KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Cobaan berat


__ADS_3

Walau Juli dan keluarga besar nya, tak menginginkan kehadiranku, di ruang tunggu operasi. Aku tetap berada di ruang tunggu itu, tentu saja. Tempat ku duduk sangat jauh dari tempat mereka. Tatapan sinis penuh kebenciannya, terus mereka tujukan dadaku. Tapi, aku tak mau terpancing atas sikap sombong mereka. Juli dan keluarga besar nya, bersikap seolah mereka lah yang mempunyai hak pada Mas Evan. Padahal akulah istri sah Mas Evan.


Ku perhatikan apa yang mereka lakukan dari kejauhan. Dan saat ini, mereka terlihat sedang membahas sesuatu dan memegang berkas. Tak berapa lama, Juli menghampiriku dengan muka juteknya.


"Ini baca!" ia menyodorkan sebuah dokumen kepadaku. Dengan ragu ku kuraih dokument itu, ku buka dan membacanya dengan seksama. Di situ tertulis, biaya operasi mata mas Evan, yang membutuhkan biaya 15 juta. Biaya itu sudah termasuk untuk beli bola mata palsu dan biaya rawat inap.


"Itu uang yang harus kamu siapkan sekarang. Karena uangku sudah ku dulu kan. Agar Ambang Evan bisa di operasi. Itu tanggung Jawabmu. Karena ayahmu yang membuat mata Mas Evan rusak." Tegas Juli dengan muka kesal nya.


Aku terdiam, mana ada uang cash sebanyak itu. Mas Evan saja sudah enam bulan terakhir ini, selalu kasih uang sedikit. Gajiku saja hanya 500 ribu perbulan. Untuk makan dan keperluan sehari hari saja kurang, dan untuk memenuhi kebutuhan kami, perhiasan yang kumiliki sudah terjual 5 gram dalam kurung waktu 2 bulan terakhir ini.


"Kenapa diam? gak mau rugi?" Bicara dengan nada tinggi, melotot kepada ku. "Kalau sampai besok kamu tak beri aku uang sebanyak itu. Ku laporkan ayahmu ke pihak berwajib. Biar ayahmu membusuk di penjara." Ujar Juli, merampas dokument yang ada di tanganku dengan kasar.


Kutatap kepergian Juli dengan pikiran yang berkecamuk. Aku tahu, ia mau memorotiku. Emang dia saja yang bisa melaporkan. Aku pun bisa melaporkan dia baik. Karena Mas Evan juga menghajar ayah ku. Ditambah mereka buat identitas palsu. Tapi, saat ini aku sedang tak ingin berdebat. Memang sudah seharusnya aku membantu biaya pengobatan Mas Evan. Karena dia masih suamiku. Sebaiknya aku jual perhiasanku yang tersisa. Toh dulu, perhiasan itu, aku beli dari uang yang diberikan mas Evan.


Tak ingin berlama lama di ruang tunggu itu. Karena aku tak mau ada keributan. Ku seret kakiku dengan lemas menuju ruang ayah dirawat. Pikiran kacau, gundah gulana. Memikirkan semuanya. Ayah gagal jantung. Mata Mas Evan diangkat sebelah. Ya Allah.. Kenapa takdir sekejam ini?


Bruggk...


"Aauuuww... Maaf..!" Kedua mataku melotot, jantung berdetak tak berirama, aku sangat terkejut karena menabrak seseorang. Dan orang yang ku tabrak itu sangat ku kenal.


"Alda, muallimah Alda. Kamu gak Kenapa Kenapa?" ujar pria itu dengan khawatirnya, pria itu adalah Pak Armand Kepala sekolah kami.


"Oouuhh.. iya pak." Ku gerakkan tanganku yang dipegangnya. Ya tadi aku hampir saja terjatuh karena bertabrakan dengan Pak Armand.


Kulirik pak Armand, setelah ia melepaskan tanganku.


"Sekali lagi maaf ya pak!" Ujarku enggan, karena merasa bersalah. Dan dengan cepat, ku alihkan pandanganku. Di saat tatapan mata kami berdua bertemu. Aku malu, jika Pak Armand, melihat wajah sembabku.


"Iya, muallimah Alda. Sudah bagaimana kondisi Ayah dan suamiku?"


Deg


Aku melirik lagi pak Armand. Aku penasaran, dari mana ia tahu tentang Kejadian Ayah dan Mas Evan. Apa benar benar sudah viral di media sosial?

__ADS_1


"Tadi muallimah Rose cerita, saat para guru datang menjenguk istri saya." Jelas nya cepat, seolah tahu apa yang ada dibenakku.


"Iya Muallim, ayah sudah sadarkan diri. Tapi, suamiku masih di ruang operasi." Ujarku dengan sesenggukan. Entah Kenapa aku gak bisa mengontrol diri lagi. Dari tadi, aku merasa tertekan sekali. Juli dan keluarga nya terus saja menyudutkanku.


"Oouuww... Yang sabar ya bu." Ujarnya dengan menampilkan wajah turut prihatin.


"Iya Muallim, maaf. Belum bisa menjenguk Bu Suci." Ujarku masih menangis sesenggukan, dan kembali menunduk.


"Ya gak apa apa muallimah. Muallimah juga kan sedang dapat musibah." Ujarnya penuh kehati hatian.


