KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Tantangan Pangeran Gaoxu


__ADS_3

“Sala, apa yang kau lakukan pada pohon bonsaiku?!” Tanya Tie


Shi dengan marah.


Nafasnya terengah-engah menahan marah, tangannya menunjuk ke


sebuah pot bonsai. Pohon Siong yang di tanam di pot itu dahan-dahannya yang


indah sudah terpangkas, yang tersisa hanyalah batang pohon dan dua dahan pohon.


“Itu, pohon kuntet itu?” Tanya Wiraksara dengan heran sambil


menunjuk bonsai didepannya.


“Hiih…lha iyalah, pohon itu usianya lebih tua daripada usia


nenekmu! Susah payah aku merawatnya, kubawa dengan penuh perjuangan dari rumah


keluarga kami dan sekarang pohonnya kamu kepras. Apa kata leluhurku jika bonsai


warisan keluarga yang berusia 200 tahun rusak? Hu hu hu hu..!”


Wiraksara mulai kebingungan bercampur takut


“Maaf Paman, ku kira itu pohon kunthet yang tidak


tumbuh-tumbuh. Kupikir sebuah pohon yang bagus  itu mestinya tumbuh tinggi menjulang.”


Namun Paman Shi masih tidak berhenti menangisi bonsainya,


Wiraksarapun tidak berani mengganggunya lagi.


Semalaman Wiraksara tidak bisa tidur memikirkan bonsai


kesayangan Paman Shi yang terlanjur dikeprasnya. Dia merasa bersalah karena


ketidak tahuannya mengenai seni bonsai.


“Ah aku jadi nggak enak sama Paman Shi, apa sebaiknya aku


minta pindah saja ya,” gumam Wiraksara.


Lewat tengah malam Wiraksara baru bisa tertidur, keesokan


paginya dia bangun dengan kepala pening dan badan pegal-pegal. Wiraksara


menengok ke kamar Tie Shi, kamarnya masih tertutup.


Mungkin Paman Shi masih tidur setelah kelelahan menangisi


bonsainya, batin Wiraksara.


Wiraksara segera menyiapkan sarapan, setelah makanan siap


buru-buru dia ke kandang kuda guna menyiapkan kuda untuk pasukan Pangeran Gaoxu


yang akan latihan perang sebelum menyerbu negeri Annam. Wiraksara mengantarkan


kuda kesayangan Pangeran Gaoxu ke alun-alun tempat berkumpul para prajurit.


Di lapangan, Pangeran Zhu Gaoxu sudah siap dengan baju zirah


sedang berlatih bersama para prajurit. Gaoxu sangat ahli memainkan tombaknya


menghalau para prajurit yang mengeroyoknya. Semua orang bertepuk tangan setiap


kali para prajurit itu berjatuhan tersapu tombak Gaoxu. Melihat kedatangan


Wiraksara, Gaoxu menghentikan latihannya dan berkata


“Prajurit, aku mau orang Majapahit itu menjadi teman


latihanku, suruh dia kemari!”


Tercekat hati Wiraksara mendengarnya, tetapi dia tidak dapat


menolaknya, mau tidak mau dia harus datang menghadap Gaoxu.


“Apa yang anda inginkan dari saya Pangeran?”


“Aku mau kau melawanku, kali ini kita berlatih dengan


senjata tajam yang asli, jadi kau harus berhati-hati. Senjata apa yang kau


inginkan?”


“Baiklah aku memilih pedang saja,” jawab Wiraksara.


Gaoxu tersenyum mengejek lalu berkata

__ADS_1


“Baiklah, sekarang kita mulai bertanding!”


Tanpa membuang waktu Gaoxu langsung menyerang Wiraksara


dengan pedang pusakanya. Pedang itu gagangnya terbuat dari emas dihiasi batu


giok. Sarung pedangnya juga terbuat dari emas. Sedangkan pedang Wiraksara


hanyalah pedang standard prajurit.


Pedang Gaoxu berkelebat hendak menebas kepala Wiraksara


namun Wiraksara dengan tangkas menangkisnya. Ternyata Gaoxu juga ahli dalam


ilmu pedang, dengan ilmu pedang Maha Aji Wiraksara menghadapi Gaoxu. Saat itu


dia tidak ingin mengeluarkan energi Maha Aji secara penuh, dia hanya


mengeluarkan seperempat bagian saja. Wiraksara tahu, dia tidak boleh terlihat


lebih kuat namun dia juga tidak bisa terlihat lemah.


Satu dua jurus berlalu, Wiraksara hanya bertahan menangkis


serangan Gaoxu tidak membalas serangannya. Namun hal itu rupanya membuat Gaoxu


merasa kesal


“Mengapa kau hanya bertahan saja? Tak usah ragu-ragu,


keluarkan seluruh kemampuanmu!”


Kembali Gaoxu menyerang Wiraksara bertubi-tubi, pedang


Wiraksara yang hanya pedang biasa akhirnya tidak mampu menahan serangan pedang


Gaoxu, Pedang itu patah jadi dua


“Traaang!”


Gaoxu tersenyum sinis dan berkata


“Senjatamu sudah rusak, sekarang kamu harus menghadapiku


dengan tangan kosong!”


