
Tamaz dan rombongannya memasuki penginapan teratai putih
seorang pelayan datang menyambut mereka
“Selamat datang di Penginapan Teratai Putih.”
“Kami perlu 4 kamar untuk rombongan kami dan tempat untuk
menyimpan kereta barang dagangan.”
Pelayan itu segera mempersilahkan masuk dan membawa mereka
menemui Hamzah si pemilik penginapan untuk mendaftar. Ketika Tamaz melihat
Hamzah wajahnya seketika berubah
“Bahiri, kau ada di sini?”
Hamzah yang sedang menulis menghentikan kegiatannya, dia terkejut mendengar ada orang yang memanggil
dengan nama aslinya, ketika melihat Tamaz dia tertegun kemudian tertawa gembira
“Tamaz, akhirnya kita bertemu di sini, sudah lama kita tidak
bertemu.”
“Bahiri, kemana saja kau setelah meninggalkan Kuil Kahyangan
Api?” Tanya Tamaz.
Hamzah menghela nafas panjang dan berkata
“Tamaz, panggil aku dengan nama Hamzah, aku sudah bukan lagi
penganut Majusi. Setelah pengkhianatan Mehrak dan pencurian permata Azura
Mahda, aku pergi mencari Mehrak . Tetapi aku gagal melaksanakan tugas, Mehrak
dan anak buahnya hampir saja membunuhku di Gurun Taklamakan. Untunglah aku
diselamatkan oleh seorang pengelana dari Uyghur bernama Mehdan . Aku menikahi
anak perempuan Mehdan dan memulai hidup baru di kota Ningxia. Lalu mengapa kau
meninggalkan kuil dan pergi ke China? Apakah kau sudah berganti profesi sebagai
pedagang?”
“Ha ha ha ha, sebenarnya aku tidak sedang berdagang, aku
masih tetap menjadi pendeta di Kuil Kahyangan Api. Saat ini kami sedang dalam
penyamaran untuk mengejar Mehrak. Akhirnya
kami berhasil mendapatkan permata Azura Mahda setelah belasan tahun
menghilang,” ungkap Tamaz.
Hamzah tampak terkejut
“Kalian bisa menemukannya? Bagaimana kalian bisa
menemukannya?”
“Kiranya Azura Mahda telah memberikan petunjuk kepada kami,
salah satu umat kita melihat keberadaan Mehrak di Gansu. Entah apa yang
dilakukannya di sana setelah dia menghilang bagai ditelan bumi,” kata Tamaz.
Saat berjalan menuju kamarnya Tamaz bertemu Wiraksara,
pendeta kuil api itu terkejut melihat keberadaan Wiraksara di penginapan Tamaz
“Anak muda, kau ada di sini ternyata?”
“Aku menemukannya di jalan dalam keadaan terluka, saat itu
aku baru saja melayat temanku yang meninggal di Yinchuan. Lalu dia kubawa
kemari,” ujar Hamzah.
“Dia terkena racun yang ganas, tubuhnya masih lemah, dia
masih perlu waktu lama untuk bisa sembuh dari luka dalamnya,” kata Tamaz.
__ADS_1
*****
Hari sudah larut malam, suasana penginapan mulai terasa
sepi, para tamu sudah tidur di peraduannya. Namun Wiraksara masih belum bisa
tidur pulas, beberapa bagian di tubuhnya masih terasa sakit. Wiraksara duduk
bersila mengerahkan tenaga dalam untuk menyembuhkan luka dalamnya. Tiba-tiba
telinganya menangkap ada bunyi debu bercampur pasir menggelontor di atas
genting. Bunyi itu tidak teralu jelas terdengar namun pendengaran Wiraksara
mampu menangkap bunyi itu yang baginya tidak biasa.
Sepertinya ada orang di atas genting, siapa mereka dan apa
maksud mereka menyatroni penginapan ini? Batin Wiraksara.
Tiba-tiba Wiraksara tersadar
“Mehrak, dia pasti mengikuti Tamaz agar bisa menguasai
permata Azura Mahda itu kembali,” gumam Wiraksara sambil bangkit dari duduknya.
*****
Tamaz sedang beristirahat di kamarnya, di saat itu seseorang
melubangi kertas yang melapisi jendela dan melemparkan bola berasap tipis
seperti obat nyamuk bakar. Merasa ada bunyi yang aneh, Tamaz terbangun tetapi
terlambat, Mehrak telah berdiri di hadapannya
“Serahkan permata Azura Mahda itu Tamaz, permata itu akan
lebih berguna di tanganku daripada di tangan pendeta seperti kalian. Dengan
permata itu, aku akan menguasai dunia dan seisinya,” ujar Mehrak.
