
"Ooohh.. Terima kasih banyak ya nak, sudah mau dengan tulus membantu kami." Ujar ibu sendu. Kulirik ibu yang terlihat sedih, sembari tangan ini menyimpannya kopi dan teh manis di atas meja.
"Assalamualaikum....!"
Akram dan Raisya mengucapakan salam secara bersamaan dan terdengar riang.
"Walaikum salam....!" Kami menjawab serentak.
Saat itu juga, Akram menghentikan langkahnya saat menatap ke arah kami. Tatapan terkejut dan tak suka terletak jelas di wajahnya.
Akram masih terdiri menatap ke arah Pak Hakim, sedangkan Raisya sudah berlari ke pelukanku.
"Ma, ayo makan ma. Aku sudah lapar kali ma!" ujar Raisya menepuk nepuk lembut pipiku. Ia sering bersikap seperti itu, jika ia bicara sedangkan aku menatap ke arah lain. Ya saat ini, aku sedang memperhatikan Akram. Yang menatap Pak Hakim Raihan dengan tak sukanya.
"Ma ayo makan, kita kan belum makan!" karena aku tak merespon ucapan Raisya, ia malah merengek.
Ya ampun anak ini, semua keinginannya harus di turuti. Gak tahu dia sedang ada tamu penting.
"Iya sayang. Sebentar ya?" ujarku lembut pada Raisya.
"Ayo Raisya, kita ke dapur." Akram menghampiri kami. Meraih Raisya dari pangkuanku.
"Ma, ayo kita makan..!" Raisya yang sudah dalam rengkuhan Akram, menoleh lagi kebelakang, tangannya melambai mengajak untuk makan.
"Eemm.. Kalau orang ibu mau makan malam, silahkan bu." Ujar Pak Hakim Raihan pada ibu yang dari tadi melototi Raisya.
"Kalau begitu, kita makan bersama saja. Apakah pak Hakim mau makan di rumah kami yang sangat sederhana ini.?" Ibu menatap Pak Hakim dengan sungkan.
"Waahh.... Itu tawaran yang bagus. Aku memang belum makan malam."
Kedua bola mataku membeliak mendengar penuturan pak Hakim Raihan. Dia mau makan di rumah kami? rumah kontrakan kecilku. Rumah KPR yang dicicil masih atas nama Mas Evan.
Jadi lah kami makan di ruang tamu dengan di gelar tikar. Sepanjang acara makan sesekali Pak Hakim Raihan mengeluarkan suara, memuji masakan yang ia makan. Katanya enak, pak Bal Raihan juga makan nya bertambuh.
Ku lirik Akram yang dari tadi makanya masam. Ia tak ada buka suara sedikitpun. Bahkan di saat Raisya mengajaknya bicara jawabannya hanya Eemm... Ho oh..
"Harus sering ini bertamu ke rumah ini, agar diajak lagi makan enak." Ujar Pak Hakim Raihan dengan ramahnya. Menatapku lekat, yang membuat aku jadi salah tingkah.
"Makan enak apa sih nak. Orang lakunya hanya ikan panggang paccak sama sambal ikan Terima." Sahut ibu rumah, membantu aku menyusun bekas makan kami semua. Aku dan Akram mengantar piring kotor ke dapur. Walau Akram nampak bete, ia tetap ada disini. Bahkan ia tak merasa malu membantu memberesi bekas makan kami di hadapan Pak Raihan.
"Eemm... Abang ini saudaramu ya Alda?" tanya Pak Raihan, saat Akram mau menyimpannya gelas bekasnya Pak Raihan.
Akram menatap tajam Hakim Raihan yang ada di hadapannya.
"Aku ini calon suaminya Dek Alda. Habis massa Iddah, kami akan menikah. Makanya perceraiannya cepat diurus."
"Apa..?" ujar Pak Hakim Raihan dengan terkejut nya. Saling terkejut nya, ia yang sedang duduk mencondong sedikit itu, jadi duduk dengan tegak.
"Akram, kamu bicara apa sih?" ibu melihat kecemasan di wajahku, yang terkejut sehingga tak bisa berkata kata, atas ucapan Akram yang memalukan itu. Siapa juga yang mau nikah.
