
Aku pun bingung dibuatnya. "Gimana nih?" Aku hilir mudik, lalu lalang di dalam kamar dengan menahan sakit di tangan dan pahaku yang sebenarnya tak bisa ku berjalan lama. Karena jahitannya belum kering.
"Ma..!" Raisya menggedor kamar. "Ada bapak Armand, abang reza juga. Buka pintu ma?!" Ujar Raisya dari balik pintu.
"I, iya nak!" Ku raih hijab sorong yang tergantung di gantungan yang ada balik pintu. Ku pakai dengan cepat, tanpa melihat penampilanku di cermin. Hijab sorong yang ku kenakan saat ini, menurutku sangat bisa menutupi dadaku. Karena memang hijab yang kupakai ini size jumbo, bahannya juga diamond crep, bukan jersey, jadi gak membentuk badan.
"Eehh.. Pak Armand?" ujarku dengan canggungnya, saat ku hampiri pak armand dan anaknya Reza di ruang tamu.
Ku lirik pak Armand yang menatapku dengan heran itu. Mungkin dia heran dengan gayaku. Pakai piyama lengan pendek. Tapi, hijabnya dalam, sampai menutupi bokong. Sudah seperti mukena saja.
"Iya, ini istriku tadi minta aku harus anterin bolu ini. Dia ingin kamu mencobanya, kasih penilaian." Ujar Pak Armand, menunjuk kresek berwarna putih di atas meja.
"Oohh iya pak, terimakasih banyak ya!?" sahutku masih dengan perasaan tak enak. Aku tak nyaman dengan penampilanku sekarang ini.
"Sudah bagaimana tanganmu?" Tanyanya menata ke arah tangan kananku.
"Sudah mendingan Pak, tapi masih sakit sih. Nyut nyutan." Jawabku, kini aku tak sanggup lagi lama berdiri.
"Oouuww.. Emang gitu, terkilir saja sakit, apalagi patah tulang." Ujarnya lagi.
Hadeuh....
Koq Pak Armand jadi banyak cerita sih? dulu seingatku, orang nya dingin fan sombong.
"Kalau keadaan bapak bagaimana?" tanya nya lagi, masih menatapku lekat.
"Masih seperti dulu pak. Belum bisa jalan." Sahutku dengan muka bete. Aku sudah mau berbaring. Kakiku sakit sekali yang berdiri ini. Kapan sih pak Armand pulang. Kalau aku duduk di sofa juga gak bisa. Karena, kalau duduk, jahitan di paha akan terasa sakit sekali.
"Emang, kamu berdiri saja. Kakinya gak sakit?"
Hadeuuhh koq malah nanya lagi, ya sakitlah ooon
Ku gigit kuat gigiku saking geramnya sama pak armand. "Sakit pak, sakit... Ini aku mau berbaring. Terima kasih ya pak oleh olehnya. Sebaiknya bapak pulang saja."
Deg
__ADS_1
Aku tanpa sadar mengatakan itu. Ku lirik, pak Armand, yang ekspresi wajahnya menahan tawa.
Koq malah tertawa sih?
Hahahaha...
"Baiklah Muallimah Alda, kami pamit dulu. Cepat sembuh ya?!" ujarnya dengan lepas, mulutnya masih terbuka lebar yang tertawa itu. Pak Armand tertawa mau menutupi rasa malunya, karena ku usir.
"Iya pak, makasih." Sahutku cepat.
Pak Armand dan anaknya Reza akhirnya pulang juga. Dan aku menyeret kakiku dengan menahan sakit menuju kamar. Kata suster nanti sore, sekitar pukul empat, ia akan ke rumah, untuk membuka jahitan di pahaku, sekaligus memeriksa tanganku yang di operasi. Itu semua usulnya Akram. Ia ingin, dalam dua minggu ini. Perawat yang datang ke rumah, melihat keadaanku. Kalau ada hal serius barulah pergi ke rumah sakit.
Ku awasi Raisya yang berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, anak itu malah melesat lari keluar dari kamar, kemana lagi dia, kalau bukan mau main ke rumah tetangga. Yang anaknya nua satu sekolah dengan Raisya
Hhuufftt
Ku baringkan tubuh ku pelan di atas ranjang empukku. Seprei nya baru saja diganti ibu tadi pagi. Jadi, wangi lavender dari seprei mengguar, membuat pikiran sedikit rileks menghirupnya. Ku usap usap perutku yang masih rata. Aku merasa kehamilanku yang ini sangat berbeda dengan saat aku mengandung Raisya. Saat mengandung Raisya, aku mengalami morning sick parah. Makan saja gak bisa sampai habis trimester pertama. Lah hamil yang ini, tak ada keluhan sama sekali. Bawaannya, kayak gak lagi hamil. Apakah anak yang ku kandung ini sangat mengerti dengan keadaanku sekarang?
