KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Misterius


__ADS_3

"Koq kamu bilang aku ngaur, aku serius!" ujarnya tegas menatapku.


Jantungku rasanya mau copot, dengan penuturan Akram.


"Kalau kamu masih mau kerja denganku, kamu harus tahu batasan nya. Aku bukan wanita murahan." ujarku membuang muka. Kesal aku dengan sikapnya Akram hari ini. Dadaku semakin sesak saja. Bisa bisanya dia nawarin diri jadi ayahnya Raisya. Gak ngerti dia apa, kalau aku masih traumah.


"Yang bilang kamu wanita murahan siapa?" Akram mendahuluiku, menghadang langkahku.


"Kamu gak sadar dengan sikap mu ini? mau kamu sebenarnya apa sih? jujur, aku itu masih curiga dan penasaran denganmu. Sudah dua bulan lebih, kamu tinggal dengan kami. Walau kamu itu tidurnya di warung ini. Selama itu, kami tak pernah tahu identitasmu."


Akram menunduk, jika ditanyain soal identitas. Ia pasti tak bisa berkotek. Aku melewatinya, ku simpan kunci warung di meja yang ada di hadapannya. Menyeret kaki keluar dari warung. Aku mau belanja sendiri untuk dagangan besok. Aku naik becak motor saja. Gak usah belanja bareng dengan Akram.


Dasar manusia misterius. Itu kan ditanyain identitas diam dianya. Tak bisa jelasin.


ku lirik ia yang mengunci ruko. Di saat ia menoleh ke arahku, ku buang cepat pandangan. Aku tak mau bersitatap dengannya.


Penilaianku sementara, Akram ini pria baik. Karena sudah dua bulan kenal, ia tak ada menunjukkan sikap kriminal. Ia juga ramah, sopan dan alim. Sholatnya gak pernah tinggal. Terlihat tulus setiap bersikap, bahkan Raisya sudah sangat akrab dengannya. Pada pelanggan juga ia sangat ramah, ia tahu apa yang diinginkan pembeli tanpa dikasih tahu. Misalnya pelanggan A, suka pedes. Ia akan banyakin cabenya. Tanpa diminta terlebih dahulu.


"Becak...!" ku lambaikan tangan, ada becak kosong melintas.


"Sudah ada sewa di depan sana.." teriak si abang tukang becak.


"Iya bang." Jawabku lemas, koq susah kali sih? dapat becak. Biasanya juga banyak becak yang mangkal di depan warung makan ini.


Akram kini berdiri di sebelahku. "Kenapa hari ini kamu mau naik becak, biasanya juga aku yang antar." Ujarnya menatapku tanpa merasa bersalah. "Karena aku nawarin diri jadi ayahnya Raisya?"


"Iihh.. Kamu ya, gak ngerti keadaanku. Aku dan kamu itu, gak boleh sering jalan sama. Nanti bisa jadi fitnah." Jawabku kesal.


"Biasanya juga aku yang temani kamu belanja. Koq sekarang jadi gak mau aku antar?" kini ia bicara nyolot.


"Itu biasanya, dan hari ini beda."


"Oohh hari ini luar biasa gitu?" kini ia menahan senyum, Ia meledekku.


Kesal lihat tingkah Akram hari ini.


"Ayo naik!" ia sudah naik di atas motornya. Ku buang muka, malas lihat wadahnya. "Ayo naik, gak usah ambil hati ucapanku tadi. Kalau kamu gak mau jadi istri ku ya gak apa apa. Gak usah sewot gitu. Santai aja kali."


Ya ampun.. Apa dia gak ngerti ngerti juga.


"Aku dan kamu itu gak boleh lagi bonceng boncengan. Aku gak mau nanti, ada gosip tak baik tentang kita." Ujarnya tegas, muka kesal tercetak jelas di wajah ku.


"Makanya kita nikah, setelah kamu cerai. Biar gak ada gosip gosip yang tak baik." Ujarnya enteng, tanpa beban.


"Aku gak tertarik untuk menikah. Apalagi menikah denganmu." Jawabku tegas, menampilkan wajah masam. Siapa juga yang mau nikah.


