
“Sala, apa yang kau lakukan pada pohon bonsaiku?!” Tanya Tie
Shi dengan marah.
Nafasnya terengah-engah menahan marah, tangannya menunjuk ke
sebuah pot bonsai. Pohon Siong yang di tanam di pot itu dahan-dahannya yang
indah sudah terpangkas, yang tersisa hanyalah batang pohon dan dua dahan pohon.
“Itu, pohon kuntet itu?” Tanya Wiraksara dengan heran sambil
menunjuk bonsai didepannya.
“Hiih…lha iyalah, pohon itu usianya lebih tua daripada usia
nenekmu! Susah payah aku merawatnya, kubawa dengan penuh perjuangan dari rumah
keluarga kami dan sekarang pohonnya kamu kepras. Apa kata leluhurku jika bonsai
warisan keluarga yang berusia 200 tahun rusak? Hu hu hu hu..!”
Wiraksara mulai kebingungan bercampur takut
“Maaf Paman, ku kira itu pohon kunthet yang tidak
tumbuh-tumbuh. Kupikir sebuah pohon yang bagus itu mestinya tumbuh tinggi menjulang.”
Namun Paman Shi masih tidak berhenti menangisi bonsainya,
Wiraksarapun tidak berani mengganggunya lagi.
Semalaman Wiraksara tidak bisa tidur memikirkan bonsai
kesayangan Paman Shi yang terlanjur dikeprasnya. Dia merasa bersalah karena
ketidak tahuannya mengenai seni bonsai.
“Ah aku jadi nggak enak sama Paman Shi, apa sebaiknya aku
minta pindah saja ya,” gumam Wiraksara.
Lewat tengah malam Wiraksara baru bisa tertidur, keesokan
paginya dia bangun dengan kepala pening dan badan pegal-pegal. Wiraksara
menengok ke kamar Tie Shi, kamarnya masih tertutup.
Mungkin Paman Shi masih tidur setelah kelelahan menangisi
bonsainya, batin Wiraksara.
Wiraksara segera menyiapkan sarapan, setelah makanan siap
buru-buru dia ke kandang kuda guna menyiapkan kuda untuk pasukan Pangeran Gaoxu
yang akan latihan perang sebelum menyerbu negeri Annam. Wiraksara mengantarkan
kuda kesayangan Pangeran Gaoxu ke alun-alun tempat berkumpul para prajurit.
Di lapangan, Pangeran Zhu Gaoxu sudah siap dengan baju zirah
sedang berlatih bersama para prajurit. Gaoxu sangat ahli memainkan tombaknya
menghalau para prajurit yang mengeroyoknya. Semua orang bertepuk tangan setiap
kali para prajurit itu berjatuhan tersapu tombak Gaoxu. Melihat kedatangan
Wiraksara, Gaoxu menghentikan latihannya dan berkata
“Prajurit, aku mau orang Majapahit itu menjadi teman
latihanku, suruh dia kemari!”
Tercekat hati Wiraksara mendengarnya, tetapi dia tidak dapat
menolaknya, mau tidak mau dia harus datang menghadap Gaoxu.
“Apa yang anda inginkan dari saya Pangeran?”
“Aku mau kau melawanku, kali ini kita berlatih dengan
senjata tajam yang asli, jadi kau harus berhati-hati. Senjata apa yang kau
inginkan?”
“Baiklah aku memilih pedang saja,” jawab Wiraksara.
Gaoxu tersenyum mengejek lalu berkata
__ADS_1
“Baiklah, sekarang kita mulai bertanding!”
Tanpa membuang waktu Gaoxu langsung menyerang Wiraksara
dengan pedang pusakanya. Pedang itu gagangnya terbuat dari emas dihiasi batu
giok. Sarung pedangnya juga terbuat dari emas. Sedangkan pedang Wiraksara
hanyalah pedang standard prajurit.
Pedang Gaoxu berkelebat hendak menebas kepala Wiraksara
namun Wiraksara dengan tangkas menangkisnya. Ternyata Gaoxu juga ahli dalam
ilmu pedang, dengan ilmu pedang Maha Aji Wiraksara menghadapi Gaoxu. Saat itu
dia tidak ingin mengeluarkan energi Maha Aji secara penuh, dia hanya
mengeluarkan seperempat bagian saja. Wiraksara tahu, dia tidak boleh terlihat
lebih kuat namun dia juga tidak bisa terlihat lemah.
Satu dua jurus berlalu, Wiraksara hanya bertahan menangkis
serangan Gaoxu tidak membalas serangannya. Namun hal itu rupanya membuat Gaoxu
merasa kesal
“Mengapa kau hanya bertahan saja? Tak usah ragu-ragu,
keluarkan seluruh kemampuanmu!”
Kembali Gaoxu menyerang Wiraksara bertubi-tubi, pedang
Wiraksara yang hanya pedang biasa akhirnya tidak mampu menahan serangan pedang
Gaoxu, Pedang itu patah jadi dua
“Traaang!”
Gaoxu tersenyum sinis dan berkata
“Senjatamu sudah rusak, sekarang kamu harus menghadapiku
dengan tangan kosong!”
