KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Pemalsuan


__ADS_3

Ya Allah....


Ku pandangi buku nikah berwarna merah dan hijau itu dengan berlinang air mata. Kuusap dada yang berdenyut sakit bak diiris sembilu, mencoba berpikir positif, dari pada mereka berzina, mungkin lebih bagus mereka menikah.


Tapi, aku perlu penjelasan dari Mas Evan. Apa maksud dia sebenarnya. Tak mau menceraikan aku. Tapi, punya simpanan.


Ku perhatikan lamat lamat Mas Evan yang berjalan menghampiriku dengan muka tak bersalah nya. Buku nikah masih ku genggam erat.


Huufftt...


Helaan nafas mas Evan terdengar kasar. Tangannya menjulur, meraih buku nikah yang masih ku genggam.


"Mas, kenapa Mas lakukan ini padaku?" tanyaku dengan berurai air mata. Hanya itu yang bisa ku lakukan. Marah, mencak mencak juga tak ada gunanya. Karena sudah jelas, jika terjadi pertengkaran. Besar kemungkinan akan terjadi KDRT. Toh, nanti aku juga yang merasakan sakit lahur dan bathin.


"Aku tak bisa menjelaskan lagi, apa dan kenapa. Semua telah terjadi, aku ingin kamu mau menerima kenyataan ini." Ujar nya datar. "Kalau kamu mau gugat cerai, Silahkan." Pungkasnya lagi.


"Mas..!" kini nada bicara ku naik satu oktaf. Benar sekali memang lidah tak ber tulang. Mas Evan sedikit pun tak merasa bersalah, atas perbuatannya padaku.


"Kalau kamu keberatan, Kamu boleh gugat cerai aku. Kalau kamu mau menerima kenyataan ini. Aku akan bersikap adil pada kalian. Aku akan berbagi waktu jadwal menginap di rumah ini dan juga rumah Juli."


Deg


Kuusap usap lagi dada yang bergemuruh hebat, atas ucapan Mas Evan yang menyakitkan itu. Jelas di sini Mas Evan egois, dan mau enak sendiri. Dia pikir, aku gak bisa tanpa dia.


Aku membuang muka, muak sudah menatapnya. Untuk apa lagi aku banyak berada argumen dengan Mas Evan, yang tak mau mengerti aku yang tersiksa karena nya. Aku bergegas masuk ke kamar mandi. Tangisku pecah di dalam kamar mandi. Buku nikah yang Ku lihat tadi buku nikah KUA, bukan buku nikah siri.


"Dek, Mas ke rumah ibu ya, jemput Raisya..!" aku terdiam sejenak dari tangisku. Saat Mas Evan mengetuk pintu kamar mandi.


***


Malam ini suasana di rumah cukup hangat. Walau tak ada keberadaan ayah di rumah kami. Ayah tak mau datang ke rumah. Karena ada Mas Evan. Ayah bisa naik darah, jika berlama lama melihat Mas Evan. Ayah sangat kecewa pada suami ku itu.

__ADS_1


Malam ini mas Evan membantuku memasak untuk daganganku besok. Ia terlihat semangat dalam membantuku. Ya, inilah sifat Mas Evan sebelum kenal Pelakor. Ia sering bantu pekerjaan rumah.


"Sejak kapan kamu jualan Dek?" Tanya nya dengan ekspresi wajah bahagia nya. Mas Evan sedang mengupas bawang.


"Sejak kamu gak nafkahi dia dan anakmu!" Sahut ibu ketus. Pandangan fokus, ke adonan kue lapis. Ya kue lapis dimasak malam ini. Besok sudah dingin, tinggal di potong potong.


Aku melirik Mas Evan yang kini senyum lebarnya berangsur menyusut, mungkin tersinggung dengan ucapan ibu. Mas Evan memilih diam, tak manyahuti ucapan ibu.


Seketika atmosfir di dapur berubah jadi tegang. Ibu pun pamit masuk kamar, mengajak Raisya untuk ber istirahat. Dan kini tinggal lah Mas Evan dan aku di dapur itu. Mas Evan tak banyak tanya lagi. Ia hanya menanyakan, apa lagi yang bisa ia bantu.


Pagi harinya


Mas Evan terlihat santai. Tak ada gelagat mau pergi kerja.


"Mas, koq belum siap siap?" Tanya ku heran, menatap Mas Evan, yang membantu ibu mempacking mie goreng.


"Mas lagi cuti." Jawab nya tersenyum tipis. Terlihat sedang mendekati ibu. Tapi, Ibu tetap bersikap acuh tak acuh. Jelas Ibu kecewa pada Mas Evan.


