KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Serangan Bajak Laut


__ADS_3

Gajah Lembana menoleh ke arah suara yang menyapanya,


dilihatnya Wiraksara sudah berdiri di geladak kapal dengan membawa buntalan


siap berangkat ke China menjalankan tugasnya.


“Wiraksara, kemana saja kamu ini, orang tuamu bercerita kau


sudah pergi dari rumah tanpa pamit. Mereka terkejut ketika kami mencarimu di


rumah, mereka pikir kamu sudah berada di Wilwatikta untuk bertugas kembali di


sana.  Aku sudah menunggumu di kapal ini,


untuk memberikan pengarahan kepadamu jika nanti bertemu dengan Kaisar Yongle.  Sebentar lagi angin muson Utara berakhir,


kalau kau terlambat pergi kita harus menunggu 6 bulan lagi untuk dapat pergi ke


China,” ungkap Gajah Lembana dengan wajah lega karena akhirnya dia bertemu


dengan Wiraksara.


Wiraksara yang merasa tidak enak dengan Gajah Lembana meminta


maaf


“Maafkan saya Paman Patih.”


Gajah Lembana yang sudah hafal dengan kelakuan Wiraksara


hanya mengheka nafas


“Ah sudahlah, kemarilah aku akan menyampaikan pesan-pesan


Raja kepadamu dan dan apa yang harus kau katakan jika bertemu Kaisar Yongle.”


Malam itu kapal berangkat menuju China. Wiraksara berangkat


dengan ditemani 30 orang prajurit, 2 orang bawahannya dan beberapa awak kapal.  Mereka juga membawa persenjataan lengkap untuk


mencegah serangan bajak laut yang biasa menyerang di kepulauan Natuna. Cetbang,


meriam dan senjata tajam sudah siap di dalam kapal. Kapal berbendera Majapahit


Getah Getih dengan gagah berkibar di tiang kapal.


Melewati kepulauan Natuna tiba-tiba Wiraksara melihat ada


sebuah kapal dagang tampaknya kapal dagang dari Jawa terlihat dari model


kapalnya. Kapal itu berhenti di tengah laut, disampingnya terdapat kapal yang


berukuran lebih kecil, tipe kapal penyerang untuk berperang di tengah laut.


“Ada Bajak Laut,” desis Wiraksara.


Wiraksara berteriak kepada jurumudi kapal


“Paman, ada orang yang dibajak, kita akan menolong mereka!”


Perintah Wiraksara.


Seorang petugas pengawas meluncur turun dari menara pengawas


di tiang kapal dan berkata


“Ndoro, itu kapal bajak laut Zheng Zhilong, apakah Ndoro


tetap mau melawannya?”


Wiraksara berkata dengan yakin


“Kenapa tidak, persenjataan kita lengkap, ada prajurit di


sini, kita harus bantu mereka. Serangan bajak laut Zheng Zhilong ini memang


meresahkan. Aku akan menyampaikan kepada Kaisar Yong Le soal ini.”

__ADS_1


Kapal Wiraksara merapat mendekati kapal dagang yang di bajak


itu, di atas geladak kapal terlihat para bajak laut itu sudah mulai melompat ke


atas geladak kapal dagang itu. Wiraksara memberi aba-aba untuk menyerang Zheng


Zhilong di atas kapal dagang itu.


Melihat kapal berbendera Majapahit datang menyerang, Zheng


Zhilong dan anak buahnya menyerang awak kapal Wiraksara. Para prajurit


Majapahit dengan bersenjatakan Cetbang (sejenis senapan buatan Majapahit) menembakan


peluru cetbang kepada anak buah Zhilong di kapalnya. Para bajak laut itu


sebagian roboh terkena peluru cetbang, sedangkan yang lain berhamburan


menyelamatkan diri menceburkan diri ke laut. Melihat anak buahnya dilibas habis


oleh pasukan Majapahit, Zhilong memerintahkan semua anak buahnya untuk


menyerang ke kapal Majapahit.


“Serang mereka!” teriak Zhilong kepada anak buahnya.


Para bajak laut itu kemudian menyerang kapal Wiraksara, Zheng


Zhilong melompat masuk ke kapal Wiraksara, para prajurit itu dengan mudah


dikalahkan Zhilong.  Kini Wiraksara


berhadapan dengan Zhilong.


“Huh, ternyata kapal ini hanya dipimpin oleh seorang bocah


tak berguna. Kalian pergilah, jangan ikut campur urusan kami!” Seru Zhilong.


