KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Hilang kendali


__ADS_3

Pak Armand masih ada di ruangan ini. Ia sedang menghubungi istrinya. Bukan niat menguping, tapi percakapan Pak Armand dengan istrinya terdengar jelas.


"Mau ke sini, ya sudah. Cepat ya, aku juga mau ke sekolah lagi."


Itu inti pembicaraan Pak Armand dengan Bu Suci istrinya. Ya Tuhan, Pak Armand dan istrinya koq baik banget pada keluarga kami. Apa benar benar pure, karena ayah pernah menolong Pak Armand dan keluarganya dulu?


Setelah selesai menelpon istrinya. Pak Armand menoleh ke arahku. Dengan cepat ku pejamkan mataku, berpura pura untuk tidur. Ya memang suster memintaku tadi untuk istirahat.


Entah kenapa aku merasa sangat malu pada Pak Armand. Aku pernah berprasangka buruk padanya. Menilainya dengan buruk, benci dan kesal, karena kepemimpinannnya di sekolah terbilang otoriter. Bahkan jarang senyum.


"Assalamualaikum Muallimah Silvi..!"


Ku picingkan lagi mataku sebelah kiri, guna melihat ekspresi Pak Armand yang kini ternyata menelpon Bu Silvi. Bu Silvi, adalah guru yang rumahnya dekat dengan rumahku.


"Iya Muallimah, sekarang Muallimah pergi dulu ke rumah Muallimah Alda. Bilang sama keluarganya di rumah, jika Muallimah Alda masuk rumah sakit."


Pak Armand terlihat tak tenang saat bicara di telp. Ia terdiam sejenak, mungkin Muallimah silvi menyahuti ucapannya.


"Di rumah sakit umum X, di ruang mawar no 3. Iya ,iya Muallimah. Kalau Muallimah gak ada jam mengajar lagi, datang saja ke rumah sakit."


Aku semakin terharu mendengar ucapan Pak Armand, ternyata jiwa sosialnya sangat tinggi. Beliau juga dermawan. Sungguh Bu Suci sangat beruntung punya suami seperti Pak Armand.


Tes


Tanpa permisi, air mata ini mengucur deras membasahi pipiku. Hidupku sudah sangat hancur. Aku hanya bisa meratapinya sekarang. Jujur aku jadi iri pada orang yang punya pasangan baik, setia dan perhatian.


Eemmmm...


"Muallimah Alda, apa ada yang terasa sakit atau tak nyaman?"


Pertanyaan Pak Armand membuyarkan lamunanku. Dengan cepat ku seka air mataku dengan tangan yang baru dioperasi. Karena ku gerakkan dengan cepat, sehingga terasa sakit. Ya, tanganku sudah tidak di gips lagi. Tapi, masih terasa sakit dan Nyut nyutan saat digerakkan.

__ADS_1


"HIiisshh...!" mulut ini mengeluh meringis kesakitan.


Pak Armand, terlihat tak tega. Dia seperti ingin menyeka air mataku dengan tisu yang ada di atas napas, karena memang ia sudah meraih tisu itu. Tapi, ia tak melakukannya.


"Aku keluar sebentar, panggilkan suster." Ujarnya lembut dengan mimik wajah penuh rasa ibah itu. Pak Armand bergegas keluar kamar.


"Ya Tuhan..... Kenapa tak kau ambil saja nyawaku.?!" ujarku dengan sesenggukan. Aku merasa tak sanggup lagi memikul derita ini. Ibu masuk rumah sakit. Aku juga baru saja keguguran. Mungkin dua minggu ini, aku tak akan bisa beraktivitas. Padahal rencananya besok, aku dan Akram akan membuka warung makan. Karena rencana buka warung makan, sudah tertunda dua minggu diakibatkan ayah meninggal.


Kalau aku gal segera bekerja, kami dapat duit dari mana? tabungan sudah habis terkuras. Perhiasan ku juga sudah dijual. Tinggal harta yang ada hanya mobil angkutan umum, serta rumah orang tua. Tak mungkin itu dijual untuk biaya hidup kami. Kalau itu ku lakukan, aku ini benat benar anak tak berguna.


Hua..


Hua..


Hua..


Memikirkan itu semua membuat dada ini sesak, sakit dan perih. Ku kencangkan Tangisku sepuas puasnya. Karena memang aku tak bisa menahan lagi penderitaan yang tiada akhirnya ini.


Ceklek..


