KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Koridor Syrdarya


__ADS_3

Wiraksara celingukan lalu menghampiri jasad yang terbakar


memeriksanya sejenak lalu berkomentar


“Sepertinya mereka terbakar karena ilmu Api Suci Azura


Mahda, kurasa Mehrak juga telah menyusul kemari. Jangan-jangan Mehrak dan


orang-orang Sekte Piramida Emas bertarung memperebutkan Permata Api.”


“Benar, mereka terbakar karena ilmu Api Suci. Mungkin Mehrak


kalah bertarung sehingga dia terpaksa lari menyelamatkan diri.”


Mereka kembali bergerak mengejar Maheen ke arah barat. Hari


sudah menjelang malam, saat itu mereka ssampai di daerah stepa (padang rumput).


Dari puncak bukit mereka mendapati beberapa kemah dan sekawanan ternak domba


dan kuda. Di jalanan yang ada di kaki bukit, tampak beberapa kalifah yang


membawa barang dagangan mereka dengan caravan.


“Dimana kita berada sekarang?” Tanya Wiraksara.


Kita telah sampai di Syrdarya, kita akan menginap di sini,


aku ada beberapa teman di sini. Semoga saja mereka masih menetap di sini dan tidak


mengembara lagi,” kata Hamzah.


Mereka menuruni bukit menuju  Syrdarya sebuah daerah kuno yang berada di


Kazakhstan.  Tempat itu ramai dikunjungi


oleh para pedagang dari mancanegara yang akan ke barat atau ke timur. Setelah


melewati area perkemahan mereka mulai memasuki kota dan berencana bermalam di


Syrdaya.


Sementara itu Maheen yang ditawan oleh Shaktar telah


dikurung dalam sebuah kamar yang dijaga ketat. Maheen menangis di dalam


kamarnya tak menduga kalau keputusannya meninggalkan Wiraksara dan mengunjungi


pasar karena jengkel dengan kelakuan Wiraksara telah membuatnya masuk dalam


perangkap para pemburu Permata Empat Elemen Azura Mahda.


Shaktar menatapnya dengan tajam membuat Maheen ketakutan


“Apa yang akan kau lakukan kepadaku?! Pergilah kau dari


hadapanku!”


Shaktar tak peduli, dia terus mendekati Maheen yang ketakutan.


“Jangan kuatir, aku tidak akan menodaimu Nona. Kesucianmu


hanya akan kuberikan pada Anubis, aku sama sekali tak berminat denganmu.

__ADS_1


Sekarang dimana Permata Api itu?”


Maheen menggeleng


“Aku tidak tahu!”


Shaktar berseru pada para pengawalnya


“Panggil Heba Pendeta wanita itu kemari dan suruh dia menggeledah tubuh gadis


ini!”


Tak lama kemudian datang seorang gadis berwajah dingin dan


sedikit pucat. Dia memakai pakaian serba putih dengan topi tinggi seperti


Nefertiti Ratu Mesir dan perhiasan emas yang raya di tubuhnya.


“Yang Mulia Pangeran Shaktar, ada perintah apa sehingga


memanggilku kemari?” Tanya Heba.


“Heba, cari Permata Api itu di tubuhnya, dia adalah Gadis


Suci dari Kahyangan Api, elemen ke lima yang kita cari selama ini,” perintah


Shaktar.


Heba tampak terkejut dan berseru tertahan, rona kegembiraan


tampak di wajahnya


“Ah, ternyata dia elemen kelima yang kita cari selama ini.


Misr yang lama akan kembali lagi seperti dulu.”


Heba menoleh pada para pengawal itu lalu memberi perintah


“Pegangi gadis itu, kalau dia tidak mau menyerahkan permata


itu sendiri aku yang akan menggeledahnya!”


Beberapa pengawal langsung memegangi Maheen sedangkan


Shaktar langsung menggerayangi tubuh Maheen mencari Permata Api itu. Maheen


menangis ketakutan ketika tangan Heba menggerayangi tubuhnya. Ketika sampai di


dada Maheen, tangan Heba berhenti lalu tangannya bergerak merogoh kantong Maheen


di balik bajunya. Maheen kembali menangis, habislah sudah, Permata Api itu kini


bakal dikuasai Sekte Piramida Emas.


“Nah, permata Api sudah kudapatkan!” Seru Heba dengan


gembira.


Maheen menangis menyadari permata itu sudah berada di tangan


musuhnya, terbayang sudah para pendeta di Kuil Kahyangan Api pasti merasa kecewa


karena Maheen gagal membawa kembali Permata Api itu.

__ADS_1


“Bagus Heba, sekarang kita tinggal mencari permata Air dan


Permata Bumi. Kabar tentang permata Api itu telah tersebar. Pasti sekarang para


pemilik permata elemen Azura Mahda mulai sibuk mencari keberadaan Permata Api ini,” ujar


Shaktar.


"Kita telah memiliki Permata Logam dan Api, tapi masih harus mencari Permata Air dan Permata Bumi., semoga saja kita bisa segera menemukannya," ujar  Heba.


******


Wiraksara dan Hamzah memasuki sebuah kedai makan, di dalam telah banyak para pengunjung yang sebagian besar adalah pedagang dan pengembara. Sambil menunggu makanan mereka selesai dimasak, Wiraksara dan Hamzah duduk menikmati teh. Beberapa pedagang di dekat meja mereka mulai bercakap-cakap. Awalnya percakapan itu adalah percakapan biasa namun ada seorang pengembara dari Kazakhstan bercerita


"Malam ini ada pertunjukan seni di alun-alun kota. Salah satu pertunjukannya adalah penampilan Gulya yang akan menyanyi dan menari."