"Aku suka sama Alda bu. Aku Gak mau ada orang lain mau mendekatinya." Tegas Akram, yang membuat aku spot jantung mendengar pernyataannya.
Hahahaha...
"Abang lucu juga, terus kan perjuangannya Bang.. Semangat...!" Ujar Pak Hakim Raihan tertawa sinis.
"Pasti. " Sahut Akram dengan muka datarnya. Ia kembali duduk di tempatnya semula.
Tiba tiba saja ponsel Pak Hakim Raihan berdering, beliau pun meminta izin keluar untuk menerima panggilan. Sepertinya panggilan penting.
Iya, iya. Besok saja. Aku sedang ada urusan saat ini.
Itulah kalimat yang terdengar ke ruang tamu, saat Pak Hakim Raihan mengangkat telepon di teras rumah.
Aku tatap kesal Akram, yang kini terlihat santai menyesap rokoknya dengan Tatapan lurus menerawang ke langit langit ruangan ini. Aku harus ingatkan dia lagi, kalau aku belum mau menikah.
Baiklah, kalau begitu aku kesana sekarang.
Kembali terdengar ucapan Pak Hakim Raihan menyahuti lawan bicaranya di telpon. Pria tampan itu masuk lagi ke dalam rumah. Ia dengan sungkannya pamit pulang. Katanya ada hal penting.
"Terima kasih ya pak, sudah mau bantuin aku." Ujarku sungkan pada pak hakim Raihan.
"Iya Alda, sama sama. Itu sudah tugasku." Sahutnya tersenyum tipis. Pak Hakim Raihan mengalami kami semua dan Raisya dapat uang jajan lembaran warna merah anti air.
"Terima kasih om tampan." Ujar Raisya semangat dan ceriahnya. Ia terus saja merentangkan uang itu, menatap nya dengan mata yang berbinar binar.
Pak Raihan yang sudah menaiki mobil mewahnya, langsung tancap gas.
__ADS_1
"Gak emaknya, Gak anaknya mata uang." Ujar Akram kesal. Ia menatapku dan Raisya secara bergantian, sebelum menaiki motornya.
Apa maksud ucapan nya itu, apa dia pikir aku ini cewek matre?
"Hei tunggu, apa maksudmu?" teriakku berjalan cepat menyusul Akram yang sudah melajukan motornya. Akram memang tidur di ruko, warung makan kami.
"Pikirkan aja sendiri.....!" teriaknya.
Huufft.
Ku menghela napas panjang dan menghembuskan nya berat. Sebelum akhirnya aku duduk kan bokongku di kursi yang ada di teras rumah.
"Ibu Gak menyangka, akhirnya anak itu mengeluarkan isi hatinya." Ujar ibu menatapku lekat.
"Sudahlah bu, jangan bahas dia." Jawabku malah, ku Raihan Raisya ke pelukanku. Ia terlihat mengamati pembicaraan ku dengan ibu.
"Akram pria baik. Apa salah nya kamu menikah dengan dia setelah habis massa iddahmu."
"Gak bu, sendiri lebih asyik, lebih tenang. Lagi pula, kita Gak kenal siapa Akram itu sebenarnya. Ia saja Gak mau menunjukkan identitasnya." Jelasku serius.
"Kalau kamu suka dengan nya. Biar kita selidiki dia siapa?" ujar ibu, terlihat senang membicarakan Akram.
"Gak bu, untuk saat ini. Aku Gak ada keinginan untuk menikah. Bahkan untuk selamanya aku mau hidup bersama Raisya saja." Ujarku dengan lirih. Mata sudah mulai terasa panas, karena menahan air mata yang mendesak keluar.
Aku itu traumah sekali dengan kejadian yang menimpaku. Mas Evan selingkuh, ayah dan Mas Evan berkelahi, aku mengalami kecelakaan dan sedihnya lagi aku mengalami keguguran. Masalah beruntun itu, masih membekas dalam di hati ini. Aku belum siap dengan luka hati lagi, jika menikah dengan Akram.
"Raisya nanti akan besar, dia akan mondok di pesantren, kuliah, nikah. Lah kamu siapa temannya?" ujar ibu nyolot.
"Kan ada ibu!" jawabku cepat.
"Ibu ini Sebentar lagi akan meninggal."
