KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Kabar buruk


__ADS_3

Malam harinya.


Aku mendiskusikan masalah rumah tanggaku dengan kedua orang tuaku. Dan Mas Evan, tak ada di rumah. Ia nginap di rumah nya Juli, istri keduanya. Aku mengatakan pada Ayah dan Ibu ku, jikalau Mas Evan sudah menikah secara agama dan hukum dengan Juli. Karena mereka sudah memiliki buku nikah.


"Apa... Tak ada gunanya lagi kamu bertahan dengannya Nak. Sudah besok ayah temani kamu ke KUA. Mendaptarkan perceraian." Tegas Ayah penuh emosi.


"Sabar pak."


"Sabar gimana lagi bu. Bulan ini saja, dia gak kasih nafkahi Alda dan Raisya. Kalau benar ia diguna gunai, ya sudah. Gak usah lagi Berharap pada nya." Ayah semakin emosi saja.


Aku dan ibu akhirnya memilih diam. Memang sudah sepatutnya aku ber cerai dengan Mas Evan. Karena sejatinya, aku tak mau dimadu. Tapi, ibu tetap memintaku sabar. Berharap mas Evan, berubah. Toh, jikalau ber cerai, belum tentu dapat suami yang lebih baik lagi.


Aki tahu, ibu meminta ku bertahan. Karena ia pasti malu punya anak janda.


***


Waktu terasa cepat berlalu

__ADS_1


Waktu seminggu yang diberikan ayah untuk berfikir telah habis. Aku belum bisa mengikuti kemauan ayah untuk ber cerai dengan Mas Evan, Entah kenapa. Aku merasa seperti ikhlas untuk dimadu. Berat rasa nya untuk melepasnya. Pergi sulit, tapi bertahan juga sakit. Ayah cukup kecewa dengan keputusanku. Tapi, ia tetap mendukung apa yang telah ku putuskan.


Kehidupan terus berlanjut. Mas Evan, mengunjungi kami 2 kali dalam seminggu. Itu artinya waktu yang ia habiskan lebih banyak bersama istri mudanya.


Aku tetap bekerja sebagai guru dengan pekerjaan sampingan berdagang makanan. Hasil dagangan lumayan, untuk memenuhi kebutuhanku dan Raisya. Karena nafkah yang diberi Mas Evan, tidak lah cukup.


"Alda, kamu ikut ke rumah sakit?" tanya Bu silvia. Bu Silvia adalah bendahara kegiatan sosial di tempatku bekerja.


"Insya Allah ikut Bu." Jawabku sopan, merogoh dompet untuk membayar uang sosial, istri kepala Madrasah masuk rumah sakit.


"Iya, kamu harus ikut. Kamu kan gak ada les hari ini." Ujar Bu Silvia, tanpa menoleh ke arahku. Ia sedang serius mencatat iuran yang ku setor.


Tiba tiba saja ponselku yang terletak di atas meja berdering. Tanganku menjulur cepat meraihnya. Ada no ibu yang menelpon. Dengan penasarannya aku mengangkat panggilan itu. Ibu kalau gak penting, gak akan menghubungiku. Berarti karena ada hal penting, makanya ibu menelpon.


"Assalamualaikum Bu." Ujarku, melirik Bu Silvia, yang masih duduk di sebelahku.


"Walaikum salam. Alda, ayahmu, ayahmu, ayahmu dibawa ke rumah sakit Nak.," Terdengar suara ibu yang serak dan tergagap, karena menangis saat bicara.

__ADS_1


Aku jelas terkejut mendengar nya. "Ayah, ayah kenapa Bu?" tanyaku panik.


"Ayahmu bertengkar dengan Evan." Suara isak tangisnya ibu, terdengar sangat memilukan. Sepertinya ayah terluka parah.


"Iya bu, aku pulang ini." Ujar dengan paniknya. "Ibu tenang ya?"


"Da, sekalian jemput Raisya ke sekolahnya. Tadi ayahmu belum sempat jemput." Jelas Ibu, suara isak Tangisnya masih terdengar.


"Iya bu."


Ku akhiri panggilan suara itu cepat. Mengemas barang barangku.


"Kenapa Alda?" tanya Bu Rose melihat ku yang tergesa gesa dan heboh, mempacking wadah daganganku.


"Ayahku masuk rumah sakit Bu Rose. Aku izin pulang ya? ibu piket hari ini kan?" Ujarku dengan paniknya. Aku sangat khawatirkan keadaan ayah. Aku pun berlari terbirit birit menuju parkiran. Pak Satpam yang menegurku, tak ku gubris lagi.


Bagaimana keadaan ayah? pasti ayah luka parah. Mas Evan punya otot tubuh yang bagus. Berkelahi dengan ayah, tentu ayah kalah. Mana ayah sudah tua.

__ADS_1


Dengan tidak tenangnya, aku mengenderai motorku menuju sekolahnya Raisya. Setelah itu, aku tancap gas menuju rumah. Aku perlu mengantarkan barang barang ku ke rumah. Sekalian mau nanti bajunya Raisya. Kemudian kami akan ke rumah sakit.


TBC


__ADS_2