KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Menjadi Jaminan Hutang


__ADS_3

Pagi itu Wiraksara telah tiba di kota Peking ibu kota


Kekaisaran China di masa Kaisar Yong Le.  Angin dingin menjelang musim gugur menyambut kedatangan mereka di Kota Peking. Setelah berkuda beberapa lama, sampailah mereka di Komplek istana


kaisar Yong le. Komplek istana kaisar China itu sangat besar melebihi luasnya


komplek istana Majapahit. Dalam kunjungannya itu, Prabu Wikramawardhana juga


membawakan Kaisar sejumlah hadiah berupa kayu cendana, gading gajah, tripang


kering, nilam dan damar. Cukup lama mereka berkuda menyusuri jalanan kota


sebelum akhirnya masuk ke komplek Raja yang terletak di bagian tengah komplek.


Kaisar Yong Le menerima mereka di balariung istana, setelah


memberikan salam dan hormat, barulah Wiraksara mengatakan maksud kedatangannya


“Saya  Wiraksarautusan dari Majapahit.  Gusti Prabu Wikramawardhana


telah memerintahkan saya kemari mewakili beliau untuk meminta maaf atas tragedi


penyerbuan di kraton Majapahit Timur di kota Lamajang, yang mengakibatkan


kematian 170 delegasi dari China. Kami semua sangat menyesalkan kejadian


tersebut. Prabu Wikramawardhana berharap kejadian tersebut tidak mempengaruhi


hubungan kerjasama antara Majapahit dengan China kedepannya,” kata Wiraksara.


“Aku sangat kecewa dengan tindakan kalian, bukankah selama


ini diantara kita telah terjalin hubungan kerjasama yang baik. Negara kami


berusaha membina hubungan baik dan bersahabat baik dengan kraton Majapahit


Barat maupun Kraton Majapahit Timur.   170 orang itu tidak bersalah dan tidak tahu


menahu dengan pertikaian kalian. Dengan terbunuhnya mereka, perdagangan mereka


sekarang tidak terurus, kerja sama perdagangan tidak dapat dilanjutkan lagi dan


itu menyebabkan kerugian pada pihak kami. Pihak keluarga besar mereka juga


merasa dirugikan dan meminta ganti rugi pada Majapahit atas terbunuhnya


keluarga mereka,” tutur Kaisar Yong Le.


Tercekat hati Wiraksara mendengar penjelasan Kaisar Yongle.


Tak disangkanya peristiwa perebutan tahta itu akan berimbas kepada negara lain


yang tidak tahu menahu tentang masalah itu.


Celaka, sepertinya dia mau minta ganti rugi, dari tadi dia


sudah membicarakan untung rugi saja, batin Wiraksara.


“Yang Mulia, kami juga sangat menyesalkan kejadian itu. Kami


berharap kedepannya hal ini tidak terulang lagi dan kerjasama kita dapat


dilanjutkan kembali seperti dulu,” kata Wiraksara berusaha membujuk Kaisar


Yongle.


Namun Kaisar Yong Le yang masih marah dengan kejadian


tersebut kemudian berkata


“Baiklah, kerjasama kita tetap dilanjutkan walaupun harus


dimulai dari awal lagi. Namun kami dari pihak yang dirugikan meminta ganti rugi


sebesar 60.000 tahil emas,” kata Yong Le.


Terkesiap Wiraksara mendengar permintaan Kaisar Yong Le


“Apa … 60.000 tahil emas?” Tanya Wiraksara dengan rasa


terkejut yang luar biasa.


Bagaimana dia tidak kaget, jika 1 tahil emas setara dengan 37,8


gram emas.  Maka jika dinilai dengan

__ADS_1


harga emas sekarang, nilai itu kurang lebih setara dengan Rp. 2 Trilyun. Sebuah


nilai yang fantastis untuk sebuah ganti rugi, bahkan bagi ukuran jaman


sekarang.


Yang Mulia, mohon anda dapat mengurangkan jumlahnya agar


kami dapat membayarnya. Negara kami baru saja berperang, kondisi ekonomi kami


masih belum pulih seluruhnya,” kata Wiraksara mencoba menego.


Kaisar Yongle langsung menukas


“Jumlah itu bisa kalian cicil setiap tahun. Kalian bisa


mengirim utusan kemari untuk membayarkan cicilan ganti rugi itu, Tapi  aku minta jaminan dari kalian atas pembayaran


cicilan ganti rugi itu, jadi utusan kalian ini akan kami tahan di sini sampai


cicilan kalian lunas!” Titah Kaisar Yong Le.


Terkesiap Wiraksara mendengar permintaan Kaisar, namun dia


masih berusaha mencari cara untuk membebaskan dirinya.


“Yang Mulia, anda tidak dapat menahan saya tanpa keputusan


Prabu Wikramawardhana.”


