KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Melawan


__ADS_3

Selesai menunaikan sholat Isya di mushollah rumah sakit. Ku ajak Raisya untuk menjenguk ayahnya. Raisya sangat senang, karena ia sudah seminggu tak berjumpa dengan ayahnya itu. Ia sangat rindu ayahnya.


"Ayah di rumah sakit juga ya ma?" tanya nya dengan cerianya.


"Iya sayang." Sahutku, melirik gadis kecilku itu yang kini menggenggam erat jemariku. Kami sedang melewati lorong rumah sakit.


"Oouuww.. Ayah koq gak ke tempat Kakek?" tanya nya lagi dengan muka bingungnya. Raisya belum tahu, apa yang terjadi pada ayahnya.


"Ayah di sini dirawat juga sayang. Sama dengan kakek." Jawabku lirih, rasa nya sangat sakit sekali, jika membahas Mas Evan. Ayah dari anak ku itu, harus kehilangan matanya.


"Ayah sakit ma?" tanya nya dengan muka sedihnya..


"Iya sayang." Langkahku terhenti, ku bungkukkan sedikit badan, agar sejajar dengan Raisya. "Ini kita akan jenguk ayah. Nanti di sana jadi anak baik ya sayang " Ujarku lembut, memberi pengertian pada Raisya.


"Iya ma." Sahutnya dengan menganggukkan kepala nya.


Kami pun melanjutkan langkah kami menuju ruang Mas Evan dirawat. Mas Evan dirawat di ruang VIP. Jadi gedungnya berbeda dengan gedung ayah di rawat.


Dengan jantung yang dag dig dug, ku beranikan diri, mengetuk pintu. Tak ada jawaban, aku pun menekan handle pintu itu dengan jantung yang rasanya mau copot.


Kreekk..


Suara pintu dibuka membuatku parno terlebih dahulu. Aku takut, di saat pintu terbuka, maka kata kata sampah yang akan ku dengar. Sebenarnya, aku tak takut pada Juli dan keluarga nya. Aku hanya tak mau berdebat dan bertengkar adu jotos, di tempat yang tak sesuai. Kalau mau bertengkar, mari ke tempat sepi. Dan tak ada orang lihat.


Pintu terbuka, dan aku hanya melihat Mas Evan, terbujur di atas bed nya. Mata sebelah kirinya, menoleh ke arah ku dan Raisya. Yang kini menghampirinya.


"Ayah...!" Raisya berlari menuju tempat Mas Evan berbaring. Kedua matanya bergerak kesana kemari, memperhatikan keadaan ayahnya yang tak baik baik itu.


"Raisya sayang." Ujarnya dengan suara barat. Suara khas pria, yang menahan tangis.


"Ayah Kenapa? ayah sakit mata?" tanya gadis kecilku itu penuh selidik.


"Iya sayang." Sahut Mas Evan dengan suara yang terdengar menyedihkan.


"Ya Allah... Semoga ayah cepat sembuh, agar aku dan ayah bisa berkumpul lagi di rumah. Raisya kangen banget sama ayah. Ayah sekarang jarang pulang. Apa karena ayah sakit, makanya ayah jarang pulang?" Raisya mencecar ayahnya dengan pertanyaan beruntun.


"Iya sayang." Jawab mas Evan, tersenyum tipis. pada Raisya.


"Mas, sudah bagaimana keadaan Mas?" ku ulurkan tanganku memijat kakinya. Tapi, Mas Evan menjauhkan kaki nya.

__ADS_1


"Buruk, dan sangat buruk. Aku tak akan melepaskan ayahmu. Dia harus masuk penjara." Ujarnya menatapku tajam.


Deg


Aku Sungguh terkejut dengan ucapan Mas Evan.


"Terserah apa mas mau lakukan pada Ayahku. Yang jelas, aku akan membela Ayahku. Selama ini, aku patuh padamu Mas. Karena kamu suamiku. Ku terima semua sikap tak adilmu. Ku sabarkan semuanya. Agar Raisya mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Tapi, dengan Kejadian ini. Ternyata mas tidak sadar juga, akan sikap Mas yang salah padaku, dan keluarga kecil kita."


"Gak usah kamu banyak cerita." Sahut Mas Evan cepat dengan nada tinggi.


Raisya yang berdiri disisi bed, langsung memelukku, karena takut dengan suara Mas Evan, yang meninggi.


