KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Jurus Api Suci Azura Mahda


__ADS_3

Tamaz dan rombongannya memasuki penginapan teratai putih


seorang pelayan datang menyambut mereka


“Selamat datang di Penginapan Teratai Putih.”


“Kami perlu 4 kamar untuk rombongan kami dan tempat untuk


menyimpan kereta barang dagangan.”


Pelayan itu segera mempersilahkan masuk dan membawa mereka


menemui Hamzah si pemilik penginapan untuk mendaftar. Ketika Tamaz melihat


Hamzah wajahnya seketika berubah


“Bahiri, kau ada di sini?”


Hamzah yang sedang menulis menghentikan kegiatannya, dia terkejut  mendengar ada orang yang memanggil


dengan nama aslinya, ketika melihat Tamaz dia tertegun kemudian tertawa gembira


“Tamaz, akhirnya kita bertemu di sini, sudah lama kita tidak


bertemu.”


“Bahiri, kemana saja kau setelah meninggalkan Kuil Kahyangan


Api?” Tanya Tamaz.


Hamzah menghela nafas panjang dan berkata


“Tamaz, panggil aku dengan nama Hamzah, aku sudah bukan lagi


penganut Majusi. Setelah pengkhianatan Mehrak dan pencurian permata Azura


Mahda, aku pergi mencari Mehrak . Tetapi aku gagal melaksanakan tugas, Mehrak


dan anak buahnya hampir saja membunuhku di Gurun Taklamakan. Untunglah aku


diselamatkan oleh seorang pengelana dari Uyghur bernama Mehdan . Aku menikahi


anak perempuan Mehdan dan memulai hidup baru di kota Ningxia. Lalu mengapa kau


meninggalkan kuil dan pergi ke China? Apakah kau sudah berganti profesi sebagai


pedagang?”


“Ha ha ha ha, sebenarnya aku tidak sedang berdagang, aku


masih tetap menjadi pendeta di Kuil Kahyangan Api. Saat ini kami sedang dalam


penyamaran untuk mengejar Mehrak.  Akhirnya


kami berhasil mendapatkan permata Azura Mahda setelah belasan tahun


menghilang,” ungkap Tamaz.


Hamzah tampak terkejut


“Kalian bisa menemukannya? Bagaimana kalian bisa


menemukannya?”


“Kiranya Azura Mahda telah memberikan petunjuk kepada kami,


salah satu umat kita melihat keberadaan Mehrak di Gansu. Entah apa yang


dilakukannya di sana setelah dia menghilang bagai ditelan bumi,” kata Tamaz.


Saat berjalan menuju kamarnya Tamaz bertemu Wiraksara,


pendeta kuil api itu terkejut melihat keberadaan Wiraksara di penginapan Tamaz


“Anak muda, kau ada di sini ternyata?”


“Aku menemukannya di jalan dalam keadaan terluka, saat itu


aku baru saja melayat temanku yang meninggal di Yinchuan. Lalu dia kubawa


kemari,” ujar Hamzah.


“Dia terkena racun yang ganas, tubuhnya masih lemah, dia


masih perlu waktu lama untuk bisa sembuh dari luka dalamnya,” kata Tamaz.

__ADS_1


*****


Hari sudah larut malam, suasana penginapan mulai terasa


sepi, para tamu sudah tidur di peraduannya. Namun Wiraksara masih belum bisa


tidur pulas, beberapa bagian di tubuhnya masih terasa sakit. Wiraksara duduk


bersila mengerahkan tenaga dalam untuk menyembuhkan luka dalamnya. Tiba-tiba


telinganya menangkap ada bunyi debu bercampur pasir menggelontor di atas


genting. Bunyi itu tidak teralu jelas terdengar namun pendengaran Wiraksara


mampu menangkap bunyi itu yang baginya tidak biasa.


Sepertinya ada orang di atas genting, siapa mereka dan apa


maksud mereka menyatroni penginapan ini? Batin Wiraksara.


Tiba-tiba Wiraksara tersadar


“Mehrak, dia pasti mengikuti Tamaz agar bisa menguasai


permata Azura Mahda itu kembali,” gumam Wiraksara sambil bangkit dari duduknya.


*****


Tamaz sedang beristirahat di kamarnya, di saat itu seseorang


melubangi kertas yang melapisi jendela dan melemparkan bola berasap tipis


seperti obat nyamuk bakar. Merasa ada bunyi yang aneh, Tamaz terbangun tetapi


terlambat, Mehrak telah berdiri di hadapannya


“Serahkan permata Azura Mahda itu Tamaz, permata itu akan


lebih berguna di tanganku daripada di tangan pendeta seperti kalian. Dengan


permata itu, aku akan menguasai dunia dan seisinya,” ujar Mehrak.


