
3 Hari kemudian
Hari ini aku keluar dari rumah sakit. Aku akan melanjutkan pengobatan dengan rawat jalan. Aku diperbolehkan pulang, karena kondisiku sudah banyak kemajuan. Aku sudah bisa duduk sendiri, walau ku harus bertumpu pada tubuhku sebelah kiri. Memang masih terasa sakit, nyut nyutan, perih dan nyeri diberkas operasi di bahu, tanganku. Serta jahitan di pahaku yang belum kering. Tapi, aku bisa menahankan rasa sakit itu, apabila sudah minum obat pereda nyeri.
Selama di rumah sakit. Mas Evan gak ada datang menjengukku. Gak mungkin dia gak tahu aku mengalami kecelakaan. Katanya dia tak mau bercerai, tapi lihatlah menjengukku pun ia tak mau. Ya sudahlah, ngapain lagi aku mikirin dia.
Ya Allah... Kenapa diri ini bodoh sekali. Masih kepikiran Mas Evan. Padahal hatiku sudah sangat sakit, lelah dengan semua kelakuannya.
Hufftt...
Ku tarik napas panjang, dan menghembuskan nya pelan. Rasanya dada ini sangat sesak, jika mengingat semua perlakuan mas Evan.
Sesampainya di rumah, nyatanya aku gak bisa istirahat. Tamu datang selih berganti. Yang membuatku sangat bersyukur masih banyak yang perduli padaku.
"Bu, ini uang sedekah dari orang yang menjenguk, ibu simpan untuk biaya keperluan kita." Ku sodorkan semua amplop yang diberikan saudara, teman padaku. Katanya tambah - tambah biaya pengobatanku.
"Simpan ajalah dulu. Ibu masih ada uang." Sahut ibu lemah. Ibu sedang membantuku berpakaian. Aku minta digantiin baju.
"Ibu saja yang simpan." Kembali menyodorkan banyaknya amplop yang ada di bawah tempat tidurku.
"Eemmm.. Iya lah." Ibu pun mulai mengeluarkan isi semua amplop. Menghitung uang yang terkumpul.
"Astaga, banyak juga Alda." Ujar ibu dengan tercengangnya. "Ada enam juta." Ujarnya lagi dengan mata membeliak saat menghitung uang itu. "Besok ibu konsultasi lagi ke dokter, mau beli obat China yang paten. Agar kamu cepat sembuh. Takut juga ibu ada penggumpalan darah di kepalamu saat jatuh." Ujar ibu menatapku lekat.
"Kan saat di rontgen kepalaku aman koq bu." Sahutku tersenyum tipis pada ibu. Ibu sangat mengkhawatirkan ku ternyata.
__ADS_1
"Iya sih, tapi ibu mau beli obat china untukmu. Nanti saat kontrol ke dokter ibu tanyain." Jelasnya lagi, beranjak dari atas ranjang dengan tangan memegang yang 6 juta itu.
"Iya terserah ibu deh. Tapi, menurutku gak usah beli obat China. Mahal, jutaan!" pungkasku menatap ibu yang kini juga menatapku.
"Iya, pokoknya ibu konsultasikan dulu ke dokter. Kalau katanya bagus, ibu akan beli." Ibu pun keluar dari kamar.
Aku membaringkan tubuhku dengan penuh kehati hatian. Aku harus cepat sembuh. Setelah ini semua, aku akan memulai hidup baru. Aku tak akan memikirkan Mas Evan lagi. Dan soal kehamilanku ini, tak akan ku beri tahu dia. Biarlah ini jadi rahasia. Soal statusku yang tak jelas biar saja. Toh di KK aku masih punya suami. Biarkan saja ia gantung aku. Karena aku juga gak punya niat lagi untuk menikah.
***
Ibu jadi sangat repot. Ibu harus mengurusku dan juga ayah yang sudah lumpuh. Aku jadi sangat kasihan pada ibu. Semua pekerjaan rumah ibu yang lakuin, ditambah harus mandikan ayah fan aku juga. Aku bisa sih mandi sendiri. Mengandalkan tangan kananku. Tapi, kurang bersih. Ibu tak mau itu, jadinya ia membantuku di saat mandi dan berpakaian. Aku jadi merasa seperti anak kecil lagi. Yang dimandikan dan dibajuin.
"Bu, baju yang warna ungu itu mana? itu yang longgar bu dan enak dipakai ?" tanyaku pada ibu, yang kini sedang membantuku memakai baju. Bahu dan tanganku belum bisa diangkat ke atas. Jadi aku hanya memakai baju yang ada kancingnya.
"Belum kering Alda, itu baju cuci kering. Tadi kelamaan dijemur. Makanya gak kering." Sahut ibu.
