
"Maaf ya Da, aku tak ada niat lakuin seperti itu. Tadi memang tak sengaja aku rem mendadak, Aku terkejut!" Ujarnya dengan nada bicara penuh rasa bersalah. Aku pun memilih diam. Tak mau berdebat lagi, apalagi ku lihat wajah nya dari spion tegang gitu.
Terkejut, ia terkejut karena apa? terkejut karena ucapanku? ucapan yang mana? aneh.
Motor melaju dengan kecepatan sedang. Aku dibuat heran dengan jalanan yang kami lalui, tidak ke arah rumah.
"Kita mau ke mana ini?" tanyaku dengan herannya. Arah motor melaju ke persawahan.
"Sesekali kita JJS dulu." Ujarnya datar.
"Gak, kita pulang saja." Ujarku dengan paniknya. Aku ini masih berstatus istri orang. Aku tak mau orang orang yang mengenalku, melihat ku boncengan dengan Akram. Nanti timbul fitnah. Aku tak mau gara gara sering berboncengan dengan pria. Dan ketahuan Mas Evan, jadinya aku susah nanti p.isah dari nya. Aku baru sadar, kalau Mas Evan itu egois. Di saat aku mengalami musibah dan butuh bantuan. Ia tak ada, padahal ia bilang terakhir kali kamu bertemu, tak mau cerai dari ku.
"Ya elah.... Alda, ke persawahan deket sini koq."
"Gak, gak mau. Puter puter balik, kita balik Dek Akram. Aku mau cepat sampai rumah. Aku mau menyiapkan berkas perceraian. Nanti selesai sholat magrib aku mau ke rumah pak Akram.
" Apa? kamu sudah mau gugat cerai suamimu Evan?" Ujar Akram terkejut, ia bahkan sampai menepikan motor yang ia kenderai, ia terlihat sangat terkejut dengan ucapanku.
"Iya." Jawabku heran menatap nya, yang kini senyam senyum.
"Bagus.. Lebih cepat lebih baik. Itu menang prua sok, sik kecakepan, sok pintar. Hadeuhh... Sebel..!" Ujarnya dengan nada kesal.
"Kamu koq kesal gitu? memang kamu kenal mas Evan, sampai bilang sok kecakepan, sok pintar?" tanyaku penuh selidik, mecondongkan wajah ku agar bisa melihat éksprési wajahnya saat ini. Heran saja, koq Akram banyak sekali mengkomentari Mas Evan. Padahal ia tak kenal
Foto nya saja gak ada lagi terpajang di rumah. Koq ia tahu mas Evan cakep.
"Gak kenal sih, aku dapat cerita tentang Evan dari Mawar. Semua masalah rumah tanggamu, pokok nya aku tahu."
"Apa untung nya buatmu, tahu semua aibku." Ujarku dengan nada kesal.
__ADS_1
Hadeeuhh..
"Kamu kanapa sih dari tadi bawaannya nge gas mulu. Ya wajarlah, aku cari tahu tentang kamu. Kan aku sekarang ini partnermu." Ujarnya serius melirikku yang masih duduk di boncengan. Ia pun kembali melajukan motor nya, puter balik arah me rumah.
***
Malam ini aku memilih naik becak ke rumahnya Pak Armand. Aku tak mau meminta tolong diantar oleh Akram. Karena aku tak mau ada gosip gosip tentang ku nanti yang tak baik. Akram yang ada di dapur beserta Bi Imah dan Mawar, kembali menawarkan diri, untuk mengantarku dan aku kembali menolak, dengan alasan. Bi imah sangat butuh bantuannya, menyiapkan dagangan untuk besok. Karena sebagian lauknya dimasak malam hari, seperti ayam goreng dan daging rendang, karena warung sudah buka mulai jam delapan pagi.
Sesampainya di rumah Pak Armand. Ternyata mereka sedang makan malam. Aku dan Raisya diajak gabung untuk ikut makan bareng. Dengan sungkan aku menolaknya. Aku tak seramah itu, sok akrab dengan keluarga kepala sekolah kami ini. Jadilah aku buat alasan, sudah makan malam.
Dua puluh menit menunggu di ruang tamu, dengan segala kehebohan yang dibuat Raisya karena tak mau diam. Akhirnya Pak Armand dan bu suci menghampiriku di ruang tamunya, yang menurutku desain interiornya sangat indah dan mewah. Sumpah sudah satu semester Pak Armand jadi kepala sekolah di tempatku kerja, baru kali ini aku datang ke rumahnya ini.
