
Wiraksara masih bersungut-sungut ketika pria itu mengajaknya
masuk ke rumah.
“Sudahlah, jangan ribut dengan orang seperti dia, percuma
saja kau meladeninya. Silahkan duduk aku akan membuatkanmu makanan. Kau pasti
lelah setelah melakukan perjalanan jauh,” katanya menenangkan dirinya
Wiraksara duduk di kursi yang disediakan lelaki tua itu, dia
memandang ke sekeliling ruangan pondok sederhana itu. Pondok itu tidak terlalu
besar namun tampak bersih. Dia berjalan mengelilingi pondok dan halaman depan.
Orang yang rajin, semua jenis sayuran ditanam di sini,
mungkin supaya tidak repot mencari bahan makanan di luar atau jangan-jangan
pihak istana memang tidak memberinya makanan? Batin Wiraksara.
Tak lama kemudian orang tua itu sudah masuk kembali ke
ruangan depan menghidangkan arak, Ubi rebus dan Tim Ayam serta tumis sawi asin
menemani makan malam mereka. Lelaki tua itu kemudian memanggilnya masuk duduk
bersamanya di meja makan. Dia menuangkan arak ke cawan untuk Wiraksara lalu
berkata
“Nah anak muda, ini
arak buatanku sendiri, silahkan dicoba.”
Wiraksara segera menghirup aromanya, arak itu beraroma wangi
seperti harumnya bunga. Namun ketika dia meminumnya, arak itu terasa nyegrak
jauh lebih nyegrak daripada tuak yang biasa diminumnya.
“Huh luar biasa, arak ini pasti sudah melewati proses
fermentasi yang lama ya?” Tanya Wiraksara.
Pria setengah baya itu terkekeh mendengarnya
“Ternyata pengetahuanmu tentang arak lumayan juga, ya benar arak
ini sudah kusimpan selama 8 tahun di bawah tanah, kami menamakn arak ini dengan nama Arak Perawan Merah. Aku memang menyimpannya untuk menyambut tamu
istimewa yang mungkin akan berkunjung ke pondok ini. Sudah lama aku menanti,
tetapi sampai saat ini tidak ada tamu yang benar-benar kuanggap istimewa. Baru
kali ini aku mendapatkan tamu istimewa. Tampaknya kau bukan berasal dari Champa
maupun Negeri Anam (Vietnam). Tetapi bahasa Chinamu bagus dan lancar, siapa
namamu anak muda dan darimana asalmu?”
“Namaku Wiraksara, dari
Nusantara. Aku seorang utusan dari
Kerajaan Majapahit,” ungkap Wiraksara sambil meneguk araknya kembali.
“Wi La Sa La? Ah namamu sulit untuk ku eja, baiklah aku akan
memanggilmu Sala saja supaya lebih mudah mengejanya?”
Wiraksara hanya tersenyum dan memakluminya. Teman-temannya
di Lasem yang berasal dari China juga sulit melafalkan namanya dengan baik dan
benar.
“Tidak apa-apa, aku tak keberatan dipanggil dengan Sala. Lalu
siapa nama Locianpwe?” Tanya Wiraksara lagi.
“Namaku Tie Shi, jangan panggil aku dengan sebutan
Locianpwe, aku bukanlah sosok yang pantas dihormati dengan panggilan itu.
Panggil saja aku Paman Shi, mari mari silahkan dimakan. Makanan ini semua hasil
kebun dan ternak sendiri. Orang-orang istana itu tidak pernah memberiku
makanan, jadi aku harus mencari sendiri bahan makanan untuk bertahan hidup di
sini,” kata Tie Shi.
__ADS_1
Wiraksara mengambil daging ayam tim itu dengan sumpit,
daging ayam itu terasa lembut di lidahnya, bumbu Tim Ayam khas China yang
terdiri dari arak, jahe, minyak wijen dan bawang putih bercampur menjadi satu
di mulutnya, tak terasa amis sama sekali. Tak heran Wiraksara makan dengan
lahap sampai mulutnya berkecap membuat teman barunya yang duduk di depannya
tersenyum melihatnya.
Wiraksara salah tingkah, baru di sadarinya mulutnya sudah
berkecap dengan nikmatnya ketika makan masakan Tie Shi.
“Oh, maaf jika aku tampak rakus sehingga mulutku berkecap,
perutku lapar sekali,” kata Wiraksara sambil tersenyum malu.
Orangtua itu terkekeh dan berkata
“Tidak apa-apa, di tempat kami, jika tamu yang disuguhi
makanan itu makan sampai mulutnya berkecap, itu adalah kebanggaan buat kami,
karena itu berarti tamunya menyukai masakan kami.”
Wiraksara tertegun sejenak lalu tertawa
“Bebeda dengan adat kami, orang yang makan sampai mulutnya
berbunyi akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun.”
Merekapun tertawa bersama menyadari perbedaan adat di kedua
negara.
“Dan kami makan dengan menggunakan tangan untuk menyuap
makanan, bukan menggunakan sumpit.”
“Oh, begitu ya, kalau di tempat kami orang yang menyuap
makanan dengan tangan mohon maaf dianggap sebagai orang yang barbar,” jelas Tie
Shi dengan wajah serius.
tertawa terbahak-bahak.
