KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Mantan istri


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Akhirnya aku bisa mendapatkan akte cerai juga, mudahnya aku dalam mengurus perceraian ini semuanya berkat bantuan Pak Raihan. Dan baru kutahu bahwa Pak Hakim Rayhan ternyata menaruh hati padaku. Jelas aku terkejut dengan penuturannya itu. Ku pikir ia baik, karena kakaknya Bu Suci. Secara, Bu Suci ingin aku menikah dengan Pak Armand. Ternyata Pak Hakim Rayhan tak tahu, kalau kakaknya Bu Suci, ingin aku jadi istrinya Pak Armand. Kenapa banyak pria-pria yang baik baik mendekatiku, sedangkan mas Evan malah mengkhianatiku.


"Maaf ya Pak Hakim Rayhan. Aku, aku tak bisa menikah dengan Bapak." Ujarku sungkan, kami sedang berada di sebuah restauran mewah, yang dekat dengan pengadilan agama.


Ekspresi wajah Pak Rayhan mendadak mendung. Tapi, memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "Gak harus kamu jawab sekarang. Kamu bisa pikiran selama kamu jalani massa Iddahmu." Ujarnya sendu, aku jadi kasihan melihat ekspresi Pak Rayhan yang baik hati ini.


Sebenarnya aku sreg pada Pak Rayhan. Dia sangat sempurna sebagai pria untuk dijadikan pasangan. Tapi, tak semua yang kita suka atau sreg di hati, kita jadikan pasangan. Perlu pertimbangan untuk itu. Karena aku antara kami sangat banyak perbedaan. Mulai dari status hingga usia. Yang aku sedikit herannya. Koq ia mau menjadikan aku istrinya. Janda anak satu, walau ia sebenarnya Duda juga tanpa anak. Ia bisa dapatkan wanita yang masih gadis. Ia kan kaya, tampang, pekerjaan bagus. Masak suka denganku. Mas Evan saja selingkuh.


"Kamu terkejut ya? heran pastinya. Tapi, mau gimana lagi, aku memang suka samamu Alda. Saat kakak ceritakan tentang kamu. Terus ia tunjukkan fotomu. Ada sesuatu yang menarik didirimu. Yang membuat aku terjebak di medan Magnetnya kamu."


"Haahh... Iihh.. Bapak ini pandai ngegombal. Stop pak, semua pria itu sama. Sebelum dapat, ia merasa tertantang sekali untuk dapatinnya. Nanti juga sudah dapat ditinggalkan." Ujarku nyengir, merasa lucu dengan kelakuan Pak Rayhan.


"Gak, Gak Alda. Bisa ku buktikan nanti disaat kita menikah. Kalau kamu gak yakin, sebelum kita menikah. Kita buat perjanjian. Kalau aku khianati kamu, semua hartaku akan jadi milikmu!" ujarnya tegas.


Hadeuhhh...


Gimana sih ini Pak Rayhan, Gak mungkin kan aku terima dia. Secara Bu Suci sudah minta aku jadi madunya.


"Pak, nanti juga bapak akan tahu. Apa alasanku tak mau jadi istri bapak. Selain aku ini memang tak cocok untuk bapak. Ada alasan yang lebih penting lagi." Ujarku sambil menarik napas panjang. Rasanya suasana saat ini sangat tegang.


Haruskah aku bangga pada diriku? kenapa banyak pria, pada ingin aku jadi istrinya. Aku saja, masih ingin sendiri.


"Kamu itu cocok untukku. Aku cari istri seperti kamu. Yang sabar, lemah lembut, cantik, sopan, dan pandai memasak. Kamu wanita sempurna." Ujarnya dengan penuh keyakinan.


Hihihi...


Aku tak bisa untuk tidak tertawa


"Kalau aku sempurna pak. Suamiku, akan tetapi setia padaku!" Ujarku tertawa garing.


"Ya di mata mantan suamimu, kamu Gak sempurna. Tapi, kalau di mataku, kamu itu wanita sempurna. Wanita seperti kamu yang ku idam-idamkan selama ini." Ujarnya dengan penuh keyakinan. Sorot matanya terlihat sangat tulus.


