KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Pengejaran


__ADS_3

Kwan Haisan pemabuk tua itu muncul tiba-tiba


“Wan Ling, tak perlu kau membunuh, mereka tidak tahu apa-apa


tentang urusanmu!”


Wan Ling telah menyamar sebagai pedagang kosmetik, dia dan


anak buahnya telah mengikuti Maheen sejak dari kedai makan Hamzah. Saat itu Wan


Ling sangat gembira karena dengan mudah dapat segera  menemukan buruannya ketika dia dan anak


buahnya sedang makan di kedai Hamzah.


“Kwan Haisan, kau selalu saja ikut campur dalam urusanku!


Pergilah dan urus urusanmu sendiri!”


Wanling bergerak ke depan pemabuk tua itu dan melayangkan


pukulan dengan tangan kirinya yang masih bebas setelah itu kakinya bergerak


menendang lawannya. Kwan Haisan mengelak dan dengan gerakan cepat menangkap


kaki Wanling memuntirnya sehingga Wanling kesakitan dan jatuh tertelungkup.


“Kreeek!” Terdengar bunyi sesuatu yang patah.


Wanling berteriak kesakitan, Kwan Haisan telah memuntir pergelangan


kakinya sehingga kakinya tak bisa digerakan. Pemabuk tua itu bergerak cepat


menotok jalan darah Wanling sehingga wanita itu tak bisa bergerak lagi.


“Bangsat kau Haisan, kau telah mematahkan kakiku!”


“Nenek Tua, kalau kubiarkan dirimu bergerak bebas, kau hanya  akan membuat kekacauan saja!”


 Saat itu Kwan Haisan


segera membebaskan totokan di tubuh wanita penjual kosmetik dan anaknya.


“Kalian keluarlah dari sini!”


Wanita dan anaknya segera keluar kios, keributan di kios


membuat orang-orang di pasar berkerumun di sekitar kios.


“Hei, apa yang kau lakukan pada wanita itu?!”


Seorang prajurit kerajaan di Uyghur menegur Kwan Haisan,


melihat ada beberapa prajurit kerajaan mendatangi lokasi, Wanling lantas memanfaatkan


kesempatan ini dan berteriak


“Tolong amankan pemabuk tua itu, dia mencoba membunuh saya!”


Kwan Haisan tertegun tak menyangka Wanling akan memutar


balikan fakta, dia langsung membela diri ketika para prajurit itu hendak


menangkapnya


“Tunggu, dia justru yang jahat, aku hanya menyelamatkan


wanita pemilik kios ini dan anaknya!”


Keramaian di pasar menarik perhatian Hamzah dan Wiraksara,


mereka ikut menonton dan betapa terkejutnya Wiraksara melihat Kwan Haisan di


situ


“Kakek Kwan, apa yang terjadi?”


Kwan Haisan tampak lega mengetahui kehadiran Wiraksara di


tempat itu, dia berseru memanggil Wiraksara.


“Sala, syukurlah kau ada di sini!”


“Apa yang terjadi di sini?” Tanya Wiraksara pada Kwan


Haisan.


“Wan Ling membuat kekacauan di sini, dia menyandera wanita


pemilik kios beserta anaknya. Prajurit kerajaan menyangka akulah yang membuat


kekacauan dengan melukai Wanling. Wanita itu benar-benar licik,” jawab Kwan


Haisan dengan kesal.


“Sekarang di mana Wanling?” Tanya Wiraksara.


“Dia ada di dalam.”


Wiraksara dan Hamzah masuk kios dan melihat Wanling masih


kaku tak bergerak. Hamzah dan Wiraksara segera mengenali Wanling


“Kau ternyata ada di sini, sekarang dimana Maheen? Kau pasti


telah menculiknya!” Seru Wiraksara.


Wanling hanya tersenyum mengejek


“Terlambat, temanmu sudah dibawa anak buahku ke sebuah


tempat yang kami rahasiakan.”


Pikiran Wiraksara berkelebat cepat,


“Dimana permata Api Maheen?”


Wajah Wanling berubah


“Aku tidak mengambilnya!”


Wiraksara tidak percaya, dia menggerayangi tubuh Wanling


sehingga wanita itu berteriak


“Hei, jangan kurangajar, apa yang kau lakukan! Tolong ada


yang kurang ajar kepadaku!”

