
"Hari ini bisa laris manis, semoga besok juga seperti itu." Ujar Akram, mendudukkan bokongnya di kursi meja makan tak jauh dari tempat ku duduk sekarang. Aku sedang duduk di kursi meja kasir baru selesai menghitung uang.
"Iya Dek." Jawabku tersenyum tipis menatapnya. Aku merasa bersyukur bisa kenal dengan Akram. Walau kebiasannya yang merokok, membuatku kurang sreg. Karena aku tak suka lihat pria merokok. Asapnya buat sakit kepala.
"Untuk masakan besok, kita tambah 20 porsi lagi. Jadi target 120 porsi, kalau tetap laris manis. Luasnya, kita masak aja 200 porsi." Ujar Akram, menatapku serius dengan mulut sibuk merokok dan kedua kaki digoyang saat duduk di kursi.
"Iya, belanja nya kamu sama bi Imah atau sama Mawar?" tanyaku melirik mawar pelayan kami satu satunya yang menangkap sebagai tukang cuci piring. Maklum warung makan baru buka, jadi masih punya dua karyawan. Bi imah tukang masak yang juga ku bantu, serta mawar yang ikut bantu bantu masak dan jadi pelayan.
Bi imah, adalah adik dari ayah. Dan mawar adalah putrinya Bi Imah, yang baru saja lulus Sekolah dan tak mau kuliah. Katanya ia ingin menikah muda. Dan sepertinya ia suka dengan Akram.
"Aku belanja nya sama Bi Imah saja." Jawab nya cepat, bangkit dari duduk nya, kemudian menghampiriku. "Itu, postingan kamu di media sosial, tadi pagi. Kamu hapus ya?!" Ujar nya lembut, menatapku penuh harap. Ya, aku kan mempromosikan dagangan ku juga di media sosial.
Kening ku mengerut menatap Akram. "Siaran langsung tadi?" Tanyaku memastikan.
"Iya, untuk kedepannya. Kalau Kamu mau promosikan usaha warung makan ini, gak usah sorot aku nya." Ujarnya serius penuh penekanan.
"Oouuww... Iya, maaf ya dek Akram. Tadi aku buat siaran langsung gak ada niat apa apa koq sorot kamu saat melayani pelanggan." Jawabku memperhatikan ia yang tak sanggup menatap mataku lekat. Ia terlihat grogi, saat kami berada pandang.
"Iya, lain kali jangan sorot aku ya, kalau mau promosi." Tegasnya lagi, yang kini melirik lirikku tak jelas gitu. Apa dia GR? memang di postingan itu, banyak teman yang komentar, pelayan cowoknya tampan. "Habis sekarang ya?" Ujarnya lagi.
Aku pun meraih ponselku yang terletak di paras meja yang ada di hadapanku, mulai menghapus postinganku itu.
"Sudah ku hapus."
"Iya, dan mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan adek. Panggil nama aja." Ujarnya mengulum senyum.
"Lah, kamu kan memang adekku. Aku lebih tua dua tahun darimu." Jelas ku ikut ikutan menahan senyum. Kenapa pula dia gak mau dipanggil adek.
"Atau kamu bukan adek an ku ya? apa kamu bohong pada kami soal kamu siapa? soalnya Kamu gak pernah mau nunjukin kartu identitas mu pada kami." Ujarku penuh selidik.
"Eemmm.. Mana uangnya biar aku belanja." Dia malah mengalihkan pembicaraan. Tangannya menjulur di hadapanku. Ku tatap ia dengan penuh rasa curiga. "Aku ini orang baik. Gak usah kalian takut, aku tipu. Suatu saat kamu juga nanti tahu, aku ini siapa." Sahutnya nyelot, yang membuat aku jadi makin curiga.
__ADS_1
"Iya, kalau kamu mau nipu aku dan keluarga ku. Lihat saja, nanti kamu akan dapat karmanya." Ujarku sok serius, padahal aku ingin menggoda nya. Entah kenapa, hati kecil ku menyatakan bahwa Akram pria baik. Saling baiknya, aku ingin menjomblangin dia pada mawar.
"Iya, aku tahu itu. Aku sudah dapat karmanya koq." Jawab nya cepat. Meraih uang dari tangan ku. Dan bergegas pergi.
Aku dibuat melongok dengan pernyataannya itu. "Apa maksud ucapannya tadi? ia dapat karma?" ku ingin menyusul nya, tapi ia sudah naik motor.
Huufftt..