"Iihh... Ibu jangan bicara seperti itu." Ku beranjak dari duduk ku, memeluk ibu dengan berlinang air mata. "Aku belum sanggup jika kehilangan ibu. Aku belum bisa membahagiakan ibu." Ujarku sesenggukan memeluk ibu.
"Iya sayang, tapi Gak mungkin ibu akan hidup selamanya. Pasti ibu akan meninggal. Ibu ingin, sebelum ibu meninggal, kamu harus menikah. Agar ibu tenang saat meninggalkan kamu, ada teman hidup mu!"
"Iya bu, tapi bukan sekarang. Aku belum siap menikah bu." Sahutku lembut.
"Iya sayang."
"Ibu istirahat saja ya?" ku bantu ibu untuk berbaring.
"Koq tidur, ibu belum sholat isya." Ujar Ibu, kembali berdiri. Kemudian keluar kamar lagi, ibu berjalan ke kamar mandi. Ia mau berwudhu.
Saat ibu sedang sholat Isya, ku bawa Raisya ke kamar. Sudah saatnya tidur. Ini sudah pukul 21.25 Wib.
Saat mata ini hampir saja terlelap. Ponsel yang ada di atas meja dekat Ranjang, berdering.
Dengan mata tertutup tangan meraba raba meja dekat ranjang. Meraih ponsel yang berdering. Ku picingkan akhirnya mata, guna melihat siapa tang menelpon.
"assalamualaikum..." Ujarku setengah sadar, karena didera ngantuk yang teramat.
"Walaikum salam..!" Sahut Akram, aku masih setengah sadar. Ponsel ku tepat di hadapan ku. "Kamu sangat cantik Da, bodoh sekali Si Evan menyelingkuhimu.."
"Apa..?" kedua mataku langsung melotot. Aku baru sadar, jika tidur melepas hijab.
"Akramm..!" teriakku, mematikan ponsel cepat.
Iihh..
Ngapain dia nelpon aku tengah malam. Terus kenapa coba ku angkat.
Hadeuuuhh...
Tin
Tin
Tin
Pesan masuk ke ponsel ku. Yang kirim pesan adalah Akram.
Pantas kamu tolak cintaku, ternyata kamu sudah punya gebetan seorang hakim.
Itulah chat yang dikirim kan oleh Akram pada ku.
Cemburu, kalau Cemburu bilang?
__ADS_1
Ku balas pesannya.
Iya.
Jawabannya cepat.
Aku pun Gak mau membalasnya lagi. Ponsel ku non aktifkan. Mending aku tidur.
***
Dua Bulan Kemudian
Hari ini adalah Sidang Pembuktian Surat dari Penggugat. Di sidang ini, aku memiliki kesempatan untuk membuktikan alasanku menggugat cerai mas Evan. Mas Evan memang psikopat, ia membuat semuanya tak mudah. Entah apa maunya bahkan ia kini melimpahkan semua persidangan pada pengacaranya. Apa karena ia sudah banyak uang. Sehingga pakai pengacara segala. Persidangan kali ini, Aku menghadirkan saksi agar Argumentku lebih kuat.
Pak Hakim Raihan, sudah mengerti bahwa Mas Evan sedang membuatku susah. Katanya ikuti saja apa maunya mas Evan. Toh nanti kaputusan ada di tangannya. Begitulah kalimat yang diucapkan Pak Hakim Raihan padaku. Jadi, bulan depan kembali akan di gelar sidang. Yaitu sidang Pembuktian surat dari tergugat. Dalam hal ini surat Pembuktian dari Mas Evan. Katanya Argumentku tidak lah benar. Ia bilang aku mempitnahnya. Dan dia juga akan mendatangkan saksi.
Huufftt..
Rasanya lelah sekali. Setelah sore aku baru bisa pulang. Aku baru tahu, kalau mau cerai itu sangat ribet dan memakan waktu lama. Akhirnya Ku putuskan untuk ke warung terlebih dahulu. Karena ada yang mau ku sampai kan pada Akram. Dari tadi pagi hingga sekarang, ponselnya gak aktif.