"Nanti siang ibu beli Bra yang gak perlu penyangga. Biar nen nen mu itu diam di tempat gak bergerak ke kanan dan ke kiri lagi." Ujar ibu mengulum senyum.
"Iihh.. ibu ini ada ada aja deh. Nen nen ku ini masih padat ya montok, masih runcing. Bukannya kendor." Jawabku tertawa tipis. "Kalau ibu iya, kalau gak pakai BH, nen nen nya patroli geol ke kiri geol ke kanan. Hahhahaa..." Sudah lama rasanya aku tak tertawa lepas, seperti saat sekarang ini. Sejak Mas Evan ketahuan selingkuh. Hidup rasanya hancur, putus asa. Karena selama ini aku terlalu yakin padanya, memasrahkan diriku bersandar di bahunya. Eehh.. Gak tahunya ia menjauhkan bahunya, dan aku pun terjungkal. Ya, aku sangat kehilangannya. Karena cintanya pad Mas Evan, aku sampai mau di madu.
"Ya sudah, ibu keluar dulu. Ibu dan Nak Akram mau belanja. Besok warung kita akan launching. Kamu kan sudah bisa jalan dan tangan kiri sudah bisa digunakan. Jadi, seumpama ibu sibuk di warung. Kamu sudah bisa urus diri sendiri." Ujar ibu lembut.
"Iya bu." Sahutku dengan kagumnya. Ibuku sosok ibu yang energik, cekatan dan rajin. Walau sudah berumur 55 tahun, tetap terlihat kuat.
Ibu keluar dari kamar. Aku pun bergegas mendekati jendela kamar. Aku ingin melihat ibu dan Akram berangkat ke pasar untuk belanja. Aku gal berani keluar. Malu, jika Akram nantinya tak sengaja melihat ke arah dadaku, yang gunung kembarnya tak ditutup oleh cup Bra.
__ADS_1
Ku tatap terus kepergian ibu fan Akram. Mereke terlihat kompak, sudah seperti ibu dan anak saja. Kalau dipikir pikir, ada saja untung dari setiap kejadian. Akram misalnya, disaat aku tak berguna seperti sekarang ini. Dia hadir seolah sebagai pengganti diriku untuk keluarga ku.
Aku kadang heran, koq dia mau mau nya, biayain semua pengobatan ku. Dan sekarang, malah jadi bagian dari keluarga kami. Benarkah ia, datang ke kota mau merantau? tapi, koq mau kerja di warung makan, yang belum tentu bisa sukses. Kenapa ia tak cari kerja di kantoran saja. Tampang nya sangat rupawan, kepribadian bagus. Dia pasti di terima kerja, jika melamar kerja di kantoran.
Aahhhkk... Ngapain juga aku mikirin dia. Yang penting aku dan ibu harus waspada. Jangan sempat tertipu olehnya nanti. Entahnya dia buronon dari kampungnya? DPO mungkin? seorang pencuri mungkin? karena bisa jadi, ia mau membayar semuanya. Agar kecelakaan itu tak dilapor ke polisi. Ya, kata ibu, kecelakaan yang ku alami tak ditangani polisi.
Mungkin dia penjahat yang sembunyi di rumah kami.
Tin
Tin
Tin
Lamunanku pun buyar, disaat mendengar suara klakson motor di halaman rumah. Ku tatap ke arah halaman. Tenyata ada Pak Armand, beserta putranya mengantarkan Raisya.
"Assalamualaikum.....! Mama... Mama.... Aku pulang...!" Ujar Raisya dengan suara kerasnya.
"Walaikum salam..!" Jawabku dari dalam kamar. Masih memegang besi jerjak jendela kamar. Memperhatikan Pak Armand dan anaknya yang kini turun dari motor, dan berjalan ke rumah.
Hadeuhhh..
Gimana ini? rasanya akan sangat memalukan sekali berjumpa dengan Pak Armand, dengan keadaan tak sempurna. Mana aku gak pakai Bra.
"Ma.. Mama... Ini Abang Reza dan bapak mau datang menjenguk Mama..!" teriak Raisya yabg sudah ada di ruang tamu. "Masuk Bapak, abang reza..!" Ujarnya yang ku dengar dengan jelas.
__ADS_1
Aku pun bingung dibuatnya. "Gimana nih?" Aku hilir mudik, lalu lalang di dalam kamar dengan menahan sakit di tangan dan pahaku yang sebenarnya tak bisa ku berjalan lama. Karena jahitannya belum kering.
"Ma..!" Raisya menggedor kamar. "Ada bapak Armand, abang reza juga. Buka pintu ma?!" Ujar Raisya dari balik pintu.