
Selepas bekerja, sore itu Wiraksara membuka-buka buku Ilmu
Tapak Tangan Baja. Beberapa karakter huruf kanji yang tidak dikenalnya telah ditanyakan
kepada Tie Shi sehingga kini Wiraksara lebih mudah mempelajarinya. Dalam
latihan pertamanya, Tie Shi mendampinginya berlatih.
“Sala, nanti ketika mempelajari ilmu ini kamu jangan kaget,
kau akan mengalami perubahan pada tanganmu,” ujar Tie Shi.
Wiraksara memandangi kedua tangannya
“Maksud Paman bagaimana?”
“Kau cobalah sendiri, kau pelajari dulu cara mengatur tenaga
dalam dalam ilmu Tapak Tangan Baja. Nanti jika sudah lancar, kau cobalah
menyalurkan energi Tapak Baja ke kedua tanganmu.”
“Ah, itu soal mudah Paman, aku bisa mempelajarinya dengan
cepat.”
Tie Shi tersenyum simpul
Hmmm…coba saja, ketika tangannya berubah Sala pasti kaget,
batin Tie Shi.
Wiraksara duduk bersila mengikuti petunjuk dalam buku itu,
sebelumnya dia sudah membaca petunjuknya sekarang saatnya mempraktekan di bawah
bimbingan sang Suhu. Hawa murni dari pusar lalu mulai dikerahkan mengalir ke kedua tangannya.
Tiba-tiba kedua tangannya warnanya memucat, terasa dingin
dan kaku, tak lama kemudian warnanya berubah semakin putih pucat. Wiraksara terkejut dan menghentikan aliran
tenaga dalamnya.
“Paman, tangannku kok jadi terasa dingin dan kaku?
Jangan-jangan ilmu ini membuat tanganku lumpuh!” Seru Wiraksara dengan cemas.
Namun Tie Shi hanya terkekeh, sepertinya dia gembira karena
berhasil nge prank muridnya.
“He he he he Sala…Sala kamu itu pendekar apa bukan? Masa
baru merasakan begitu saja sudah ketakutan? Itulah dari awal kan sudah
kukatakan bahwa tanganmu akan berubah. Ilmu itu akan membuat tanganmu sekeras
baja, dan setajam pedang. Lha kamu baru proses awal saja sudah kamu hentikan, bagaimana
aku dapat mengajarimu?”
Wiraksara tertegun, lalu berkata
“Ah, kenapa Paman tidak bilang dari tadi? Baiklah aku ulangi lagi.”
Wiraksara kembali duduk bersila dan mengerahkan tenaga
dalamnya ke kedua tangannya. Beberapa saat kemudian tangannya mulai mendingin
dan berwarna pucat, jari jemarinya
terasa kaku. Namun Wiraksara mematuhi perintah Tie Shi, dia terus mengerahkan
energinya ke kedua tangannya. Tangannya mulai berubah yang semula putih menjadi
keperakan. Tiba-tiba terdengar Tie Shi berteriak
“Yak, itu sudah cukup, sekarang coba potong dahan pohon Yang
Liu di depanmu itu!”
Wiraksara berdiri lalu melompat meraih dahan pohon Yang Liu
(Pohon Hujan) yang dahannya mentiung melambai-lambai di tiup angin musim semi.
__ADS_1
Tangannya bergerak dengan gerakan memotong.
“Kraaak…kraak…kraak!”
Dahan pohon Yang Liu itu berjatuhan ke tanah dengan mudahnya
seperti di tebas parang. Tie Shi bertepuk tangan gembira melihat kemajuan
Wiraksara yang begitu pesat.
“Ha ha ha bagus bagus,kita jadi punya persediaan kayu bakar
untuk memasak. Benar dugaanku, kau
adalah anak yang cerdas, kemajuanmu cepar sekali.”
Wiraksara saking senangnya mencari sasaran yang lebih menantang,
dicarinya dahan yang berukuran sedikit besar. Tubuhnya kembali berkelebat mencari sasaran baru.
“Kraak…kraak…kraak!”
Dahan pohon Bwe yang sedang berbunga lebat berjatuhan ke
tanah dan bunganya berguguran berhamburan di tanah. Wiraksara berseru sambil melompat-lompat
di bawah hujan bunga Bwe.
“Horee…aku bisa…aku bisa!”
Tiba-tiba Wiraksara merasakan panas di kedua telapak
tangannya. Awalnya dia mengira energi dari ilmu Tapak Tangan Baja telah luntur,
tetapi ketika Wiraksara melihat kedua tangannya dia terkejut karena tangannya
sudah tidak berwarna keperakan lagi tetapi berwarna perak bercampur warna Merah
kekuningan, membara seperti besi yang dipanaskan dalam api.
“Paman Tie Shi, tanganku berubah lagi, warnanya sudah bukan
perak tetapi merah kuning menyala seperti baja yang dipanaskan dalam api!
