
Keesokan Harinya
Aku merasa tak semangat hari ini. Badan terasa pegal semua. Mata perih dan kantuk berat. Itu terjadi karena samalaman ini aku gak bisa tidur. Sepulang dari rumah sakit kemarin. Pak Armand malah menyusul ke rumah. Ia bicara dengan ibu, menceritakan pada ibu. Tentang keinginan istrinya, yang menginginkan aku jadi istrinya.
Tentu saja Ibu syok mendengarnya. Ibu hanya menjawab, semuanya diserahkan kepada Allah saja jika memang yang terbaik Aku berjodoh dengan Pak Armand. Ya, pasti itu akan terjadi.
Sepulang pak Armand dari rumah, setengah jam kemudian. Pak Raihan datang juga berkunjung ke rumah, di saat itu juga Pak Rahyan mengatakan niatnya untuk menjadikan aku istrinya, ibu sampai ngap ngap mendengar ucapan Pak Raihan itu. Baru juga Abang iparnya dari sini dan sekarang asik iparnya juga mau melamar putrinya, yaitu aku.
Haaah.....
Syukur Ibu nggak kena serangan jantung. Karena, Ibu kan punya penyakit tekanan darah tinggi. ketegangan tak sampai disitu. Setengah jam kemudian setelah kepulangan Pak Hakim Rayhan. Akram pun datang ke rumah. Tujuan dia datang sama dengan pria-pria sebelumnya yaitu untuk menjadikan aku istrinya.
Ketiga pria itu di jawab ibu dengan satu jawaban. Alda putriku, sedang dalam massa Iddah. Jadi, diharamkan untuk melamarnya, baik secara jelas atau sindiran. Kalau serius dengannya. Tanyakan kesiapannya setelah massa iddahnya habis.
Ibu memintaku untuk melakukan sholat Istikharoh Malam itu juga. Karena aku memang masih bingung. Apalagi, saat ini. Aku masih dalam mass Iddah. Setahuku, wanita yang masih dalam massa iddah, dilarang dilamar. Mau secara sindiran. Atau pun terang-terangan. Jadi, permintaan ketiga pria itu ibu tolak.
***
"Bang, abang semalam pergi ke mana?" tanya Mawar pada Akram mereka sedang menyimpan lauk pauk ke dalam steleng.
Akram melirik Mawar yang ada di sebelahnya. "Mengantarkan mantan istriku ke suaminya." Jawab Akram. Aku yang sedang duduk di kursi meja kasir. Menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Emangnya suaminya di mana?" tanya Mawar dengan bingungnya menatap Akram.
"Suaminya kabur, ke rumah orang tuanya." Jawab Akram santai.
" Hah kok bisa." Sahut Mawar.
"Nggak tahu," Akram mengangkat bahunya. "Bukan urusanku, ia cerita aja. Aku gak mau dengar." Jelas Akram, berlalu ke dapur.
Dert
Dert
Terima kasih ya dek Alda. Moga kamu sehat selalu.
Itulah isi chat dari Bu Suci. Aku nggak tahu, karena apa Bu Suci berterima kasih padaku. karena aku malas membahas semua permintaannya, ku balas saja chatnya cepat.
Sama-sama Bu Ibu juga cepat sembuh ya Semangat. ...!
Huufftt..
Rasanya stok oksigen di dadaku habis memikirkan tiga pria yang ingin jadi pendampingku Astaga ya Allah ini mujizat atau musibah. Satu pergi tiga yang datang dan ketika pilihan itu membuat bingung.
__ADS_1
Tiga pria ini punya Sisi kebaikan dan punya Sisi kelemahan yang buat aku susah untuk mengambil kaputusan. Jika aku menerima Akram, gara-gara dia aku cerai dengan mas Evan bisa dibilang seperti itu hal itu kadang membuatku kurang srek untuk menerima cintanya.
Pak hakin Raihan, Pak Hakim Raihan memang baik. Tapi, jika aku menerima dia. Bagaimana dengan Bu suci dan Pak Arman? Bu Suci, ingin Aku menikah dengan Pak Armand. Sedangkan Pak Armand itu abang iparnya Pak Hakim Rayhan.
Aduh... koq jadi begini ya Tuhan... Sungguh ketiga pria ini buat Dilema... Adakah pilihan ke empat Ya Allah..
Ku toyor sendiri kepalaku dengan tanganku. Aku merasa otakku sudah korslet. Koq minta kandidatnya tambah jadi empat.
"Kak, kak, kamu koq senyum-senyum seperti orang gila? mana kepalanya di toyor Sendiri Lagi.?" tanya mawar mendekati ku kemeja kasir.
Aku juga bingung, dengan diriku sendiri. "Masa sih? emangnya aku terlihat seperti orang gila?" tanyaku memastikan diriku sendiri. Memangnya aku sudah bertingkah seperti orang gila
"Iya tadi kakak seperti orang gila. Senyam senyum dari tadi saat lihat HP." Jawab Mawar.
"Ini, ada yang lucu di hape." Jawabku tersenyum tipis. Koq aku jadi baper ya, merasa paling cantik. Karena diinginkan tiga pria. Jujur, dengan hadirnya tiga pria ini dalam hidupku membuat hidupku sangat berwarna. Di saat mengingat Mas Evan. Hatiku tidak terasa sakit lagi.
Ohh.. Iya, Mas Evan dan si pelakor, apa kabarnya di penjara ya? ku dengar - dengar kabar, mereka ken hukuman lima tahun penjara.
Hadeuhh... Kasihan juga si Juli. Mana dia lagi hamil saat ini.
TBC
__ADS_1