
Sepuluh hari kemudian
Aku merasa hidupku sudah mulai berubah menuju kebaikan. Usaha warung makan yang kami rintisan, laris manis. Setiap hari porsi yang dimasak semakin bertambah, dan ludes semua sebelum petang.
Huufftt..
Ku tarik napas berat, setelah selesai membantu Romlah mencuci piring dan peralatan masak di dapur. Memang sih, aku tak banyak melakukan pekerjaan berat, aku masih menjaga kondisi tanganku yang belum sembuh total.
"Ini aku buatkan kamu juice kesukaanmu." Akram meletakkan satu gelas juice terong belanda di hadapanku.
Ku tatap ia dengan senyum tipis dan pastinya, Akram pasti memuji senyuman ku itu sangat manis. Jadi, kalau ia mau minum teh manis,
Katanya gak perlu pakai gula. Cukup telan airnya terus ia tatap aku. Jadi lah air yang ia minum manis.
Huufftt..
Akram itu akhir akhir ini suka godain aku, caper gak jelas. Memang gitu ya kalau kita janda. Selalu digodain cowok, di pikir nya aku ini jablay,. Yang halus untuk disentuh kali. Aku jadi kesal pada Akram. Gak tahu dia, aku itu sudah gak sreg lagi lihat cowok. Digodain Akram setiap hari, buat ku ingin mempites kepalanya.
"Matamu itu kayak lampu merah, membuatkuĀ berhenti setiap kali melihatnya."
Cepat cepat ku putus kan kontak mata dengan Akram. Lihat lah, ada ada saja kata katanya yang membuat awak kesal dan salah tingkah.
Hahhahaha..
Akram tertawa renyah. Ia menertawakan diri ku yang cemberut padanya.
Saat itu juga ku alihkan pandanganku ke arah jalan. Karena aku mendengar suara motor yang sangat familiar di telingaku.
Mas Evan..?
Ku bangkit dari dudukku, saat melihat Mas Evan berjalan masuk ke warung. Seperti biasa penampilannya selalu klimis.
"Mas, ayo silakan duduk..!" Ku julurkan tangan ke arah kursi sebelah Akram. Dan saat itu, aku dikejutkan dengan Akram yang tak ada lagi di tempat ini. Dengan bingungnya, ku tatap lagi Mas Evan yang masih berdiri di hadapanku, dengan muka memerah dan mata nya normal terlihat sembab. Gak ngerti aku kenapa air muka Mas Evan seperti itu.
"Gak ku sangka, kamu punya nyali juga gugat cerai aku ya Dek?!" ujar Mas Evan dingin. Sorot matanya penuh dengan kesedihan. Apa ia sedih, karena aku gugat cerai dia. Apa ia tak mau kehilangan aku? kalau ia sedih dan tak mau kehilangan aku, kenapa Mas Evan tak memilih ku.
__ADS_1
"Mas, aku gak ngerti apa maumu. Sudah lah Mas, aku bukan Alda yang dulu lagi, yang gara gara cinta jadi bloon. Harusnya dari sejak awal, saat aku tahu mas Selingkuh, aku gugat cerai mas. Agar aku tak merasakan sakit lahir bathin seperti saat ini."
Air mata langsung mengucur keras, luka yang menganga kembali dikorek. Entah apa maunya Mas Evan menjumpaiku sekarang. Padahal tiga hari lagi, kami bisa bertemu, di pangadilan karena jadwal sidang pertama kami tiga hari lagi.
Ya, gugat cerai yang ku laporkan sangat di proses. Setahuku, dibutuhkan waktu hampir sebulan, agar masuk persidangan. Ini dua minggu langsung disidangkan. Mungkin karena Raihan Hakim nya langsung yang turun tangan.
"Jangan harap, kamu bisa cerai dari ku. Kamu tak akan bisa menggugat ku. Karena aku punya alasan, agar gugatanmu tak dikabulkan. Asal kamu tahu, suami yang cacat setelah perceraian.. Dan istri gugat cerai suami nya yang sudah cacat. Itu tidak dibolehkan hakim." Jelas Mas Evan dengan tatapan Devilnya.
"Kita lihat saja nanti mas, sampai ketemu di pangadilan." Ujarku tegas, melap air mataku cepat. Memalingkan muka dari Mas Evan. DUduk dengan kesal nya di kursi, yang ku duduk tadi.
"Lihat saja, kamu akan menyesal karena gugat cerai aku." Ujarnya penuh amarah.
"Aku tak akan menyesal, lepas dari kamu aku pasti bahagia."
Mas Evan yang sudah melangkah keluar, menghentikan langkah nya. Berbalik dan menatap ku nanar. Aku dibuat takut dengan tatapan mengerikannya itu. Tatapannya sangat sangar, tatapan itu baru kali ini ku lihat.
