KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Cemburu


__ADS_3

Rencana di awal, kami hanya satu atau dua jam di kampungnya Akram. Dan kenyataannya kami disini malah dua hari. kami baru balik ke kota setelah habis malam takziah ketiga meninggalnya ayahnya Akram. Benar-benar lari dari rencana di awal. Itu semua terjadi karena Ibu kasihan pada Akram. karena di rumah itu sangat sepi hanya ada Akram walau sebenarnya masih ada saudara-saudaranya di kampung itu.


Akram sangat senang kami menemaninya selama 2 hari dan selama 2 hari itu selain mempersiapkan acara untuk malam takziah. Ia juga mengajak kami ke obyek wisata yang tak jauh dari rumahnya. Tak ada niat piknik, hanya saja Mawar memaksa untuk diajak jalan jalan. Katanya dia mau buat konten.


Hari ini, kembali persidangan perceraianku. Karena Mas Evan kena sandung kasus narkoba. Jadinya, ia kalah dalam persidangan. Karena pengacaranya tak datang hari ini. Kata Pak Hakim Rayhan, dua minggu lagi akan diputuskan hasil sidangnya.


Pukul 11.45 Wib, persidangan selesai. Aku memutuskan untuk pulang, tentu saja aku tak langsung ke rumah. Tapi, ke warung. Lasti di sana sangat sibuk saat ini. Akram masih di kampungnya. Padahal tadi Pak Hakim Rayhan mengajak makan siang. Aku terpaksa menolaknya karena aku kepikiran dengan sibuknya para pekerja di warung yang tanpa kehadiran akram.


Saat sampai di warung. Aku cukup terkejut dengan kenyataan bahwa warung memang sepi. Apakah warung ini sepi karena kami tutup selama 3 hari atau karena Akram tak ada di warung ini. Hal itu membuatku jadi cemas kalau terus-terusan seperti ini bagaimana aku akan melanjutkan hidup. Aku sudah memutuskan tak mau lagi bekerja sebagai guru. Aku sudah memutuskan membuka usaha warung makan ini. Kalau bangkrut bagaimana?


"Kak Alda, cepat telepon Abang Akram, suruh pulang kesini. Lihat lah lauk kita masih banyak!" ujar Mawar sedih.


"Dia lagi berkabung dek. kita tidak bisa memaksanya, untuk bekerja. Lagian Kakak sekarang merasa enggan padanya setelah terungkapnya fakta-fakta tentang dia Dan Juli yang bersekongkol untuk menghancurkan mas Evan." Jawabku datar. Ku ambil gelas dari rak piring. Aku Ingin membuat juice jeruk dingin.


kerongkokanku terasa sangat kering, haus.


" Kak, kak itu Pak Hakim Raihan." ujar mawar dengan paniknya saat melihat Raihan yang ada di depan warung.


Aku yang tengah menikmati jus jerukku, dibuat terkejut, mataku langsung membelalak, menoleh ke arah Pak Hakim Rayhan, yang berjalan memasuki warung sederhananya kami.


Aku bangkit dari dudukku Dan langsung menyambutnya. Pak Hakim Rayhan sangat ku segani, aku harus bersikap dengan baik. ramah padanya. Ini pertama kalinya Ia datang ke warungku. Apa karena tadi aku menolak tawaran makan siangnya? makanya beliau datang ke sini. Masa sih seorang Hakim datang ke rumah makan seperti ini. Sikap Pak Rayhan sangat misterius. Apa ia seperti itu, karena kakaknya Bu Suci, yang ingin aku jadi istri kedua pak Armand.


"Masuk, masuk Pak Raihan." Aku dan Mawar dengan hebohnya menyambut Pak Raihan. Mawar, sampai melap kursi yang akan diduduki pak Hakim Raihan. Terlihat Pak Raihan sungkan dengan pelayanan kami yang sedikit berlebihan.


"Aku ini bukan presiden yang harus disambut seperti ini." Ujarnya tertawa kecil, duduk di kursi itu dengan wajah berbinar binar.


"Pak Hakim, orang penting buat kami. Harus dilayani dengan spesial..!" ujar Mawar ramah, Mawar pasti mau tebar pesona. Secara ia belum ada gebetan.


"Terima kasih." Dari tadi Pak Hakim Rayhan menatapku terus. Jujur Aku jadi salah tingkah. "Aku mau ke rumah Kak suci, aku ingat kalau kau punya usaha makan, makanya aku singgah di sini. Karena aku suka Masakanmu. Enak..!"


