
Pagi itu Wiraksara telah tiba di kota Peking ibu kota
Kekaisaran China di masa Kaisar Yong Le. Angin dingin menjelang musim gugur menyambut kedatangan mereka di Kota Peking. Setelah berkuda beberapa lama, sampailah mereka di Komplek istana
kaisar Yong le. Komplek istana kaisar China itu sangat besar melebihi luasnya
komplek istana Majapahit. Dalam kunjungannya itu, Prabu Wikramawardhana juga
membawakan Kaisar sejumlah hadiah berupa kayu cendana, gading gajah, tripang
kering, nilam dan damar. Cukup lama mereka berkuda menyusuri jalanan kota
sebelum akhirnya masuk ke komplek Raja yang terletak di bagian tengah komplek.
Kaisar Yong Le menerima mereka di balariung istana, setelah
memberikan salam dan hormat, barulah Wiraksara mengatakan maksud kedatangannya
“Saya Wiraksarautusan dari Majapahit. Gusti Prabu Wikramawardhana
telah memerintahkan saya kemari mewakili beliau untuk meminta maaf atas tragedi
penyerbuan di kraton Majapahit Timur di kota Lamajang, yang mengakibatkan
kematian 170 delegasi dari China. Kami semua sangat menyesalkan kejadian
tersebut. Prabu Wikramawardhana berharap kejadian tersebut tidak mempengaruhi
hubungan kerjasama antara Majapahit dengan China kedepannya,” kata Wiraksara.
“Aku sangat kecewa dengan tindakan kalian, bukankah selama
ini diantara kita telah terjalin hubungan kerjasama yang baik. Negara kami
berusaha membina hubungan baik dan bersahabat baik dengan kraton Majapahit
Barat maupun Kraton Majapahit Timur. 170 orang itu tidak bersalah dan tidak tahu
menahu dengan pertikaian kalian. Dengan terbunuhnya mereka, perdagangan mereka
sekarang tidak terurus, kerja sama perdagangan tidak dapat dilanjutkan lagi dan
itu menyebabkan kerugian pada pihak kami. Pihak keluarga besar mereka juga
merasa dirugikan dan meminta ganti rugi pada Majapahit atas terbunuhnya
keluarga mereka,” tutur Kaisar Yong Le.
Tercekat hati Wiraksara mendengar penjelasan Kaisar Yongle.
Tak disangkanya peristiwa perebutan tahta itu akan berimbas kepada negara lain
yang tidak tahu menahu tentang masalah itu.
Celaka, sepertinya dia mau minta ganti rugi, dari tadi dia
sudah membicarakan untung rugi saja, batin Wiraksara.
“Yang Mulia, kami juga sangat menyesalkan kejadian itu. Kami
berharap kedepannya hal ini tidak terulang lagi dan kerjasama kita dapat
dilanjutkan kembali seperti dulu,” kata Wiraksara berusaha membujuk Kaisar
Yongle.
Namun Kaisar Yong Le yang masih marah dengan kejadian
tersebut kemudian berkata
“Baiklah, kerjasama kita tetap dilanjutkan walaupun harus
dimulai dari awal lagi. Namun kami dari pihak yang dirugikan meminta ganti rugi
sebesar 60.000 tahil emas,” kata Yong Le.
Terkesiap Wiraksara mendengar permintaan Kaisar Yong Le
“Apa … 60.000 tahil emas?” Tanya Wiraksara dengan rasa
terkejut yang luar biasa.
Bagaimana dia tidak kaget, jika 1 tahil emas setara dengan 37,8
gram emas. Maka jika dinilai dengan
__ADS_1
harga emas sekarang, nilai itu kurang lebih setara dengan Rp. 2 Trilyun. Sebuah
nilai yang fantastis untuk sebuah ganti rugi, bahkan bagi ukuran jaman
sekarang.
Yang Mulia, mohon anda dapat mengurangkan jumlahnya agar
kami dapat membayarnya. Negara kami baru saja berperang, kondisi ekonomi kami
masih belum pulih seluruhnya,” kata Wiraksara mencoba menego.
Kaisar Yongle langsung menukas
“Jumlah itu bisa kalian cicil setiap tahun. Kalian bisa
mengirim utusan kemari untuk membayarkan cicilan ganti rugi itu, Tapi aku minta jaminan dari kalian atas pembayaran
cicilan ganti rugi itu, jadi utusan kalian ini akan kami tahan di sini sampai
cicilan kalian lunas!” Titah Kaisar Yong Le.
Terkesiap Wiraksara mendengar permintaan Kaisar, namun dia
masih berusaha mencari cara untuk membebaskan dirinya.
“Yang Mulia, anda tidak dapat menahan saya tanpa keputusan
Prabu Wikramawardhana.”