"Pak, kita Gak cocok pak. Bapak itu dari keluarga terpandang. Aku ini janda komplit dengan anak. Aku gak mau buat diriku ribet, dengan cari muka untuk memasukkan diriku dan anakku agar di terima keluarga besar bapak." Jelasku dengan muka penuh keputusasaan, Ku harap Pak Rayhan mengerti dengan bahasa tubuhku, yang merasa kaberatan dengan tawarannya


Prok


Prok


Prok

__ADS_1


"Aku salut pada mau Alda. Kamu memang wanita hebat. disaat para wanita mengejar-ngejar ku melakukan segala cara agar bisa jadi istriku lah kamu menolak permintaanku. sungguh-sungguh kamu wanita hebat, nggak tahu aku harus bilang apa lagi, aku masih berharap setelah masa iddahmu habis. Hatimu terbuka dan mau menerima aku." Ucap penuh harap.


Hhuuffttt


Pertemuanku dengan Pak Raihan kali ini sungguh menegangkan dan mendbarkan. Aku yang masih trauma sangat takut untuk menerima tawaran jadi istrinya, ditambah aku merasa tidak pantas untuknya. Mereka keluarga terpandang sedangkan aku keluarga dari orang miskin yang tidak punya orang tua lagi. aku tak mau di pernikahan keduaku masalah-masalah tentang perbedaan muncul nantinya. Apalagi ibu Suci kakaknya Raihan Pernah menawarkan aku jadi madunya. Seandainya Bu Suci tidak Pernah memintaku untuk jadi istri kedua Pak Arman, Mungkin ajakan nikah Pak Hakim Rayhan bisa aku pertimbangkan karena dia memang pria baik.


***


Pukul 02.00 siang aku baru tiba di warung, seperti biasa Akram sudah masuk kerja warung pun ramai, empat pelayan tidak cukup untuk melayani para pembeli yang datang. kalau seperti ini terus aku perlu memperbesar warung ini.


Saat aku mendudukkan bokongku di kursi meja kasir, mataku tertarik untuk melihat ke arah meja yang berada paling sudut. Di Sana tengah duduk seorang wanita cantik dengan rambut panjang sepinggang. Aku penasaran dengan wanita itu. Karena di kursi kosong sebelahnya teronggok tas minggat.


Ku bangkit dari dudukku bertanya pada mawar yang sedang membungkus nasi.


" Siapa wanita di pojok sana mawar, apa dia pembeli kita?" tanya ku menoleh ke arah pojok tempat wanita itu berada.


Mawar yang mengikuti pergerakan arah mataku, kini kembali fokus membungkus nasi, dengan wajahnya didekatkannya ke kupingku.


"Itu mantan istrinya Abang Akram datang dari kampung di susulnya Abang Akram ke sini." bisik mawar pelan, aku menatap Mawar dengan heran. Merasa tak yakin, dengan ucapan Mawar. kemudian menoleh ke arah wanita itu.


Mantan Akram.? aku membatin ku seret kakiku lagi menuju meja kasir, karena ada pembeli yang akan membayar makanannya. Sesekali ku lirik Wanita itu yang kini tengah sibuk dengan ponselnya. Dan sesekali ia terlihat memperhatikan Akram yang sedang bekerja. ada niat untuk menegur wanita itu, tapi aku takut salah sikap nantinya. Lalu dia menjawabnya ketus, dan aku tersinggung, kan buat penyakit hati.


Tapi setelah ku berpikir, aku putuskan untuk menghampirinya. Aku tak boleh sombong. Ada tamu datang ke rumah kita, ya harus diperlakukan dengan ramah. Ku berjalan ke arahnya dengan senyum ramah. Dia melihatku dan tersenyum tipis padaku.


Ia menyambut uluran tanganku ramah. Kami berjabat tangan. "Aku ini mantan istrinya Abang Akram." Sahutnya canggung, tapi ia tutupi rasa canggungnya itu dengan senyum tipisnya.


"Oouuww... Salam kenal. Namaku Alda." Ujarku ramah. Aku memperhatikan penampilannya yang sangat modis. Dress di atas lutut melekat di tubuh langsingnya. Ia juga mengenakan sepatu high heels. cantik, cocok dengan Akram..


"Aku Sisil kakak." Sahutnya sopan.


"Baiklah, aku kembali kerja ya?!" Ujarku tersenyum tipis. Ia hanya mengangguk menanggapi ucapanku.


Aku pun berbalik badan, dan saat itu aku dikejutkan dengan Guru guru tempat Ku kerja, bergerombol masuk ke dalam warungku.