"Ya sudah, ngapain pikirkan ucapan orang lain, tentang kita. Memangnya kita ada lakuin hal aneh, memangnya kita me-sum. Kan tidak! Gak usah ambil hati ucapan orang lain tentang kita di luaran sana. Biarkan mereka membuat cerita tentang kita, yang penting perut kita kenyang tanpa minta sama orang."

__ADS_1


Hadeuhh.... Prinsip hidupnya ringan banget. Gak mikirin, kata orang katanya. Aku gak punya mental sekuat itu.


"Kamu bisanya ngomong doang. Kamu tak tahu rasanya jadi aku!" Tegas ku, ku lempar pandangan ke arah lain. Melihat apa ada orang lain yang melihat kami saat ini. Kami sedang berdebat di depan warung.


"Lebih dari yang kamu alami, aku rasain!'


keningku mengerut mendangar ucapannya. Ku tatap matanya penuh selidik. Ia membuang pandangan.


" Kamu sudah pernah menikah?" tanyaku penasaran.


Huufftt


Ia membuang napas kasar. "Kamu mau menikah denganku? kalau kamu mau, biar ku ceritakan siapa aku!" tegasnya menatap mataku tajam.


Kedua bola mataku bergerak ke kanan dan kekiri, aku sedang befikir. "Gak!" Jawabku tegas. Aku memang sedang tak mau menikah dengan siapapun. Sepertinya jadi janda lebih asik damai tentram.


"Ya sudah, kalau gak mau. Ngapain kamu mau tahu tentang aku." Jawabnya.


Oalah... Dari tadi aku buang waktu ladeni Akram.


"Ayo naik. Naik...! gak mau naik? mau ku gendong biar naik!' ancamnya, kakinya terlihat mau turun dari motor.


Ini cowok gak bisa dibilangin, aku sudah bilang jaga jarak denganku, lah ia mau gendong aku. Dasar....!


" Oohhh.. Mau Di gendong ternyata! "


"Makanya banyak makan, biar kamu gak pendek gini." Ujarnya menoleh kesamping.


Ku kesal dikatain pendek.


"Aku gak pendek ya, aku itu tingginya 158 cm." Sahutku ketus.


"Ya dibandingkan aku, ya kamu pendek lah."


Kenapa ini anak, saminggu terakhir ini ajak berantem terus.


"Kamu kan tiang listrik!" ujarku kesal, ku pukul kuat bahunya.


Mampus..


Brruuggk...


Baru juga merasa puas, karena aku pukul kuat bahunya. Dia nya menurunkan cagak dua Motornya dengan kuat. Auto, aku yang dibonceng terkejut. Tangan ku refleks memeluk pinggangnya. Karena aku takut jatuh.


"Nah, gini baru bener. Pegang geenting abang!" ujarnya menahan tawa.


"Kamu sengaja ya?" ku jauhkan tubuhku ke belakang. Ingin rasanya ku getok kepalanya dengan keranjang belanjaan yang ada di tanganku.

__ADS_1


"Siapa juga yang sengaja. Lah memang, harus dengan tenaga kuat di gerakkan ke depan. Agar cagak dua nya lepas." Jawab Akram tanpa merasa bersalah.


Pandai sekali cari cari kesempatan, sudah dua kali gunung kembarku ini bertabrakan dengan punggung nya yang kerasnya seperti tembok besar china. Aku yakin, ini si Akram bukan pria polos.


"Banyak alasan, bilang saja kamu itu sengaja!" protesku kesal, menatap nya dari spion.


"Sudah lah, semuanya selalu salah di mataku."


Bruumm


Motor nya kembali digas, lagi lagi aku terhuyung ke depan. Kembali tubuhku bertabrakan dengan punggung nya.


"Ini terakhir kali aku naik motor sama mu!" ketusku


Eemmm..


Ia bergumam, menganggap diri ku seperti angin lalu yang merepet itu. Motorpun melaju menuju pasar, yang masih buka sampai sore. Sesuai namanya pasar sore.