Salah seorang pengembara yang lain berkata


"Suara Gulya bagai suara malaikat suci, begitu bening dan murni. Kita tak boleh melewatkannya karena suaranya juga bisa menyembuhkan penyakit. Kali ini pasti ada hal yang istimewa sehingga Gulya mau menyanyi di depan umum setelah 7 tahun lamanya tidak pernah menyanyi di depan umum."


"Ya, terakhir dia menyanyi ketika ada wabah penyakit Pes akan menyerang, lalu ketika wabah pes sedang berlangsung dia kembali menyanyi untuk menyembuhkan orang-orang yang terjangkit penyakit itu. Setelah dia menyanyi, wabah itu berangsur-angsur hilang.  Ah, setiap kali dia menyanyi, seperti sebuah peringatan akan bahaya yang membuatku takut.  Kali ini pasti ada hal yang istimewa sehingga dia mamu menyanyi di depan umum setelah sekian lama tidak pernah muncul," temannya yang lain menimpali.


"Tapi kejadian apa yang membuat Gulya bersedia menyanyi lagi? Sepertinya kali ini tidak ada wabah penyakit atau bencana alam seperti sebelumnya


Seorang pedagang dari Turki, ketika mendengar cerita para pengembara Kazakhstan itu, berjalan mendatangi meja mereka lalu bertanya


"Benarkah suara Gulya dapat menyembuhkan penyakit?"


"Dari pengalamanku fakta itu benar adanya, suara Gulya berbeda dengan suara manusia pada umumnya. Cobalah menontonnya di alun-alun Utara dan setelah itu kau akan merasakan sensasi yang berbeda," kata pengembara itu.


"Tentu saja aku akan menontonnya bersama ayahku yang sakit-sakitan, kuharap setelah mendengar suara Gulya ayahku akan sembuh," kata pedagang itu.


Mendengar percakapan mereka di meja sebelah, Hamzah tampaknya juga tertarik


"Wiraksara, kau mau menonton pertunjukan Gulya juga? Suara Gulya dapat menyembuhkan penyakit. Gulya jarang melakukan pertunjukan kecuali jika ada hal istimewa. Kali ini pasti ada sesuatu yang membuatnya mau melakukan pertunjukan setelah lebih dari 5 tahun dia tidak menyanyi di depan umum."


"Tapi besok kita masih harus mencari keberadaan Maheen, sebaiknya kita beristirahat saja malam ini," Wiraksara menyarankan.


Namun Hamzah menolaknya


"Tidak, aku tetap akan menonton pertunjukan Gulya, siapa tahu dengan menonton pertunjukannya kita akan memperoleh informasi penting."


Ternyata tidak hanya Hamzah yang tertarik dengan pementasan Gulya, Heba sang pendeta wanita dari Sekte Piramida Emas itu juga tertarik dengan pementasan Gulya. Malam itu Heba berpamitan meminta izin untuk menonton pementasan Gulya di alun-alun.


"Yang Mulia Pangeran Shaktar, saya mohon izin untuk keluar menonton pertunjukan Gulya di kota."


Shaktar mengerutkan keningnya, tampaknya dia tidak suka Heba pergi menonton pertunjukan Gukya.


"Untuk apa kau menonton pertunjukan nyanyian Gulya? Siapa dia, sehingga kau begitu ingin menontonnya?"


"Ampun Yang Mulia Pangeran, Gukya bukanlah sembarang penyanyi, dia adalah penyampai pesan dari langit. Jika dia bersedia menyanyi di depaln khalayak ramai, pasti ada sesuatu yang hendak disampaikannya. Terakhir dia menyanyi 7 tahun yang lalu ketika Syrdarya dilanda wabah penyakit pes. Dan yang paling istimewa adalah, suara Gulya dapat menyembuhkan penyakit pes," ungkap Heba.


Shaktar tampak tertegun, namun sejurus kemudian dia mengangguk


"Baiklah Heba, jika dia begitu istimewa, aku akan menontonnya.


******


Malam itu di alun-alun ramai orang sudah berkumpul menunggu penampilan Heba. Wiraksara dan Hamzah sudah duduk bersama para penduduk setempat menunggu penampilan Gulya.  Kedatangan para penonton itu tidak hanya  untuk menikmati suara Gulya tetapi juga ingin tahu pesan apa yang akan disampaikan Gulya kali ini.


Beberapa saat kemudian Gulya muncul di panggung dengan membawa Dombra gitar tradisional Kazakhstan dan mulailah dia menyanyi. Kali ini lagu yang dinyanyikannya begitu menyayat hati. Suara Gukya melengking tinggi ditingkahi suara Dombra..


Entah mengapa kali ini saat mendengar suara Gulya, Wiraksara merasa tubuhnya begitu rileks. Tiba-tiba dia merasa dadanya sesak, ada sesuatu yang ingin dikeluarkan dari dadanya seperti orang sakit batuk yang ingin mengeluarkan dahaknya., Wiraksara terbatuk keras dan darah hitam keluar dari mulutnya. Wiraksara terkejut dan bergumam

__ADS_1


"Sepertinya ini adalah sisa-sisa racun yang pernah menyerangku dulu."


__ADS_2