
"Muallimah Alda..? apa anda baik baik saja?"
Hadeuhh..
Kenapa sih kepala sekolah kami ini, gak keluar saja dari ruangan ini. Kenapa malah banyak tanya?
Kuusap wajahku yang basah oleh air mata, merapikan rambut yang pasti acak acakan. Menstel wajah penuh senyuman. Dan berbalik menghadap Pak Armand, wajah menunduk karena malu untuk menunjukkan wajah sembab ini.
"Aku tadi dengar ada suara tangisan dari luar. Makanya aku masuk, untuk memastikan. Apakah di ruangan ini, benar ada Yang menangis?"
Pak Armand sepertinya tahu, aku yang menangis. Tapi, ia malah pura pura tak tahu. Apa kepala sekolah kami ini, ingin membuatku malu.
"Gak ada yang menangis Muallim." Jawabku cepat, masih menundukkan wajah, terserah mau dikatain sombong. Aku malu menatapnya. Aku sedang bad mood. Jadi, tak ada niat untuk basa basi lagi.
"Oouuww... Begitu? ngomong ngomong, nasi gurih masih ada Muallimah?"
Nada bicara Mualim Armand, begitu lembut. Aku pun akhirnya mengangkat wajahku, guna melihat ekspresi wajah pria yang bicara di hadapanku saat ini. Tak biasanya ia bicara lembut dan terlihat hati hati saat bicara.
"Masih Mualim." Jawabku çepat, kemudian Kembali menunduk, guna memutus tatapan Mata Kami Yang sempat bertemu.
Ngapain Juga, dia menatapku lekat, penuh selidik.
"Ooww... Pesan dua ya." ujarnya tersenyum tipis. Aku sempat melihat sudut bibirnya Yang tertarik saat aku meliriknya dengan ekor mataku.
"Ilya Muallim, tapi Sabar menunggu dulu. Nasi gurihnya ada masih di rumah." Jawabku sopan penuh kehati hatian.
"Ilya Muallimah, baiklah. Jangan menangis di tempat ini. Nanti rangka tubuh manusia itu bisa Bergerak."
"Apa..?" ujarku kini melotokan kedua mata pada Mualim Armand. Yang bergegas cepat dari hadapanku.
Astaga.. Berarti Mualim Armand, tahu aku ini yang menangis.
Ku berjalan ke arah wastafel. Setelah Muallim Armand menghilang dari pandanganku. Ku basuh wajah sembab ku ini, agar kembali segar. Dan tak lupa Touch up, agar wajahku kembali terlihat segar.
***
__ADS_1
Waktu istirahat pun tiba. Ruang guru sudah ramai. Kini saatnya guru guru isi perut, menambah tenaga untuk kembali beraktifitas. Orderan kue semakin banyak. Aku tinggal telepon Mama, dan nantinya orderan para guru akan di antar ayah. Sekalian nanti ayah akan menjemput Raisya ke sekolahnya.
Semua guru sudah mendapatkan pesanannya. Dan kini aku harus mengantar pesanan Muallim Armand ke ruangannya.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum... Muallim, ini nasi gurihnya." ujar ku sopan dari balik pintu ruang kerjanya.
"Walaikum salam.." Tak berapa lama terdengar suara seorang wanita menyahut salamku dari dalam. Wanita itu sudah pasti isterinya Muallim Armand, Bu Suci.
"Bu, ini aku antar pesanan Pak kepala." Kali ini, aku mamanggil Muallim Armand dengan pak kepala. Aku takut, Bu Suci kurang mengerti dengan sebutan yang kami gunakan sehari hari di sekolah. Dimana Guru pria, dipanggil dengan sebutan Muallim. Dan guru wanita Muallimah.
"Oowww.. Iya, kamu Bu Alda. Ayo masuk Bu Alda. Ada yang ingin ku sampaikan padamu." Istri Pak Armand, memberi kode tangannya. Agar aku masuk ke ruang kepala madrasah itu.
Pak Armand, baru 6 bulan ini jadi kepala sekolah di tempat ku kerja. Sebelum jadi kepala di tempat ku bekerja, beliau, hanya guru biasa di salah satu sekolah negeri. Dan ia kini bisa menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah kami. Mungkin karena ia pintar, atau karena ada koneksinya.
