KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Pencarian Wiraksara


__ADS_3

Xie Jin Sekretaris Agung Kaisar Yongle maju ke hadapan


Yongle.


“Ampun Kaisar, apa yang dikatakan oleh Saudara Wang adalah


benar adanya, saat ini kita sedang berkonsentrasi menghadapi serangan Mongol


dari Utara yang masih mencoba kembali menguasai China, saat ini pasukan Mongol


di bawah Timurlenk telah menguasai sebagian Persia, India dan  Rusia, belum lagi perang dengan negeri Annam


yang masih berlarut-larut. Majapahit adalah sebuah kerajaan besar di wilayah


Tenggara, kekuatan perang mereka tidak dapat disepelekan.  Bahkan pasukan Kubilai Khan yang sudah mencoba


berkali-kali menyerang Jawa selalu gagal menguasai Majapahit.  Apalagi Utusan Majapahit itu adalah jaminan


pembayaran ganti rugi kita, jangan sampai mereka tidak mau membayar ganti rugi


perang kita karena kematian Utusan Majapahit itu.  Saran saya sebaiknya kita utus pasukan


Jinyiwei atau telik sandi dari kesatuan Dhongchang untuk mencarinya sekaligus


menyelidiki hilangnya stempel kekaisaran itu.”


Kaisar Yongle tampak terdiam mempertimbangkan usulan Xie


Jin, setelah itu dia berkata


“Baiklah nanti kita akan segera mencarinya sampai ketemu dan


menyelidiki masalah ini sampai tuntas.”


“Laksamana Cheng Ho datang!”


Seorang Kasim berseru mengabarkan kedatangan Chengho ke


istana, tak lama kemudian masuklah Cheng Ho di dampingi Ma Huan Sekretarisnya


ke balariung istana, lalu mereka berlutut di hadapan kaisar.


“Panjang umur …panjang umur untuk Kaisar!”


“Berdirilah…adakah kabar baik dari perjalananmu kali ini?”


Tanya Kaisar Yongle.


Cheng Ho berdiri dan mulai melaporkan hasil perjalanannya


“Yang Mulia, perjalanan kami telah mencapai Afrika dan


sebagai bukti bahwa kami telah sampai di Afrika, kami membawa Jerapah hewan


besar berleher panjang seperti bambu.”


Para hadirin jadi penasaran dengan hewan jerapah  tak terkecuali Kaisar Yongle.


“Baiklah, segera bawa hewan itu ke taman istana biar aku dan


para penghuni istana dapat melihatnya dengan lebih jelas.”


“Baik Yang Mulia, selain itu saya juga ingin melaporkan


kabar baik, pihak Majapahit akan datang di musim panas ini untuk membayarkan


cicilan mereka yang pertama. Mungkin nantinya mereka juga ingin menjenguk


Utusan Majapahit yang masih berada di China sebagai jaminan hutang itu.”


Kaisar Yongle terkejut  mendengarnya


“Cheng Ho, Utusan Majapahit itu kemarin diculik oleh


sekelompok orang-orang tak dikenal setelah memergoki mereka mencuri stempel


Kerajaan. Jadi kita harus bisa menemukannya sebelum orang-orang Majapahit itu


datang.”


Cheng Ho juga terkejut mendengar berita itu


“Celaka, jangan sampai mereka tahu bahwa utusannya hilang


diculik atau terbunuh, malulah kita sebagai kerajaan besar tapi tidak mampu


melindungi tamunya.  Yang Mulia kita


harus segera menemukannya, kalau tidak hubungan kita dengan Majapahit akan

__ADS_1


berakhir dengan peperangan. Padahal para pebisnis dari China sudah banyak yang


berinvestasi di Jawa. Jangan sampai keselamatan orang-orang China yang


berdagang di Jawa terancam karena masalah ini.  Jika mereka tahu utusannya dibunuh, rakyat


Majapahit pasti akan balas dendam membunuh orang-orang China yang berada di


Jawa.”


“Baiklah aku perintahkan Wang Yu selaku pemimpin Kesatuan


Jinyiwei dan Meng Fei selaku pemimpin Kesatuan Telik Sandi Dhongchang untuk


mengirimkan anak buahnya mencari Utusan Majapahit itu,” perintah Yongle.


Tiba-tiba Pangeran Gaoxi maju menghadap ayahnya dan berkata


“Ayah, selama ini Utusan Majapahit itu diperlakukan dengan


buruk, dia pernah menjadi pengurus kuda di istana dan sekarang kudengar dia


ditugaskan oleh Xianning sebagai pengurus anjing-anjing istana. Dia bukan


tawanan perang melainkan tamu negara. Seharusnya kita tempatkan dia di tempat


yang pantas untuk tamu negara seperti dia.”


Kaisar Yongle tampak terkejut dan marah


“Benarkah demikian? Siapa yang memperlakukan dia seperti


itu? Aku tidak pernah menyuruh orang menempatkannya sebagai pengurus kuda.


Siapa yang menempatkan dia sebagai pengurus kuda?!”


Kepala Pengurus Rumah Tangga istana maju ke hadapan Yongle,


tubuhnya gemetar ketakutan


“Ampun Yang Mulia, salah satu pejabat bawahan saya telah


bertindak semena-mena. Saya kira itu hanya salah paham saja, dia menyangka


bahwa sebagai jaminan hutang adalah sama dengan menjadi tawanan perang. Baiklah


memperlakukannya secara layak sebagai seorang utusan negara sahabat.”


