KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Pertengkaran


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit. Aku dikejutkan dengan keadaan Ayah dan Mas Evan yang sama sama kritis. Kedua pria yang sangat berarti dalam hidupku itu sedang ditangani pihak medis. Ayah kena serangan jantung. Sedangkan Mas Evan, kata ibu bola mata nya pecah, hancur, karena ditonjok ayah, saat mereka bertengkar di rumah.


Tak bisa ku ungkapkan lagi, bagaimana hancur nya hatiku saat ini, saat mendengar penjelasan ibu yang bicara sambil menangis sesenggukan itu.


"Iya Bu, ibu jangan menangis lagi. Ibu jangan panik ya? semuanya akan baik baik saja." Ujarku lembut, berusaha menenangkan ibu yang terlihat tegang dan ketakutan itu, ku raih tubuh ibuku yang terlihat terpukul itu, memeluknya dengan perasaan kacau.


Kami sedang di ruang tunggu. Menunggu ayah dan Mas Evan di periksa Dokter.


Pagi itu, tepat pukul 9 pagi. Mas Evan datang ke rumah. Kata ibu, Mas Evan datang dengan muka masamnya. Tanpa ada basa basi menegur ayah dan ibu, langsung masuk ke kamar. Saat itu ayah sudah terpancing, dengan sikap Mas Evan. Yang tidak ramah pada kedua orang tuaku. Ayah menyampaikan rasa kecewa nya pada Ibu. Prihal Mas Evan yang tak bertanggung Jawab sebagai suami. Ibu Mencoba menenangkan ayah.


Hingga satu jam kemudian. Ayah merasa kepala nya sakit. Ia pun tak bisa menjemput Raisya. Ayah berinisiatif untuk meminta Mas Evan menjemput Raisya. Ayah akhirnya membangunkan Mas Evan, yang tidur di kamar. Mas Evan tak terima, karena merasa tidurnya terganggu.


Dari cerita ibu, terjadi lah percekcokan itu. Ayah emosi, dan satu tinju melayang kuat ke mata sebelah kanan Mas Evan. Mas Evan berteriak kesakitan. Dan menyerang ayah dengan mata yang sudah mengeluarkan darah itu dengan membabi buta. Ayah yang syok dengan semuanya langsung lemas, tak melawan lagi saat Mas Evan menghajarnya. Ibu hanya bisa berteriak minta tolong.


"Di mana, di mana ruangan suamiku ditangani..?" suara ribut dari seorang wanita di lorong yang masih terjangkau mataku, menyita perhatianku. Berangsur tanganku yang memeluk ibu mengendur.


Langkah wanita yang ku kenal itu, semakin mendekati ke arah kami. Wanita yang terlihat panik dan sedih itu adalah Juli. Wanita selingkuhan Mas Evan.


"Bu, apa ibu mengabarinya. Kalau Mas Evan dibawa ke rumah sakit?" tanyaku pada ibu yang kini terlihat tegang.


"Gak," Jawab ibu cepat, sambil menggeleng. "Mungkin dilihatnya dari internet." Tambah ibu lagi.


Ya tak bisa dipungkiri, sesuatu kejadian sangat cepat tersebar dan viral sekarang. Kata ibu sih tadi, banyak tetangga yang videokan pertengkaran antara ayah dan Mas Evan.


Kini Juli, istri kedua Mas Evan. Berdiri di hadapanku dengan muka merah padamnya, dada yang naik turun, menatapku tajam dengan berkacak pinggang. Ia terlihat seperti hewan predator yang siap menyergap mangsanya. Sangat jauh berbeda dengan Juli yang pertama kali ku jumpai di sekolah.


Dengan perlahan ku bangkit dari dudukku. Mencoba bersikap ramah menyambut kedatangannya. Juli terlihat sangat panik, mungkin ia terkejut, karena dapat kabar, mas Evan celaka.

__ADS_1


Puukkk


Tak ku duga tangannya secepat kilat memukul lengan atasku. Aku yang terkejut atas sikapnya. Tentu saja menampilkan ekspresi marah menantang tatapan tajam nya.


"Apa, apa? nantang kamu? dasar wanita tak tahu diri. Abang Evan sudah tak sudih hidup dengan mu. Tapi, kamu gak mau cerai. Dasar wanita gila!" ujarnya dengan berapi api. Tangannya berusaha kembali mendorongku, dan kali ini aku menghindar.


