
"karena aku benci pada suamimu. aku dendam padanya. Ia menyakiti perasaanku. dia merendahkanku. Siapa yang mau dikatakan impoten. Dia harus merasakan sakit, dia harus merasakan kehancuran seperti hancurnya hidupku. kamu tahu? ia menghinaku." Wajah putihnya Akram memerah sudah karena emosi.
"Aku nggak mengerti apa maksudmu? impoten?" tanyaku dengan bingungnya, menatap Akram yang kini masih terdiri di hadapanku.
"Aku yang impoten Dia menjelek jelekkanku kepada teman-teman lainnya. Ia lakukan itu karena dia iri padaku di bulan itu aku mencapai target yang memuaskan sedangkan dia tidak mendapatkan target." Jelas Akram
Aku sungguh tak percaya dengan penjelasan Akram, sesimpel itu Masalahnya sehingga menghancurkan Rumah tanggaku.
"Aku ini seorang duda, aku baru dipindah tugaskan ke kantor baru tempat suamimu bekerja. Di tempat kerja baru, aku terus dapatkan promosi jabatan sehingga tergeserlah jabatan suamimu. Ia kesal padaku Merasa tersaingi dia cari informasi tentang diriku, dia mengetahui aku Ini duda. aku dan istriku bercerai, karena 4 tahun kami menikah tetap tidak ada keturunan."
Aku masih tak percaya dengan alasan nya Akram. Karena ras sakit hati dikatakan impoten. Ia ingin balas dendam. Rela mengeluarkan duit kepada Juli.
"Hancurnya rumah tanggamu Sebenarnya bukan akulah penyebabnya. Kalau suamimu benar-benar mencintaimu setia kepadamu walaupun Juli merayunya menjebaknya dia pasti tetap memilihmu tapi kenyataannya kan tidak jadi di sini jelas aku membelah diri, semua masalah ini, semua kehancuran rumah tanggamu bukanlah semata-mata karena aku penyebabnya." Cara bicaranya Akram terdengar tulus.
Ya, kalau dipikir pikir memang ini bukanlah salah Akram. Memang Mas Evan dan Juli saling suka. Hanya saja Juli yang licik memanfaatkan keadaan.
"Setelah Aku dapat kabar bahwa rumah tangga kalian hancur, aku jadi merasa bersalah, semangat untuk bekerja pun tak ada lagi. kuputuskan untuk Berhenti bekerja Aku ingin membuka usaha di kampung, tapi sialnya di perjalanan pulang kampung. Aku mangalami kecelakaan, ternyata yang menabrak Aku adalah kamu, istrinya Evan. Disaat itu aku sungguh merasa sangat bersalah mungkin karena ide gila ku itu kamu jadi hancur seperti ini. Setelah itu aku memutuskan untuk bertanggung jawab dan tetap berada di sekitarmu. Entah kenapa setelah melihatmu mengetahui semua tentangmu keluargamu aku menaruh hati padamu."
"Stop... Jangan teruskan lagi!" ku acungkan kedua tanganku. " Sungguh aku sangat syok dengan akhir dari cerita ini. Bisa dikatakan, karena niat balas dendamnya Akram pada Mas Evan, yang membuat hubunganku dan Mas Evan hancur.
"Saat membuat taruhan itu dengan Juli, dia telah menyiapkan segalanya hitam di atas putih bermaterai. Aku tak mau ribut, ku bayarkan senilai uang kesepakatan dengan Juli, setelah Ia dan Evan menikah. Terdengar bodoh. Tapi, itulah kenyataannya." Jelas Akram dengan penuh penyesalan.
"Astaga Akram kenapa seperti ini? gara-gara kamu, hidup putriku hancur. Aku takkan pernah memaafkanmu pergi kamu.. pergi kamu Dari sini, pergi...!" teriak ibu histeris.
__ADS_1
Kami tidak menyadari keberadaan Ibu. Ternyata ibu ada di warung ini juga. Mendengar semua ceritanya Akram.
Akram menghampiri Ibu meraih tangan ibu, wajah memelas, penuh dengan penyesalan. Ia mencium tangan keriputnya ibu, minta maaf dan bersujud di kaki Ibu. Memang kalau diperhatikan akram ini adalah pria yang baik, buktinya sudah tahu ditipu si juli, dimanfaatkan Juli, dia tetap mau membayar sejumlah uang atas dari kesepakatan yang mereka buat.
" Bu Maafkan aku...! nggak ada niat seperti itu. saat itu Aku sedang tidak sadarkan diri' masih bersujud di kaki ibu. Aku jadi tidak tega melihatnya.
kutatap Ibu sendu kuberi kode dengan mata agar ibu, tak usah ikut campur. Tapi, Ibu tetap tak mau membuka suara dia masih menetap tajam Akram yang membuat akram menunduk dan ketakutan kepada Ibu aku jadi sangat kasihan melihatnya. Benarkah ini sifat dia. Ia terlihat punya hati yang sangat baik.
