
“Hei, kita tidak jadi menginap di sini?” Tanya Chen Nie.
“Tidak, kita harus mendapatkan Wiraksara secepatnya. Lagi pula jarak dari Urumqi ke
Syrdarya tidak jauh”
Walaupun merasa kesal karena tidak bisa beristirahat di
Urumqi, Chen Nie terpaksa mengikuti kemauan Ma Jing Tao.
*****
Sementara itu para anak buah Heba telah tiba di markas
mereka di perbatasan Kazakhstan dan Uzbekistan. Mereka segera melapor kepada
Heba mengenai operasi mereka hari itu
“Pendeta Heba, kami gagal mendapatkan permata itu, dua orang
dari China telah menggagalkan operasi kami!”
Mendengar kabar dari bawahannya, Heba langsung murka
“Dasar bodoh, kalian semua cuma gentong nasi yang tak
berguna!” Maki Heba.
Orang-orang Heba hanya bisa tertunduk lesu menerima
kemarahan Heba yang meledak-ledak.
“Kedua orang China itu memiliki ilmu silat yang hebat, ilmu
kami tak mampu menandinginya. Sekarang mereka telah menguasai Permata Bumi,“
kata salah satu anak buah Heba.
Rupanya orang yang mengawal Maheen juga berusaha
menyusulnya, ini tidak boleh terjadi, aku harus menghalangi langkahnya, pikir
Heba.
“Sekarang dimana mereka berada?” Tanya Heba.
Salah seorang anak buahnya berkata
“Mungkin mereka sedang berada di perjalanan menuju Kuil
Kahyangan Api.”
“Kita kejar mereka, dua orang China itu hanya menghalangi
langkahku saja," perintah Heba.
Heba dan rombongan anak buahnya kembali ke alun-alun di Sirdarya, tetapi mereka hanya menemukan alun-alun yang kosong. Jenazah Gulya juga sudah tidak ada di tempat
itu. Heba menggeram kesal
“Kita terlambat mengejar, sekarang kita kehilangan jejak
mereka!”
Heba memacu kudanya ke arah pasar lalu bertanya ke pada
seorang penjual roti
“Apakah anda tahu kemana dua orang penolong Gulya itu pergi?”
“Siapa anda dan mau apa mencari penolong Gulya?” Tanya
penjual roti dengan nada menyelidik.
Heba sejenak tertegun, barulah dia tersadar bahwa sikapnya
mengundang kecurigaan orang. Dia lalu
berkata dengan senyuman manis menghias bibir
“Saya Heba teman Gulya, saya ingin berterimakasih kepada
kedua pahlawan penyelamat Gulya, tapi sayang mereka sudah pergi.”
Penjual roti itu percaya saja dengan kata-kata Heba, apalagi
dia melihat penampilan Heba yang tampak cantik dan anggun dengan pakaian
__ADS_1
putihnya.
“Saya tidak tahu persis kemana mereka akan pergi, tetapi
mereka menuju ke arah Barat, selanjutnya saya tidak tahu kemana mereka pergi.”
“Baiklah terimakasih atas penjelasanmu,” Heba menghela
kudanya menuju ke Barat bersama orang-orangnya.
“Pendeta, apakah mereka benar-benar akan menuju ke Persia?”
Tanya seorang anak buahnya.
Heba menjawab dengan yakin
“Mereka pasti menuju ke Kuil Kahyangan Api karena siapapun
yang ingin memiliki kekuatan ke empat elemen itu harus berada di Kuil Kahyangan
Api. Yang Mulia Pangeran Shaktar telah berangkat lebih dulu ke Kuil Kahyangan
Api. Para pemilik permata itu pasti sedang menuju ke sana mencari permata
elemen yang lain.”
******
Wiraksara dan Hamzah terus berpacu dengan waktu menuju ke arah Barat. Setelah berkuda beberapa lama tibalah mereka di Kota Bukhara. Kota yang
terletak di jantung Asia Tengah itu ramai dikunjungi para pedagang yang
melintas di jalur sutera.
“Kita akan menginap di kota ini di penginapan Bukit Bunga,
penginapan itu milik temanku.”
Wiraksara dan Hamzah terus berkuda hingga tibalah mereka di seb
uah bukit di pinggiran kota Bukhara. Dari kejauhan bukit itu tampak sangat
indah dengan bunga-bunga yang berwarna-warni memenuhi pebukitan. Di atas bukit
berdirilah sebuah rumah penginapan. Wiraksara begitu terpesona dengan keindahan
Bukit Bunga
sebuah bukit berbunga. Pemandangan di sini sangat indah, rasanya aku jadi ingin
tinggal di sini untuk selamanya.” Iujar Wiraksara.