"Alda..... Apa kabarmu..?" Bu rose, menghampiriku ia memelukku erat. "Kangen tahu...!" ujarnya memelukku dengan hebohnya. Kami sampai mau terjatuh.


"Dari mana kalian Bu Rose?" tanyaku heran, ini masih pukul 14.36 wib. Belum saatnya, guru-guru pulang. Karena mereka pulang pukuk 15.00 sore baru boleh pulang, ini mereka masih pukul 14.35. Koq Mereka ada di luar.


"Kami baru pulang dari rumah sakit." ujar Bu Ros. ia menghampiri kawan-kawan yang sudah mengambil tempat duduk. Mawar sudah mulai melayani para guru-guru dengan ramahnya, yang dibantu oleh Akram dan juga faidah.


"Siapa yang sakit Bu?" aku pun ikut membantu mawar melayani teman-teman kerjaku, yang kini para guru Saling pandang, kemudian menatap ke arahku.

__ADS_1


"Istrinya pak Arman masuk rumah sakit." Ujar Bu Silvia.


" Kapan Bu?" tanyaku heran.


"Katanya semalam, tapi kami dapat kabarnya tadi pagi dari pak Arman. Jadi, siapa yang nggak ada lesnya boleh menjenguk ke rumah sakit." jelas Bu Ros mulai mengambil lauk untuknya. Di atas meja semua lauk sudah terhidang, terserah guru-guru mau makan apa, pokoknya aku mau servis mereka hari ini sepuasnya. karena mereka selama ini juga sangat baik padaku.


Guru-guru mulai makan dengan hebohnya, maklumlah kalau ketemu perempuan sama perempuan banyak sekali yang mau dibahas jadi, kali ini mereka membahas topik, apabila istrinya pak Arman meninggal tentu pak Arman akan menikah lagi dan mereka pun membuat Pak Armand sebagai bahan bercandaan.


" Bu Silvi cocok itu untuk jadi istri kedua Pak Arman " Ujar Bu Henni.


Haahaha.


Mereka tertawa, menertawakan kekonyolan mereka. Mana mungkin Bu Silvi jadi istrinya Pak Arman. Karena mereka semua kan masih punya suami.


"Jangan aku lah woi. Mau ku kemanakan suami gantengku dan romantisku yang ada di rumah." ujar Bu Silvi tertawa garing.


"kalau Si Alda gimana? si Alda saja kita jodohin sama Pak Arman. Kalian setuju gak?"


"Setuju dong...!"


Uhuk..


Uhuk..


Uhukk..


Bu Silvi yang paling semangat keselek. Ia dengan


cepat minum setelah terbatuk-batuk mukanya kini memerah sudah, dan hidungnya mengeluarkan air, mungkin ada makanan yang masuk ke rongga hidungnya.


"Kualat kalian, istrinya pak Arman masih hidup. Kalian sudah mau cari istri pengganti untuknya." Ujar Bu Heni menampilkan ekspresi wajah kesal, tapi sebenarnya dia merasa lucu dengan apa yang mereka bahas saat ini.


"Jangan bawa-bawa aku lah woi, aku kan nggak kerja lagi sama kalian." ujarku tertawa kecil. Aku teringat dengan permintaan Bu Suci padaku. Seandainya kawan-kawan ini semua tahu bahwa Bu suci, pernah memintaku untuk jadi istri kedua Pak Armand. Mungkin aku sajalah yang akan mereka gosipin di sekolah.


Pembeli sudah mulai sepi, kulihat Akram mengajak Mantan istrinya itu pergi dengan naik motor. Sejak mantan istrinya di warung ini. Akram terlihat tegang, dia tak pernah bersenda gurau lagi dengan pembeli, mukanya juga kecut masam.


Apa istri nya ingin rujuk lagi ya? hadeuhhh... Ngapain ku pikirkan. Baguslah, kalau Akram dan mantan istrinya rujuk lagi. Jadi dia tidak akan menggangguku lagi mengajak ngajak aku menikah. buatku saat ini menikah bukanlah prioritas utama menjadi prioritas utama buatku adalah sekarang kerja, cari uang, cari uang, cari uang! kerja... kerja....


"Hei kak, Kenapa melamun? kuperhatikan, dari tadi kak lihatin kepergian Abang Akram dan mantan istrinya itu." Ujar mawar meledekku.


Aku hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan mawar itu. kemudian kembali melayani para guru-guru yang meminta minum dengan air hangat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2