"Kalau kamu lagi cuti. Kamu bantuin istrimu anterin dagangan." Ujar ibu dengan muka datar nya. Ia masih menunjukkan sikap tak sukanya pada Mas Evan.


Mas Evan benar benar membantuku seharian ini. Bahkan ia yang mengantarkan semua pesanan Bu Suci, siang ini ke sekolah. Hingga selesai acara makan bersama dalam memeriahkan Hari ulang tahun Pak Armand ke 35 tahun.


"Alda, kamu sudah baikan dengan suamimu?" tanya Muallimah Rose pelan penuh ke hati hatian menatapku dengan penasarannya.


"Eehhmm.... Emang kapan kami bertengkarnya Muallimah Rose." sahut ku lemah. Membalas tatapan Muallimah Rose yang penuh selidik itu.


"Astaga Da, kamu gak Marah padanya?" Tanya nya lagi dengan tak percaya nya.


"Mau Marah juga tak ada gunanya Bu Rose. Buat capek hati, menguras emosi. Toh, dengan Marah Mas Evan belum tentu kembali padaku seutuhnya.


"Jadi kamu mau dimadu?"

__ADS_1


Huussstt.. Ku tempelkan jari telunjukku di mulut Bu Rose.


"Bu Rose, jangan kuat kuat ngomong nya." Ku sangat takut guru guru lain dengan pembicaraan kita." Ujarku cepat, kedua mata mengawasi sekitar


Apakah ada guru guru yang menguping pembicaraan kami. Tapi, sepertinya tak ada. Semua nya sedang menikmati acara makan siang. Memeriahkan ulang tahun Pak Armand


"Maaf Alda." Bu Rose terlihat sungkan padaku


Ia mungkin merasa telah salah bersikap. "Kalau aku jadi kamu, aku tak akan tinggal diam. Aku akan labrak itu pelakor." Bisik Bu Rose, sepertinya ia belum puas membahas masalah rumah tanggaku.


"Gak ada guna nya Bu Rose. Mereka juga sudah menikah."


"Apa..?" Ujar Bu rose kuat, tanpa sadar. Auto semua tatapan mata di ruangan itu tertuju kepada kami berdua.


Aku pun langsung nyengir. Berusaha menutupi atmosfer tegang yang tercipta diantara kami berdua.


"Napa loe bu Rose?" tanya Pak Andi dengan senyum lebarnya. Pak Andi yang sering membuat lelucon, tentu kepo dengan gelagat kami yang mencurigakan.


"Gak ada, ini serundeng enak banget. Emang ya mas akan Muallimah Alda, tôp markotop." Ujar Bu Rose, mengacungkan dua jempolnya kepadaku, yang berusaha menampilkan ekspresi wajah riang.


Sebenarnya aku sangat sedih, di saat masalah rumah tanggaku dibahas. Karena luka yang ingin ku tanam dalam itu, kembali dikorek korek lagi. Yang membuat aku kembali mengingat rasa sakit itu. Tapi, mau gimana lagi. Aku harus menghargai kepedulian Bu Rose, yang ingin tahu gimana perkembangan masalah rumah tanggaku. Semoga, Bu Rose bisa menyimpan rahasiaku dan tidak membuat masalah ku sebagai konsumsi publik.


Sepulang kerja, aku pun akhirnya meminta waktu kepada Bu Rose sebentar. Entahlah, akhirnya aku tak sanggup menahan sendiri rasa sakit dan kecewa ini. Aku perlu mencurahkan rasa sesak yang mencokol di dada. Berharap bisa puas dan tenang. Bu Rose, tak kebetatan dengan permintaan ku itu.


"Buku nikah mereka dari KUA, tapi alamat nya tidak sesuai KTP mereka?" Lagi lagi Bu Rose bertanya dengan keterkejutannya, disaat aku menceritakan semua tentang buku nikah yang kutemukan di tas Mas Evan.


"Iya Bu Rose." Jawabku dengan sendu. Air mata masih mengucur deras.


"Ini kesempatan buatmu, untuk buat pelajaran untuk suamimu dan selingkuhannya. Kamu bisa laporkan mereka ke pihak berwajib. Karena memakai alamat palsu dan status palsu saat mengurus buku nikah itu. Kan kalian belum cerai." Jelas Bu Rose dengan seriusnya menatapku


Aku terdiam mendengar ucapan Bu Rose. Haruskah aku melaporkan mas Evan ke pihak berwajib?

__ADS_1


TBC


Tinggal kan jejak say, beri komentar posistif pada cerita ini.


__ADS_2