"Bu, ibu kenapa?" Suster yang ada di ambang pintu, bergegas menghampiriku yang kini sudah seperti orang kesurupan. Ya, aku hilang kendali.


"Tenang bu, tenang!" Suster mengusap dadaku lembut, menatapku dengan sendu. Sepertinya suster ini punya hati yang baik. Ia terlihat tulus menenangkanku. Aku pun akhirnya merasa sedikit tenang. Karena tatapan tulus suster itu, sukses mensugestiku.


"Sabar ya bu, kami bisa merasakan kegundahan hati ibu, karena kehilangan janin ibu. Tapi, mau gimana lagi bu. Jalannya sudah seperti itu, ibu ratapi pun tak ada gunanya lagi bu. Yang ada ibu jadinya drop. Ibu harus kuat dan tegar. Semuanya pasti berlalu." Suster itu mengelus lembut tanganku. Aku menatapnya lekat, mencari semangat hidup dari tatapan matanya yang tulus.


Aku merasa diriku aneh. Aku tak bisa mengendalikan perasaan ini. Aku sepertinya putus asa.


"Merelakan segala yang hilang dan pergi. Berarti membuka pintu bagi yang lebih baik dan baru. Dunia ialah aliran ujian, jangan henti memaknainya bu." Ujarnya lagi lembut, masih berusaha menenangkanku. Dan tatapan ku, masih terhenti di suster itu.


"Dalam menjalani kehidupan, ada masanya manusia mengalami ritme pasang surut. Terkadang merasa bahagia, penuh syukur, dan positif, namun ada kalanya juga merasa terpuruk, galau, dan merasa malas-malasan. Terutama jika sedang menghadapi masalah yang berat. Ya seperti yang ibu alami saat ini. Ketika keadaan sulit itu datang, Kita harus mencari dukungan moral." Kini suster itu menoleh ke sebelahnya. Aku pun mengikuti gerak mata indah jernih suster itu. Ternyata ada Pak Armand.

__ADS_1


Aku saking setresnya, saking frustasinya. Tak memperdulikan lagi sekitar. Ternyata Pak Armand sampai insecure, melihat ku yang kehilangan kendali itu. Mungkin ia tak menyangka, kalau aku ini bisa gila juga. Karena memang sejatinya, aku ini orangnya lembut dan tak bisa marah. Bukan memuji, di sekolah aku ini guru favorit.


Kata anak anak aku cantik, baik, pintar. Intinya sempurna dimata mereka. Tak ada sifat ku yang mereka tak sukai. Disaat aku tegas pun masih terkesan lembut.


"Pak, beri pengertian pada ibunya." Ujar suster ramah pada Pak Armand, yang tidak protes pada suster disaat suster mengatakan aku ini adalah istrinya.


Puas bicara pada Pak Armand. Kini suster yang penuh pengertian dan baik hati itu menoleh kepadaku.


"Makanya ibu cepat sembuh, nantikan bisa cetak anak lagi. Hehehehe..!"


Kedua suster itu tertawa renyah. Sedangkan aku merasa guyonan itu, tak lucu sama sekali. Mau cetak anak sama siapa? suami saja gak punya. Lagian, aku gak mau lagi berhubungan dengan nama nya pria. Sudah cukup ku menderita karena cinta. Aku tak butuh lagi cinta itu.


"Ibu, semangat dong! banyak berdoa ya?"


"Iya sus." Jawabku lemah, aku sudah merasa sedikit legah.


"Baiklah, obat pereda nyeri sudah kami masukkan ke infusnya ibu. Sebaiknya ibu istirahat." Mengelus lembut tanganku.


"Iya sus." Makasih jawabku, masih dengan wajah tegang. Aku tak bisa menarik sudut bibirku untuk tersenyum, membalas senyum ramah kedua suster itu. Karena memang hatiku sedang tak baik saat ini.


"Baiklah bu, pak, kami pamit. Kalau ada perlu, jangan sungkan panggil kami."


"Iya bu." Jawab Pak Armand.


Kedua suster itu bergegas keluar. Pak Armand menatapku lekat.


"Muallimah Alda, sebaiknya istirahat." Ujarnya lembut, mukanya terlihat sangat sendu.


"Iya Muallim." Sahutku lemah, kemudian memaligkan wajah ke arah jendela. Pak Armand pun menjauh dariku. Ia duduk di sofa.


TBC

__ADS_1


__ADS_2