“Memang, tempat ini sangat indah, di tambah lagi gadis-gadis
di sini cantik-cantik,” Kata Hamzah sambil terkekeh.
Mereka berdua terus berkuda mendaki bukit, beberapa
pengelana, pedagang mendaki bukit
bersama.
Di depan gerbang penginapan, seorang pelayan tua menyambut
mereka. Ketika melihat Hamzah pelayan
itu berseru gembira
“Tuan Bahiri, selamat datang di Bukhara!”
Namun Hamzah segera menukasnya
“Namaku sudah bukan Bahiri lagi, aku sudah mengganti namaku
menjadi Hamzah.”
Pelayan tua itu tampak tertegun,
“Baiklah, jadi sekarang anda sudah bukan lagi penganut
Majusi?”
“Alu sudah tidak lagi menyembah api suci, sekarang sediakan kami makanan yang lezat dan
air hangat untuk mandi,” perintah Hamzah.
Pelayan itu buru-buru masuk ke dalam penginapan dan
__ADS_1
menyediakan keperluan Wiraksara dan Hamzah.
Ketika duduk di ruangan makan menunggu hidangan di sajikan,
seorang wanita seumuran Hamzah datang menghampiri. Wanita itu masih terlihat
cantik walaupun usianya sudah senja.
“Bahiri!” sapa wanita itu.
Hamzah terkejut dan menoleh
“Tamara…apa kabar?”
“Bahiri, apa yang membawamu datang ke Bukhara? Kukira di
usiamu yang sudah senja ini kau sudah malas keluar rumah dan memilih untuk
bermain bersama cucumu.” Tanya Tamara.
Hamzah tergelak
“Aku ingin berpetualang bersama temanku Wiraksara pengelana
dari Jawa.”
Hamzah menoleh pada Wiraksara
“Wiraksara, ini Tamara temanku semasa masih tinggal di
Persia.”
Wiraksara memberi salam dan hormat pada Tamara yang tampak
kaget mendengar asal Wiraksara
“Kau datang dari negeri yang jauh, selamat datang di Bukhara.
Jarang ada pedagang dari Jawa kemari. Mereka lebih banyak berada di
pelabuhan. Setelah menurunkan barang di
pelabuhan, mereka biasanya kembali berlayar. Oh ya apakah kalian sudah memesan
makanan?”
“Terimakasih kami sudah memesan makanan,” jawab Wiraksara.
Di Pengina.pan Bukit Bunga mereka menginap. Malam itu
Wiraksara dan Hamzah yang kelelahan sudah tertidur pulas di kamar mereka.
Lewat tengah malam, lima sosok bayangan berkelebat melompati
atap penginapan. Di halaman belakang mereka turun dan menuju ke kamar Wiraksara
dan Hamzah dengan mengendap-endap. Ke
lima orang itu berpakaian hitam dan memakai kedok. Selagi mereka bersiap mendobrak pintu kamar,
tiba-tiba terdengar suara
“Kalau mau menginap, sebaiknya kalian lewat pintu depan,
pintu itu terbuka 24 jam. Jangan lewat atap dan turun di halaman belakang
seperti maling! Apa yang kalian cari?!”
Ke lima sosok itu terkejut dan sontak menoleh ke belakang,
terlihat Tamara sudah menghunus goloknya.
“Nenek tua, sebaiknya engkau lanjutkan tidurmu, jangan ikut
campur urusan kami!”
Tamara mendengus dan berkata
“Tak ada yang boleh mengganggu ketenangan tamu di
penginapanku. Sebaiknya kalian pergi sebelum golokku memenggal kepala kalian!”
“Serang nenek itu!”
Mereka melolos pedang lalu menyerang Tamara. Suara senjata beradu memecah keheningan malam itu. Wiraksara dan Hamzah terbangun karena mendengar suara pertarungan di luar kamar mereka.
"Tuan, sepertinya di luar ada pertarungan, aku akan keluar untuk melihat. Siapa tahu orang-orang itu mengincar permata Bumi," kata Wiraksara.
__ADS_1
Pemuda itu bergegas keluar kamar dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat Tamara sudah bertarung melawan lima orang berkedok.
"Nyonya, apa yang terjadi?!" Tanya Wiraksara.