
Berita kematian Gulya
Sang Diva dari Kazakhstan itu menghebohkan banyak pihak. Masyarakat di kota Urumqi di propinsi Xinjiang
yang berbatasan dengan Kazakhstan juga dikejutkan dengan berita ini. Ternyata
masarakat di propinsi Xinjiang dan beberapa propinsi di utara China juga
mengenal Gulya yang suaranya adalah obat bagi penyakit-penyakit tertentu.
Ma Jingtao sudah tiba di Urumqi bersama Chen Nie mencari
jejak Wiraksara yang menghilang bagai di telan bumi. Di sebuah kedai makan yang
cukup mereka sengaja mampir melepas lelah dan rasa lapar sambil mencari berita
tentang keberadaan Wiraksara. Setelah memesan makanan mereka duduk sambil minum
teh dan mendengarkan pembicaraan orang-orang di kedai. Tidak ada pembicaraan
yang menarik hingga pada akhirnya ada seorang pedagang dari India yang masuk
kedai.
Pedagang India umurnya kurang lebih sekitar 50 tahunan,
jenggotnya yang kelabu tumbuh lebat di dagunya, dia memakai sorban dan berwajah
ramah. Tubuhnya termasuk pendek dengan perutnya yang gendut membuatnya tampak
lucu sekaligus aneh. Melihat kedatangan pedagang
India itu orang-orang di dalam kedai bersorak menyambutnya. Tampaknya pedagang India itu cukup dikenal
baik oleh para pedagang di jalur sutera. Seorang pedagang China menyambutnya
dan berkata
“Tuan Gupta, kebetulan sekali aku bisa bertemu denganmu di
sini. Adakah kabar dari negeri Barat?”
Gupta celingukan mendengar namanya dipanggil,melihat
pedagang dari China itu, dia tersenyum dan kangsung menghampirinya.
“Aah, Tuan Chen sahabatku, kali ini aku membawa banyak
cerita untuk kalian!”
Seorang pedagang dari Turki kemudian berseru pada pelayan
“Pelayan, berikan teh mentega dan Pilaf untuk tuan ini.
Biayanya bebankan pada saya.”
__ADS_1
Namun pedagang dari China memprotesnya
“Hei, biar aku saja yang mentraktir Tuan Gupta, aku sudah
lama tidak pernah berkesempatan mentraktirnya.”
“Sudahlah Tuan Chen, simpan saja uangmu, kau bisa
mentraktirku nanti ketika kita tiba di Kazakhstan,” tukas pedagang Turki itu.
“Tuan Gupta, berita apa yang kau dengar dari Barat? Apakah
jalur di sana aman?” Tanya Tuan Chen.
“Tenang saja, jalur ke Barat cukup aman untuk saat ini, tapi
ada berita duka dari Syrdarya,” kata Gupta.
Para pedagang dari berbagai penjuru dunia mulai mengerumuni
Gupta si pembawa berita dan mulai menunggu kelanjutan ceritanya dengan
antusias.
Terdengar suara Gupta melanjutkan ceritanya
“Ketika sedang berada di Kazakhstan, Gulya kebetulan sedang
pentas di Syrdarya, beruntung aku masih sempat menontonnya. Aku senang
mendengarkan suaranya yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tapi baru
meledakannya. Tampaknya orang-orang yang meledakan itu mengincar sesuatu dari
Gulya,” tutur Gupta dengan ekspresi ketakutan.
Orang-orang berseru terkejut, lalu ada pedagang lain yang
menimpali
“Ya, kemarin aku juga baru tiba dari Syrdarya, aku juga
mendengar berita itu tetapi waktu itu aku tidak menontonnya karena ketiduran
setelah menempuh perjalanan panjang dari Misr. Lalu apa yang mereka cari dari
Gulya? Kurasa Sekte Bumi Hijau bukanlah sekte yang suka membuat keributan
dengan sekte lain. Mereka cinta damai dan memilih tinggal di puncak Tengri Khan,
bertani dan berternak daripada berperang.”
“Lalu bagaimana dengan Gulya? Apakah dia terluka?” Tanya
Tuan Chen.
__ADS_1
“Saat terjadi ledakan para penonton ketakutan dan berlarian
meninggalkan alun-alun. Tetapi aku memilih untuk melihat apa yang terjadi.
Tahukah kalian, usai terjadi ledakan sekelompok orang menyerbu naik ke panggung
lalu berusaha menculik Gulya. Beruntung saat itu ada dua orang pendekar yang datang menghalangi niat mereka dan mengusir
para pengacau itu,” tutur Gupta.
Seorang pelayan datang menghidangkan teh mentega untuk Gupta.
“Sebentar aku mau minum tehku dulu.”
Pedagang India itu menyeruput teh menteganya lalu kembali
melanjutkan ceritanya
“Akibat dari ledakan itu Gulya terluka, tetapi ada hal yang
aneh terjadi. Gulya meminta dua pendekar itu mengiris perutnya dan mengambil
sesuatu dari dalamnya.”
Orang-orang terkejut dan berseru tertahan
“Lalu apa yang mereka dapat dari perut Gulya?” Tanya Pedagang
Turki
“Mereka mendapatkan Permata Hijau dari dalam perutnya.
Kabarnya permata itu berasal dari di masa sebelum ada banjir besar."
Orang-orang bertambah terkejut dan bertanya lagi
"Permata? Permata apa? Pasti permata itu sangat berharga sehingga orang-orang itu tega membunuh orang demi mendapatkannya."
Gupta menggoyangkan tangannya dan menggeleng
"Aku tidak tahu, aku memejamkan mataku ketika mereka mengobok-obok perut Gulya.Setelah itu aku menemukan anak buahnya memegang sebuah permata hijau sebesar telur ayam di tangannya. Yang jelas permata itu pastilah permata yang sangat berharga dan bertuah."
Sontak orang-orang yang mengerumuni Gupta mulai membicarakan permata hijau milik sekte Bumi Hijau. Tetapi di sebuah sudut, terlihat Wan Ling dengan seksama mengikuti pembicaraan Gupta dengan para pedagang lainnya. Mendadak wajahnya tampak sumringah walau hanya sekejap.
"Kalian dengar cerita dari pedagang India itu? Ternyata dia telah menemukan Permata Bumi. Tak lama lagi pencarianku berakhir di sini.Permata itu ternyata dibawa mengungsi ke puncak Tengri Khan puncak tertinggi di Kazakhstan. Bersiaplah. Kita akan mengumpulkan permata 4 Unsur itu."
"Kalau begitu kita harus merebut permata itu dari kedua pengelana itu," tukas Wan Ling.
Wan Ling menoleh kepada anak buahnya
"Setelah ini kita akan ke Syrdarya mencari jejak permata Hijau yang dibawa dua pengelana tadi,"
Tak terkecuali Ma Jing Tao dan Chen Nie tertarik dengan cerita Gupta
"Aku tertarik dengan cerita pedagang India itu, tampaknya permata itu adalah benda yang tidak hanya berharga tetapi juga menyimpan sebuah kekuatan atau tuah seperti benda-benda pusaka lainnya," kata Ma Jing Tao.
__ADS_1
"Lalu apa kau juga akan berburu permata itu?" Tanya Chen Nie sambil tertawa.
"Tidak, tetapi mungkin saja Wiraksara bersama gadis pendeta itu menuju ke Syrdarya. Chen Nie, setelah ini kita meneruskan perjalanan ke Syrdarya mencari mereka," ujar Ma Jing Tao.