"Bangun kamu!" ibu berusaha melepaskan tangannya yang masih di pegang erat oleh Akram. "Bukan samaku, kamu minta maaf. Tapi, sama Alda." Jelas Ibu, mendudukkan bokongnya di kursi yang tak jauh dari Akram.
Akram menghampiriku, "Maafkan aku Ya Alda, aku akui, aku ini salah. Aku berbuat sesuatu tanpa perhitungan!" Ujarnya dengan mata berkabut. Tangan terjulur ke arahku.
Aku meraih tangan yang sedikit gemetaran itu. Tak ada alasan, untuk tidak memaafkannya. Ia sudah mengaku salah. Lagi pula, kesalahan bukan padanya semua. Ini salah Mas Evan
"Terima kasih ya..!" ujarnya dengan sumringah. Wajahnya yang tadi sangat tegang, kini berganti jadi berbinar binar.
Ku lihat gelagatnya mau memelukku. Refleks ku dorong kuat tubuhnya. Siapa juga yang mau dipeluk. "Aku itu masih kesal padamu. Kamu itu menutup nutupi identitasmu pada kami semua." Ketusku, menatapnya tajam.
"Berarti aku belum dimaafkan ya? Astaga padahal aku sangat berharap untuk dimaafkan!" ujarnya dengan muka sok imutnya. Tu kan dia mulai lagi menggodaku. Kemudian Ia melirik ibu, yang menatapnya masih dengan masam.
"Pikir saja sendiri!" ujar Ibu, ibu menoleh ke luar. "Mawar... Sini kamu...!" Ternyata Mawar, ada juga di tempat itu. Ia sembunyi dibalik steling. "Kamu ngapain disitu?" tanya ibu penuh selidik.
"Lagi videoin kalian bertiga, aku mau buat jadi vote do tok tok." Ujar Mawar, menghampiri kami, dengan mata fokus ke hape.
__ADS_1
"Kamu ya? jangan.. Jangan.. Masukkan itu ke Tok TOK. aku gak mau jadi konsumsi publik." Ujarku bangkit dari dudukku. Aku mencoba meraih hapenya Mawar. Aku akan menghapus video itu.
Dulu juga ia membuat video tentang diriku yang dikhianati Mas Evan. Captionsnya yang menarik, serta video dan foto yang diunggah juga bagus, membuat vote itu jadi FYP. Gara gara itu, setiap Mawar Live, ia banyak dapat uang.
"Iiihh.. Kakak.. Ini aku lagi live streaming. Aku sedang buat part ke dua dari kisah kak. Ternyata, ini nih dalang dari semua nya." Mawar mengarahkan kamera ke Wajahnya Akram
Auto, Akram membalik badan.
"Abang Akram lihat ke kamera, kalau gak mau lihat. Kami sekeluarga tak akan maafkan Abang..!" ketus Mawar, tangan kanan nya berusaha meraih bahunya Akram. Tapi, tetap Akram tak mau menunjukkan wajahnya. Ia menggerakkan bahunya kuat.
Livenya Mawar di seribu komentar dari netizen. Yang meminta agar Wajahnya Akram disorot. Moment ini dimanfaatkan mawar
"Siapa yang berani kasih gift singa, kita paksa pria brengsek ini menunjukkan Wajahnya..!' ujar Mawar semangat di layar hapenya. Kalau ada penonton kasih gift singa. Mawar bisa dapatkan uang 7 jutaan, dari gift singa bila ditukarkan ke rupiah.
Aku dan ibu saling pandang. Berancang ancang ingin kabur saja. Mawar sedang memanfaatkan masalah ini untuk dapat cuan. Astaga... Mawar...!
" Kaki, jangan pergi. Ada ini kaki yang mau kasih gift singa, asal abang Akram mau menunjukkan Wajahnya. Tolong kak..!' Mawar mematikan audionya ke hapenya. Ia memelas padaku, agar aku membujuk Akram, supaya bersedia menunjukkan Wajahnya ke kamera.
"Mawar.... Kamu gila...Mau Kamu malukan kak dengan masalah ini?" Ketusku, pada mawar. Mengajak ibu pergi dari warung. Lebih baik kami pulang.
Gara gara Mawar, acara maaf Maaf an yang harus nya dramatis, jadi dibuat guyonan di live streamingnya.
Aku sudah naik di atas motor, ibu naik diboncengan. Si Mawar masih menyorotiku dan ibu yang akan pergi naik motor. Dan sesekali ia menyorot Akram.
__ADS_1
TBC