Namun Kaisar Yongle tetap kukuh pada pendapatnya
“Waktu kalian membunuh 170 anggota delegasi perdagangan kami
yang tidak bersalah itu, apakah kalian juga meminta pertimbanganku? Kau tetap
di sini sampai cicilan itu lunas. Setidaknya jika salah satu pejabat pentingnya
kutahan di sini, mereka akan berpikir dua kali jika mau mengemplang pembayaran
cicilannya. Baiklah, kuputuskan orang ini di tahan di China sebagai jaminan
hutang, sedangkan yang lainnya boleh
Rombongan Majapahit tak bisa menolak keputusan Kaisar
Yongle. Wiraksara merasa kecewa, kedatangannya ke China ternyata membuahkan
hasil menjadi sandera jaminan hutang Majapahit ke China.
Terdengar Kaisar Yongle berkata kepada Perdana Menterinya
“Berikan tempat yang pantas untuk orang Majapahit itu!”
perintah Kaisar Yongle.
“Baik Yang Mulia,” jawab Perdana Menteri itu.
Sang Kaisar pun akhirnya mengakhiri pertemuannya dan berlalu
pergi dari balariung istana.
Perdana Menteri kemudian terlihat berbicara dengan seorang pejabat
istana yang tampaknya anak buahnya, tak lama kemudian pejabat itu mendatanginya
dan berkata
“Mari ikut aku,” kata Pejabat itu
Pejabat itu mengajaknya berjalan di belakang komplek istana
Kaisar Yongle yang begitu luas. Walaupun sudah sering berkunjung ke istana Raja
di China, namun Wiraksara belum pernah masuk lebih dalam ke komplek istana yang
luasnya bagaikan sebuah kota yang dipagari tembok batu. Ada banyak komplek
bangunan di situ. Deretan rumah-rumah itu makin jarang dan sampailah mereka di
sebuah padang rumput yang luas dikelilingi oleh istal (kandang kuda). Wiraksara
bingung, untuk apa dia diantar ke kandang kuda istana.
Dengan ragu-ragu Wiraksara bertanya pada pejabat itu
__ADS_1
“Tuan, tempat macam apa ini? Dimana aku harus tinggal?”
Pejabat itu menoleh kepada Wiraksara dengan pandangan
meremehkan.
“Tentu saja tempatmu di sini di kandang kuda, nanti aku akan
menunjukan gubukmu,” kata Pejabat itu.
Terkesiap Wiraksara melihat sikap pejabat itu, namun dia
mencoba bersabar, sebagai tamu dia masih mencoba menahan diri agar tidak
menyinggung perasaan Tuan Rumah. Apalagi dalam hal ini Majapahit telah bersalah. Mereka berdua terus menyusuri padang
rumput itu dan sampailah mereka di sebuah pondok kecil dari kayu yang
sederhana. Seorang laki-laki tua berusia 40 tahunan tampak sedang merawat
tanaman sayuran di depan rumahnya sore itu.
Pejabat itu berteriak memanggil orang tua itu
“Hei, kubawakan teman untukmu! Lihat dia masih muda, tubuhnya kuat, dia bisa
membantumu merawat kuda-kuda itu dengan lebih baik!” Kata pejabat itu kemudian
meninggalkan Wiraksara bersama pria itu.
Orang itu tampak tak
peduli, dia terus menyibukan diri mengurus tanaman sayurannya.
Wiraksara yang merasa geram diperlakukan seperti tawanan
yang hina tak tahan untuk protes.
“Hei apa maksudmu membawaku kemari? Aku bukan budak kalian,
berikan aku tempat yang lebih baik bukan di kandang kuda seperti ini!”
Pejabat itu menghentikan langkahnya, menoleh dan berkata
“Selama di sini kau harus mengurus kuda-kuda ini bersama
orang itu,” kata Si Pejabat sambil menunjuk pria yang tetap menyibukan diri
mengurus tanamannya di kebunnya.
Kali ini Wiraksara mulai kehilangan kesabarannya, emosinya
sudah memuncak sampai ke ubun-ubun. Harga dirinya sebagai seorang utusan
Majapahit, jatuh diinjak-injak oleh
seorang pejabat rendahan istana China.
“Hei, kau gila ya, aku ini seorang bangsawan dan pejabat
penting di Majapahit, kau tidak bisa memperlakukanku seperti tawanan di sini!”
Tampaknya pejabat itu juga marah terlihat dari mukanya yang
merah dan matanya melotot. Dia berjalan mendekat dan dengan nada ketus dia
berkata
“Aku tidak peduli kau seorang pejabat tinggi atau bukan, lagipula
aku bukan anak buahmu!”
Wiraksara murka ketika bangsanya disebut bangsa barbar,
tangannya siap mengepal dan meninju wajah pejabat tengil itu. Namun sebuah
suara dan tangan yang kokoh menahannya melakukannya dan berkata
“Sudahlah, tak usah pedulikan dia, masuklah, sebentar lagi hari gelap dan udara
mulai dingin karena sudah musim gugur. Kau tampak lelah setelah datang dari
jauh, beristirahatlah dulu di dalam,”
katanya menenangkan Wiraksara.
__ADS_1