
Xie Jin Sekretaris Agung Kaisar Yongle maju ke hadapan
Yongle.
“Ampun Kaisar, apa yang dikatakan oleh Saudara Wang adalah
benar adanya, saat ini kita sedang berkonsentrasi menghadapi serangan Mongol
dari Utara yang masih mencoba kembali menguasai China, saat ini pasukan Mongol
di bawah Timurlenk telah menguasai sebagian Persia, India dan Rusia, belum lagi perang dengan negeri Annam
yang masih berlarut-larut. Majapahit adalah sebuah kerajaan besar di wilayah
Tenggara, kekuatan perang mereka tidak dapat disepelekan. Bahkan pasukan Kubilai Khan yang sudah mencoba
berkali-kali menyerang Jawa selalu gagal menguasai Majapahit. Apalagi Utusan Majapahit itu adalah jaminan
pembayaran ganti rugi kita, jangan sampai mereka tidak mau membayar ganti rugi
perang kita karena kematian Utusan Majapahit itu. Saran saya sebaiknya kita utus pasukan
Jinyiwei atau telik sandi dari kesatuan Dhongchang untuk mencarinya sekaligus
menyelidiki hilangnya stempel kekaisaran itu.”
Kaisar Yongle tampak terdiam mempertimbangkan usulan Xie
Jin, setelah itu dia berkata
“Baiklah nanti kita akan segera mencarinya sampai ketemu dan
menyelidiki masalah ini sampai tuntas.”
“Laksamana Cheng Ho datang!”
Seorang Kasim berseru mengabarkan kedatangan Chengho ke
istana, tak lama kemudian masuklah Cheng Ho di dampingi Ma Huan Sekretarisnya
ke balariung istana, lalu mereka berlutut di hadapan kaisar.
“Panjang umur …panjang umur untuk Kaisar!”
“Berdirilah…adakah kabar baik dari perjalananmu kali ini?”
Tanya Kaisar Yongle.
Cheng Ho berdiri dan mulai melaporkan hasil perjalanannya
“Yang Mulia, perjalanan kami telah mencapai Afrika dan
sebagai bukti bahwa kami telah sampai di Afrika, kami membawa Jerapah hewan
besar berleher panjang seperti bambu.”
Para hadirin jadi penasaran dengan hewan jerapah tak terkecuali Kaisar Yongle.
“Baiklah, segera bawa hewan itu ke taman istana biar aku dan
para penghuni istana dapat melihatnya dengan lebih jelas.”
“Baik Yang Mulia, selain itu saya juga ingin melaporkan
kabar baik, pihak Majapahit akan datang di musim panas ini untuk membayarkan
cicilan mereka yang pertama. Mungkin nantinya mereka juga ingin menjenguk
Utusan Majapahit yang masih berada di China sebagai jaminan hutang itu.”
Kaisar Yongle terkejut mendengarnya
“Cheng Ho, Utusan Majapahit itu kemarin diculik oleh
sekelompok orang-orang tak dikenal setelah memergoki mereka mencuri stempel
Kerajaan. Jadi kita harus bisa menemukannya sebelum orang-orang Majapahit itu
datang.”
Cheng Ho juga terkejut mendengar berita itu
“Celaka, jangan sampai mereka tahu bahwa utusannya hilang
diculik atau terbunuh, malulah kita sebagai kerajaan besar tapi tidak mampu
melindungi tamunya. Yang Mulia kita
harus segera menemukannya, kalau tidak hubungan kita dengan Majapahit akan
__ADS_1
berakhir dengan peperangan. Padahal para pebisnis dari China sudah banyak yang
berinvestasi di Jawa. Jangan sampai keselamatan orang-orang China yang
berdagang di Jawa terancam karena masalah ini. Jika mereka tahu utusannya dibunuh, rakyat
Majapahit pasti akan balas dendam membunuh orang-orang China yang berada di
Jawa.”
“Baiklah aku perintahkan Wang Yu selaku pemimpin Kesatuan
Jinyiwei dan Meng Fei selaku pemimpin Kesatuan Telik Sandi Dhongchang untuk
mengirimkan anak buahnya mencari Utusan Majapahit itu,” perintah Yongle.
Tiba-tiba Pangeran Gaoxi maju menghadap ayahnya dan berkata
“Ayah, selama ini Utusan Majapahit itu diperlakukan dengan
buruk, dia pernah menjadi pengurus kuda di istana dan sekarang kudengar dia
ditugaskan oleh Xianning sebagai pengurus anjing-anjing istana. Dia bukan
tawanan perang melainkan tamu negara. Seharusnya kita tempatkan dia di tempat
yang pantas untuk tamu negara seperti dia.”
Kaisar Yongle tampak terkejut dan marah
“Benarkah demikian? Siapa yang memperlakukan dia seperti
itu? Aku tidak pernah menyuruh orang menempatkannya sebagai pengurus kuda.
Siapa yang menempatkan dia sebagai pengurus kuda?!”
Kepala Pengurus Rumah Tangga istana maju ke hadapan Yongle,
tubuhnya gemetar ketakutan
“Ampun Yang Mulia, salah satu pejabat bawahan saya telah
bertindak semena-mena. Saya kira itu hanya salah paham saja, dia menyangka
bahwa sebagai jaminan hutang adalah sama dengan menjadi tawanan perang. Baiklah
memperlakukannya secara layak sebagai seorang utusan negara sahabat.”