__ADS_1


Beberapa prajurit yang mendengar teriakan Wanling sontak


masuk ke dalam kios disusul oleh Hamzah dan Kwan Haisan.


“Apa yang kau lakukan pada wanita itu?!” Seru Kepala


Prajurit.


Wiraksara berdiri di hadapan Kepala Prajurit lalu berkata


“Aku mencari Permata Api milik Maheen Pendeta dari Kuil


Kahyangan Api. Wanita ini beberapa kali mencoba mengambil permata itu dari dia.”


Prajurit itu menoleh ke arah Wanling


“Benar kau mengambil permata miliknya?”


Wanling menggeleng, wajahnya tampak ketakutan


“Apa yang kalian bicarakan? Aku sama sekali tidak pernah


mengambil permata atau barang berharga milik orang lain.”


Wanling menoleh ke arah prajurit


“Tuan Prajurit, mereka mencoba melecehkan saya dan menuduh


saya sebagai pencuri!”


 Mendengar kata-kata


Wanling, Kwan Haisan bertambah murka, dia memaki Wanling


“Dasar Nenek tua gila,siapa yang mau melecehkan nenek-nenek


sepertimu?!”


Kwan Haisan maju ke hadapan Wanling, sejurus kemudian


tangannya mencengkeram bahu Wanling membuat wanita itu berteriak kaget


“Apa yang kau lakukan?!”


Tangan Kwan Haisan telah mencengkram bahunya dengan kuat


membuat wanita itu menjerit kesakitan


“Serahkan permata Api itu atau aku akan memunahkan ilmu Wajah


Seribu Tahun yang membuatmu selalu awet muda agar kau kembali menua sesuai


umurmu sehingga membuatmu ingat mati!”


Terkesiap Wanling mendengar ancaman Kwan Haisan, namun dia


masih berusaha mengelak dari tuduhan mencuri permata Api.


“Siapa yang mengambil permata Api, kau jangan berkata


ngawur! Tuan Prajurit, tolong saya, orang ini mau menyiksa saya


Wanling hanya bisa berteriak marah, matanya melotot gusar ke


arah Kwan Haisan karena dia masih juga belum bisa membuka totokan Kwan Haisan.


“Tunggu, dia tidak bermaksud jahat, wanita itu sebenarnya


sudah tua, dia menggunakan ilmu Wajah Seribu Tahun yang membuat wajahnya selalu


tampak muda. Sebentar lagi kalian akan melihat hasilnya!” Cegah Wiraksara.


Wanling terus berteriak kesakitan sementara Kwan Haisan tak


juga melepas cengkeraman di bahunya. Tak lama kemudian wajah Wanling perlahan


mulai berubah, kerut merut di wajahnya mulai muncul, kulit wajahnya tampak


mengendor, sekarang dia tampak seperti wanita berusia 50 tahun. Para prajurit dan


orang-orang di pasar terkejut dan sontak berseru ketakutan.


“Aah, dia siluman wanita, ternyata dia seorang nenek-nenek!”


Wanling terkejut mendengar kata-kata orang-orang itu, sontak


dia menangis menyesali ilmu Wajah Seribu Tahun yang didapatnya dengan susah


payah, kini sirna dalam sekejap mata.


“Kurang ajar kau Kwan Haisan, kau membuatku menjadi


nenek-nenek buruk rupa!” Wanling mulai menangis keras.


Hamzah berkata pada para prajurit itu


“Tuan, wanita itulah yang membuat kekacauan di sini. Ketika


di Xinning dia pernah membuat kekacauan di penginapanku, dia bahkan telah


menculik salah satu tamuku. Tolong amankan wanita berbahaya itu!”


Para prajurit itu saling berpandangan, pemimpin prajurit


lalu berkata


“Kejadian ini sangat membingungkan kami, kami harus mencari


bukti yang kuat bahwa wanita itu memang bersalah. Setelah ada bukti dan saksi


yang menguatkan, baru kami dapat mengamankannya.”


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita


“Tunggu, tuan-tuan itu tidak bersalah, perempuan iblis


itulah yang licik!”