Tes
Saat ingin memejamkan mata, ku dengar suara ayah batuk batuk di kamarnya. Aku pun jadi tak tega mendengar nya. Sepertinya ayah sudah bangun dan butuh sesuatu. Aku pun menyeret kakimu lemah ke kamar ayah. Sesampainya di kamar itu, aku dikejutkan dengan keadaan ayah yang terlihat susah bernafas.
"Ayah..!" ku percepat langkah menghampiri ayah, walau rasanya kakiku mau copot, saking sakitnya dipaksa berjalan.
Ayah terlihat tak sanggup lagi untuk bicara. Dadanya naik turun, dengan mulut yang megap megap.
"Ayah... Tunggu sebentar ya ayah." Aku yakin, keadaan ayah tidaklah baik baik saja. Ku berlari tanpa memperdulikan kakiku yang masih belum kering jahitannya. Aku harus memangil bibi. Rumahnya yang jaraknya satu rumah dari kami.
Sesampainya di halaman rumah.
"Tolong... Tolong...!" Teriakku, rasanya, aku tak sanggup lagi berjalan ke rumah bibi.
"Tolong.. Tolong ayahku..?!" teriakku lagi dengan sangat kenceng.
Bang ikhwan tetangga kami datang menghampiriku. Aku sangat bersyukur, ada orang yang datang untuk dimintain bantuan.
__ADS_1
"Bang, bang ikhwan. Tolong bawa ayah ke rumah sakit. Ayah, ayahku susah bernapas." Ujarku dengan tidak tenangnya. Air mata mengucur deras. Kaki gemetar karena menahan sakit yang kini rasanya menjalar ke sekujur tubuhku.
"Iya, di mana Pak Anhar?" tanya bang ikhwan panik.
"Di kamar dekat ruang tengah bang." Ujarku dengan berderai air mata. Aku tak akan sanggup lagi memikul beban ini, jika ayah meninggal. Aku belum siap kehilangan ayah. Aku baru saja memutuskan untuk bercerai dengan Mas Evan. Walau aku sedang hamil. Kalau ayah meninggal, tak ada lagi sosok pria di rumah ini.
Ku susul langkah cepat Bang ikhwan dengan tertatih tatih. Sungguh kakiku sebelah kanan, terasa semakin sakit.
Baru juga sampai di ruang tamu. Bang ikhwan sudah keluar dari kamar ayah.
"Bang?" ujarku bingung, koq Bang Ikhwan malah keluar lagi secepat itu.
"Abang ambil mobil dulu. Ayahmu kritis itu!" Sahutnya cepat.
Aku pun bergegas ke kamar ayah. Ku lihat ayah menatap ke arahku tersengal-sengal dengan tangan melambai, memanggilku dengan nata yang berkaca kaca.
"Ayah...!"
Ku hampiri ayah, menggenggam tangan kanan ayah dengan tangan kiriku, ingin rasanya membopong ayah membawanya ke rumah sakit. Tapi, apa daya aku tak sanggup melakukannya.
"Ja, jan, ngan me nangis," Ayah memang sejak mengalami stroke bicaranya jadi tak jelas.
"Ayah, jangan tinggalkan kami." Tangisku pecah di hadapan ayah. Tangan yang masih di gips membuat pergerakan ku terbatas.
"Ayo, di sini..!" ku dengar suara Bang Ikhwan. Sepertinya ia memanggil tetangga kami yang lain.
Ayah yang terlihat sekarat itu, akhirnya di bawa ke rumah sakit. Saat mobil bang ikhwan hilang dari pandangan. Ibu dan Akram pun tiba di rumah.
Ibu turun dari motor dengan muka bingungnya. Di tangan masih menentang keranjang tempat belanja.
"Bu, ayah dibawa ke rumah sakit." Ujarku dengan berderai air mata.
Ibu yang panik itu, kembali naik ke atas motor. "Nak Akram, kita ke rumah sakit." Ujar ibu, aku pun hanya bisa menatap kepergian ibu dan Akram.
TBC
__ADS_1