"Heii Pak Hakim yang tampan dan baik hati. Masakan kami memang enak!" Mawar, kini sudah menghidang semua lauk di atas meja. Tentu saja aku membantu Mawar. Sedangkan pelayan yang dua lagi, fokus ke pelanggan lainnya.

__ADS_1


Setelah makanan semua terhidang. Aku menjauh dari meja Pak Rayhan. Tapi, anehnya Pak Rayhan malah memintaku duduk di kursi yang ada di sebelah nya. Katanya ada yang ingin dia bicarakan.


"Seandainya masakan bibi di rumah seenak ini. Aku akan pulang ke rumah setiap hari untuk makan siang." Ujarnya dengan senyum penuh maksud.


Hehhehe...


Apa Pak Rayhan suka samaku? sikapnya sangat aneh. Aku wanita yang tak sepolos itu. Tak tahu kemana arah sikap pak Rayhan itu.


"Assalamualaikum....!"


Suara seorang pria yang mengucap salam, terdengar sangat familiar. Itu suaranya Akram. Ku putar leher, untuk melihat, apa benar yang mengucap salam itu adalah Akram. Ternyata benar, dan saat itu kini matanya tertuju ke arah kami.


"Walaikum salam..!" Sahutku pelan, melirik Pak Rayhan sekilas. Kemudian memperhatikan Akram yang sedang mengangkat barang yang di dalam goni.


"Apa itu bang?" tanya Mawar pada Akram, yang kini berjalan sambil membawa karung, yang isi karung itu, aku tak tahu apa.


"Mangga..!" Jawabnya, melewati Ku dan Pak Rayhan. Diliriknya Pak Rayhan dengan tak sukanya.


"Oiuuww... Aku suka mangga." Ujar Mawar, mengekori Akram ke dapur.


"Wahh... Luar biasa, seorang Pak hakim mau makan di warung kaki lima." Ujar Akram dengan sinisnya.


"Ada larangan kah?" Pak Hakim Rayhan menantang tatapan Akram. Dan kemudian lanjut makan.


"Gak sih pak. Ayo pak silahkan dilanjut makannya!" kini Akram tersenyum tipis pada Pak Rayhan.


Akram kembali ke dekat steleng, melayani pembeli.


"Pekerjamu ramah ramah ya Alda." Ujar Pak Rayhan melirik Akram.


"Iya pak, harus ramah. " Ku tanggapi serius ucapan Pak Rayhan yang sebenarnya menyindir itu.

__ADS_1


Heheheeh...


Pak Rayhan ternyata orangnya baik dan tak sombong. Suka senyum lagi. Ia yang sudah selesai makan. Terlihat siap siap ingin pergi.


"Berapa semuanya pelayan..?!" tanya pada Akram yang kebetulan lewat di sebelahnya.


"Itu, bagian kasir." Akram menunjuk ke arahku, yang dari tadi senyam senyum karena tingkah kedua pria ini. Tak mungkin akan Pak Rayhan suka samaku? tak mungkin akan sekarang Pak Rayhan cemburu pada Akram.


"Gak usah dibayar pak." Sahutku ramah, menolak uang pecahan 100.000 yang ia sodorkan.


"Loh, koq gitu?" tanya pak Rayhan dengan muka herannnya.


"Iya pak, Gak apa apa." Jawabku tersenyum tipis.


"Waahh... Kalau gini cara jualan, bisa tumpur kita!" Akram buka suara, berdiri di sebelah ku


"Iya benar itu. Ini, kembaliannya kasih sama pelayanmu ini." Pak Rayhan menunjuk Akram yang ada di sebelah dirinya, meletakkan uang di meja kasir.


"Terima kasih pak Hakim.!" ujar Akram membungkukkan badannya, Tapi, mukanya Akram terlihat berlipat.


Kedua pria ini saling memanas manasi.


Pak Rayhan hanya memberi kode tangan nya, ia pun masuk ke dalam mobil mewahnya.


"Merasa tersaingi ya..?" Mawar menyenggol bahunya Akram.


Akram membalikkan bola matanya, hingga yang nampak warna putihnya saja. "Aku kelas kalah saing. Gak usaha bersaing... Kakakmu menolakku, karena si Pak Hakim." Ujarnya keras, menatapku menantang.


"Hahhaha.... Tembak 12 pas..!" ujar mawar tertawa cekikan. Menatapku dan Akram secara bergantian.


"Mawar...!" Ku beri peringatan pada Mawar, agar tak membahas masalah perasaan.

__ADS_1


"Apa..?" Dia malah bersikap sok Gak ngerti dengan teguranku.


Aku pun tak mau meladeni kedua manusia di hadapanku. Semakin di tanggapi, akunya dibuat jadi bahan ledekan.


__ADS_2