Aku akhirnya memilih diam. Aku tak mau jadi istri durhaka. Walau Evan jahat padaku. Selingkuh dan tak kasih nafkah yang cukup. ku sabarkan itu semua. Aku tetap tunaikan kewajibanku. Walau aku tak diberikan hak oleh mas Evan. Yang jelas, aku tak salah di mata hukum agama. Soal Mas Evan yang jahat padku, Biar lah itu urusan Mas Evan diakhirat. Karena menelantarkan anak istri nya.


"Aku tak punya uang. Jadi semua biaya operasi ini harus ayahmu yang bayar, kalau ia tak mau membusuk di penjara." Tegas Mas Evan.


"Iya Mas, besok aku akan bawa uang nya." Jawabku lembut, tapi hatiku sangat sakit sebenarnya.


"Jangan kamu kira ini masalah sepele. Aku kehilangan mataku, Walau ayah sialan mu itu ganti rugi, aku tetap bawa masalah ini ke jalur hukum." Ujar Mas Evan dengan muka meriah padamnya, karena emosi.


Hhuufftt..


"Silahkan mas laporkan, dan tentu di sini aku akan bela ayah. Dan aku juga tak akan tinggal diam. Aku juga akan laporkan masalah mas yang nikah diam diam. Memalsukan idèntitas, untuk dapatkan buku nikah." Ujarku Tegas menantang Mas Evan.


"Kamu akan dilaknat Allah, karena tak patuh pada suami."


"Jangan Bicara ngaur mas. Mas yang akan dilaknat, karena selama ini menelantarkan aku dan Raisya."


"Laki laki itu bisa menikahi 1,2,3 bahkan 4 wanita." Ujarnya Tegas.


"Iya, jika suami nya bisa berlaku adil." Tegas ku, Mas Evan terdiam. "Aku akan berikan uang untuk mas, tapi besok." Jelas ku lagi.


Hua...


Hua..


Hua...


Raisya menangis, ia mungkin terkejut melihat ku berdebat dengan Mas Evan.

__ADS_1


"Ayah, Mama. Kenapa bertengkar?" Ujarnya dengan terisak. Aku pun mendekap Raisya.


Ceklek


Saat itu juga, Juli masuk dengan muka devilnya.


"Ngapain lagi kamu di sini?" tanya nya ketus menatapku sinis.


Aku diam, merasa tak perlu menjawab pertanyaan wanita tak tabu malu itu.


"Kami pamit Mas. Moga mas lekas sembuh " Ujarku, menggenggam tangan Raisya dan membalik badan.


Grapp


Aku pun menghentikan langkahku, di saat Ku merasa kan lenganku ditahan. Ku berbalik badan. Dan lu lihat tangan nya Juli melayang, hendak menamparku. Tapi, tangan itu ku tangkap dengan cepat. Dan ku putar tangannya itu, hingga ia mengaduh kesakitan.


"Lepas.... Lepas.... Lepas.. Wanita gila..!" Ujarnya memegang tangannya yang ku pelintir kuat. Mukanya memelas menatap ke arah Mas Evan. Seperti meminta bantuan.


"Alda, Lepas...!" teriak Mas Evan.


Kuat nya suara Mas Evan membentakku, selaras dengan tanganku yang mempelintir kuat tangan nya.


"Abang... Tolong..!" teriak Juli. "Tolong....!" ia kembali mengeraskan suara nya. Mungkin kedengaran sampai keluar.


"Jangan kamu kira, aku takut padamu!"


Piuuhh.


Ku Lepas kan tangannya, sekaligus ku dorong tubuhnya kuat. Sehingga si Juli tersungkur di hadapan ku.


"Selama ini aku diam, karena aku masih menganggap Mas Evan suamiku. Hingga detik ini, dia tak mau menceraikanku. Aku tahu, akal busuk kalian." Ujarku menunjuk nunjuk, Juli yang masih tersungkur di hadapan ku.


"Mas memang licik, tak mau menceraikanku. Karena Mas tak mau rugi. Tak apa apa, tak mas berikan aku status yang jelas. Lihat saja Mas, akan mas dapat kan karma Yang lebih parah dari apa yang mas rasa kan sekarang.." Ujarku, menunjuk Mas Evan. Lima tahun lebih kami menikah, ini pertama kali nya, aku meninggikan suara pada nya.


"Mau menguras kami? silahkan, tapi ingat. Aku tak akan diam!" Ujarku menatap secara bergantian Mas Evan dan Juli.


Dengan perasaan yang hancur, aku keluar dari ruangan itu. Menggandeng Raisya, yang terlihat tertekan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2