KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Dua pria


__ADS_3

Aku akhirnya bisa bernapas lega. Ayah sadarkan diri juga. Aku pun pamit pada ibu, karena aku ingin mengetahui keadaan Mas Evan. Dengan perasaan yang tak karuan, ku cari ruangan tempat Mas Evan dirawat. Aku sudah menghubungi Juli, guna menanyakan di mana Mas Evan dirawat. Tapi, gak diangkat. Setelah mendapatkan ruangan tempat Mas Evan dirawat, dari pihak medis. Aku pun bergegas menuju ruangan itu.


"Aarrrgggkkk... Tidak.... Aku gak mau mataku diangkat. Aku gak mau di operasi..!"


Teriakan Mas Evan terdengar sampai keluar ruangan. Aku yang berada di depan pintu kamar, gemetar mendengar ucapan Mas Evan yang penuh keputusasaan itu. Benarkah separah itu kondisi mata Mas Evan yang ditonjok ayah. Kuusap usap dadaku yang berdebar hebat. Aku takut untuk berjumpa dengan Mas Evan. Sudah jelas, ia akan marah pada ku, karena gara gara ayah, ia harus kehilangan sebelah matanya


Astagfirullah... Ya Allah.... Beri kesembuhan pada suamiku.


Ku tarik napas dalam dan panjang berulang kali, setelah merasa sedikit tenang. Ku beranikan diri mengetuk pintu, dan langsung menekan handle pintu kamar itu, saat ku dengar ada yang menjawab salamku. Yang jelas, yang menjawab salamku adalah suster. Bukan Mas Evan, Juli, mertuaku dan ibunya Juli.


"Ngapain kamu kesini..?" ujar ibu mertuaku dengan tatapan penuh kebenciannya itu. Ia bahkan kini menghampiriku.


Aku terpaksa menghentikan langkahku, tepat di ambang pintu. Jujur, aku merasa sangat ketakutan saat ini. Ibu mertuaku itu seperti ingin memakanku hidup hidup, ditambah Juli yang mengekorinya.


"Mau apa lagi kamu? keluar.. keluar....!" teriak ibu mertua sambil menunjuk pintu.


"Bu, a, aku, ingin melihat mas Evan. Keadaan mas Evan bu." Ujarku tergagap. Melirik Mas Evan, yang terbujur di atas bed. Dengan mata sebelah kanannya diperban.


"Keluar kamu! mending kamu cekik bapakmu sekarang. Sebelum kamu lihat dia mati di penjara!" ujar Juli penuh emosi. Ia mendorong kuat bahuku. Hingga kakiku mundur dua langkah.


Ku tak mau direndahkan seperti ini. Ku kuatkan diri, ku melangkah lagi. Tapi, kembali di hadang si pelakor.


"Bu, pak. Jangan ribut di sini." Ujar dokter berjenis kelamin pria dan semua orang di tempat itu pum terdiam. "Pasien lagi kritis, kuta harus segera ambil tindakan. Siapa yang akan menandatangi surat izin melakukan operasi ini." Ujar Dokter dengan wajah bete nya. Seperti nya Dokter itu kesal lihat sikap Ibu mertua dan Juli.


"Bu, gimana ini? kalai mas Evan di operasi, berarti mata nya tinggal satu. Mas Evan cacat dong!" ujar Juli dengan sedihnya. Mata nya berkaca kaca sudah.


Hua...


Hua..


Ibu mertua malah menangis histeris. Kembali menatapku dengan penuh kekesalan. Semua kesalahan mereka limpahkan kepada ku. Kejadian ini tentu ada sebab akibatnya. Tidak hanya Mas Evan yang cidera. Ayah ku juga sedang tidak baik baik saja. Karena Mas Evan juga memukuli ayah.

__ADS_1


"Ini gara gara ayah mu!" menunjukku dengan mata nya yang hampir keluar. Suasana di ruang rawat itu jadi semakin panas.


Dan seorang susterpun menghampiriku.


"Bu, sebaiknya ibu keluar dulu ya?" ujar nya sopan, menuntunku keluar dari ruangan itu. Aku pun pasrah, mungkin keberadaanku di tepat itu, tak diinginkan.


Klek..