Dug
Dug
Dug
Huufftt..
Ku usap dadaku yang bergemuruh hebat seperti badai di lautan lepas. Mas Evan malah melanjutkan langkah nya. Aku sempat parno, takut mas Evan akan mematikanku disini, karena ia kesal padaku.
"Ya Allah... Mas Evan sebenarnya kenapa?"
Ku bicara sendiri dengan perasaan yang masih belum tenang. Ku telungkup kan wajah ke meja. Rasanya kepala ku sakit sekali. Seperti di pokok dengan palu saja.
sepuluh menit ku habiskan waktu menenangkan diri. Berasa sudah punya tenaga, aku pun bangkit dari dudukku. Aku akan melaksanakan sholat ashar, karena adzan baru saja berkumandang. Ku seret kaki ku lemah ke arah dapur. Tubuh masih terasa oyong, belum seimbang.
"Astagfirullah...!" Saat menyibak tirai dapur. Wajahnya Akram yang tepat di hadapan mata ini, hampir saja membuat jantung copot.
"Akram, kamu di sini? hadeuh... Kamu tadi koq pergi sih?" ujarku sesenggukan, ku pukul kesal dua kali dadanya. Entah kenapa aku merasa Akram adalah sosok pengganti ayah atau saudara laki lakiku. Jadi saat Mas Evan datang, ku sangat butuh bantuan dan dukungan Akram. Eehh.. Dianya menghilang tiba tiba. Dan sekarang muncul dengan tiba tiba juga.
__ADS_1
Ia menangkap tanganku yang memukul dadanya yang keras dan bidang itu.
"Aku di sini koq. Aku di kamar mandi, kebelet. Sakit perut aku." Ujarnya tak berani menatap mataku. Biasanya juga bicara selalu tatap mataku. "Emang kamu kenapa?" tanyanya lagi, melewatiku dan kembali duduk di kursi yang ia duduk tadi.
Aku pun mengekorinya, kali ini aku duduk di kursi yang ada di hadapan nya. Tidak di kursi meja kasir.
"Mas Evan datang ke sini."
Kulirik Akram yang terlihat kurang tertarik dengan cerita ku. Ia malah main hape.
"Mas Evan bilang aku gak akan bisa cerai dari nya."
Kali ini Akram menatap ke arah ku.
"Itu Pria memang sok." Jawabnya cepat, tatapan nya kembali ke hape nya.
Kedua alisku tertaut, heran dengan ucapan nya.
"Kamu kenal mas Evan?"
Ia menatap ku dengan terkejut. "Mana ku kenal mantan suamimu." Jawabnya Malas.
"Kalau gak kenal, kenapa tadi kamu bilang mas Evan orang nya sok tahu." Tanyaku penuh selidik, Aku kadang heran dan curiga pada Akram. Dia sebenarnya siapa sih? kalau ditanyain, selalu ngelak. Tapi, sikapnya kadang buat penasaran.
"Memang aku ada bilang begitu?" tanya nya dengan muka bingungnya. Aku jadi dibuat kesal sendiri. Akram gak enak diajak bicara, ngaur kalau aku curhat soal mas Evan.
"Iihh.. Kamu itu ya, suka lupa dengan omongan sendiri. Maunya tadi, aku rekam aja, ucapanmu." Ketusku kesal, mulai merasa tak sefrekuensi curhat dengan nya.
"Bukan lupa, aku tahu koq. Soal suamimu kan, Eehh mantan suamimu yang sok itu? aku bilang sok, karena dapat cerita dari Mawar, Romlah dan Bi Imah juga. Dari ibu juga." Jelas nya, melirikku sekilas.
"Eemmm.. Kamu gak asyik diajak cerita. Padahal kamu itu sudah ku anggap sebagai ayah dan saudara laki lakiku." Ujarku sendu.
Akram menatap ku dengan tak percayanya. "Aku tak mau Kamu anggap sebagai saudaramu atau ayahmu. Tapi, kalau kamu mau anggap aku sebagai ayah dari putrimu. Yuk, setelah habis masa iddahmu kita nikah!"
"Apa...? ngaur kamu!" ku lototkan kedua mataku padanya, yang terlihat bicara dengan serius itu. Aku yang tak mau beradu pandang dengan nya. Akhirnya memalingkan muka.
__ADS_1
Dia pikir aku ini wanita yang gila cinta. Aku gak akan mau menikah lagi. Saat ini asmara bukan prioritasku. Kalau kwalitasnya masih seperti Akram, ogah nikah lagi. Mending hidup sendiri, gak ada namanya sakit hati dan cemburu. Cukup sudah pangalaman yang ku dapat saat membina biduk rumah tangga dengan Mas Evan. Aku kapok...!
TBc