KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Kabur


__ADS_3

Blakk..


Ku buka kedua mataku. Hati sudah mantap menghadapi si Juli. Saat itu juga, ku lihat Mas Evan masuk ke dalam warung. Nyaliku jadi menciut untuk menemui Juli. Karena sudah jelas, akan ada pertengkaran nanti nya.


"Jangan mimpi bisa dapatkan Alda..!" Kalimat itu yang ku dengan dari mulutnya mas Evan kepada Akram."


Aku kembali bersembunyi dibalik tembok di saat Mas Evan dan Juli keluar dari warung. Ku kembali mengendap endap untuk melihat Mas Evan dan Juli yang masuk ke dalam mobil baru mereka yang mewah itu. Mas Evan semakin jaya saja hidupnya sekarang. Mungkin jika bersama ku, ia tak akan mendapatkan kesuksesan seperti ini.


Tapi, tunggu dulu. Seingatku mas Evan sudah dipecat. Gara gara matanya yang rusak sebelah. Karena di perusahaan tempat ia bekerja tidak menerima karyawan yang cacat. Lantas, usaha apa yang dimiliki Mas Evan dan Juli, sehingga mereka sukses seperti sekarang ini.


Ku tatap lekat, mobil Mas Evan yang melaju dengan kecepatan tinggi itu. Hingga badan mobil itu hilang dari pandangan. Aku pun akhirnya tersadar, bahwa warung sudah ditutup oleh Akram Dan ia sudah pergi dengan motornya.


"Akram...!" Aku bangkit, berteriak kencang mamanggil nama Akram. Aku ingin bicara dengan nya. Menanyakan apa hubungannya dengan Mas Evan, serta Juli.


"Akram...!"


Hadeuh...


Iya sudah melajukan motornya kencang sekali. Ia tak mendengar teriakanku lagi.


Huufftt


"Ya Allah.. Apa sebenarnya yang terjadi?" ujarku dengan menelan ludahku yang kini terasa pahit. Aku merasa kepala ku tiba tiba pening, dan pandangan jadi berkunang kunang. Aku merasa tak sanggup lagi membawa motorku saat ini. Akhirnya ku putuskan masuk ke warung. Aku mau istirahat Sebentar dan menenangkan diri.


10 menit aku duduk di kursi meja kasir. Kursi yang selalu ku duduk setiap datang ke warung ini. Merasa tak ada perubahan, aku pun akhirnya memutuskan masuk ke sebuah kamar kecil berukuran 2x2 m. Kamar itu adalah kamar nya Akram. Sejak Akram tidur di kamar ini. Baru kali ini aku masuk ke ruangan ini.


Aku takjub melihat kamar nya yang rapi dan bersih. Walau ia perokok, tapi kamar ini tak bau asap rokok. Kamar nya ini sangat Aromanya sangat wangi. Aroma mint, yang mampu membuat pikiran tenang. Aku pun membaringkan tubuh ku yang terasa lemah di atawa ranjang ukuran 3 kakiku.


Dert


Dert


Dert


Sayup sayup ku dengar suara Ponsel ku berdering serta bergetar. Tangan ku bergerak meraba raba, mencari ponsel ku itu. Mata masih terasa sangat berat. Saat ku berhasil mendapatkan Ponsel ku. Ku buka mataku yang terasa berat itu.


Gelap.


Sekitar sangat gelar, hanya ada cahaya dari layar hape.


Aku, aku di mana? koq gelap?

__ADS_1


Ku tarik ikon hijau ke atas. Panggilan tersambung, yang menelpon adalah ibu.


Ku pijat pijat kepalaku yang terasa masih sakit. Sambil bertelepon dengan ibu.


"Alda, kamu di mana nak?" tanya ibu dengan nada penuh kehawatiran dari sambungan telepon.


Aku terdiam, aku harus jawab apa. Memang sekarang jam berapa? koq gelap? aku di mana?


Sedetik kemudian, aku pun tersadar kalau aku masih d kamar nya Akram


Astaga...


"Iya bu, Sebentar lagi aku pulang bu. Tadi ada urusan. Aku mati kan ya bu. Ini sudah mau sampe. Assalamualaikum..!"


Ku mati kan dengan sepihak telepon dari ibu. Ku nyalakan senter hapeku. Dan melihat jam di layar hape. Ternyata sudah pukul 9 malam. Astaga, aku tidur selama lima jam. Koq bisa aku tertidur sepulas dan selama itu.


Ku bangkit dari atas ranjang. Mencari stop kontak lampu.


Tak


Lampu kamar ini pun menyala. Kasadaran terkumpul penuh. Koq, Akram gak di sini? apa karena aku tidur di sini, dia nya gak mau bertahan di sini? tapi koq gelap semua. Kenapa Akram gak menyalakan lampu.


Ku keluar dari kamar Akram dengan keadaan tubuh yang sudah sangat bugar. Sakit kepala yang teramat sakit tadi, gak ku rasakan lagi. Ku duduk kan bokongku di kursi meja kasir. Setelah aku nyalakan lampu. Suasana di warung ini sangat mencekam. Sunyi sepi, heran koq Akram betah tidur di sini.


