
"Bu Sudah, aku sudah kenyang." Ujarku menolak suapan ke empat dari ibu. Rasanya kerongkongan sangat sakit, saat menelan.
"Sekali suap lagi ya nak?!" pinta ibu, tanganmya yang memegang sendok tetap disodorkan ke mulutku. Mau tak mau aku pun harus menelan makanan yang lunak itu. Selesai makan, aku harus minum obat.
"Apa Evan tahu kamu hamil?" tanya ibu penuh selidik. Tangan ibu masih memegang plastik berisi obat untukku.
"Gak ma." Sahutku lemah, kemudian menelan satu persatu obat yang diberikan ibu. Aku yang tak bisa duduk, merasa kesusahan saat menelan obat.
"Kenapa kamu gak hati hati, sudah mau cerai, kamu malah hamil. Kalau begini ceritanya kamu gak bisa cerai dari Evan." Ujar ibu, sepertinya belum puas menumpahkan kekesalan di hatinya. Atas hal yang terjadi di luar perkiraan.
"Sudahlah Bu, tak usah dibuat pusing. Aku ikhlas menerima takdir ini." Ujarku meringis kesakitan. Kenapa ibu jadi cerewet dan terlihat bar bar. Apa karena banyaknya masalah yang datang ibu jadi tak tenang.
"Jangan pernah kamu jumpai dia lagi." Ujar ibu, menyimpan obatku di laci nakas.
Ceklek
Belum ku jawab ucapan Ibu, pria yang ku tabrak, terlihat masuk dengan ekspresi wajahnya menunjukkan rasa sungkan yang teramat jelas. Ia menghampiri Ibu, menyodorkan kantongan plastik warna putih yang bisa ku tebak isinya buah buahan
"Ini bu, di depan hanya ada buah jeruk dan apel saja." Ujarnya tersenyum tipis pada pada ibu.
"Oohh iya, terima kasih." Sahut ibu dengan bingungnya.
Pria itu pun kini duduk di atas tikar yang digelar di lantai. Ia mengeluarkan isi dari plastik kresek yang ia tenteng tadi. Dengan menahan sakit yang amat di sekujur tubuh, terutama tangan dan paha kananku. Ku masih terus menatap pria itu. Aku sungguh dibuat penasaran dengan dirinya.
Saat ia menoleh ke arahku, aku pun membuang pandangan.
"Ada tiga bungkus, aku beli dua bungkus nasi padang dan satu bungkus mie goreng. Ayo kita makan bu?" Ujarnya, kini pria itu menatap ibu yang masih berdiri di dekat bed ku.
Ku lihat ibu menghampiri pria itu dan duduk di hadapannya. Ibu meraih satu bungkus nasi padang, dan membukanya.
"Sudah lama gak makan nasi padang." Ujar ibu tersenyum tipis pada pria itu.
Jadilah aku penonton saat ibu dan pria itu makan dengan lahapnya.
__ADS_1
"Ibu sedikit heran samamu Nak Akram?" ujar ibu,
serius menatap pria yang bernama Akram itu. Sejenak, Pria itu menghentikan acara makannya. Tatapannya fokus ke ibu.
"Heran, heran kenapa bu?" jawabnya, masih menatap lekat ibu.
Ibu menyudahi tatapannya dari pria itu. Kini ibu fokus ke nasi padang nya.
"Kamu yang ditabrak anak ibu, kamunya mau tanggung jawab."
"Emang ibu gak mau aku tanggung jawab? kalau gak mau, ya gak apa apa." Sahutnya tanpa ekspresi. Kembali fokus untuk makan.
"Bukan, bukan seperti itu, ibu heran saja." Sahut ibu bingung, merasa salah bicara.
Pria itu tak menanggapi ucapan ibu lagi, ia kembali fokus melahap makanannya. Hingga ia selesai makan, dan membersihkan bekas makannya ia pun kembali bicara.
"Aku datang ke kota ini, mau cari kerja. Atau buka usaha. Gak tahunya, malah ditabrak." Ujarnya, merogoh kantong kemejanya, ternyata pria itu mau merokok.