Namun Kaisar Yongle tetap kukuh pada pendapatnya


“Waktu kalian membunuh 170 anggota delegasi perdagangan kami


yang tidak bersalah itu, apakah kalian juga meminta pertimbanganku? Kau tetap


di sini sampai cicilan itu lunas. Setidaknya jika salah satu pejabat pentingnya


kutahan di sini, mereka akan berpikir dua kali jika mau mengemplang pembayaran


cicilannya. Baiklah, kuputuskan orang ini di tahan di China sebagai jaminan


hutang,  sedangkan yang lainnya boleh


Rombongan Majapahit tak bisa menolak keputusan Kaisar


Yongle. Wiraksara merasa kecewa, kedatangannya ke China ternyata membuahkan


hasil menjadi sandera jaminan hutang Majapahit ke China.


Terdengar Kaisar Yongle berkata kepada Perdana Menterinya


“Berikan tempat yang pantas untuk orang Majapahit itu!”


perintah Kaisar Yongle.


“Baik Yang Mulia,” jawab Perdana Menteri itu.


Sang Kaisar pun akhirnya mengakhiri pertemuannya dan berlalu


pergi dari balariung istana.


Perdana Menteri kemudian terlihat berbicara dengan seorang pejabat


istana yang tampaknya anak buahnya, tak lama kemudian pejabat itu mendatanginya


dan berkata


“Mari ikut aku,” kata Pejabat itu


Pejabat itu mengajaknya berjalan di belakang komplek istana


Kaisar Yongle yang begitu luas. Walaupun sudah sering berkunjung ke istana Raja


di China, namun Wiraksara belum pernah masuk lebih dalam ke komplek istana yang


luasnya bagaikan sebuah kota yang dipagari tembok batu. Ada banyak komplek


bangunan di situ. Deretan rumah-rumah itu makin jarang dan sampailah mereka di


sebuah padang rumput yang luas dikelilingi oleh istal (kandang kuda). Wiraksara


bingung, untuk apa dia diantar ke kandang kuda istana.


Dengan ragu-ragu Wiraksara bertanya pada pejabat itu

__ADS_1


“Tuan, tempat macam apa ini? Dimana aku harus tinggal?”


Pejabat itu menoleh kepada Wiraksara dengan pandangan


meremehkan.


“Tentu saja tempatmu di sini di kandang kuda, nanti aku akan


menunjukan gubukmu,” kata Pejabat itu.


Terkesiap Wiraksara melihat sikap pejabat itu, namun dia


mencoba bersabar, sebagai tamu dia masih mencoba menahan diri agar tidak


menyinggung perasaan Tuan Rumah. Apalagi dalam hal ini Majapahit telah bersalah.  Mereka berdua terus menyusuri padang


rumput itu dan sampailah mereka di sebuah pondok kecil dari kayu yang


sederhana. Seorang laki-laki tua berusia 40 tahunan tampak sedang merawat


tanaman sayuran di depan rumahnya sore itu.


Pejabat itu berteriak memanggil orang tua itu


“Hei, kubawakan teman untukmu!  Lihat dia masih muda, tubuhnya kuat, dia bisa


membantumu merawat kuda-kuda itu dengan lebih baik!” Kata pejabat itu kemudian


meninggalkan Wiraksara bersama pria itu.


Orang  itu tampak tak


peduli, dia terus menyibukan diri mengurus tanaman sayurannya.


Wiraksara yang merasa geram diperlakukan seperti tawanan


yang hina tak tahan untuk protes.


“Hei apa maksudmu membawaku kemari? Aku bukan budak kalian,


berikan aku tempat yang lebih baik bukan di kandang kuda seperti ini!”


Pejabat itu menghentikan langkahnya, menoleh dan berkata


“Selama di sini kau harus mengurus kuda-kuda ini bersama


orang itu,” kata Si Pejabat sambil menunjuk pria yang tetap menyibukan diri


mengurus tanamannya di kebunnya.


Kali ini Wiraksara mulai kehilangan kesabarannya, emosinya


sudah memuncak sampai ke ubun-ubun. Harga dirinya sebagai seorang utusan


Majapahit,  jatuh diinjak-injak oleh


seorang pejabat rendahan istana China.


“Hei, kau gila ya, aku ini seorang bangsawan dan pejabat


penting di Majapahit, kau tidak bisa memperlakukanku seperti tawanan di sini!”


Tampaknya pejabat itu juga marah terlihat dari mukanya yang


merah dan matanya melotot. Dia berjalan mendekat dan dengan nada ketus dia


berkata


“Aku tidak peduli kau seorang pejabat tinggi atau bukan, lagipula


aku bukan anak buahmu!”


Wiraksara murka ketika bangsanya disebut bangsa barbar,


tangannya siap mengepal dan meninju wajah pejabat tengil itu. Namun sebuah


suara dan tangan yang kokoh menahannya melakukannya dan berkata


“Sudahlah, tak usah pedulikan dia,  masuklah, sebentar lagi hari gelap dan udara


mulai dingin karena sudah musim gugur. Kau tampak lelah setelah datang dari


jauh,  beristirahatlah dulu di dalam,”


katanya menenangkan Wiraksara.

__ADS_1


__ADS_2