
Suasana hatiku bercampur aduk saat ini. Ada sedih, kecewa, juga bahagia. Aku merasa bahagia, karena aku dapat orderan banyak dari istri kepala sekolah, Bu Suci.
Tangan dan kaki bergerak lincah, memungut semua sampah sampah dari daganganku dan menyimpannya di kresek besar. Sampah sampah itu akan ku buang ke tempat sampah depan rumah. Yang sudah ada iuran 10 ribu per rumah tangga setiap bulannya.
Dengan tangan penuh tentengan, serta tas toteku yang ada tali panjangnya sudah terselempang di bahuku. Aku bergegas menuju parkiran, tempat motor beat bututku berada. Aku harus cepat sampai rumah. Karena akan belanja lagi ke pasar, untuk bahan daganganku besok.
Hufftt..
Begini rasanya memperjuangkan hidup, untuk keluarga. Semua harus disyukuri. Karena setiap usaha yang kulakukan tetap Allah beri rezeki.
"Alda, besok siang aku pesan Nasi ramas ya?!" ujar Bu Silvia rumah. Ia juga sedang di parkiran. Motornya ada di sebelah motorku.
"Boleh Bu, tapi besok siang kita ditraktir Muallim kepala loh." Ujarku tersenyum tipis.
"Benarkah? dalam rangka apa? rapat kolektif kan dua minggu lagi." Ujar Bu Silvia, heran dengan Ucapan ku barusan. Ya, di sekolah tempatku kerja, ada kegiatan rapat rutin setiap bulannya. Dan biasanya akan ada snack setiap diadakan rapat itu.
"Eemmm... Lihat besok aja Bu!" ujarku, dan langsung tancap gas, tangan kiri melambai dan melemparkan senyum manis pada Bu Silvia, yang masih bengong di atas motornya.
***
Pukul 15.30 Wib, aku sampai di rumah. Ternyata tak ada orang di rumah. Mungkin ibu mengajak Raisya ke rumah orang tuaku. Bergegas aku mandi, karena sebentar lagi akan dapat waktu sholat Ashar. Setelah sholat Ashar, aku akan ke pajak sore.
Saat menaiki motorku, ponsel yang ada di tas selempangku bergetar, dengan cepat ku rogoh tas ku itu. Aku penasaran sekali dengan siapa yang menelponku.
"Mas Evan..?" Dada berdebar hebat, mendapati telepon dari Mas Evan, sudah seminggu lebih, Mas Evan tak bisa di hubungi. Tadi sih, setelah Juli mengirimkan chat berisi kata kata kasar dan video me sum itu, aku mangirim chat pada Mas Evan, menuliskan kekecewaan ku padanya. Dan chat yang aku kirim hanya centang satu. Dan mungkin ini baru terkirim dan dibacanya.
"Kalau kamu gak tahan lagi, ya sudah kamu sana gugat cerai. Gak usah kamu ngeluh ngeluh di chat. Muak aku baca pesanmu!"
Deg
Saat panggilan suara itu ku terima. Mas Evan langsung marah marah padaku. Sehebat itu Juli mempengaruhi nya. Mas Evan yang dulunya baik, kini berubah jadi brutal dan tak tahu tanggung jawab.
__ADS_1
"Ya Allah Mas, tega Mas bicara seperti itu. Kalau gak ingat Raisya. Aku juga gak mau bertahan mas!" ujarku dengan terisak. Sakit sakali rasanya hati ini. Seperti digetuk palu besar. Hancur bersimbah darah.
"Sialan kamu!"
Tut
Panggilan pun terputus. Sempat sempatnya Mas Evan mengumpat padaku.
"Ya Allah...! kenapa kamu beri aku cobaan seberat ini?!!"
Aku hanya bisa melap air mataku yang menganak sungai membasahi pipi ini. Sepertinya aku tak tahan lagi, mungkin lebih baik aku gugat cerai Mas Evan. Biarlah uang ku habis untuk pengurus semuanya. Karena ku lihat Mas Evan, benar benar tak ingin memperbaiki rumah tangga kami yang di rusaknya ini.