Ku scrol hapeku, mencari kontak Akram. Ku lakukan panggilan video. Tak manyambung, terus ku coba lagi dengan panggilan biasa. Dan lagi lagi suara operator yang menjawab. No nya tak aktif.


Kenapa nomor nya Akram gak aktif terus. Apa hapenya rusak?


Ku memutuskan untuk pulang ke rumah. Jarak rumah ke warung tidak lah jauh, lima menit naik motor sampe.


Saat sampai di rumah. Ibu sudah menunggu ku di teras. Wanita yang melahirkan ku itu terlihat sangat khawatir.


"Alda sayang, kamu dari mana saja?" ibu meraih cepat tangan ku, menggoyang tangan ini dengan lemah.


Ku tersenyum tipis pada ibu. Merangkulnya, menuntunnya masuk ke dalam rumah. Akan lebih baik, cerita di dalam saja. Ku ambrukkan tubuh ku di atas ambal yang di gelar di ruang tamu. Ibu mendudukkan bokongnya di sebelahku.


"Aku sebenarnya ketiduran di warung bu." Ku tatap lekat ibu yang terkejut mendengar ucapan ku. Ku kedipkan kedua mataku memberi kode padanya, agar memberikan aku waktu bercerita. Ibu pun akhirnya diam, menyimak cerita ku.


"Dari jam lima sore aku tidur di warung bu. Pulang dari persidangan aku langsung ke warung. Karena ada yang mau ku bahas dengan Akram. Ehh.. Gak tahunya di sana, aku malah melihat Akram. bersama Juli juga dengan Mas Evan. Mereka terlihat seperti saling kenal bu."


Aku bangkit dari pembaringanku. Mendudukkan bokongku di hadapan ibu. Rasanya tak puas cerita sambil berbaring.

__ADS_1


"Mas Evan, Juli dan Akram itu saling kenal bu!" Tegas ku lagi. Aku perlu meyakinkan diri ku, bahwa yang ku lihat tadi di warung adalah benar.


"Aku syok mendapati kenyataan bahwa Akram kenal dengan mas Evan dan Juli. Saat mau masuk ke warung, Akram sudah meninggalkan warung


Aku panggil panggil gak didengarnya. Saat mau pulang ke rumah. Kepalaku sakit sekali. Ku istirahat kan bareng sejenak di warung maksud ku, eehh.. jadi tidur kerbau." Ujarku menatap lekat, ibu yang nampak kaget.


"Ibu kenapa?"


"Jadi, kamu belum ke temu dengan Akram?" tanya ibu penuh selidik.


"Belum bu, ini dia aku menelpon Akram, gak diangkat angkat. Ke warung pun ia tak datang.


" Tadi sore, sekitar pukul lima. Ia ke sini pamit, katanya orang tuanya sakit di kampung. Jadi, rencananya dia akan di kampung sampai orang tuanya sembuh.


"Apa..? hadeuhh.. Padahal aku sudah tak sabar lagi, Menanyakan tentang hubungannya dengan Mas Evan dan Juli." Ujarku lemah, rasa penasaran tak terjawabkan. Menanyakan nya lewat telepon gak enak. Tapi, hapenya juga gak bisa dihubungi.


"Tadi kamu bilang mereka saling kenal?" tanya ibu penuh selidik


"Iya bu, tapi aku gak tahu gimana jelas nya." Jawabku dengan bingung nya. Koq si Akram orang nya misterius sekali sih?


"Mereka koq kenal? ibu juga penasaran." Ujar ibu.


"Entah lah bu, aku lebih penasaran lagi. Apalagi tadi, aku sempat menguping pembicaraan Juli fan Akram.


" Mereka bicarakan apa? "


"Kurang jelas bu, aku tak bisa menyimpulkannya. Intinya mereka itu saling kenal.


" Coba kamu telpon Akram. Tanyakan padanya soal Evan dan Juli." Ujar ibu masih dengan ekspresi penasaran nya.


Ku kembali mencoba menghubungi ponselnya Akram. Tapi, tetap gak aktif.


"Dari tadi pagi bu, nomor hape Akram gak aktif." Ujarku dengan bingung nya. Koq bisa nomornya Akram gak aktif aktif.


"Apa Akram itu seorang penipu? di saat Mas Evan tahu keberadaan nya. Dia pun pulang kampung." Ku utarakan analisa sementaraku.


"Kalau dia penipu. Dia pasti bawa uang hasil dagangan hari ini. Nyatanya dia setor semuanya." Jelas ibu.


"Disetor semua? berarti Akram belum belanja ya bu?" tanyaku lemah, Akram belum belanja. Terpaksa esok pagi aku yang harus belanja


"Iya, belum."

__ADS_1


"Gak mungkin Akram mau menipu bu. Kalau ia jahat, tentu uang jualan hari ini, pasti dibawanya kabur. Ini kan tidak!"


TBc


__ADS_2