Namun Tamaz hanya tertawa sinis


“Mehrak, jangan mimpi di siang bolong, kau hanya memiliki


memiliki satu elemen karena ke empat elemen itu harus bergabung jadi satu


barulah kekuatan bumi akan kau dapatkan.”


Wajah Mehrak berubah dia buru-buru bertanya


“Dimana permata yang lainnya Tamaz? Lebih baik kita bekerja


sama saja untuk menguasai dunia ini. Nantinya kau akan mendapatkan kekayaan dan


kekuasaan.”


“Tidak akan pernah kuberitahukan kepadamu, permata-permata


itu di simpan di tempat yang terpisah agar tidak mudah dikuasai orang!” Ungkap


Tamaz.


Mehrak semakin marah, tangannya bergerak menyerang Tamaz


“Kalau begitu aku harus membunuhmu agar dapat merebut


kembali permata itu.”


Tamaz melompat menghindari pukulan Mehrak, keduanya kemudian


bertarung di dalam kamar. Sontak para tamu terbangun mendengar suara berisik


dari dalam kamar. Melihat ada pertarungan, para tamu yang panik berlarian


keluar kamar dan melapor pada Hamzah.


Merasa ruang geraknya terlalu sempit,Tamaz keluar kamar dan


bertarung di halaman di depan kamarnya. Sementara terlihat anak buahnya dan


Maheen anak perempuannya sedang bertarung melawan anak buah Mehrak. Seketika


perhatian Tamaz terbelah dua antara bertarung melawan Mehrak dan Maheen.

__ADS_1


“Maheen, cepat pergi dari sini!” Seru Tamaz memperingatkan


ayahnya.


Maheen saat itu sedang melawan beberapa anak buah Mehrak.


Gadis itu tampaknya sudah keteteran melawan ketiga orang itu. Tamaz ingin


segera menyelesaikan pertarungannya dengan Mehrak agar dapat segerqa membantu


Maheen. Telapak tangan Tamaz tiba-tiba  mengeluarkan


api.


“Jurus Api Suci Azura Mahda, kau menguasai ilmu itu rupanya.


Tapi sayangnya aku telah menguasai tingkatan yang lebih tinggi, kau tidak akan


dapat mengalahkanku,” ejek  Mehrak.


“Kurang ajar rupanya kau telah mencuri kitab Api Suci Azura


Mahda dari kuil. Sehingga para pendeta muda calon tetua Kuil Kahyangan Api


tidak dapat mempelajarinya lagi. Aku harus mengajarkannya secara lisan pada


mereka,” kata Tamaz.


Tamaz bergerak hendak menyerang Mehrak namun mendadak tubuhnya


terasa lemah dan dadanya sesak. Sadarlah Tamaz dia telah terkena racun Mehrak.


“Dasar licik, kau telah meracuniku!”


“Ha ha ha ha aku tidak ingin membuang waktu dengan berlama-lama


bertarung denganmu, lebih cepat kau mati iti lebih baik,” Mehrak tertawa puas


melihat musuhnya telah tak  berdaya.


Mehrak berjalan mendekati Tamaz, tangannya bersiap memukul


kepala musuhnya. Tiba-tiba tangan Mehrak terasa kesemutan, seseorang telah


melempar tangannya dengan sebuah batu kecil.  Mehrak menoleh dan dilihatnya Hamzah telah berada di gelanggang. Wajah


Mehrak tampak terkejut namun dia segera menutupinya dengan senyuman


“Aah, Bahiri, akhirnya kita berjumpa lagi, setelah ini sudah


sepantasnya kita merayakan pertemuan kita.”


“Panggil aku dengan nama Hamzah, aku sudah bukan lagi


pemeluk Majusi.  Lagipula aku tidak sudi


duduk semeja dengan pengkhianat,” Seru Hamzah.


“Kau menyebut aku pengkhianat? Lalu bagaimana dengan dirimu


yang telah berubah keyakinan dengan memeluk agama Islam? Kaulah pengkhianat


yang sebenarnya,” ejek Mehrak.


Hamzah tertegun dia lalu menyerang Mehrak yang berdiri di


depannya,  api muncul di telapak


tangannya lalu dia bergerak menyerang Hamzah. Api di tangan Hamzah


menyambar-nyambar menyerang Mehrak, sementara Mehrak juga menggunakan jurus Api


Suci Azura Mahda.


Mehrak terkejut, ternyata Hamzah menguasai jurus Api Suci


Azura Mahda secara utuh. Setelah melompat mundur menghindari serangan Hamzah,


Mehrak berkata


“Tak kusangka kau juga menguasai jurus Api Suci Azura Mahda


sampai tingkatan tertinggi. Kau sudah keluar dari Kuli Kahyangan Api dan


memeluk agama Islam tetapi kau masih tetap menggunakan jurus Api Suci Azura

__ADS_1


Mahda. Sungguh kau memang orang yang tak tahu malu,” ejek Mehrak.


__ADS_2