***


Sesampainya di pasar. Aku pun mulai belanja bahan untuk dagangan besok. Mulai dari daging, ikan, ayam, ikan asap, serta bumbu bumbu memasak, sayur dan buah yang kurang, karena memang masih ada stok sebagian di rumah.


Akram yang baik hati dan jahil, yang bertugas membawa semua barang belanjaan. Keranjang yang sudah penuh ada di tangan kanannya. Ditambah tentengan plastik di tangan kiri. Aku memang tak diizinkannya untuk membawa barang yang berat, karena tanganku belum kuat katanya. Iihh... Dia memang orang nya sangat perhatian.


"Ini," Buah pisang yang ku sodorkan ke sebelahku., tempat tadi Akram berdiri, tak ada yang menyambut. Itu artinya, Akram gak berada di sebelahku. "Ke mana dia?" aku celingak celinguk mencarinya di sekitar penjaga buah tempat ku belanja. Batang hidungnya tak nampak. Aku malah dibuat jantungan saat mata ini tak sengaja melihat Mas Evan dan Juli di hadapnku, mereka juga sedang belanja buah. Syukur sekali ada wanita bertubuh gemuk yang jadi penghalang, sehingga mereka tak menyadari keberadaanku di tempat itu.


Tak mau buat ribut. Dengan cepat aku ngacir, sebelum Mas Evan dan Si Juli melihat ku. Lebih baik menghindari orang gila dan psikopat. Ku seret kaki ku yang bel bisa berlari kencang ke parkiran, tempat motor kami berada.


"Si Akram ke mana? koq di parkiran juga tak ada." Aku dibuat jadi tak tenang. Tak biasanya pria itu pergi tanpa pamit.


Ku rogoh ponselku dari tas selempangku. Aku akan menghubunginya. Saat melakukan panggilan suara melalui aplikasai WA. Aku cukup terkejut melihat foto profil WA nya. Ia membuat foto profilnya. Foto dirinya bersama Raisya, lagi naik motor. Kapan pula ia suka buat foto profil. Biasanya juga gak pernah pakai foto profil.


"Si Akram, ke mana sih? koq gak diangkat angkat?" mata ini menyusuri semua tempat, mencari keberadaan Akram. "Sial...!" Aku kembali melihat Mas Evan dan Juli. Ku berondok di balik motor, aku menghindari mereka bukan karena takut. Aku hanya tak ingin nanti jadi bahan tontonan di pasar ini.


"Oouuww... Mereka sudah punya mobil." Baru ini ku lihat mobil yang mereka naiki itu. Masih cling, pasti mobil baru. Panteslah Mas Evan lebih memilih si Juli. Ekonomi mereka meningkat sekarang.


Huufftt...


Capek berjongkok ditambah bekas jahitan di paha, masih terasa. Ku duduk kan bokongku di trotoar parkiran, masih sembunyi dibalik motor.


Kalau lihat dan ingat Mas Evan. Jujur hati ini masih sakit. Tapi, mau gimana lagi. Hidupku tak makin baik bersama nya. Bahkan kehidupan dia yang makin baik bersama Juli. Aku harus ikhlas menerima takdir ini. Sudah nasib jadi orang miskin dan dikhianati.


Saat meratapi nasib dengan hati yang hancur. Ku dengar bunyi klakson sangat kuat. Jadi lah lamunan buyar. Siapa lagi yang bunyikan klakson dengan kuat, kalau bukan si Akram.


"Ngapain Loe di situ duduk seperti pengemis?" tanyanya heran menatapku.


" Ngapain lagi, kalau bukan nungguin loe!" ujarku kesal, mencoba bangkit. "Aku bisa sendiri..!" ku tepis tangan Akram yang ingin membantuku bangkit. Ia pun menampilkan éksprési wajah masamnya. Aku naik ke atas motornya. Ia kemudian menaruh keranjang belanjaan di hadapan ku. Ia pun naik ke atas motor. Tanpa sepatah kata, ia langsung tancap gas.

__ADS_1


TBC


__ADS_2