Terkesiap Wiraksara mendengarnya, Gaoxu selalu serius dengan
menggunakan ilmu Tapak Tangan Baja karena nanti mereka akan tahu bahwa Tie Shi
telah mengajarkan ilmu itu kepadanya. Maka dia mulai mengerahkan energi Maha
Aji ke tangannya.
“Aku tidak takut silahkan saja!”
Pangeran Gaoxu kembali menyerang, dengan gesit Wiraksara
berkelit menghindar, dia menangkis sambil berlari dan terkadang memukul Gaoxu
jika sedang lengah. Baju zirah yang dipakai Gaoxu sangat tebal melindungi tubuh
pemakainya dari serangan Wiraksara. Tetapi baju zirah yang berat itu membuat
gerakan Gaoxu menjadi lebih lambat, sehingga pukulan Wiraksara selalu
mengenainya. Wiraksara bertarung dengan jarak yang sangat dekat sehingga pedang
Gaoxu sulit menjangkaunya. Hingga suatu saat Wiraksara mengerahkan energi Maha
Aji hingga 80%. Hasilnya tak terduga, Gaoxu mulai terdorong ke belakang ketika
pukulan Wiraksara mengenai ulu hatinya. Terkesiap Gaoxu, dia tak menyangka pukulan
pemuda Majapahit itu begitu kuat mengenai ulu hatinya. Dia merasa malu, harga
dirinya mulai terusik, dengan marah dia kembali menyerang kembali. Pedangnya
berkelebat di sekeliling Wiraksara, gerakannya begitu cepat membuat Wiraksara
sedikit kerepotan menghindarinya. Pedang itu telah sampai didepan dada
Wiraksara, dia sudah tidak mampu menghindarinya. Spontan tangannya menangkap
pedang itu.
“Traaang!”
Ujung pedang Gaoxu berhasil dipatahkan Wiraksara, Pemuda itu
__ADS_1
terkejut karena pedang pusaka Gaoxu dapat dengan mudah dipatahkannya. Dia
melihat tangannya dan alangkah
terkejutnya Wiraksara ketika melihat tangannya berwarna merah kuning.
“Aku tidak menggunakan ilmu Tapak Tangan Baja kenapa
tiba-tiba tanganku berubah?” Gumam Wiraksara.
Buru-buru Wiraksara menarik kembali energinya sehingga
tangannya pulih seperti semula. Orang orang di sekitar gelanggang mulai berbisik-bisik
“Ilmu apa yang dia gunakan? Hebat sekali bahkan pedang
pusaka Pangeran saja bisa dipatahkannya.”
Seketika suasana di gelanggang hening, semua orang menahan
nafas. Belum pernah Pangeran kedua ini dipermalukan seperti ini apalagi oleh
orang asing yang datang dari negeri yang menurut mereka negeri yang barbar.
Pangeran Gaoxu tertegun memandangi pedangnya yang patah jadi
dua, pedang pusaka itu adalah pedang sakti buatan Empu yang ahli di bidangnya.
Kini pedang pusaka itu bagaikan pedang mainan bagi Wiraksara, dengan mudahnya
dia mematahkan pedang kebanggannya.
“Kau telah mematahkan pedangku, sekarang kau harus
mendapatkan balasannya!”
Namun belum sampai menyerang seorang Kasim berteriak
“Kaisar Yongle dataaang!”
Semua orang berlutut menyembah, Gaoxu menghentakan kaki
dengan kesal tetapi dia ikut berlutut menyambut ayahnya.
“Gaoxu, mengapa pemuda Majapahit itu ada di sini? Apa kau
akan mengajaknya berperang?”
“Oh tidak Ayah, aku hanya mengajaknya berlatih, aku ingin
menjajal ilmu bela diri khas negeri mereka,” Gaoxu menghindar.
Kaisar Yongle hanya menghela nafas
“Sudahlah lebih baik kau persiapkan pasukanmu untuk
berperang di Annam.”
Kaisar kemudian menoleh kepada Wiraksara
“Kau boleh pergi sekarang!”
Wiraksara segera mundur kembali ke kandang kuda.
Setelah Wiraksara pergi Yongle berkata kepada Gaoxu
“Berikan kemenangan dan kembalikan Annam kembali kepada
China. Jika kau bisa memenangkan pertempuran ini, aku akan mempertimbangkanmu
sebagai penggantiku.”
Hati Gaoxu berbunga-bunga, selama ini dia bekerja keras
untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa dia mampu dan layak naik tahta
menggantikan ayahnya. Dan sekarang impiannya untuk menjadi Putera Mahkota
sebentar lagi tercapai. Dengan gembira Gaoxu menjura memberi hormat
“Terimakasih Ayah, aku yakin kita akan memenangkan
pertempuran ini dan Annam akan kembali menjadi jajahan kita,”
“Kaisar Yongle mengangguk dan tersenyum
“Gaoxu, ibumu sakitnya semakin parah, jenguklah dia di
kediamannya. Katanya sudah lama kau tidak menjenguknya.”
__ADS_1
“Baiklah Ayah, sebelum berangkat aku akan menjenguk ibu.”