Namun Kaisar Yongle yang terkenal sangat disiplin dan temperamental
langsung bertitah
“Penjarakan Kepala Pengurus Rumah Tangga Istana dan Pejabat
bawahannya yang telah salah menjalankan perintah dan beri hukuman rangket
sekarang juga!”
Beberapa pengawal segera bersiap melakukan hukuman rangket,
Kepala Pengurus Rumah Tangga Istana dan Pejabat bawahannya dibawa ke hadapan
Kaisar dan dipaksa menelungkup. Beberapa pengawal memegangi tangan dan kaki
mereka agar tidak bergerak selama dirangket. Setelah itu beberapa pengawal yang
membawa tongkat panjang langsung menggebukan tongkatnya ke punggung mereka
dengan kuat berkali-kali.
Kedua orang itu berteriak kesakitan dan memohon ampunan pada
Kaisar. Setelah dirangket sebanyak 20 kali pukulan Pangeran Gaoxi yang tidak
tega maju berlutut ke hadapan ayahnya
“Ayah, tolong hentikan hukuman rangket ini, masukan saja
mereka ke penjara, saya kira hukuman ini sudah cukup menjadi pelajaran bagi
mereka agar tidak berlaku semena-mena.”
“Gaoxi, setelah aku mati kau akan menjadi kaisar menggantikanku.
Sebagai seorang Kaisar kau tidak boleh terlalu welas asih pada mereka yang
bersalah seperti Budha. Kalau kau terlalu welas asih, orang-orang itu akan
menginjak kepalamu.”
__ADS_1
Gaoxi hanya terdiam menunduk, sebagai Putera Mahkota Gaoxi
lebih tertarik pada karya seni seperti puisi, lukisan. Sama sekali tidak
tertarik dengan peperangan yang menurutnya kejam.
Kaisar Yongle kemudian bertitah lagi
“Sudah cukup, bawa mereka ke penjara!”
Para pengawal menyeret kedua pejabat yang sudah setengah
teler karena hukuman rangket ke penjara. Pengeran Gaoxi menatap iba pada
mereka, kedua orang itu bahkan sudah tidak mampu berjalan lagi. Buru-buru dia
memberi hormat pada ayahnya dan berkata
“Terimakasih atas belas kasihanmu Ayah.”
Saat dia kembali ke sisi Gaoxu, adiknya memandangnya dengan pandangan mengejek
dan berkata lirih kepadanya
“Apa jadinya China jika dipimpin oleh Kaisar lemah
sepertimu? Bisa kupastikan pasukan Timurlenk akan kembali menguasai China dan
kita akan dijajah Mongol kembali.”
Namun Gaoxi hanya tersenyum sinis dan berkata
“Apa jadinya jika kau yang jadi kaisar? Rakyat akan
memberontak karena diperlakukan dengan zalim dan Dinasti Ming akan runtuh. Kau
pikir dengan hanya bersikap kejam akan menyelesaikan masalah? Jika kau memang
yang terbaik, ayah pasti akan menunjukmu sebagai seorang putera Mahkota.”
Gaoxu terdiam wajahnya membesi, matanya menatap dengan
pandangan penuh dendam pada Sekretaris Agung Xie Jin.
Gara-gara mulut berbisamu, ayahku membatalkan keputusannya
untuk menjadikanku Putera Mahkota sepulangnya dari Annam. Awas tunggu saja
balasanku, batin Gaoxu dengan geram.
Usai rapat bersama para pejabat, diam-diam Xie Jin menemui
Kaisar Yongle di ruang kerjanya.
“Xie Jin, ada hal apa kau menemuiku di sini?”
“Ampun Yang Mulia, ada hal penting yang harus saya
sampaikan. Saya telah mengumpulkan
laporan dari kesatuan Jinyiwei yang malam itu sempat mengepung orang-orang yang
mencoba mencuri stempel kaisar. Jelas sekali mereka adalah orang-orang dalam
juga, jika tidak bagaimana mereka bisa tahu dimana stempel itu berada dan
bagaimana mereka bisa tahu bahwa orang yang memergoki mereka adalah utusan
Majapahit yang kita tahan di sini sebagai jaminan hutang? Maaf jika saya
mengatakan, kemungkinan Pangeran Gaoxu terlibat dalam hal ini.”
Kaisar Yongle tampak terkejut mendengarnya
“Gaoxu adalah anakku sendiri, bagaimana mungkin dia berani
melakukan hal itu?”
“Ampun Yang Mulia, tidakkah anda tahu bahwa selama ini
Pangeran Gaoxi dan Gaoxu bersaing agar dapat menjadi Putera Mahkota? Anda
pernah hampir mengubah keputusan dengan mengangkat Gaoxu menjadi Putera Mahkota
karena kemampuan berperangnya setelah dia pulang dari Annam. Dan sekarang anda
membatalkannya setelah mendengar usulan para bangsawan dan pejabat istana.
Pasti dia telah merencanakan sesuatu dengan stempel itu,” ujar Xie Jin.
__ADS_1