Saat hendak sampai di depan warung, ku lihat mobil mas Evan, parkir di depan warung. Aku dibuat jantungan karenanya. Ngapain Mas Evan ke sini. Memang tadi ia tak hadir di pengadilan, pengacara nya yang datang. Semakin sombong saja mas Evan.
Aku penasaran sekali dibuatnya. Ku tepikan motorku jauh dari warung. Dengan perasaan gundah gulana, ku seret kakiku ke arah warung. Aku pun mengintip, apa yang dilakukan Mas Evan di warung ini. Tak mungkin kan dia mau jumpai aku? penasaran sekali aku dibuatnya.
Saat aku mengendap endap dibalik tembok warung makan, aku tak melihat keberadaan mas Evan di warung itu. Aku hanya melihat ada Juli di sana berbicara dengan Akram. Pembicaraan mereka terlihat sangat serius. Apa Akram kenal dengan Juli.? koq bisa..? apa Juli mau beli nasi? tapi kan dagangan sudah habis.
Aku yang penasaran, membuka lebar lebar kupingku, agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Tadinya aku gak percaya loh Akram. Kamu malah jadi kacungnya si Alda. Wanita malang itu."
Mendidih rasanya darahku mendengar ucapan si Juli. Sepele kali dia samaku. Perlu kah ku patah kan rahangnya. Agar tak bisa lagi itu mulutnya bicara. Tapi, jika ku lakukan itu, urusannya nanti jadi panjang.
Eehh... Tunggu dulu, koq Akram dan Juli seperti saling kenal.
"Loe datang kesini, hanya mau bilang itu? kamu ya, gak barubah juga." Sahut Akram sinis menatap Juli. Aku semakin penasaran dibuatnya. Apa mereka punya hubungan sebelumnya?
"Gak berubah kamu bilang. Apa gak lihat kamu mobil yang parkir itu."
Aku juga ikut ikutan melihat mobil warna hitam itu.
"Koq nasibmu jadi malang sih?"
"Mau apa sih loe Julid, mending loe pulang sana..!" Akram mendorong bahu Juli dengan keras. Juli sampai memundurkan langkahnya.
"Heii.... Akram, jangan kasar gitu. Nanti, aku kasih tahu pada Alda, tentang siapa kamu. Tamat riwayat loe..!" Ujar Juli mendorong kuat tubuh Akram, yang kini kembali mencoba mendorong nya.
"Bilang saja, siapa takut."
Ya ampun, sebenarnya mereka ada hubungan apa sebelumnya? harus kah aku nimbrung?
"Eemm... Baik lah, karena kamu yang nantangin. Ya sudah."
Ujar Juli mengedipkan matanya pada Akram. "Aku tahu kamu suka dia. Kamu gak takut nanti kehilangan dia, jika aku cerita siapa kamu?"
Juli masih memanas manasi Akram, yang terlihat sudah terpancing.
"Bilang saja, aku sudah pernah merasakan kehilangan. Jadi dimusuhinya juga gak masalah buat ku."
Jawaban Akram, membuatku bingung dan penasaran. Apa sih yang mereka bahas sebenarnya. Aku tak mau mati penasaran, di sini harus ku tanya kan.
Huufftt..
Ku tarik napas panjang, berulang kali dan Menghembuskan nya pelan, mengisi stok oksigen di paru - paru. Aku perlu banyak cadangan oksigen. Agar aku bisa tenang menghadapi pelakor tak tahu malu ini. Kalau aku gak tenang menghadapi nya. Bisa menghadap munkar nakir dia nanti.
Huufftt..
Ku usap dada yang bergemuruh. Jujur, jika melihat Juli darahku masih mendidih.
"Bismilllah... Semoga gak terjadi pertumpahan darah. Semoga si juli gak memancing mancing aku." Ujarku dalam hati, sembari menutup mata. Rilekskan diri, sebelum menghadapi pelakor.
Blakk..
Ku buka kedua mataku. Hati sudah mantap menghadapi Juli. Saat itu juga, ku lihat Mas Evan masuk ke dalam warung. Nyaliku jadi menciut untuk menemui Juli. Karena sudah jelas, akan ada pertengkaran nanti nya.
"Jangan mimpi bisa dapatkan Alda..!" Kalimat itu yang ku dengar dari mulutnya mas Evan kepada Akram.
TBC
__ADS_1