Wanita penjual kosmetik yang semula disandera segera datang menemui


prajurit itu lalu buru-buru berkata


“Tuan, mereka benar, saya telah disandera wanita yang di


dalam kios itu bersama anak saya. Ketika mereka mau membunuh saya dan anak


saya, tuan ini datang menyelamatkan kami. Tolong tangkap wanita keji itu!”

__ADS_1


Pemimpin rombongan prajurit itu tampak berpikir sejenak lalu


berkata pada anak buahnya


“Amankan wanita itu, cegah dia jangan sampai lari, dia


berbahaya!”


Kemudian dia menoleh pada Kwan Haisan dan wanita penjual


kosmetik


“Kalian ikut kami untuk bersaksi!”


Wiraksara mencegat Wanling yang akan di bawa pergi para


prajurit itu


“Tunggu, dimana kau sembunyikan Maheen?!”


Wanling hanya tersenyum mengejek


“Kau carilah sendiri gadis itu, gara-gara kalian, Ilmu Wajah


Seribu Tahunku musnah sudah.”


Wiraksara tertegun, tangannya bergerak hendak mencengkram


leher Wanling namun para prajurit itu mencegahnya.


“Tunggu, wanita ini masih harus diperiksa, kau tidak boleh


membunuh seorang tahanan!”


“Tapi dia telah menculik temanku, mengambil permatanya dan


menyembunyikannya di suatu tempat,” sanggah Wiraksara.


Prajurit itu memandang Wiraksara dengan tajam lalu berkata


“Jika ada pengaduan kasus yang lain terkait wanita ini kau harus


membuat laporan dan ikut kami sebagai saksi.”


Hamzah menghampiri Wiraksara


“Kita sudah tidak ada waktu lagi, terlalulama jika kita


harus mengorek keterangan darinya karena dia sudah menjadi tahanan negara. Permata


Api itu jangan sampai dikuasai Sekte Air Perak dan yang terpenting Maheen harus


di selamatkan.”


Wiraksara mengangguk lemah, Hamzah benar, jika mengikuti


prosedur negara pasti prosesnya akan berjalan lambat padahal Maheen harus


segera ditemukan. Wiraksara lalu berkata


“Aku harus dapat menemukan Maheen apapun yang terjadi, aku


tak ingin mengecewakan Tamaz yang sudah mempercayaiku. Ayo kita lanjutkan


pencarian kita.”


*****


Sementara itu anak buah Wanling telah membawa Maheen dengan


kereta kuda yang tertutup seperti kontainer, gadis itu masih dalam keadaan


pingsan karena wewangian yang disemprotkan Wanling ke tubuhnya. Ketika kereta


kuda melewati sebuah lubang di jalan yang cukup dalam, guncangan di kereta


membuat Maheen tersadar.


Dimana aku sekarang? Ah, kepalaku rasanya pusing sekali,


batin Maheen.


Maheen mengintip keluar dari celah papan kereta, ada dua orang


laki-laki duduk di depan, sementara yang lainnya mengendalikan kuda. Sadarlah


Maheen, dia telah diculik oleh orang-orang tak dikenal.


Maheen mencoba mengingat kembali kejadian terakhir di pasar.


Mendadak dia teringat sesuatu


Wanita penjual kosmetik itu telah meracuniku dengan wewangian


yang disemprotkan kepadaku, pikir Maheen.


Tiba-tiba Maheen merasakan kereta berhenti mendadak, diluar


terdengar suara orang berbicara


“Serahkan pendeta wanita itu pada kami atau kami akan


merebut paksa dari kalian!”


“Apa yang kau bicarakan, kami tidak membawa wanita di kereta


ini!”


“Jangan bohong, kami sudah mengikuti kalian sejak dari pasar


tadi!”


Tak lama kemudian terdengar suara pertarungan dan denting


senjata yang beradu.


Maheen terkejut, dia seperti mengenal suara itu, dia mengintip


keluar dari celah papan kereta. Dilihatnya Mehrak dan anak buahnya berusaha


merebutnya dari penculiknya.


Mehrak, bagaimana dia bisa tahu aku diculik? Pikir Maheen.


Tiba-tiba terdengar suara pintu kereta dibuka dari luar,


Maheen terkejut dan berseru tertahan

__ADS_1


“Mehrak!”


__ADS_2