
Bagaimana dia bisa tahu tentang stempel kerajaan yang hilang
itu? batin Wiraksara.
Namun pria yang memangkunya tidak mempedulikannya, tampaknya
dia dalam keadaan mabuk berat
“Sudahlah tidak ada yang peduli dengan stempel itu, apa
pentingnya benda seperti itu sampai mereka harus mencuri dan menyembunyikannya
di Gedung Hitam.”
Tertegun Wiraksara mendengarnya, pria itu tampaknya tahu
banyak dimana stempel itu disembunyikan.
Terdengar suara Nyonya Ling berbicara lagi dengan suara
genit
“Ah, menarik sekali ceritanya, bagaimana jika kau
menceritakannya di ranjang di kamarku?”
“Tentu saja, aku suka mengobrol denganmu di ranjang!”
Pria yang sedang mabuk itu tampak gembira dan menggendong
Nyonya Ling naik tangga ke kamarnya. Sementara pria-pria yang lainnya tampak kecewa
melihat Nyinya Ling pergi bersama pria yang memangkunya.
“Hei Nyonya Ling, setelah melayani dia, kau harus melayaniku
nanti aku akan memberimu imbalan yang lebih besar!” Seru seorang pria yang juga
sudah mabuk berat.
Wiraksara buru-buru masuk kamarnya ketika langkah kaki pria
itu mendekat ke kamarnya. Ternyata mereka menuju ke kamar di sebelah kamarnya, terdengar
suara mereka bercakap-cakap. Dinding kamar yang memisahkan mereka rupanya tidak
cukup tebal untuk meredam suara di baliknya. Terdengar suara tertawa genit
Nyonya Ling, Wiraksara sebenarnya tidak menyukai bagian itu, namun karena penasaran
dia terpaksa mengikutinya. Ada sebuah
lubang di dinding kamarnya yang sekiranya cukup untuk mengintip melihat apa
yang sedang terjadi di kamar sebelah. Walaupun Wiraksara bukanlah orang yang
suka mengurusi urusan pribadi orang lain, namun kali ini dia merasa tertarik
mengintip kegiatan mereka. Saat itu Wirota dapat melihat mereka sedang dudk di
ranjang.
“Ayolah, buka bajumu sayang, aku sudah tidak sabar lagi,”
kata pria itu.
“Sabar dulu aku ingin tahu siapa yang menyuruh mencuri
stempel itu? Aku ingin tahu siapa pria yang begitu berani menentang Kaisar
Yongle yang perkasa. Apakah dia tampan?”
Tanya Nyonya Ling.
“Ah, dasar kau perempuan genit, kalau kau tahu orangnya
pasti kau ingin tidur dengannya juga. Aku tidak pernah melihat orang itu, yang
kutahu dia biasa dipanggil dengan Tuan Han.”
“Lalu dimana Gedung Hitam itu berada?”
__ADS_1
“Gedung Hitam itu berada di kota Gansu, hanya itu saja yang kutahu. Nah sekarang berikan pelayanan terbaikmu!”
Setelah itu terlihat pria itu membaringkan tubuh Nyonya Ling
di ranjang dan merekapun bergumul sejenak. Wiraksara tak ingin melihat bagian itu, dia kembali ke ranjangnya. Namun
tak lama kemudian terdengar suara gedebag gedebug seperti orang bertarung dan
suara pria berseru tertahan. Tetapi suara itu lebih mirip suara orang yang
menjemput ajal. Wiraksara terkejut dan
kembali mengintip melalui lubang di dinding kamarnya. Terlihat pria mabuk itu
sudah terbaring di lantai dengan dada tertusuk belati. Sebelum ajal
menjemputnya lelaki itu memaki Nyonya Ling
“Kau perempuan setan.”
Lantai kamar segera dipenuhi genangan darah yang mengalir
dari tubuh pria itu. Wiraksara tertejut dalam hati dia mulai penasaran dengan
sosok Nyonya Ling.
Apa yang diinginkannya? Mengapa dia harus membunuh pria itu?
Apa kepentingannya dengan soal stempel kerajaan yang dicuri? batin Wiraksara.
Kembali dia mengintip ke kamar sebelah, terlihat Nyonya Ling
menyeret mayat pria itu ke sudut kamar, kali ini Wirota tidak dapat melihat
lagi apa yang terjadi selanjutnya karena sudah berada di luar jangkauan
pandangannya. Setelah itu Nyonya Ling buru-buru
keluar dari kamarnya menuju ruangan tempat para pria itu berkumpul. Wiraksara
kembali mengintip dari pintu kamarnya apa yang terjadi di bawah. Para pria itu
bersorak gembira ketika melihat Nyonya
“Hei, kau sedang datang bulan ya? Lihat bajumu terkena
darah, huuh sial mengapa setiap kali aku kemari kau selalu saja sedang datang
bulan?”
Nyonya Ling tampak terkejut namun dia segera menutupinya
dengan senyuman manis
“Oh, ya maaf, sabar ya nanti juga kamu dapat giliran.”
Wiraksara menghela nafas, tiba-tiba dia merasakan tubuhnya begitu lemas, pemuda itu buru-buru
kembali ke ranjangnya dan beristirahat.
Tak lama kemudian pintu depan terbuka dan masuklah dua orang
pria ke dalam penginapan. Mereka berdua memakai topi lebar, Nyonya Ling
tersenyum gembira menyambut mereka
“Selamat datang tuan-tuan, silahkan masuk, kami ada minuman
selamat datang bagi para tamu yang menginap di sini. Mau minum arak atau teh?”
Tanya Nyonya Ling dengan genit.
Namun keduanya tampaknya tidak tertarik dengan Nyonya Ling.
