
Kini aku sudah dibawa ke ruang rawat. Semua jenis pemeriksaan telah kulewati, ternyata keadaanku sangat parah. Aku mengalami fraktur clavicula sebelah kanan atau patah tulang selangka, patah pergelangan tangan sebelah kanan, robek parah di bagian paha kanan, hingga jahitan dua lapis dan dijahit sebanyak 30 jahitan. Dan parahnya aku ternyata benar benar hamil.
"Bu, sakit bu?" ujarku lirih, meraih tangan ibu yang duduk di sisi bed tempatku berbaring. Ku genggam tangan ibu sekuat kuatnya. Aku tak bisa menahan betapa sakitnya tangan serta kakiku sebelah kanan.
"Iya sayang, sebentar ya. Ibu lapor perawat dulu." Ujar ibu sedih, ku lihat ibu sangat terpukul dengan keadaanku sekarang.
Saat ibu hendak keluar, seorang pria masuk dengan senyum tipis.
"Mau ke mana bu?" tanya pria itu pada ibu dengan ramahnya.
"Mau panggilkan suster, Alda merasakan sakit pada tangannya." Sahut ibu, ku hanya bisa melihat interaksi antara ibu dan pria itu.
"Biar aku saja yang panggilkan bu, ibu temani putri ibu saja." Ujarnya tersenyum tipis pada ibu.
Siapa pria itu?
"Baiklah Nak Akram, terima kasih." Sahut ibu.
Pria itu pun kembali keluar. Dan ibu kini menghampiriku.
"Siapa pria itu bu?" tanyaku dengan penasarannya, disaat ibu kembali duduk di kursi.
"Dia pria lawanmu yang tabrakan." Sahut ibu menatapku lekat.
"Lawan tabrakan?" tanyaku bingung, kenapa dikatakan lawan tabrakan. "Kenapa ibu gak mengatakan dia yang nabrak?" tanyaku lagi.
Hufftt
"Kata dia kamu yang nabrak dia. Kamu gak lihat lihat jalan saat di persimpangan, mau keluar dari gang." Jelas ibu, aku jadi sedikit bingung dengarnya.
"Aku yang nabrak?"
"Iya, kamu keluar dari persimpangan mau belok kiri. Tapi, anehnya kamu malah lurus. Kamu nabrak dia." Jelas ibu dengan ekspresi kesal bercampur sedih. Aku yakin, ibu sedikit kesal padaku. Karena tidak hati hati.
"Ya Allah... Apakah musibah ini teguran darimu, agar aku tidak larut dalam kesedihan?" ujarku dengan berderai air mata. Membuang muka dari tatapan ibu. Aku malu, sangat malu, aku lagi lagi jadi beban untuk orang tuaku. Aku dirawat di rumah sakit. Sedangkan ayahku juga sedang sakit di rumah.
Dan Raisya?
Ku kembali menoleh pada ibu.
__ADS_1
"Raisya di mana bu?" tanyaku dengan berderai air mata. Jujur, sekujur tubuhku masih sakit.
"Raisya di rumah, bersama ayahmu." Ujar ibu.
"Sama siapa mereka di sana bu?"
"Aku minta si Imah ke rumah jaga ayahmu dan Raisya."
"Ooh... Ya Allah, cepat beri aku kesembuhan!" ujarku dengan lemah. Bi Imah, adalah adik perempuannya ayah.
Ceklek..
Ku terkejut karena dua suster dan pria tadi masuk. Aku ingin sekali menyeka air mataku. Tapi, aku tak bisa melakukannya. Tangan sebelah kiri ku di infus dan tangan kananku di perban, dan sama sekali gak bisa digerakkan.
"Sakit sekali ya bu?" tanya Suster yang ku lihat di name tage menempel di dadanya bernama Dira.
"Iya dek, sakit sekali nyut-nyutan." Jawabku lirih, air mata terus saja mengucur deras. Saat ini, bukan hanya tubuhku yang terasa sakit, tapi hatiku juga. Aku terkapar di ruangan ini dan hanya ada ibu orang terdekat yang menemaniku. Aku jadi merasa orang paling malang di dunia ini. Kejiwaanku sedang tidak baik - baik sekarang.
"Ibu jangan menangis ya? kami tambahi obat pereda nyerinya." Ujar Suster Dira. Dan satu suster lagi yang bernama Ayu, menyeka air mataku dengan tisu, yang terus saja membanjiri wajahku.
Semakin diingatkan agar tidak menangis, nyatanya air mataku semakin deras saja keluar. Aku juga tak ingin menangis. Tapi, aku merasa sangat sedih sekali. Cobaan ini sangat beruntun.
Suster Dira pun memasukkan cairan ke dalam infus ku.