"Masakanmu enak banget loh Alda. Namamu Alda kan?" ujar Bu Suci ramah, menatapku lekat dengan bibir tersenyum tipis.
"Iya Bu, terima kasih." Sahutku tersipu malu, siapa sih, yang tak suka dipuji. Dapat orderan banyak hari ini, cukup bisa membuat suasana hatiku yang tadinya buruk kini membaik dan bersemangat.
"Iya, baru sekali coba, aku sudah ketagihan." Ujarnya dengan éksprési wajah berbinar binar. Tangannya terus saja mengusap perutnya yang membuncit. Ya, Bu Suci. Istri Muallim Armand, tengah hamil lima bulan. Ini anak kedua mereka. Anak partamanya Reza, yang satu sekolah dengan Raisya.
"Semalam, aku pesan sama pak Anhar. Ayahmu, di sekolahnya Raisya. Putrimu satu sekolah dengan putraku." Bu Suci orangnya humble, benar benar sangat baik dan ramah. Beruntung sekali Pak Armand punya istri ssp
"Iya Bu." Ya ayah semalam, saat mau jemput Raisya, bawa banyak bungkusan nasi gurih. Bahkan ayah bantuan aku jualan, menitipkan sebagian kue kue ke warung warung tempat ayah minum kopi.
"Masakanmu benar benar lezat, sehat higienis. Gak pakai MSG kan?" Aku menggelengkan kepalaku cepat.
"Pakai bu, tapi dikit." Sahutku tersenyum tipis. Bagaimana pun perlu diberi sedikit penyedap, agar cita rasa masakan lebih terasa. Tapi, takarannya sedikit. Jadi, aman untuk dimakan.
"Aku itu, kalau beli makanan yang banyak penyedapnya, kepalaku jadinya sakit, setelah makan, perut juga jadi begah. Beda sekali dengan Masakanmu, ku pikir bebas MSG.!" ujar Bu Suci dengan ekpresi wajah sedikit kecewa. Ia pikir, makanan yang ku jual gak pakai penyedap.
__ADS_1
"Iya Bu, kita makan untuk sehat. Bukan makan cari penyakit. Memang bukan muji, masakanku enak, karena bumbu takaannya pas. Soal penyedap, memang ada. Tapi, dikit bu." Jelasku lagi aku tak mau berbohong.
"Ohh iya deh. Kalau besok, aku pesan nasi gurih 80 porsi bisa gak Alda?"
Syur
Seketika angin surga terasa menerpa wajahku. Sejuk buat hati senang, karena dapat orderan banyak. "Bisa, bisa dong bu!" Jawabku dengan sangat antusias. Tahu gini laris jualan. Kenapa gak dari dulu aja aku jualan makanan.
"Ini uangnya.!" Bu Suci menyodorkan uang pecahan 100 ribu satu ikat. "Ini panjar, aku inginnya nasi gurih nya ditambahi pergedelnya besar besar." ujar wanita itu lembut.
"Oohh iya Bu, bisa. Bisa bu." Sahutku cepat dan sangat antusias. "Jadi besok jam berapa pesanan ibu di antar?" tanyaku masih menatap lekat istri kepala madrasah kami ini.
Bu Suci terlihat celingak celinguk, seperti sedang mawas diri. "Besok kan suamiku ulang tahun."
"Pak Armand Bu?" tanyaku cepat.
"Ya ialah, memangnya aku ini punya selingkuhan apa? ya suamiku, kepala sekolah kalian."
Hehehe.
Aku tertawa menutupi rasa maluku, karena melontarkan pertanyaan bodoh, menanyakan siapa suami Bu Suci.
"Suamiku itu tak suka dengan perayaan perayaan ulang tahun. Jadi, besok aku mau kasih surprise."/Ujar Bu Suci dengan antusias nya.
Aku baru tahu kalau besok ultahnya Pak Armand. Maklum lah buat kami guru guru, sosok Pak Armand, tak terlalu penting. Karena sikapnya yang keras pada bawahan. Padahal ia masih muda.
" Eemm.. Apa itu nanti gak jadi masalah bu? secara pak Armand kan gak suka ulang tahunnya dirayakan." Ucapku penuh kehati hatian memberikan ide.
"Gak itu, mana mungkin dia marah malah di depan kalian."
Preet..
Gak tahu saja Bu Suci, gimana killernya suaminya itu jadi pemimpin.
TBC
__ADS_1