KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Energi Yin dan Yang Menjadi Satu


__ADS_3

Selepas bekerja, sore itu Wiraksara membuka-buka buku Ilmu


Tapak Tangan Baja. Beberapa karakter huruf kanji yang tidak dikenalnya telah ditanyakan


kepada Tie Shi sehingga kini Wiraksara lebih mudah mempelajarinya. Dalam


latihan pertamanya, Tie Shi mendampinginya berlatih.


“Sala, nanti ketika mempelajari ilmu ini kamu jangan kaget,


kau akan mengalami perubahan pada tanganmu,” ujar Tie Shi.


Wiraksara memandangi kedua tangannya


“Maksud Paman bagaimana?”


“Kau cobalah sendiri, kau pelajari dulu cara mengatur tenaga


dalam dalam ilmu Tapak Tangan Baja. Nanti jika sudah lancar, kau cobalah


menyalurkan energi Tapak Baja ke kedua tanganmu.”


“Ah, itu soal mudah Paman, aku bisa mempelajarinya dengan


cepat.”


Tie Shi tersenyum simpul


Hmmm…coba saja, ketika tangannya berubah Sala pasti kaget,


batin Tie Shi.


Wiraksara duduk bersila mengikuti petunjuk dalam buku itu,


sebelumnya dia sudah membaca petunjuknya sekarang saatnya mempraktekan di bawah


bimbingan sang Suhu. Hawa murni dari pusar lalu mulai dikerahkan mengalir  ke kedua tangannya.


Tiba-tiba kedua tangannya warnanya memucat, terasa dingin


dan kaku, tak lama kemudian warnanya berubah semakin putih pucat.  Wiraksara terkejut dan menghentikan aliran


tenaga dalamnya.


“Paman, tangannku kok jadi terasa dingin dan kaku?


Jangan-jangan ilmu ini membuat tanganku lumpuh!” Seru Wiraksara dengan cemas.


Namun Tie Shi hanya terkekeh, sepertinya dia gembira karena


berhasil nge prank muridnya.


“He he he he Sala…Sala kamu itu pendekar apa bukan? Masa


baru merasakan begitu saja sudah ketakutan? Itulah dari awal kan sudah


kukatakan bahwa tanganmu akan berubah. Ilmu itu akan membuat tanganmu sekeras


baja, dan setajam pedang. Lha kamu baru proses awal saja sudah kamu hentikan, bagaimana


aku dapat mengajarimu?”


Wiraksara tertegun, lalu berkata


“Ah, kenapa Paman tidak bilang dari tadi?  Baiklah aku ulangi lagi.”


Wiraksara kembali duduk bersila dan mengerahkan tenaga


dalamnya ke kedua tangannya. Beberapa saat kemudian tangannya mulai mendingin


dan berwarna  pucat, jari jemarinya


terasa kaku. Namun Wiraksara mematuhi perintah Tie Shi, dia terus mengerahkan


energinya ke kedua tangannya. Tangannya mulai berubah yang semula putih menjadi


keperakan. Tiba-tiba terdengar Tie Shi berteriak


“Yak, itu sudah cukup, sekarang coba potong dahan pohon Yang


Liu di depanmu itu!”


Wiraksara berdiri lalu melompat meraih dahan pohon Yang Liu


(Pohon Hujan) yang dahannya mentiung melambai-lambai di tiup angin musim semi.

__ADS_1


Tangannya bergerak dengan gerakan memotong.


“Kraaak…kraak…kraak!”


Dahan pohon Yang Liu itu berjatuhan ke tanah dengan mudahnya


seperti di tebas parang. Tie Shi bertepuk tangan gembira melihat kemajuan


Wiraksara yang begitu pesat.


“Ha ha ha bagus bagus,kita jadi punya persediaan kayu bakar


untuk memasak.  Benar dugaanku, kau


adalah anak yang cerdas, kemajuanmu cepar sekali.”


Wiraksara saking senangnya mencari sasaran yang lebih menantang,


dicarinya dahan yang berukuran sedikit besar.  Tubuhnya kembali berkelebat mencari sasaran baru.


“Kraak…kraak…kraak!”


Dahan pohon Bwe yang sedang berbunga lebat berjatuhan ke


tanah dan bunganya berguguran berhamburan di tanah. Wiraksara berseru sambil melompat-lompat


di bawah hujan bunga Bwe.


“Horee…aku bisa…aku bisa!”


Tiba-tiba Wiraksara merasakan panas di kedua telapak


tangannya. Awalnya dia mengira energi dari ilmu Tapak Tangan Baja telah luntur,


tetapi ketika Wiraksara melihat kedua tangannya dia terkejut karena tangannya


sudah tidak berwarna keperakan lagi tetapi berwarna perak bercampur warna Merah


kekuningan, membara seperti besi yang dipanaskan dalam api.


“Paman Tie Shi, tanganku berubah lagi, warnanya sudah bukan


perak tetapi merah kuning menyala seperti baja yang dipanaskan dalam api!