Namun Tamaz hanya tertawa sinis
“Mehrak, jangan mimpi di siang bolong, kau hanya memiliki
memiliki satu elemen karena ke empat elemen itu harus bergabung jadi satu
barulah kekuatan bumi akan kau dapatkan.”
Wajah Mehrak berubah dia buru-buru bertanya
“Dimana permata yang lainnya Tamaz? Lebih baik kita bekerja
sama saja untuk menguasai dunia ini. Nantinya kau akan mendapatkan kekayaan dan
kekuasaan.”
“Tidak akan pernah kuberitahukan kepadamu, permata-permata
itu di simpan di tempat yang terpisah agar tidak mudah dikuasai orang!” Ungkap
Tamaz.
Mehrak semakin marah, tangannya bergerak menyerang Tamaz
“Kalau begitu aku harus membunuhmu agar dapat merebut
kembali permata itu.”
Tamaz melompat menghindari pukulan Mehrak, keduanya kemudian
bertarung di dalam kamar. Sontak para tamu terbangun mendengar suara berisik
dari dalam kamar. Melihat ada pertarungan, para tamu yang panik berlarian
keluar kamar dan melapor pada Hamzah.
Merasa ruang geraknya terlalu sempit,Tamaz keluar kamar dan
bertarung di halaman di depan kamarnya. Sementara terlihat anak buahnya dan
Maheen anak perempuannya sedang bertarung melawan anak buah Mehrak. Seketika
perhatian Tamaz terbelah dua antara bertarung melawan Mehrak dan Maheen.
__ADS_1
“Maheen, cepat pergi dari sini!” Seru Tamaz memperingatkan
ayahnya.
Maheen saat itu sedang melawan beberapa anak buah Mehrak.
Gadis itu tampaknya sudah keteteran melawan ketiga orang itu. Tamaz ingin
segera menyelesaikan pertarungannya dengan Mehrak agar dapat segerqa membantu
Maheen. Telapak tangan Tamaz tiba-tiba mengeluarkan
api.
“Jurus Api Suci Azura Mahda, kau menguasai ilmu itu rupanya.
Tapi sayangnya aku telah menguasai tingkatan yang lebih tinggi, kau tidak akan
dapat mengalahkanku,” ejek Mehrak.
“Kurang ajar rupanya kau telah mencuri kitab Api Suci Azura
Mahda dari kuil. Sehingga para pendeta muda calon tetua Kuil Kahyangan Api
tidak dapat mempelajarinya lagi. Aku harus mengajarkannya secara lisan pada
mereka,” kata Tamaz.
Tamaz bergerak hendak menyerang Mehrak namun mendadak tubuhnya
terasa lemah dan dadanya sesak. Sadarlah Tamaz dia telah terkena racun Mehrak.
“Dasar licik, kau telah meracuniku!”
“Ha ha ha ha aku tidak ingin membuang waktu dengan berlama-lama
bertarung denganmu, lebih cepat kau mati iti lebih baik,” Mehrak tertawa puas
melihat musuhnya telah tak berdaya.
Mehrak berjalan mendekati Tamaz, tangannya bersiap memukul
kepala musuhnya. Tiba-tiba tangan Mehrak terasa kesemutan, seseorang telah
melempar tangannya dengan sebuah batu kecil. Mehrak menoleh dan dilihatnya Hamzah telah berada di gelanggang. Wajah
Mehrak tampak terkejut namun dia segera menutupinya dengan senyuman
“Aah, Bahiri, akhirnya kita berjumpa lagi, setelah ini sudah
sepantasnya kita merayakan pertemuan kita.”
“Panggil aku dengan nama Hamzah, aku sudah bukan lagi
pemeluk Majusi. Lagipula aku tidak sudi
duduk semeja dengan pengkhianat,” Seru Hamzah.
“Kau menyebut aku pengkhianat? Lalu bagaimana dengan dirimu
yang telah berubah keyakinan dengan memeluk agama Islam? Kaulah pengkhianat
yang sebenarnya,” ejek Mehrak.
Hamzah tertegun dia lalu menyerang Mehrak yang berdiri di
depannya, api muncul di telapak
tangannya lalu dia bergerak menyerang Hamzah. Api di tangan Hamzah
menyambar-nyambar menyerang Mehrak, sementara Mehrak juga menggunakan jurus Api
Suci Azura Mahda.
Mehrak terkejut, ternyata Hamzah menguasai jurus Api Suci
Azura Mahda secara utuh. Setelah melompat mundur menghindari serangan Hamzah,
Mehrak berkata
“Tak kusangka kau juga menguasai jurus Api Suci Azura Mahda
sampai tingkatan tertinggi. Kau sudah keluar dari Kuli Kahyangan Api dan
memeluk agama Islam tetapi kau masih tetap menggunakan jurus Api Suci Azura
__ADS_1
Mahda. Sungguh kau memang orang yang tak tahu malu,” ejek Mehrak.