"Ooh baiklah kalau itu maunya ibu." Suster yang bernama ayu membuka perban elastis yang membalut tanganku yang patah. Dan seketika rasa sakit sedikit berkurang. "Tadinya perban ini dibelitkan untuk menahan tulang ibu yang patah." Jelasnya lagi, tatapan fokus membuka perban yang melilit tanganku.
Aku tak menyahuti ucapan suster Dira. Rasanya tanganku sakit sekali. Seperti ditumbuk dengan batu. Begini toh rasanya patah tulang.
"Ooh ya bu, apa sudah dapat keputusannya? apa ibu ini di operasi?" tanya Suster Ayu pada ibu.
Ibu nampak bingung, dengan pertanyaan suster itu.
Hhufft
Ibu menghela napas panjang dan menghembuskan nya pelan. "Keluarga besar kami inginnya diurut saja." Jawab ibu sendu, seperti tak yakin dengan ucapannya.
"Sebaiknya dioperasi saja bu. Cidera ibu Alda sangat parah, tulang selangka patah, pergelangan tangan juga. Kalau diurut takutnya gak pas. Nantinya efeknya bisa tangan tak berfungsi dengan baik." Jelas suster sopan. "Bahkan tangan bisa lumpuh, karena tak bisa dilihat apakah syaraf dan pembuluh darahnya baik baik saja
Hiks
__ADS_1
Hiks
Hiks
Ibu malah menangis tersedu sedu. Dan aku juga jadi ikutan menangis.
"Ada yang bilang, dioperasi juga hasilnya gak bagus. Dan biayanya sangat mahal." Ujar ibu sedih, menatapku lekat.
"Bu, sebaiknya putri ibu dioperasi saja. Kalau diurut, takutnya tulangnya gak nyambung dengan benar. Nanti bisa cacat."
Ku tatap dengan lekat pria yang bicara dengan ibu. Dialah pria yang ku tabrak motornya itu. Dari cara bicara dan bahasa tubuhnya, sepertinya pria ini orang baik.
"Soal biaya, aku yang nanggung. Ibu tak perlu khawatir." Jelas pria itu lagi, berusaha meyakinkan ibu yang terlihat bingung.
Ibu menatap sendu pria yang kini berdiri tak jauh dari bed tempatku berbaring. Tatapan mata ibu menunjukkan keraguan.
"Emmm... Bu Alda, ibu mau kan di operasi?" kini pria itu menatap ke arahku. Tatapannya sangat teduh, wajahnya yang tampan itu tersenyum tipis tapi sangat manis.
Astaga...
Koq bisa - bisa nya aku menilai pria ini. Apa karena kelihatan baik, jadi mata ini pun senang melihatnya. Kan jarang, ada orang yang ditabrak, mau rugi keluar uang untuk pengobatan yang menabrak.
"Gimana bu? keputusan harus cepat diambil." Desaknya lagi, terlihat ia lebih mengkhawatirkan aku, daripada aku terhadap diriku sendiri. Ya, kadang timbul niat mau mati saja. Tapi, karena ingat anak, aku pun harus tegar.
Ku tatap ibu yang juga terlihat menunggu jawaban kepastian dariku. Kemudian ku alihkan tatapan pada suster dan berakhir di pria yang katanya ku tabrak.
"Aku mau dioperasi." Jawabku penuh keyakinan. Aku mau di operasi, karena menurutku itu lebih baik, daripada diurut. Kalau dioperasi, paling sakitnya sebentar. Kalau diurut bisa - bisa setiap kali diurut aku terkencing - kencing di celana.
"Kamu yakin nak? di operasi biayanya banyak, puluhan juta. Kita mana ada uang." Ujar ibu penuh kekhawatiran. Ya, aku baru saja jual perhiasan untuk pengobatan mas Evan. Ditambah bayar sewa ruko untuk usaha warung makan. Dan dipastikan, aku akan menunda buka warung makan, sebelum tanganku sembuh. Jadi sudah pasti uangku jadi lama berputar, karena tak bisa buka usaha.
Huufftt...
Kenapa masalah datang beruntun.
"Bu, semua biaya aku yang bayar." Jelas pria itu, menatap lekat Ibu yang terlihat tak yakin.
"Biaya buka pen nya nanti?" tanya ibu lagi memastikan. Sepertinya ibu khawatir, pria itu tak serius dengan ucapannya.
"Iya, aku tanggung jawab penuh sampai bu Alda ini sehat, sampai bisa beraktifitas lagi." Ujar nya penuh keseriusan.
__ADS_1
"Tapi sus, aku sedang hamil. Apa bisa ibu hamil di operasi?" tanyaku pada suster.
TBC