Namun Kaisar Yongle yang terkenal sangat disiplin dan temperamental


langsung bertitah


“Penjarakan Kepala Pengurus Rumah Tangga Istana dan Pejabat


bawahannya yang telah salah menjalankan perintah dan beri hukuman rangket


sekarang juga!”


Beberapa pengawal segera bersiap melakukan hukuman rangket,


Kepala Pengurus Rumah Tangga Istana dan Pejabat bawahannya dibawa ke hadapan


Kaisar dan dipaksa menelungkup. Beberapa pengawal memegangi tangan dan kaki


mereka agar tidak bergerak selama dirangket. Setelah itu beberapa pengawal yang


membawa tongkat panjang langsung menggebukan tongkatnya ke punggung mereka


dengan kuat berkali-kali.


Kedua orang itu berteriak kesakitan dan memohon ampunan pada


Kaisar. Setelah dirangket sebanyak 20 kali pukulan Pangeran Gaoxi yang tidak


tega maju berlutut ke hadapan ayahnya


“Ayah, tolong hentikan hukuman rangket ini, masukan saja


mereka ke penjara, saya kira hukuman ini sudah cukup menjadi pelajaran bagi


mereka agar tidak berlaku semena-mena.”


“Gaoxi, setelah aku mati kau akan menjadi kaisar menggantikanku.


Sebagai seorang Kaisar kau tidak boleh terlalu welas asih pada mereka yang


bersalah seperti Budha. Kalau kau terlalu welas asih, orang-orang itu akan


menginjak kepalamu.”

__ADS_1


Gaoxi hanya terdiam menunduk, sebagai Putera Mahkota Gaoxi


lebih tertarik pada karya seni seperti puisi, lukisan. Sama sekali tidak


tertarik dengan peperangan yang menurutnya kejam.


Kaisar Yongle kemudian bertitah lagi


“Sudah cukup, bawa mereka ke penjara!”


Para pengawal menyeret kedua pejabat yang sudah setengah


teler karena hukuman rangket ke penjara. Pengeran Gaoxi menatap iba pada


mereka, kedua orang itu bahkan sudah tidak mampu berjalan lagi. Buru-buru dia


memberi hormat pada ayahnya dan berkata


“Terimakasih atas belas kasihanmu Ayah.”


Saat dia kembali ke sisi Gaoxu,  adiknya memandangnya dengan pandangan mengejek


dan berkata lirih kepadanya


“Apa jadinya China jika dipimpin oleh Kaisar lemah


sepertimu? Bisa kupastikan pasukan Timurlenk akan kembali menguasai China dan


kita akan dijajah Mongol kembali.”


Namun Gaoxi hanya tersenyum sinis dan berkata


“Apa jadinya jika kau yang jadi kaisar? Rakyat akan


memberontak karena diperlakukan dengan zalim dan Dinasti Ming akan runtuh. Kau


pikir dengan hanya bersikap kejam akan menyelesaikan masalah? Jika kau memang


yang terbaik, ayah pasti akan menunjukmu sebagai seorang putera Mahkota.”


Gaoxu terdiam wajahnya membesi, matanya menatap dengan


pandangan penuh dendam pada Sekretaris Agung Xie Jin.


Gara-gara mulut berbisamu, ayahku membatalkan keputusannya


untuk menjadikanku Putera Mahkota sepulangnya dari Annam. Awas tunggu saja


balasanku, batin Gaoxu dengan geram.


Usai rapat bersama para pejabat, diam-diam Xie Jin menemui


Kaisar Yongle di ruang kerjanya.


“Xie Jin, ada hal apa kau menemuiku di sini?”


“Ampun Yang Mulia, ada hal penting yang harus saya


sampaikan.  Saya telah mengumpulkan


laporan dari kesatuan Jinyiwei yang malam itu sempat mengepung orang-orang yang


mencoba mencuri stempel kaisar. Jelas sekali mereka adalah orang-orang dalam


juga, jika tidak bagaimana mereka bisa tahu dimana stempel itu berada dan


bagaimana mereka bisa tahu bahwa orang yang memergoki mereka adalah utusan


Majapahit yang kita tahan di sini sebagai jaminan hutang? Maaf jika saya


mengatakan, kemungkinan Pangeran Gaoxu terlibat dalam hal ini.”


Kaisar Yongle tampak terkejut mendengarnya


“Gaoxu adalah anakku sendiri, bagaimana mungkin dia berani


melakukan hal itu?”


“Ampun Yang Mulia, tidakkah anda tahu bahwa selama ini


Pangeran Gaoxi dan Gaoxu bersaing agar dapat menjadi Putera Mahkota? Anda


pernah hampir mengubah keputusan dengan mengangkat Gaoxu menjadi Putera Mahkota


karena kemampuan berperangnya setelah dia pulang dari Annam. Dan sekarang anda


membatalkannya setelah mendengar usulan para bangsawan dan pejabat istana.


Pasti dia telah merencanakan sesuatu dengan stempel itu,” ujar Xie Jin.

__ADS_1


__ADS_2