"Iya Muallim." Ku lap pipiku yang basah, karena air mata yang mengucur deras.


"Ayah muallimah dirawat di mana?" tanya nya masih menatapku lekat.


"Ruang XX A1 Muallim." Jawabku sopan.


"Oouuww.. Iya kah? waduh ruangan kita bersebelahan. Istri ku dirawat di ruang XXA2. Baru saja dipindahkan kesitu, satu jam lalu." Jelas nya, tanpa ku tanya.


"Baiklah, aku pamit dulu, mau cari suster."


"Iya Muallim."


Pak Armand melanjutkan langkah nya, begitu juga dengan diriku. Tapi, aku tak kembali ke ruangan ayahku dirawat. Aku kembali ke ruang tunggu, tempat Mas Evan di operasi. Aku duduk sangat jauh dari Juli dan keluarga nya. Bahkan mereka tak menyadari, kalau aku kembali lagi ke tempat itu. Suamiku sedang di operasi di ruangan yang sangat dingin itu. Dan aku tak punya hak untuk menemaninya. Karena Kejadian ini bersumber dari keluargaku. Aku akan kembali diusir, jika aku kembali ke ruang tunggu.


Baru juga lima menit berdiri, dibalik dinding sambil mengintip ke pintu ruang operasi. Ku lihat lampu indikator menyala warna merah, Itu artinya, Mas Evan sudah selesai dioperasi. Membanyangkan Mas Evan, jadi cacat membuat hatiku ngilu, perih, nyeri akan hal itu. Ayahku sendiri, yang membuat suamiku buta sebelah.


Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku tak bisa menahan diri lagi untuk tidak menangis. Aku sangat mencintai Mas Evan. Kebaikannya dulu, membuatku tak bisa membencinya, Walau ia telah menyelingkuhiku. Entah Kenapa, aku merasa, Mas Evan sedang diperdaya oleh Juli.


Ku mengintip dari dinding persembunyianku. Ingin melihat ke ruang mana mas Evan dibawa. Apakah ke ruang tempat nya pertama kali dirawat? Ternyata suamiku itu tetap dibawa ke ruang pertama ia dirawat.


"Mas... Maaf kan ayah..!" Ujar ku yang hanya bisa didengar olehku sendiri. Tak mau jadi tontonan orang orang, akhirnya aku menghadap ke dinding lorong tempatku berdiri. Menyembunyikan wajahku yang nelangsa dan sangat memprihatinkan itu, dari orang orang yang lalu lalang.


Ya Allah.... Kapan badai ini berakhir. Kenapa semakin hari, angin yang bertiup semakin kencang. Curah hujannya semakin deras. Apakah di sini lah letak hancurnya hidup ku? tenggelam di lautan badai.

__ADS_1


Aku hanya bisa berperang bathin. Tak ada yang mau mengerti posisiku. Orang yang tahu,. masalahku yang diselingkuhi, mengatakan aku wanita bodoh. Karena tetap bertahan dengan Mas Evan.


"Muallimah Alda..?!"


Cepat cepat ku seka air mataku. Saat suara yang kukenal itu, menyapaku. Itu suara Muallim Armand. Astaga.... Rasa nya akan malu sekali, jika aku membalik badan dan menghadap Muallim Armand.


"Muallimah ngapain menghadap tembok? cem murid yang lagi di hukuman saja?"


Apa sih mau nya Muallim Armand ini? suka sekali, membuatku malu dan kesal. Untuk apa juga ia menegurku. Aku lagi bete, lagi sedih. Muallim Armand sosok manusia yang memuakkan. Apalagi di tempat kerja. Dan hari ini, dia sudah dua kali menangkap basah aku dalam keadaan yang sangat memalukan dan sangat menyedihkan..


"Muallimah Alda..?" suara nya naik satu oktaf


Karena aku tetap memunggunginya. Dia pikir, aku budeg.


"Ibu anda mencari anda. Tadi kami bertemu di depan kamar tempat ayah muallimah dirawat." kini ia kembali Bicara lembut, setelah aku membalik badan.


"Iya Muallim, terima kasih." Ujarku membungkukkan badan, dan melirik nya. Kemudian ngacir dari tempat itu secepat kilat.


"Eehh.. Muallimah.. Tunggu...!"


Muallim Armand, malah Mengejar ku. Astaga... Apasih mau nya? iihh.. Geram aku.


Ku percepat langkahku. Makin kesal aku dibuat nya.


"Muallimah Alda.. Tunggu. Ini, bawa kan pesanan ibumu. Tadi beliau nitip beli kan. Kalau muallimah, mau ke ruangan, muallimah saja yang bawa." Ujarnya teriak, sambil menyusul langkahku.


Aku pun akhirnya menghentikan langkahku. Dan kembali mengusap usap wajahku yang sembab, agar terlihat segar sedikit.


"Ini muallimah!" kulirik tangan nya yang menyodorkan kresek plastik warna putih. Dan dengan cepat tanganku merampasnya dari tangannya.


"Makasih ya Muallim..!" ucapku, tersenyum tipis. melirik nya yang terlihat bingung menatapku. Aku pun bergegas cepat dari hadapannya. Terserah ia berfikir apa tentang ku.


TBC

__ADS_1


__ADS_2