Aku memacu motorku menuju pajak sore. Sepanjang perjalanan, air mata terus saja mengucur deras. Teringat janji janji manis Mas Evan, saat mengajakku melangkah ke pelaminan. Ia mengatakan akan membahagiakan aku, akan selalu mencintaiku dan menua bersama. Ternyata. di usia pernikahan lima tahun, pernikahan kami diuji.
Ya Allah... Haruskah aku menggugat cerai Mas Evan?
Asyik melamun, tanpa ku sadari. Motorku yang ku kenderai sudah melewati pajak sore. Aku akhirnya muter balik. Memarkirkan motorku, dan mulai belanja.
Ada perasaan tak bisa dijelaskan yang kurasakan saat ini. Ada perasaan senang, karena setelah seminggu Mas Evan akhirnya pulang. Dan ada perasaan jengkel, dongkol atas perbuatan mas Evan, yang mengkhianati pernikahan kami.
Kreek
Ku buka pintu rumah dengan memegangi dadaku yang bergemuruh hebat, jujur aku takut. Takut, terjadi percekcokan.
"Dari mana?"
Deg
Aku terkejut mendengar pertanyaan Mas Evan. Ku balik badanku, agar menghadap dia. Ya tadi, aku menutup pintu dengan hati hati. Ternyata Mas Evan baru selesai mandi. Masih terlihat bintik bintik air mengalir di leher menuju dada dan perutnya yang sixpack. Ya mas Evan, punya body yang bagus. Otot ototnya liat dan bersih. Selaras dengan wajahnya yang tampan
"Belanja Mas." Mas Evan, mengikuti pergerakan mata ku, ke arah belanjaan ku, yang teronggok di lantai.
__ADS_1
"Aku tunggu di kamar!"
Ujarnya lembut, mengulum senyum. Aku tahu maksud dari ucapannya itu. Apa si Juli belum memuaskannya, hingga mas Evan, dengan tidak tahu malunya, masih meminta dilayani di sore hari begini. Tadi, ditelepon ia marah marah, lah sekarang malah minta jatah.
Dengan perasaan dongkol, ku masuk ke kamar mandi. Mulai membersihkan badanku. Walau hati tak ikhlas, aku harus wangi dan bersih. Akan memberikannya kepuasan. Jikalau itulah yang dicari Mas Evan. Sehingga ia berselingkuh.
***
Pergumulan panas itu berakhir setelah tiga puluh menit. Mas Evan memujiku, katanya caraku bermain banyak peningkatan. Dan ia suka. Pujiannya itu sebenarnya membuatku Muak. Dia sepertinya Amnesia. Dari dulu juga, mainnya seperti itu itu saja. Apanya yang beda. Dia mungkin yang terobsesi dengan sensasi.
Huufftt
Ya Allah.... Berilah hidayah pada suamiku. Agar ia kembali jadi suami yang baik. Kalau memang ia ingin punya isteri dua, aku ikhlas ya Allah. Asal ia bisa bersikap adil. Kembali memberikan nafkah lahir dan bathin.
Ku usap mataku yang sembab. Begitu juga dengan wajahku yang terasa tegang. Dan kali ini kedua mataku tertarik ke tas kerja Mas Evan yang teronggok di atas meja kerjanya.
Aku membelitkan selimut di tubuh. Mulai turun dari ranjang. Kaki melangkah menuju meja kerja. Dengan debaran jantung yang tak berirama, ku periksa tas kerja mas Evan.
Deg
Jantung ku rasanya sudah lepas dari tempat nya. Karena aku sangat terkejut menemukan buku nikah Mas Evan dan Juli di dalam tas kerjanya. Hati ini Hancur, berkeping keping. Tubuh langsung lemas, tak berdaya. Sepertinya tak ada darah yang mengalir di tubuh ku. Koq bisa Mas Evan dan Juli membuat buku nikah. Sedangkan aku dan Mas Evan belum bercerai.
Ya Allah....
Ku pandangi buku nikah berwarna merah dan hijau itu dengan berlinang air mata. Kuusap dada yang berdenyut sakit bak diiris sembilu, mencoba berpikir positif, dari pada mereka berzina, mungkin lebih bagus mereka menikah.
Tapi, aku perlu penjelasan dari Mas Evan. Apa maksud dia sebenarnya. Tak mau menceraikan aku. Tapi, punya simpanan.
TBC
Novel ini sepi bak kuburan..! beri komentar positifnya say
__ADS_1