengumpulkan kekuatannya, baru dia bisa mendorong orang tua itu
menyingkir darinya.
“Pergi kau pemabuk tua yang bau! Singkirkan dia dariku!”
Perintah pemimpin gerombolan penyusup pada anak buahnya.
Orang-orang itu langsung bergerak menangkap pria tua itu.
“Hei mau apa kalian
menangkapku? Ayolah kita main mahyoing saja daripada harus bermain seperti
ini,!” Ujar orangtua itu.
Tubuhnya bergerak sempoyongan menabrakan diri pada para para
pengepungnya. Anehnya setiap kali ada yang mau menangkap atau melukainya, pria
tua itu selalu saja dapat menghindarinya. Bahkan orang-orang dari gerombolan
pengacau itu banyak yang terdorong jatuh karena tabrakannya.
Dalam pandangan Wiraksara orang tua itu bergerak cepat bagai
angina walaupun gerakannya random seperti orang mabuk.
“Orang ini bukanlah orang biasa, dia adalah seorang
pendekar. Aku tak mengenalnya tetapi mengapadia bersedia menolongku? Mungkinkah
dia seorang prajurit Dongchang atau Jinyiwe, batin Wiraksara.
Saat itu orang-orang mulai ketakutan, sadarlah mereka orangtua
di hadapan mereka itu bukanlah orang biasa melainkan seorang pendekar yang
sakti. Pemimpin gerombolan membentaknya
“Siapa kau sebenarnya?!”
__ADS_1