“Kami ingin minum teh saja, sediakan makanan untuk kami,”
kata salah satu dari mereka.
Setelah teh dihidangkan, kembali pintu kamar terbuka dan
masuklah beberapa orang pria berbaju dan bersorban putih. Jumlah mereka sekitar
__ADS_1
10 orang, mereka langsung bertanya kepada Nyonya Ling
“Apakah ada pedagang dari Persia yang menginap di sini?”
Nyonya Ling tersenyum dan berkata
“Ah, aku lupa, pedagang Persia mana yang kau maksud? Ada banyak pedagang yang menginap di tempat
ini.”
Namun mereka tampak tak peduli, beberapa di antara mereka
langsung naik tangga dan yang lainnya mulai menggeledah tempat itu membuat para
tamu lainnya merasa marah
“Hei siapa kalian? Beraninya kalian menggeledah kamar kami!”
Para tamu lainnya mulai mengepung rombongan orang Persia itu
dan menghunus senjata mereka
“Langkahi mayat kami dulu jika ingin menggeledah kamar kami.
Siapa kalian, apa wewenangmu menggeledah kamar kami?”
Namun orang-orang Persia itu tidak peduli, mereka langsung
menghunus pedang mereka dan membabat orang-orang yang menghalangi langkah
mereka. Terjadilah pertarungan antara orang-orang Persia itu dengan para tamu lainnya, Namun kedua tamu bertopi lebar yang baru datang sebelumnya seolah tidak peduli dan asyik makan dan minum hidangan di depan mereka.
Orang-orang Persia itu rupanya adlah para petarung yang handal dan memiliki pedang berkualitas yang bahkan mampu mematahkan pedang-pedang lawannya. Para tamu itu banyak yang terluka dan roboh tak berdaya. sementara Nyonya Ling tampak panik melihat pertarungan itu,
Tiba-tiba Wiraksara melihat pintu kamarnya terbuka dan salah satu dari orang Persia itu masuk ke dalam. Melihat Wiraksara yang sedang berbaring di ranjang, orang Persia itu menarik Wiraksara dan membawanya keluar. Wiraksara tak berdaya melawan, tenaganya masih belum pulih benar karena pengaruh racun Zhang Hao.
"Hei apa-apaan ini? Aku tidak kenal kalian!" Seru Wirota.
"Katakan di mana Tamaz berada? Kau pasti mengenalnya!"
Wiraksara terkejut dia tak ingin Tamaz yang telah menolongnya menjadi korban maka diapun berbohong
"Tidak, aku bukan orang Persia, aku tidak mengenalnya!"
"Pakaian yang kau kenakan adalah pakaian Persia, beraninya kau membohongi kami. Kau pasti tahu dimana dia! Jika jau tak mau mengatakannya aku akan membunuhmu!" bentak orang Persia tadi.
Tiba-tiba satu sosok bayangan berkelebat ke dalam kamarnya, Tamaz masuk ke kamar menghadang kepergian orang itu
"Mehrak, jangan kau sakiti orang yang tak bersalah, dia hanya orang yang kami temui di jalan dalam keadaan sakit. Kami tidak saling mengenal sebelumnya. Jadi lebih baik kau bebaskan dia!"
Namun Mehrak hanya tersenyum sinis dan berkata
"Baikah aku akan melepasnya asalkan kau berikan permata Azura Mahda itu pada kami!"
Tamaz tampak terkejut lalu berkata
"Mehrak, pengkhianat kau, kalian telah mencuri permata ini dari Kuil Kahyangan Api sudah sepantasnya aku sebagai pendeta mengambil kembali permata yang pernah kau curi dulu!"
"Baiklah kalau kau tetap tidak bersedia menyerahkan permata itu, aku akan menyandera orang ini. Jika kau tidak bersedia menyerahkan permata Azura Mahda maka orang ini akan mati!"
Tamaz tampak terkejut, dia hanya bisa melihat Mehrak keluar membawa Wiraksara dengan sebilah pedang menempel di lehernya.
"Jika kau masih menginginkan dia tetap hidup, besok bawalah permata itu ke bukit batu di sebelah Barat. Nanti aku akan menukarnya dengan nyawa orang ini."
"Mehrak, kau keterlaluan, dia tidak tahu apa-apa, bebaskan dia!" Seru Tamaz berusaha mencegah.
Perlahan Mehrak membawa Wiraksara menuruni tangga, sesampainya di bawah, kedua tamu bertopi lebar itu melihat ke arah Wiraksara. Ketika melihat wajah Wirota salah seorang dari tamu itu tampak terkejut
"Sala, ternyata kau ada di sini?"
Wiraksara menoleh dia melihat kedua orang yang berusaha membebaskannya dari sandera Jenderal Wu Xien.
"Kalian mencariku?"
Kedua teman Wirota tadi berusaha mengejar namun Mehrak menghalangi mereka
"Rupanya kalian juga mencari dia? Kalau begitu sandera ini sangat berharga dan bisa kutukar dengan uang, tidak percuma aku mengambilnya ha ha ha! Begini saja besok kalian bawa uang sebanyak 1000 Tahil emas untuk menebusnya. Aku menunggu kedatangan kalian di bukit batu di sebelah Barat!"
"Hei kami tidak mengenalmu dan kalian tidak ada urusan apapun dengan pihak kami. Bebaskan dia, dia teman kami yang tidak tahu apa-apa mengenai urusan kalian!" seru Ma Jingtao.
"Aku tidak peduli, yang aku tahu dia adalah sandera yang sangat berharga!" Mehrak.menggiring Wiraksara keluar penginapan.
__ADS_1
Beberapa pengikut Mehrak segera mengikuti pemimpinnya meninggalkan penginapan Naga.