"Tarima kasih Ya Allah...!" Wajahku berseri berseri menghitung kembali uang yang kami dapat. "Kalau dapat untung satu juta setiap hari. Ngapain lagi aku mengajar. Mending buka usaha warung makan. Aku bisa ciptakan lapangan pekerjaan." Ujarku dengan perasaan yang sangat euforia. "Ya Allah, jangan buat aku takabur ya Allah...!"
Aku merasa terlalu senang, takutnya besok sedih. Semoga besok dan seterusnya dagangan ku laris manis.
Saat menghayal tentang kesuksesan di hari esok. Ponselku bergetar, lamunan pun buyar. Ku lihat nama Bu Suci di layar datar itu. Kuusap icon hijau, panggilan pun tersambung.
"Assalamualaikum Bu Suci..?" ujarku rumah dan sopan. Ibu suci sudah mau mengurus perceraian ku dengan Mas Evan. Aku harus bersikap ramah.
"Walaikum salam, pa kabarmu Dek?" tanyanya lembut. Suaranya memang buat hati adem mendengarnya.
"Sehat Bu Suci." Ia panggil aku adek, dan aku nya panggil beliau ibu. Hadeuuhh.. Gak nyambung. "Ibu Sehat?" tanyaku balik, tentu saja nada bicara ku ramah dan terdengar bahagia. Aku memang merasa sangat bahagia hari ini.
"Ooohh iya bu, makasih banyak ya bu?!" ujarku dengan senang nya. Rasanya aku seperti dapat undian miliaran saja. Kalau ada hakim yang bantu urus perceraian. Ku jamin, tak butuh lama, akte cerai akan keluar.
"Iya, nanti ajak Raisya juga ya?"
"Iya bu." Jawabku cepat.
"Assalamualaikum..!"
"Walaikum salam..!" panggilan pun terputus.
Huffttt..
__ADS_1
Ku tarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Entah kenapa bicara dengan Bu Suci, rasanya sangat menegangkan.
Setelah merasa tenang. Ku hampiri mawar di belakang. Ternyata ia sedang cuci piring sambil main tik tok.
"Astaga Mawar, pantes kamu nyucinya lama. Lah kamunya main tik tok?" ujarku dengan mengerutkan dahi. Heran sudah lebih satu jam di dapur, bukannya bersih bersih malah main tik tok.
"Ya Allah kak Alda. Capek tahu, cari hiburan dulu. Biar otak ini refresh." Ujarnya, memanyunkan bibirnya. Ia tak suka aku tegur.
"Iya, siapkan dulu kerjaannya. Baru main tiktok."
"Oalah kak, kalau kerjaannya sudah selesai. Apalagi yang mau di sorot." Ia mengambil ponselnya yang di berdirikan di atas meja. Kemudian menyodorkannya padaku. "Ayo kak rekam aku. Aku mau buat postingan. Kejamnya majikan, nanti pasti banyak yang nonton vote ku. Semoga FYP." Ujarnya tegas tak terbantahkan.
Aku pun menekan tanda merah untuk merekam. Keluarlah sound wanita Marah Marah, mengatakan nyesal menikah dengan suaminya. Saat itu juga piring plastik, baskom, cangkir, tutup panci yang di cuci Mawar. Melayang ia tendang.
"Mawar...!" teriakku dan menghentikan acara merekamnya. Mawar langsung bangkit dari duduknya, di kursi pendek. Ia menghampiriku, meraih ponselnya cepat dari tanganku.
"Alhamdulliiah bisa juga aku buat vote kocak." Ujarnya menonton hasil videonya. Tidak memperdulikan aku yang merepet.
Kekwkwkkw...
Iya kembali tertawa lepas. Aku jadi penasaran dengan apa yang ia tertawa kan.
Kwkwkwkk..
Aku ikutan jadi tertawa, melihat kontennya.
"Gimana? menghibur kan? main tik tok, selain menghibur, juga bisa dapat duit. Lihat, lihat ini Kak. Aku tinggal tarik ini uang." Mawar menunjukkan akun tik tok nya. "Makanya kak cepat cepat cari kian penggantiku. Takutnya aku nanti sibuk Tik Tok an. Kakak Marah samaku." Jelasnya dengan bangganya.
"Sudah berapa kali kamu narik uang dari tik tok?" tanyaku dengan penasarannya.
"Belum pernah, ini baru mau narik." Sahut mawar menatapku lekat.
__ADS_1
"Oooww..." Ku bulatkan bibir ku takjub. Aku sih tahu tik tok. Tapi, aku kurang suka aplikasi itu. Karena kebanyakan orang di sana joget joget tak jelas. Eehh.. Aku baru tahu, kalau live di tok tok bisa dapatkan uang. Jual an juga bisa.
TBC