Terkesiap Wiraksara mendengarnya, Gaoxu selalu serius dengan


menggunakan ilmu Tapak Tangan Baja karena nanti mereka akan tahu bahwa Tie Shi


telah mengajarkan ilmu itu kepadanya. Maka dia mulai mengerahkan energi Maha


Aji ke tangannya.


“Aku tidak takut silahkan saja!”


Pangeran Gaoxu kembali menyerang, dengan gesit Wiraksara


berkelit menghindar, dia menangkis sambil berlari dan terkadang memukul Gaoxu


jika sedang lengah. Baju zirah yang dipakai Gaoxu sangat tebal melindungi tubuh


pemakainya dari serangan Wiraksara. Tetapi baju zirah yang berat itu membuat


gerakan Gaoxu menjadi lebih lambat, sehingga pukulan Wiraksara selalu


mengenainya. Wiraksara bertarung dengan jarak yang sangat dekat sehingga pedang


Gaoxu sulit menjangkaunya. Hingga suatu saat Wiraksara mengerahkan energi Maha


Aji hingga 80%. Hasilnya tak terduga, Gaoxu mulai terdorong ke belakang ketika


pukulan Wiraksara mengenai ulu hatinya. Terkesiap Gaoxu, dia tak menyangka pukulan


pemuda Majapahit itu begitu kuat mengenai ulu hatinya. Dia merasa malu, harga


dirinya mulai terusik, dengan marah dia kembali menyerang kembali. Pedangnya


berkelebat di sekeliling Wiraksara, gerakannya begitu cepat membuat Wiraksara


sedikit kerepotan menghindarinya. Pedang itu telah sampai didepan dada


Wiraksara, dia sudah tidak mampu menghindarinya. Spontan tangannya menangkap


pedang itu.


“Traaang!”


Ujung pedang Gaoxu berhasil dipatahkan Wiraksara, Pemuda itu

__ADS_1


terkejut karena pedang pusaka Gaoxu dapat dengan mudah dipatahkannya. Dia


melihat tangannya dan  alangkah


terkejutnya Wiraksara ketika melihat tangannya berwarna merah kuning.


“Aku tidak menggunakan ilmu Tapak Tangan Baja kenapa


tiba-tiba tanganku berubah?” Gumam Wiraksara.


Buru-buru Wiraksara menarik kembali energinya sehingga


tangannya pulih seperti semula. Orang orang di sekitar gelanggang mulai berbisik-bisik


“Ilmu apa yang dia gunakan? Hebat sekali bahkan pedang


pusaka Pangeran saja bisa dipatahkannya.”


Seketika suasana di gelanggang hening, semua orang menahan


nafas. Belum pernah Pangeran kedua ini dipermalukan seperti ini apalagi oleh


orang asing yang datang dari negeri yang menurut mereka negeri yang barbar.


Pangeran Gaoxu tertegun memandangi pedangnya yang patah jadi


dua, pedang pusaka itu adalah pedang sakti buatan Empu yang ahli di bidangnya.


Kini pedang pusaka itu bagaikan pedang mainan bagi Wiraksara, dengan mudahnya


dia mematahkan pedang kebanggannya.


“Kau telah mematahkan pedangku, sekarang kau harus


mendapatkan balasannya!”


Namun belum sampai menyerang seorang Kasim berteriak


“Kaisar Yongle dataaang!”


Semua orang berlutut menyembah, Gaoxu menghentakan kaki


dengan kesal tetapi dia ikut berlutut menyambut ayahnya.


“Gaoxu, mengapa pemuda Majapahit itu ada di sini? Apa kau


akan mengajaknya berperang?”


“Oh tidak Ayah, aku hanya mengajaknya berlatih, aku ingin


menjajal ilmu bela diri khas negeri mereka,” Gaoxu menghindar.


Kaisar Yongle hanya menghela nafas


“Sudahlah lebih baik kau persiapkan pasukanmu untuk


berperang di Annam.”


Kaisar kemudian menoleh kepada Wiraksara


“Kau boleh pergi sekarang!”


Wiraksara segera mundur kembali ke kandang kuda.


Setelah Wiraksara pergi Yongle berkata kepada Gaoxu


“Berikan kemenangan dan kembalikan Annam kembali kepada


China. Jika kau bisa memenangkan pertempuran ini, aku akan mempertimbangkanmu


sebagai penggantiku.”


Hati Gaoxu berbunga-bunga, selama ini dia bekerja keras


untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa dia mampu dan layak naik tahta


menggantikan ayahnya. Dan sekarang impiannya untuk menjadi Putera Mahkota


sebentar lagi tercapai. Dengan gembira Gaoxu menjura memberi hormat


“Terimakasih Ayah, aku yakin kita akan memenangkan


pertempuran ini dan Annam akan kembali menjadi jajahan kita,”


“Kaisar Yongle mengangguk dan tersenyum


“Gaoxu, ibumu sakitnya semakin parah, jenguklah dia di


kediamannya. Katanya sudah lama kau tidak menjenguknya.”

__ADS_1


“Baiklah Ayah, sebelum berangkat aku akan menjenguk ibu.”


__ADS_2