Yang gila dia apa aku?


"Ini rumah sakit, bersikaplah seperti manusia." Jawabku menantang tatapannya yang menatapku tajam. Dasar pelakor, gak ngaca. Aku pula katanya wanita tak tahu diri.


"Apa maksudmu? kamu ngatain aku hewan?...!" Juli terlihat semakin emosi. Ku lirik Ibu yang kini terlihat tegang, memegangi Raisya. Ibu memberi kode dengan tatapan matanya. Agar aku tak terpancing, dengan sikap brutalnya Juli.


"Kamu yang hewan!"


Kembali berusaha mendorong tubuhku. Kali ini, sasarannya adalah bahuku. Darah mendidih sudah sampai ke ubun ubun. Habis sudah kesabaranku dibuat wanita dihadapanku. Dia pikir aku lemah karena selama ini aku tak mengajaknya ribut.


Ku tepis tangannya yang menunjuk wajahku. Ia tak terima dan ia kembali mencoba menampar pipiku. Tapi, tangannya ku tangkis sebelum mendarat di pipiku. Dan ku dorong kuat tubuhnya.


"Aawwwuuww..!"


Juli berteriak histeris. Ia tersungkur sudah.


"Jangan karena aku diam selama ini, kamu bisa semena mena padaku. Aku, bukan preman pasar, orang katrok. Yang suka cari gara gara. Mulai saat ini, aku tak akan diam lagi. Aku akan laporkan ke pihak berwajib kamu dan Mas Evan, atas aduan pemalsuan identitas." Ujarku teriak, dadaku naik turun sudah karena menahan emosi. Aku tak peduli lagi, dengan tatapan orang orang yang ada di tempat itu pada kami.


"Alda, sudah Nak." Ibu memegangi tanganku, memintaku untuk duduk kembali. Sedangkan Juli kini berusaha untuk bangkit, yang di bantu oleh Ibu nya.


"Tunggu pembalasan dari penghinaan ini!" ketus ibu nya Juli. Kemudian, ia membawa putrinya itu menjauh. Dan sesekali melirik kami yang terdiam dengan ancamannya itu.

__ADS_1


Aku mendudukkan bokongku kembali di kursi panjang warna hitam stainles itu. Ku usap wajahku kasar, aku merasa wajahku sangat tegang dan panas. Ku hela napas berulang kali, karena dada sudah merasa sesak dan berdenyut pedih. Aku perlu stok udara yang banyak, agar aku bisa tenang. Saat ini, tak hanya hatiku yang merasa sakit. Kepala dan sekujur tubuhku juga merasa sakit.


"Kamu gak kenapa kenapa kan Alda?" tanya Ibu memegang lengan ku lembut.


Ku balas tatapan ibu yang terlihat mengkhawatirkan ku itu. Saat ini ibu, yang masih merangkul Raisya.


"Iya Bu." Ujarku lirih


Tes


Tak bisa ku tahan lagi, sakit di hati ini. Cobaan yang datang ini sangat menyakitkan. Suara sedikit gaduh terdengar dari ruang tempat ayah di periksa oleh Dokter.


Perhatian kami tersita ke ayah yang terbaring di bankar. Aku pun berlari menghampiri dokter.


"Gimana keadaan ayah saya Dok?" tanyaku dengan penuh kekhawatiran dan penasarannya.


"Eemmm... Ayah ibu harus dirawat inap. Kondisinya cukup serius." Ujar Dokter berjenis kelamin pria paruh baya itu dengan ramah nya.


Kemudian seorang suster menghampiriku.


"Ayah ibu, mau dirawat di kelas berapa? tetap di kelas tiga?" tanyaku suster ramah. Aku berfikir sejenak. Kalau ayah dirawat di kelas tiga. Ayah akan digabung dengan pasien lainnya. Hal itu cukup mempengaruhi kenyamanan ayah saat penyembuhan nanti. Ya, kami pakai BPJS, kelas tiga.


" Gak Sus, di ruang kelas satu satu saja." Jawabku datar. Rasanya bibir ini tak bisa tersenyum lagi. Pikiranku kacau dan bercabang saat ini. Karena aku memikirkan keadaan Mas Evan juga. Walau ada Si Juli yang kini tengah mengurusnya.


Langkahku, dengan ibu beserta Raisya, mengikuti bankar ayah yang didorong suster, menuju rawat inap untuk ayah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2