
Suasana di warung makan ini terasa sepi tanpa kehadiran Akram semuanya sangat merasakan itu, bahkan pembeli juga selalu menanyakan di mana dia, dan Kenapa dia tidak bekerja hari ini.
" Abang akram emangnya Ke mana sih Kak?" Tanya serang pembeli kepadaku dengan muka keselnya, mungkin ia kecewa karena Akram tak ada di warung ini.
kutatap muka gadis ini dengan tersenyum si ini aku kasihan padanya. "Oh.. Abang Akramnya lagi pulang kampung dek." Sahut ku ramah sambil mengulum senyum, aku merasa Gadis ini sangat lucu dia begitu mengagumi si Akram.
"Tahu Abang Akramnya, nggak di sini akunya tadi nggak mau ke sini." Ujarnya lagi dengan wajah penuh kekesalan sebegitu kecewanya dia tidak menemukan Akram di warung ini. Astaga aku sangat terkejut mendengar pernyataan wanita ini ternyata banyak gadis-gadis, bahkan ibu ibu yang merasa kehilangan Akram.
"Ya, Jangan gitu dong Dek, mau Abang Akram mau aku, mau adik mawar. Ya tetap aja rasa masakannya sama, sama-sama enak." Sahutku tersenyum tipis mengajak wanita ini bercanda.
"Bedalah Kak, kalau Bang Akram itu melayani kita dengan full senyum yang tulus, lah kalau sih mawar mukanya cemberut terus." Jawab gadis kecil Itu. "Besok, Kalau Abang Akram gak di sini. Malas lah aku beli nasi orang kak." Ujarnya lagi dengan muka penuh kekecewaan, meninggal kan warung.
"Berarti Abang akram lah pelaris warung ini. Kak kalau kak tidak mau warung kak ini bangkrut. Kakak harus bisa memaafkan Abang Akram dengan tulus, Oke!" ujar mawar menatapku lekat.
Aku tersenyum menanggapi ucapan mawar. Ya apa yang dikatakan mawar bener juga, kemarin juga disaat Akram nggak di sini, para pelanggan pada nanyain pria itu.
Hari ini orang yang makan siang ke warung ini lumayan sepi padahal lauk masih banyak. kalau benar Akram pembawa hoki di sini berarti tanpa dia warung ini akan sepi. Waduh... Bisa bahaya itu. Aku pun jadi memikirkan Akram jadi merasa sudah bersikap padanya.
"Alda, Apa kamu sudah tahu kabar terbaru tentang mantan suamimu?" tanya seorang pria berjambang tipis, ia sedang makan bersama anak buahnya. Abang berjambang tipis itu, adalah seorang pemborong proyek.
"Mas Evan, emangnya mas Evan Kenapa Bang?" tanya aku penuh selidik. Aku Yang penasaran mendekati meja mereka. Kebetulan di sampingnya meja kosong . Jadi aku duduk di bangku dekat mereka.
"Ketangkap semalam, ternyata mantan suami itu, ditangkap polisi dalam kasus narkoba. kami heran juga selama ini. Setelah Evan dipecat dari perusahaan dalam waktu sebulan dia langsung bisa beli mobil, bulan berikutnya beli mobil lagi. Kan buat heran. Ih nggak taunya melakukan pekerjaan haram." Ujar Abang Joni si jambang tipis.
__ADS_1
"Astagfirullah, Ya Allah mas Evan... Kenapa hidupmu jadi hancur begini mas?" aku membathin, Bagaimana pun jahatnya Mas Evan padaku. Aku tak bisa membencinya. Ia pernah mengisi hatiku. Dulu ia begitu baik padaku.
"Kak, iya kak. Itu Abang Evan dan si pelakor sudah masuk Metro TV." Ujar Mawar, menunjuk TV yang bertengger di dinding warung makan.
Terlihat Mas Evan dan Juli beserta dua pria sedang di kantor polisi. Ternyata Mas Evan pengedar dan pengguna Narkoba.
Hari ini, setiap orang yang makan di warung, membahas Mas Evan. Ada rasa sedih dan iba di hati, atas apa yang menimpa Mas Evan. Mulai dari mas Evan yang kehilangan matanya sebelah, dan sekarang ia kena kasus.
