
Sesampainya di rumah aku masuk ke kamar ibu. Ternyata ibu belum tidur, aku ceritakan semua yang dikatakan ibu Suci kepada ibu tentu saja Ibu terkejut mendengarnya. Ibu berkata nggak usah menerima permintaan Bu Suci, seandainya Pak Hakim Rayhan tak mau membantu melanjutkan perceraian dengan Mas Evan, Ya sudah. Tapi, semoga Pak Hakim Rayhan tetap mau membantu kamu bercerai dengan Eva.
Puas curhat kepada Ibu aku pun masuk ke kamarku. Di kamar ku dapati Raisya sudah tidur dengan memeluk guling. Ku Tatapan lekat Putriku yang tertidur pulas itu, ku kecup keningnya lembut dan membelai kepalanya aku tak menyangka perjalanan hidupku seperti ini. Mas Evan, benar-benar lupa dengan kami.
ku mencoba memejamkan mata berkonsentrasi untuk bisa tertidur tapi sedikitpun mata ini tak bisa ku pejamkan. Tubuh ini terasa panas aku grasak grusuk di atas tempat tidur. Kepalaku terasa mau pecah memikirkan semuanya, memikirkan perceraianku yang sedang dalam proses persidangan dengan mas Evan. Memikirkan Akram yang membohongiku dan keluargaku selama ini. Ingin rasanya membencinya, tapi melihat sikap baik dan polosnya, membuatku tidak tega. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan tak ada gunanya untukku membenci Akram. Dia sebenarnya pria baik hanya saja, Dia kena jebak Juli.
Dan permintaan bu suci, sangat membuatku terpukul, aku tak menyangka kebaikan Bu Suci selama ini ada maunya ternyata dia mau membantuku bercerai dengan mas Evan agar aku mau menikah dengan suaminya, sungguh permintaan yang aneh.
Dert
Der
Dert
Ponsel yang ada di atas meja kerjaku bergetar. Aku penasaran Siapa yang menelpon tengah malam begini dengan kepala yang terasa mau pecah dan tubuh terasa pegal-pegal ku Bangkit Dari Ranjang menuju mejaku dan melihat di layar ponsel yang nelepon adalah Akram. Seketika suasana hatiku berubah jadi buruk. Entah kenapa aku merasa benci padanya, tapi hati kecilku bilang tidak ada gunanya membencinya.
kutarik ke atas ikon hijau sehingga tersambunglah panggilan suara itu.
"Assalamualaikum..!" ujarnya lirih seperti orang yang sedang merasakan kesedihan yang teramat dalam.
" Waalaikumsalam." jawabku ketus. Mukaku saat ini masih cemberut.
__ADS_1
"Aku minta maaf ya, tadi aku ke rumah. Kamu nggak di rumah. saat di warung bahas masalah itu, ku lihat kamu masih belum memaafkanku. Kalau kamu nggak mau memaafkanku, tidak apa-apa yang jelas aku sudah minta maaf. Malam ini aku mau pulang kampung Ayahku meninggal dunia." Ujar Akram sedih, ia bicara seperti ijab kabul saja. Tanpa jeda.
Mendengar ucapannya bahwa ayahnya meninggal dunia aku tahu dia pasti Sedang Sedih saat ini, tapi aku juga belum bisa menerima semua kenyataan yang terungkap ini. apalagi dialah salah satu penyebab hancurnya rumah tanggaku.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, kamu yang sabar ya! ku doakan semoga almarhum ayahmu Khusnul Khotimah." jawabku singkat, aku merasa masih canggung padanya. Tak seakrab dulu lagi. sebelum kejadian penyebab Mas Evan selingkuh terbongkar.
"Terima kasih, Assalamualaikum..!"
Tuuutt
panggilan telepon langsung terputus. Padahal aku masih ingin menanyakan Di mana alamatnya? Kalau ada waktu aku akan bicarakan kepada ibu tentang orang tuanya yang meningga, mungkin kami akan datang menyusul nya, untuk melayat melayat ke kampungnya.