Tie Shi terkejut, lalu memeriksa kedua tangan Wiraksara.
Ketika tangannya menyentuh tangan Wiraksara, tangan Tie Shi kepanasan seperti
memegang arang yang membara. Dilihatnya dahan-dahan pohon Bwe yang terserak,
bagian dahan yang terkena tangan Wiraksara langsung gosong seperti dibakar api.
“Sala, apa yang kau lakukan? Kenapa jadi begini?! Tanya Tie Shi
dengan nada bingung.
Wiraksara bertambah panik melihat Tie Shi yang kebingungan
sendiri
“Hah, jadi ini adalah sebuah kesalahan?”
Tie Shi berpikir sejenak lalu berkata
“Tidak…tidak, tarik lagi tenaga dalammu, pulihkan ke keadaan
semula!” Perintah Tie Shi.
Wiraksara segera memulihkan tenaga dalamnya kembali ke
keadaan semula. Perlahan rasa panas ditangannya menghilang berganti dengan rasa
sejuk dang dingin. Tangannya yang berwarna kuning kemerahan seperti besi
membara perlahan berubah jadi keperakan, lalu putih pucat dan akhirnya pulih
kembali seperti semula.
Wiraksara merasa lega tangannya sudah kembali normal. Ketika
dia menoleh Tie Shi tampak sedang berpikir lalu bertanya
“Sala, ilmu apa yang kau kuasai sebelum ilmu Tapak Tangan
Baja?”
__ADS_1
Wiraksara tertegun mendengar pertanyaan Tie Shi
“Memangnya kenapa Paman?”
Tie Shi menggelengkan kepala sambil menghela nafas.
“Energi ilmu Tapak Tangan Baja adalah energi Yin, tetapi kau
punya ilmu lain yang memiliki energi Yang. Aku tidak tahu mengapa ketika kau
mengerahkan energi Tapak Tangan Baja yang bersifat Yin lalu energi Yang dari ilmumu
yang lain juga mengikuti, seperti Sam Pek yang mengikuti Eng Tay.”
“Ah, mungkin itu energi dari Ilmu Maha Aji itu Paman. Kau
ingat kan ketika aku sampai tidur di salju karena tiba-tiba saja energi itu
keluar dengan sendirinya ketika hawa di sekitarku dingin. Paman lalu
mengajariku cara mengendalikan energi Maha Aji itu. Begitu pula dengan ilmu
Tapak Tangan Baja, ketika tanganku mendingin, energi Maha Aji itu lalu
mengikutinya berusaha menetralkan,” kata Wiraksara.
Tie Shi tampak terkejut lalu berseru
“Yaa…sekarang aku tahu, energi itu bergabung menjadi satu
ketika kau menghadapi ancaman, jadi sekarang ketika kau menggunakan ilmu Tapak
Tangan Baja, energi Maha Aji akan mengikutimu, begitu pula sebaliknya.
Banyaklah berlatih, setelah ini kau akan menjadi pendekar yang hebat!”
“Benarkah itu Paman? Tapi aku justru jadi takut, guruku pernah bilang kalau aku
memiliki ilmu yang hebat, suatu saat akan ada orang yang menantangku dan menguji
ilmuku. Mungkin kedepannya banyak orang yang akan menantangku bertarung karena ingin mencoba kehebatan ilmu yang
kumiliki. Jujur saja sebenarnya bukan ini yang kuinginkan. Sedari dulu aku
tidak pernah suka dengan yang namanya bertarung,” ujar Wiraksara.
“Gurumu benar, memang begitulah resikonya jadi pendekar
pilih tanding, begitu ada yang melihat kehebatan ilmumu, maka berlomba-lomba
orang akan mencarimu menantang berkelah, atau bahkan ingin menguasai kitab
pusaka Tapak Tangan Baja.”
Tie Shi melihat ke langit, matahari mulai tenggelam ke ufuk
barat, sebentar lagi hari gelap
“Kurasa latihan hari ini sudah cukup, besok kita lanjutkan
lagi.”
“Baik Paman, silahkan beristirahat, aku mau membereskan
kayu-kayu dahan ini untuk kayu bakar,” Wiraksara mulai memunguti kayu-kayu yang
berserakan. Tetapi baru sebentar dia bekerja tiba-tiba terdengar suara Tie Shie
berteriak kaget
“Aarrggh….celaka…haiyaaa…amsyong…amsyong!”
Wiraksara terkejut, dijatuhkannya kayu-kayu dahan tadi dan
berkelebat menghampiri Tie Shi yang wajahnya tampak pucat pasi
“Paman…ada apa? Apa Paman digigit ular?” Tanya Wiraksara
dengan cemas.
Tiba-tiba tangan Tieshi berkelebat menjewer telinga
Wiraksara, pemuda itu terkejut dan berseru kesakitan
“Awww…Paman, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Paman menjewerku?!”
__ADS_1