Pintu ruangan itu pun ditutup. Aku tak langsung pergi dari tempat itu. Ku menguping pembicaraan mereka dari luar. Walau aku tak mendengar dengan jelas, apa yang mereka bicarakan. Lima menit kemudian, suster dan dokter itu keluar daei ruangan tempat mas Evan dirawat. Aku yang penasaran dengan keadaan Mas Evan. Mengejar Dokter dan dua suster yang berjalan ke arah berlawanan dengan tempat ku berada saat ini.


Ku percepat langkahku, hingga aku bisa menyusul dokter dan Suster itu.


"Maaf, maaf Dok!" Ujarku dengan memelas, langsung menghadang langkah mereka.


"Ya bu," ujar Dokter itu ramah. "Ada apa?"


"Kapan suamiku akan di operasi dok?" tanyaku lirih.


"Iya Dok." Jawabku dengan enggan.


"Nanti sekitar pukul 5 sore." Jawab Dokter itu ramah.


"Terima kasih Dok!" Ujarku dengan membungkukkan sedikit badanku. Sebagai tanda hormatku dan rasa terima kasih, karena Dokter yang terkenal sibuk itu, masih menghargaiku.


"Oouuhh.. Berarti cewek tadi itu pelakor?" ku dengar pembicaraan kedua suster yang berjalan mengekori sang Dokter. Kebetulan, lorong yang mereka lewati sama dengan lorong menuju ruangan ayah dirawat.


"Itu karma buat pria yang matanya jelalatan Kena tonjok, nyahok!" timpal suster satunya lagi.


Aku pun tercenung mendengar pembicaraan kedua suster itu. Hingga mereka menghilang dari jangkauan mata, aku baru membelok berjalan lemah menuju ruangan ayah dirawat.


Sesampainya di ruangan ayah dirawat. Beliau menatapku lekat. Aku masih di ambang pintu Ki seret kakiku menghampiri ayah yang terbujur kaku. Ku tampilkan ekspresi wajah riang gembira.

__ADS_1


"Maafkan ayah!"


Aku terkejut mendengar permintaan maaf dari ayah. Kenapa ayah malah minta maaf. Ayah salah apa?


"Ayah bicara apa sih?" tanyaku dengan menahan diri, agar tak menangis di hadapan ayah. Sungguh Kejadian ini sangat membuatku tertekan. Ayah dan suamiku bertengkar, dan kedua nya sama sama dalam keadaan buruk.


"Gara gara ayah tak bisa menahan diri. Akhirnya E matanya Evan rusak sebelah." Jelas ayah dengan mata yang berkaca kaca. "Jangan benci ayah ya? ayah sangat sayang samamu Nak." Ujarnya meriah tanganku yang tersampir di sisi bed.


"Ini bukan salah ayah. Ini salahku. Harus nya aku turuti kemauan ayah, untuk cerai dari Mas Evan." Ujarku, mencoba tersenyum pada ayah. Aku harus terlihat semangat dan baik baik saja, agar ayah bisa tenang.


"Sudahlah ayah, jangan dibahas lagi. Yang penting sekarang. Ayah harus cepat sembuh." Ujar Ibu mendekat ke bed tempat ayah berbaring.


"Emang ayah Kenapa ma?"


Aku menoleh ke arah Raisya, yang sedang duduk di sofa. Aku pun menghampiri gadis kecilku itu.


"Gak apa apa sayang." Sahutku, merapikan anak rambut Raisya dengan menyelipkannya, ke daun telinganya.


"Tapi, tadi ku dengar. Ayah sakit ma." Ujar nya lagi, Raisya memang sudah mengerti apa yang dibahas orang dewasa.


"Ia sayang, ayah sakit. Tapi, gak parah." Jawabku, menarik Raisya ke pelukanku. Aku pun bersandar di sofa warna coklat itu. Rasa nya tubuh lelah sekali. Ingin istirahat dan tak memikirkan apa pun. Tapi, jelas Itu tak mungkin.


"Ma, Tante tadi siapa?" tanya Raisya, menatapku lekat. Ia masih bergelayut manja dalam dekapan ku.


"Tante, tante mana sayang?" tanyaku.


"Itu, tadi yang marah marah dengan mama." Ujar nya menatapku lekat.


"Oiuuww.. Teman ayahmu sayang." Jawabku dengan bingungnya. Tak tahu harus bagaimana menjelaskan siapa itu Juli.


TBC

__ADS_1


__ADS_2