Huufftt
Apakah aku harus meneleponnya kembali akhirnya dengan pertimbangan yang panjang, menyampingkan rasa ego dan memaafkan segala kesalahannya. Kuputuskan untuk meneleponnya kembali. Tapi sialnya, Nomornya tidak aktif.
Hal itu membuatku semakin galau dan bingung. Aku bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Akram saat ini, orang tuanya meninggal dunia, aku pernah merasakannya juga di saat Ayah meninggal di rumah sakit dan aku tidak bisa melihatnya. Mungkin dia juga mengalami hal yang sama. ayahnya meninggal di kampung sedangkan dia masih di sini.
Tadi pagi dia mengatakan bahwa Ayahnya masih sakit. Tapi karena merasa bersalah kepadaku dia datang ke sini untuk menjelaskan semuanya serta minta maaf padaku. Jahat sekali aku jika tidak memaafkannya dan turut merasakan kesedihan yang dia rasakan saat ini aku pun semakin kalut. Ingin rasanya aku pergi ke warung tengah malam begini, untuk menyusulnya tapi apa betul dia masih di warung. Jangan-jangan dia sudah pulang, naik motor.
Huuufftt
__ADS_1
Ku tarik napas panjang, aku duduk kan bokongku di sisi ranjang dengan dengan hati yang gelisah. Aku jadi merasa bersalah pada Akram, kalau dia salah tak seharusnya aku bersikap dingin padanya, aku harus bisa memahami posisinya saat itu, di mana dia juga adalah korban dari mulutnya mas Evan yang tidak dijaga. Dia sakit hati kepada mas Evan, karena mas Evan menghinanya.
Mengingat ceritanya itu, bahwa dia digugat cerai istrinya, karena mereka menikah tak mempunyai keturunan, membuat hatiku ikut sedih mengingat ceritanya semua.
Aku Pandangi lagi ponselku, menimbang-nimbang Apakah aku harus menghubungi akram kembali. lama memikirkan itu dan meyakinkan hati membuang segala ego, aku pun kembali melakukan panggilan dan ternyata panggilan itu terhubung dengan perasaan yang gelisah, karena menunggu teleponku diangkat olehnya. Tetapi sudah panggilan ketiga dia tidak mengangkatnya. Mungkin dia sudah di perjalanan, makanya ia tak bisa mengangkat telepon dariku.
Aku tak mau putus asa, akhirnya aku mengirimkan chat padanya. Meminta alamat lengkapnya. Pesan terkirim, Tapi tidak dibaca. Berarti dia memang masih dalam perjalanan.
Aku yang tidak tenang akhirnya menghubungi mawar kulihat mawar masih aktif di tok tok. Ku ceritakan semuanya kepada mawar, mawar sangat terkejut mendengar ceritaku.
"Astaga Kak, kita harus pergi ke kampung Abang Akram0walau Abang Akram salah tapi dia tidak salah seutuhnya. Kak maafkan lah dia Kak?" ujar mawar memelas dalam sambungan video call itu ternyata Mawar sudah kompak dengan Akram.
"Besok kita harus melayat ke kampungnya Kak!"
"Iya, tapi kakak nggak tahu di mana alamatnya. Sia Akram pembohong itu." Jawabku ketus pada Mawar.
"Aku tahu Kak, aku tahu di mana alamatnya Bang Akram. Tadi dia cerita saat kakak pergi ke rumahnya Pak Armand, dia ceritakan semuanya mengenai kisahnya. kisah dia dengan mantan istrinya. BIbi juga ikut mendengarkan kisahnya."
Jelas mawar dengan dengan suara yang yang terdengar sedih. Mungkin ia ikut prihatin dengan kabar yang kuberikan. Di mana orang tuanya akan meninggal.
Setelah selesai bertelepon dengan mawar. Kubuka chat yang kukirim kepada Akram dan ternyata dia belum membacanya. Aku yang masih ada rasa gengsi kepadanya akhirnya kuputuskan untuk menghapus chat itu sebelum ia baca. esok siang aku dan Mawar. Rencananya akan pergi ke kampung nya Akra. Kami pergi setelah dagangan habis.
__ADS_1
TBC