Tie Shi terkejut, lalu memeriksa kedua tangan Wiraksara.


Ketika tangannya menyentuh tangan Wiraksara, tangan Tie Shi kepanasan seperti


memegang arang yang membara. Dilihatnya dahan-dahan pohon Bwe yang terserak,


bagian dahan yang terkena tangan Wiraksara langsung gosong seperti dibakar api.


“Sala, apa yang kau lakukan? Kenapa jadi begini?! Tanya Tie Shi


dengan nada bingung.


Wiraksara bertambah panik melihat Tie Shi yang kebingungan


sendiri


“Hah, jadi ini adalah sebuah kesalahan?”


Tie Shi berpikir sejenak lalu berkata


“Tidak…tidak, tarik lagi tenaga dalammu, pulihkan ke keadaan


semula!” Perintah Tie Shi.


Wiraksara segera memulihkan tenaga dalamnya kembali ke


keadaan semula. Perlahan rasa panas ditangannya menghilang berganti dengan rasa


sejuk dang dingin. Tangannya yang berwarna kuning kemerahan seperti besi


membara perlahan berubah jadi keperakan, lalu putih pucat dan akhirnya pulih


kembali seperti semula.


Wiraksara merasa lega tangannya sudah kembali normal. Ketika


dia menoleh Tie Shi tampak sedang berpikir lalu bertanya


“Sala, ilmu apa yang kau kuasai sebelum ilmu Tapak Tangan


Baja?”

__ADS_1


Wiraksara tertegun mendengar pertanyaan Tie Shi


“Memangnya kenapa Paman?”


Tie Shi menggelengkan kepala sambil menghela nafas.


“Energi ilmu Tapak Tangan Baja adalah energi Yin, tetapi kau


punya ilmu lain yang memiliki energi Yang. Aku tidak tahu mengapa ketika kau


mengerahkan energi Tapak Tangan Baja yang bersifat Yin lalu energi Yang dari ilmumu


yang lain juga mengikuti, seperti Sam Pek yang mengikuti Eng Tay.”


“Ah, mungkin itu energi dari Ilmu Maha Aji itu Paman. Kau


ingat kan ketika aku sampai tidur di salju karena tiba-tiba saja energi itu


keluar dengan sendirinya ketika hawa di sekitarku dingin. Paman lalu


mengajariku cara mengendalikan energi Maha Aji itu. Begitu pula dengan ilmu


Tapak Tangan Baja, ketika tanganku mendingin, energi Maha Aji itu lalu


mengikutinya berusaha menetralkan,” kata Wiraksara.


Tie Shi tampak terkejut lalu berseru


“Yaa…sekarang aku tahu, energi itu bergabung menjadi satu


ketika kau menghadapi ancaman, jadi sekarang ketika kau menggunakan ilmu Tapak


Tangan Baja, energi Maha Aji akan mengikutimu, begitu pula sebaliknya.


Banyaklah berlatih, setelah ini kau akan menjadi pendekar yang hebat!”


“Benarkah itu Paman? Tapi aku justru  jadi takut, guruku pernah bilang kalau aku


memiliki ilmu yang hebat, suatu saat akan ada orang yang menantangku dan menguji


ilmuku. Mungkin kedepannya banyak orang yang akan menantangku bertarung  karena ingin mencoba kehebatan ilmu yang


kumiliki. Jujur saja sebenarnya bukan ini yang kuinginkan. Sedari dulu aku


tidak pernah suka dengan yang namanya bertarung,” ujar Wiraksara.


“Gurumu benar, memang begitulah resikonya jadi pendekar


pilih tanding, begitu ada yang melihat kehebatan ilmumu, maka berlomba-lomba


orang akan mencarimu menantang berkelah, atau bahkan ingin menguasai kitab


pusaka Tapak Tangan Baja.”


Tie Shi melihat ke langit, matahari mulai tenggelam ke ufuk


barat, sebentar lagi hari gelap


“Kurasa latihan hari ini sudah cukup, besok kita lanjutkan


lagi.”


“Baik Paman, silahkan beristirahat, aku mau membereskan


kayu-kayu dahan ini untuk kayu bakar,” Wiraksara mulai memunguti kayu-kayu yang


berserakan. Tetapi baru sebentar dia bekerja tiba-tiba terdengar suara Tie Shie


berteriak kaget


“Aarrggh….celaka…haiyaaa…amsyong…amsyong!”


Wiraksara terkejut, dijatuhkannya kayu-kayu dahan tadi dan


berkelebat menghampiri Tie Shi yang wajahnya tampak pucat pasi


“Paman…ada apa? Apa Paman digigit ular?” Tanya Wiraksara


dengan cemas.


Tiba-tiba tangan Tieshi berkelebat menjewer telinga


Wiraksara, pemuda itu terkejut dan berseru kesakitan


“Awww…Paman, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Paman menjewerku?!”

__ADS_1


__ADS_2