
Seminggu kemudian
Ayah akhirnya diperbolehkan pulang, setelah seminggu dirawat di ruang intensif ( ICU Paska Bedah ) aku baru tahu, Pasien yang baru di operasi dijaga ketat oleh pihak medis. Karena memang pasien bedah jantung membutuhkan pengawasan lebih. Ayah akan menjalani proses pemulihan berikutnya dengan rawat jalan.
Sejak aku memberikan uang untuk operasi mata Mas Evan. Aku tak pernah lagi datang menjenguk nya. Pakaian nya yang ku cuci dan ku bawa pulang. Terus ku kemas dengan pakaian nya yang masih ada di rumah, rencananya, aku akan mengembalikan pakaian nya itu.
"Ngapain kamu repot repot packing barang barang nya Nak. Kalau ia masih mau pakaiannya itu, pasti datang ke sini nanti jemput barang barang nya." Ujar ibu, yang kini duduk di kursi meja kerja dekat ranjang.
"Ya gak apa apa bu. Biar lemarinya rapi." Sahutku, masih sibuk membereskan pakaian Mas Evan. "Di lemari ini, aku mau simpan sebagian pakaian Raisya. Mulai malam ini, Raisya tidur se kamar denganku Bu." Ujarku sendu, Sungguh masih sangat berat rasanya untuk berpisah dengan Mas Evan.
"Jadi Kapan kamu akan daftarkan gugatan cerai pada Evan?" Ujar ibu penuh selidik. Kulirik ibu sekilas, dan kemudian fokus menyusun baju Mas Evan ke tas besar.
"Tunggu ayah sehat bu." Jawabku lemah. Jujur, Sebenarnya aku merasa malas sekali mengurusnya. Biarlah aku digantung. Toh, tak ada niat berumah tangga lagi.
"Iya, jangan lama lama. Status kamu harus jelas
Ibu juga pusing dengar ocehan para tetangga."
"Iya bu." Jawabku masih dengan tidak semangat. Kalau soal gosip. Paling lama bertahan dua minggu, habis itu pasti timbul gosip baru.
"Siapa tahu, setelah kamu cerai. Kamu dapat pria yang baik."
"Gak bu, aku gak mau nikah lagi. Biarlah aku sendiri, aku fokus besar kan dan didik Raisya. Sangat sulit dapatkan pria yang baik bu, Apalagi aku sekarang ini paket lengkap. Aku tak mau karena keegoisanku, nanti nya Raisya menderita." Ujarku lirih, hatiku sangat sakit mengatakan itu.
"Sayang, kamu jangan putus asa gitu." Ujar Ibu sedih.
Huuffttt
__ADS_1
"Sudah lah Bu, aku gak mau bahas beginian. Mending kita fokus jaga kesehatan ayah. Cari uang yang banyak, agar gak direndahkan orang lain. Aku ada rencana, mau berhenti engejar dan fokus buka usaha rumah makan saja." Ujarku menatap lekat ibu. Ku lihat ibu cukup terkejut dengan ucapan ku.
"Jadi guru, cita citamu sejak kecil nak. Masak kamu gak mau ngajar lagi?" tanya ibu dengan bingungnya.
"Aku mau ngajar lagi koq bu. Nanti kalau ada lowongan PNS, aku akan ikut tes, semoga menang. Kalau andalkan pemasukan dari guru honor, bisa bisa kita gak makan bu. Apalagi kepala sekolah kami ketat. Seminggu ful harus di sekolah, walau gak ada jam kerja. Susah cari uang tambahan. Ayah sudah sakit, kalau aku ngajar, gak ada lagi yang antarkan daganganku."
Ku simpan tas besar berisi barang mas Evan ke pojokan. Kalau dia datang, tasnya tinggal di lempar saja.
Hufftt
Ku duduk kan bokongku di tepi ranjang dekat ibu duduk sekarang. Ku raih tangan ibu yang sudah keriput, menggenggam nya lembut.
"Maaf ya bu, belum bisa bahagia kan ibu." Ujarku menempelkan tangan ibu di pipiku. Merasa kan kulit tangan ibu yang keriput itu di pipiku.
Ku rasakan tangan ibu membelai kepalaku. "Moga kamu bahagia ya nak, ibu akan selalu berdoa untuk kesuksesanmu." Ujar ibu dengan mata yang berkaca kaca.
"Iya nak, aminn..!" Sahut ibu sesenggukan.
Aku merasa sedikit lega, karena sudah menyampaikan keinginanku pada ibu, terkait ingin buka usaha warung makan dan ibu ternyata mendukungnya.
***
Keesokan hari nya.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Assalamualaikum....!" ujarku dengan perasaan yang tak tenang. Aku sedang berdiri di depan pintu ruangan Pak Armand.
"Assalamualaikum...!" tak kunjung dapat jawaban,, ku ulang i lagi salam kedua.
"Walaikum salam..!" Pak Armand, akhirnya menjawab salamku. "Masuk..!" Ujarnya lagi.
Huuffftt
Ku menghela napas dalam, sebelum tanganku menekan handle pintu ruangan Pak Armand. Aku sedang tegang. Karena Sebenarnya berhenti mengajar bukanlah keinginan hatiku yang sesungguhnya, ini terpaksa. Keadaan yang membuat nya.
Ceklek
Nampak lah sosok pria tampan itu, sedang mengeringkan tangannya dengan tisu.
"Muallimah Alda, ayo masuk!" Ujarnya ramah, senyum tipis tercipta manis di wajah tampan itu.
"Iya pak, terima kasih." Sahutku enggan. Aku langsung menyodorkan surat pengunduran diriku, ku letakkan di atas meja di hadapan nya.
"Apa ini Muallimah?" tanyanya menatapku lekat. Perlahan tangannya menjulur, meraih amplop putih itu.
"Surat pengunduran diri Muallim." Jawabku sopan dengan ekspresi datar.
"Pengunduran diri? kamu mau berhenti kerja?" tanyanya dengan tak percayanya.
"Ia Muallim." Jawabku cepat dan menunduk, aku tak mau bersitatap dengan pak Armand.
__ADS_1
TBC