"Tadi, aku itu mau melpon kamu dek Alda, tapi lupa. Seumpama kamu gak bisa, ternyata adikku Raihan mau jemput berkas nya ke rumahmu." Ujar Bu Suci rumah. Aku dibuat terkejut dengan penuturannya. Sudah ditolongin, berkas yang dibutuhkan dijemput segala.
Astaga... Banyak bener Nanti hutang budiku pada keluarga ini.
"Ya ampun Bu Suci, jangan buat aku jadi merasa gak enak an begini. Masak aku yang ditolongin, jadi merepotkan." Ujarku sungkan menatap secara bergantian Bu Suci dan Pak Armand. Aku sudah banyak ditolongin keluarga ini.
"Iya sayang." Jawabku menatap ke arah Reza yang menunggu Raisya di ambang pintu, sepertinya mereka mau main di taman.
"Itu sih kata Si Raihan." Bu Suci melanjutkan perkataannya.
Aku penasaran pula siapa si Raihan ini.
"Si Raihan?" tanyaku dengan penasarannya.
"Iya, itu dia orang nya."
kedua bola mataku bergerak mengikuti arah tangan Bu Suci ke arah ruang tengah, dan seorang pria tampan, berkulit putih berjalan ke arah kami.
__ADS_1
"Ini adikku Raihan."
Pria yang bernama Raihan menjulurkan tangannya padaku. Aku menyambut nya dengan ekspresi tercengang. Ini kah Pak Hakim itu? Masyaallah... Ternyata hakim nya masih muda. Tampan, dan terlihat baik juga orang nya. Aku kagum dan takjub dibuatnya.
"Alda,." Ujarku ramah, senyum manis menyungging sudah.
"Raihan." Jawabnya sopan, kedua sudut bibirnya tertarik sempurna, manciptakan senyum keramah tamahan. Kakak dan adek sama sama baik dan ramah. Aku jadi salut lada keluarga ini. Sudah kaya, ramah, dermawan lagi.
"Mana berkas yang disuruh lengkapi itu kak?" Pria yang bernama Raihan, menjulurkan tangannya. Aku pun memberikan map biru yang berisi dokument untuk menggugat cerai mas Evan. Ia membuka map itu dan memeriksa lembaran demi lembaran berkas itu.
"Sudah lengkap." Jawabnya, masih memegang map biru itu..
"Oouuww iya, terima kasih sebelumnya Dek Raihan, Bu Suci dan Pak Armand. Kalian sudah banyak membantu ku." Ujarku sedih, hati ku bergetar saat ini. Sungguh jika mengingat semua kejadian yang ku alami akhir akhir ini. Mentalku tak kuat lagi.
"Iya Dek Alda, Biasa itu sesama manusi kita harus saling tolong menolong. Bukankah ayahnya Dek Alda juga pernah nolongin Keluarga dari suamiku." Jelas Bu Suci dengan seriusnya.
"Iya bu." Sahutku tersenyum malu.
Huufftt..
Ada rasa bahagia di hati. Akhirnya aku bisa lepas dari Mas Evan. Statusku jelas sudah.
"Maaf ya kak, bisa kah kakak ceritakan apa saja masalah dalam rumah tangga kak, hingga kak ingin gugat cerai suami kak?" tanya Pak Hakim Raihan, yang muda dan tampan itu.
Aku pun mulai menceritakan awal mula, aku mengetahui mas Evan selingkuh. Dari chat mesra, mas Evan yang jarang pulang dengan alasan lembur, kemudian aku yang mengajak jumpa Juli, selingkuhan Mas Evan. Mas Evan yang tak lagi nafkahi aku dan anaknya. Mas Evan dan ayah yang bertengkar hebat dan viral di media sosial, sehingga mata Mas Evan hancur dan akhirnya matanya diangkat.
"Oohh... Jadi suami mbak sekarang, matanya tinggal satu?" Tanya Raihan dengan tak percayanya.
"Iya Dek." Sahutku lemah. Malu sebenarnya menceritakan aib ini. Tapi, oak Hakim ingin tahu masalah rumah tangga ku, agar ia bisa membantu ku.
__ADS_1
Pak Armand dan Bu Suci terlihat prihatin dengan ceritaku. Apalagi Bu Suci, ia sampai menangis. Pak Armand dengan lembut dan penuh kasih sayangnya menenangkan sang istri. Merangkul dan sesekali mengusap usap lengan istrinya itu. Aku jadi merasa bersalah. Karena menceritakan semua nya, habisnya Bu Suci menangis tersedu sedu.
TBC