“Kau ini cuma bajak laut liar, apa maumu mengganggu kapal


dagang dari negeri kami?” Tanya Wiraksara.


banyak negeri bawahan kalian yang melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit,”


ejek Zhilong.


Wiraksara begitu marah ada orang mengejek Majapahit, tanpa


banyak basa-basi dia mulai menyerang Zhilong. Wiraksara memukul Zuyi tepat di


perutnya, namun Zhilong hanya tertawa terbahak-bahak


“Ha ha ha ha ini sih rasanya cuma seperti dipukul perawan,


ternyata cuma segini kekuatan tentara Majapahit.  Pantas saja negaranya bubar,” ejek Zhilong.


Celaka, aku masih tidak dapat mengerahkan tenaga dalamku,


aduh bagaimana ini mana anak buahku sudah pada kelelahan lagi, batin Wiraksara.


Namun dia masih mencoba menutupi keadannya dan bersikap


tenang


“Iitu baru permulaan saja, aku kan masih ingin bermain-main


denganmu,” ejek Wiraksara.


Mendengar kata-kata Wiraksara, Zhilong semakin marah dan


kembali menyerang Wiraksara. Kali ini Zhilong menghunus pedangnya dan menyerang


Wiraksara, pedangnya menyambar ke arah kepala.  Wiraksara berkelit menghindar


dari serangan Zhilong. Namun Zhilong terus meneternya tanpa memberi kesempatan


pada Wiraksara hingga ada saatnya perut Wiraksara terkena tendangan Zhilong. Wiraksara

__ADS_1


terdorong mundur ke belakang dan muntah darah. Dia berusaha keras tetap berdiri


agar tidak jatuh walaupun kakinya sudah bergetar lemah mau rubuh. Untunglah di


sebelahnya ada tiang kapal yang bisa dipakainya untuk bersandar.


“Ha ha ha ha sungguh tidak sebanding dengan omonganmu, kau ternyata


ini cuma bocah besar mulut!”


“Ndoro Wiraksara, tadi kan sudah kubilang jangan lawan Zhilong,


sekarang lihat, apa yang mereka lakukan pada Ndoro,” kata anak buahnya dengan


ketakutan.


Wiraksara begitu marah, tangannya bergetar dia tak rela


negaranya dihina oleh orang asing, tiba-tiba saja sebuah kekuatan yang dahsyat


menyelimuti tubuhnya.  Wiraksara


menghunus pedang Maha Aji yang dibawanya lalu melangkah menghampiri Zhilong.


Bajak laut itu terkejut melihat tiba-tiba Wiraksara datang dan menyerangnya


dengan gencar.


“Hiyaaaa …,” Wiraksara berteriak menikamkan pedangnya ke


arah Zhilong.


Zhilong menghindar, namun sambaran pedang  Wiraksara masih terasa di tubuhnya.


Bocah ini tidak selemah yang kuduga, huh Pedang  berbahaya juga ini, batin Zuyi sambil


menghindari serangan Wiraksara.


Wiraksara menggeram kesal melihat serangannya luput, kembali


dia melompat menyerang Zhilong yang masih terus menghindar dari sambaran pedangnya.


Namun suatu saat,  Wiraksara berhasil


memukul Zhilong hingga terlempar ke laut.  Tubuh Zhilong jatuh tenggelam ke dasar laut


membuat anak buahnya panik dan segera menceburkan diri menolongnya. Melihat


Ketua mereka dapat dikalahkan dan jatuh ke laut, anak buah Zhilong yang lainnya


ketakutan dan mengikuti ketua bajak laut itu masuk ke laut dan berenang menuju


kapalnya untuk melarikan diri.


Wiraksara sudah bergerak hendak mengejar Zhilong namun


nahkoda kapal mencegahnya


“Biarkan dia pergi,  kita masih punya tugas yang lebih penting.  Waktu kita sudah mepet,  kita harus segera tiba di kota Peking  secepatnya.”


Kapal Wiraksara merapat ke kapal dagang itu, terlihat para


penumpang masih ketakutan akibat trauma diserang bajak laut. Nahkoda kapal


datang menghampiri Wiraksara dan berkata


“Terimakasih Ki Sanak, untung kapal anda segera datang.  Kalau tidak,  habis barang dagangan kami dirampok,” kata Nahkoda itu.


“Kalian akan berlayar ke mana?” Tanya Wiraksara.


“Kami akan ke Champa setelah itu ke China,” kata Nahkoda


itu.


“Baiklah, tujuan kita searah, kami akan berlayar di belakang


kalian mengawal kapal,” kata Wiraksara menenangkan para penumpang dan awak

__ADS_1


kapal dagang itu.


__ADS_2