"Jadi, ibu tak perlu berfikir yang aneh aneh atau macem macem akan sikapku ini. Anggap aja aku ini saudara ibu." Jelasnya lagi, kemudian ia menyesap rokoknya. "Ehh, lupa, ini kan ruangan beri Ac baiklah aku keluar dulu bu." Pria itu bergegas keluar, meninggalkan ibu yang masih terbingung bingung.
Ibu menghampiriku.
"Bu, sudah lah. Gak usah di pusingkan. Kita lihat saja, apa mau pria itu." Sahutku lemah, inginnya rasanya tidur. Agar tak merasakan sakit seperti dikuliti ini. Tapi, gak bisa.
"Assalamualaikum..."
Sepertinya ada tamu yang mau menjenguk aku.
"Walaikum salam..!" sahut ibu, bergegas membuka pintu.
"Romlah, Rony..!" Ibu menyambut kedatangan paman dan bibiku itu dengan senang. Ternyata masih ada saudara yang peduli. Bagaimana dengan mas Evan ya? aku yakin dia juga pasti sudah dapat kabar tentang diriku.
Bi Romlah dan paman Rony mendekatiku.
__ADS_1
"Cepat sembuh ya Alda." Ujar Bi Romlah, memperhatikan diriku dari ujung rambut hingga kaki. Bi Romlah terlihat sedih dengan keadaanku yang cukup memprihatinkan ini.
"Astaga... Koq bisa seperti ini Alda?" tanya bi romlah menatapku dengan ibahnya. Tatapannya kini fokus ke tanganku yang sangat bengkak dan memerah. Kemudian ia memeriksa kakiku yang lecet dan yang dijahit.
Aku pun menggeleng, rasanya aku tak sanggup bercerita lagi. Lagi pula, aku tak ingat apa yang terjadi. Seingatku, aku sedang terbang tinggi di angkasa diterpa angin surga yang hawanya sejuk bikin hati adem.
"Panjang cerita nya Romlah. Ayo duduk dulu " Ibu mempersilahkan Bi Romlah dan paman Rony untuk duduk di atas tikar. Ibu pun mulai bercerita kejadian, yang ibu dapat dari si pria yang ku tabrak. Aku hanya mendengar dan sesekali melempar senyum disaat Bi Romlah dan paman Rony menatapku. Badan semakin sangat terasa, mata sudah sangat ingin tidur. Tapi, rasa sakit membuatku susah tidur.
Ternyata tamu yang menjenguk bertambah lagi dan lagi, hingga ruangan ini penuh. Tamu yang datang banyak an saudara dari ibu dan tetangga dekat kami. Sehingga ruangan tempatku dirawat ini jadi sangat rame, menyebabkan suasananya jadi sedikit bising. Aku jadi susah untuk tidur. Padahal aku ingin istirahat, agar tak merasakan sakit yang teramat ini.
Hingga pukul 22.08 wib. Para tamu yang membesukpun pada pulang. Aku pun memutuskan untuk tidur. Dan tak butuh waktu lama, setelah suster menambah obat pereda nyeri, aku pun langsung tertidur.
Aku terbangun karena ingin pipis. Saat itu juga, aku mendengar suara seorang pria yang sedang bertelepon. Pria itu adalah Akram, pria yang ku tabrak motornya.
"Iya, aku belum bisa pulang. Aku mau di sini."
Dengan cepat ku tutup lagi kedua mataku, disaat ku melihat pria itu membalik badan. Ternyata pria itu masih ada di ruangan ini. Ia sedang duduk di atas tikar sambil menelpon. Sedangkan ibu tidur di atas sofa.
Ku dengar suara langkah, ku picingkan sebelah mata untuk melihat siapa yang berjalan, ternyata
pria itu sedang berjalan ke kamar mandi.Disaat ia memunggungiku, ku buka kedua mataku dengan lebar, aku ingin tahu apa saja yang terjadi di ruangan ini, sejak aku tidur tadi.
"Kamu bangun? mau minum..?"
Deg
Refleks ku pejamkan kedua mataku. Entah kenapa aku merasa ketakutan. Seperti pencuri tertangkap basah saja.
TBC
Like coment readers sayang
TBV
__ADS_1