***
karena dagangan kami lama habisnya hari ini, akhirnya sore hari, Kami baru bisa pergi ke kampungnya Akram. Yang jaraknya sekitar tiga jam dari kota Medan. Kami tidak memberitahu Akram, kalau kami akan datang. Kata Mawar, biarlah jadi surprise.
Sepanjang perjalanan, Mawar sibuk buat konten, sedangkan aku sedang .memikirkan Mas Evan. Juga memikirkan ucapan Bu Suci tadi malam. Serta memikirkan sikap Akram akhir akhir ini padaku. Ia yang menunjukkan ketertarikannya padaku. Aku belum mau menikah sebenarnya. Tapi, kalau benar, gara gara Akram usaha warung makan ku laris manis. Aku jadi kepikiran untuk menerima cintanya.
Hadeeuuh...
"Alda,, kamu kenapa?" tanya ibu heran menatapku.
"Enggak papa Bu." jawabku tersenyum tipis.
"Paling juga kak Alda,, mikirin abang Evan." Ujar Mawar, dari depan. Ia duduk di sebelah supir. Kami merental mobil kijang innova. Yang ikut ke
kampungnya Akram adalah aku, Ibu, bi romlah, mawar dan Raisa.
__ADS_1
Aku diam tak mau menanggapi ucapan mawar Emang sih benar yang dikatakan mawar Aku sedang memikirkan mas Evan.
"Bener ya mawar si Evan ditangkap polisi sama istri mudanya itu?" tanya Bi romla penuh dengan rasa penasarannya.
" Katanya sih gitu Bi, beritanya aku lihat tadi sama mawar di TV , serta pembeli yang membahas mas Evan di warung." jawab ku datar Tak semangat.
"kasihan Evan ya, hidupnya jadi hancur sejak dia menghianatimu Alda." ujar Bi Romlah sedih.
Ya mas Evan sebenarnya pria yang baik sebelum Juli merusak rumah tangga kami
Mas Evan adalah ayah dan suami yang sangat baik, penuh perhatian dan kasih sayang. Aku tak menyangka begitu dahsyat pengaruh Juli pada Mas Evan. Sehingga Mas Evan hancur, seperti saat ini. Haruskah aku menyalahkan Akram atas semua ini? karena, Akram lah pencetus ide gila, yang meminta Juli menggoda mas Evan.
Tidak, tidak.... Kalau benar mas Evan baik dan masih mau bersamaku dia tidak akan terpengaruh dengan Juli. Sempat tergoda dan menyadari kesalahannya dia pasti memilih aku bukannya memilih Juli. Akram memang salah. Tapi, mas Evan juga salah.
Entah kenapa mengetahui begitu baiknya hati Akram. kesalahan yang ia buat atas hancurnya hidupku, seolah bisa ku maafkan karena aku merasa lebih tenang jika memaafkannya.
Kini tibalah kami di tempat tujuan. Akses jalan ke rumahnya Akram,, ternyata sudah sangat bagus. Saat kami sampai di sana, ayahnya Akram, sudah di makamkan. Karena kami sampai fi sana sudah pukul enam sore.
"Alda...!" Akram yang dengan penampilan islaminya. Sangat terkejut melihat kedatangan kami. Ia saat ini memakai baju koko dengan bagian bawahnya warung. Serta kepala ditutupi lobe hitam, senada dengan baju kokonya, sepertinya Akram mau pergi sholat ke Mesjid.
"Ibu, Bi Romlah, Mawar. Heii.. Raisya... Kamu ikut juga kesini!" kedatangan kami seperti mood boster aja buat Akram. Wajah murungnya Seketika cerah berbinar, setelah kedatangan kami.
"Ayo masuk." Ia kini menggendong Raisya, yang memasrahkan dirinya di dada bidangnya Akram.
__ADS_1
Ternyata, hanya ayah nyalah keluarga satu satunya yang ia miliki. Dan Akram ternyata anak satu satunya. Dan kini ayahnya juga telah berulang ke rahmatullah. Cerita Akram, yang tidak bisa menemani ayahnya saat sakratul maut. Membuatku menitikkan air mata. Aku juga baru saja kehilangan Ayah. Aku bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Akram. Seandainya ia tak kembali ke kota kemarin. Mungkin, ia masih bisa menemani ayahnya, hingga ajal menjemput.
TBC