“Ha ha ha mari kita rayakan perbedaan ini.”
“Ya aku tahu sedikit tentang negerimu, Ma Huan dulu sering
bercerita padaku,” kata Tie Shi.
“Ah, Tuan Ma Huan? Ya, aku mengenalnya, diia sekretaris Laksamana
Cheng Ho yang bertugas mendokumentasi perjalanan Cheng Ho ke tempat-tempat yang
disinggahinya. Dia ditugasi untuk mencatat semua itu dengan detil sampai
kebiasaan masyarakat di setiap negeri yang dikunjungi Cheng Ho juga dicatatnya. Tuan Ma sering berkunjung ke istana
Majapahit Barat,” ungkap Wiraksara.
“Mengapa kau bisa sampai di sini? Setahuku tamu-tamu dari
negeri sahabat selalu diperlakukan dengan baik oleh Kaisar,” kata Tie Shi.
Mendengar pertanyaan Tie Shi, Wiraksara kembali bersedih,
kepalanya menunduk. Sungguh menyesal dia menyanggupi tugas ini dari
Wikramawardhana. Seharusnya dia lari dari tugasnya sehingga dia tidak menjadi
tumbal hukuman Kaisar Yong Le.
“Aku tidak bersalah, tetapi Kaisar Yong Le menimpakan
kesalahan yang diperbuat oleh Rajaku kepadaku,” kata Wiraksara lirih.
Tie Shi tertegun mendengar cerita Wiraksara dan kembali
bertanya
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tie Shi lagi.
Wiraksara akhirnya bercerita tentang tragedy perang Paregreg
yang menewaskan 170 orang delegasi China yang sedang berkunjung di Istana
Majapahit Timur.
__ADS_1
“Itulah sebabnya atas kejadian itu Kaisar telah menuntut
Majapahit untuk membayar ganti rugi sebesar 60.000 tahil emas,” kata Wiraksara.
“60.000 tahil emas? Sungguh jumlah yang sangat besar.”
Wiraksara mengangguk dan bercerita kembali
“Aku dijadikan jaminan hutang oleh Kaisar sebagai supaya
pembayaran cicilan ganti rugi itu berjalan lancar. Tetapi jumlah itu sangatlah
berat bagi negara kami yang baru saja dilanda perang. Ah, seharusnya aku tidak
berada di sini.”
Wiraksara menenggak araknya lalu kembali menikmati
hidangannya. Angin dingin bertiup masuk ke jendela yang masih terbuka, Tie Shi
cepat tanggap, dia segera menutup jendela. Dia tahu tamunya ini baru datang dari sebuah negeri dengan matahari yang
selalu bersinar sepanjang tahun dan tidak pernah mengalami musim dingin seperti
negerinya.
“Aku bisa memberimu mantel bulu kalau kau masih kedinginan,”
Tie Shi menawarkan jasanya.
“Terimakasih Paman Shi,” kata Wiraksara sambil tersenyum.
“Lalu apa tugas Paman di sini?” Tanya Wiraksara
Tie Shi tampak tertegun sejenak mendengar pertanyaan Wiraksara
“Oh, aku … aku adalah pengurus kuda di istana ini, ada sekitar
20 ekor kuda yang harus kuurus setiap harinya,” kata Tie Shi sedikit gugup.
Sialan, berarti mereka menyuruhku menjadi pengurus kuda
istana, betul-betul ini sebuah penghinaan bagi Majapahit, pikir Wiraksara
dengan geram.
“Mereka menyuruhmu menjadi pengurus kuda bersamaku. Mungkin
sedikit sulit pada awalnya jika kau tidak terbiasa. Terutama ketika ada kuda
yang sakit atau melahirkan, tetapi hal itu jarang terjadi,” kata Tie Shi.
Usai makan Tie Shi berkata kepada Wiraksara
“Di dekat dapur ada sebuah ruangan kecil bekas kamar temanku
yang meninggal sebulan yang lalu, kau bisa tidur di situ. Maaf jika tempat itu
tidak nyaman.”
“Mengapa teman Paman meninggal? Apa dia sakit?” Tanya
Wiraksara.
“Dia dijadikan sasaran panah Pangeran Kedua Gao Xhu,” ungkap
Tie Shi.
Wiraksara terkejut mengetahui betapa tidak berharganya nyawa
manusia di Kerajaan China. Dia ingin bertanya lebih lanjut tetapi Tie Shi sudah
pergi meninggalkannya.
******
Pagi telah tiba, namun matahari belum menampakan sinarnya
walaupun sudah jam 06.00 pagi. Tie Shi telah menyiapkan makanan berupa bubur
polos di mejanya dan sepoci teh.
“Kau makanlah dulu sebelum bekerja,” kata Tie Shi ketika
melongok ke kamar Wiraksara.
Pagi itu Wiraksara merasa tubuhnya sudah lebih segar, tidak
seperti biasanya, kali ini udara yang dingin menjelang awal musim gugur tidak
membuatnya kedinginan seperti sebelumnya jika dia berkunjung ke China di musim
gugur.
__ADS_1