KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Takut kabur


__ADS_3

"Bisa bu, kondisi ibu sudah di cek begitu juga dengan janin ibu. Dokter mengatakan ibu bisa menjalani operasi." Jelas suster serius.


Ku pegang perutku yang masih rata, dengan perasaan yang kacau. Kenapa aku malah hamil, disaat ingin cerai dengan Mas Evan. Dan ajaibnya, janinku tetap dalam keadaan baik baik saja. Padahal aku baru saja mengalami kecelakaan.


"Benarkah janinku dalam keadaan baik-baik saja Sus?" tanyaku lagi, ingin kepastian.


"Iya bu, dinding rahim dikehamilan muda masih tebal. Jadi, embrionya masih aman. Ibu beruntung, janin ibu tetap dalam keadaan baik. Ibu memang hebat, anak yang ibu kandung juga hebat." Ujar Suster Dira ramah.


Aku jadi terharu dengan ucapannya. Mungkin janin yang ku kandung ini, akan jadi pelita yang akan menerangi rumah tanggaku dengan mas Evan


Semoga dia sadar, dan kembali padaku.


"Baiklah, berarti ibu setuju untuk di operasi. Kami pamit dulu, nanti atau besok pagi, aku kabari lagi, jam berapa ibu akan dioperasi." Ujar Suster Dira ramah, sambil memeriksa jarum infus ku.


"Iya sus." Jawabku menatap orang orang yang kini mengerumuniku. Ada ibu, dua suster dan pria yang ku tabrak. Yang namanya aku lupa siapa, padahal tadi ibu sudah mengatakan namanya.


"Baiklah, kalau ada perlu panggil kami ya bu." Ujar Suster Dira, terlihat siap siap mau keluar.


"Aku, aku mau pipis sus!" ujarku pelan, aku malu mengatakannya. Karena ada pria itu.


"Ouuww.. Ya sudah bu, pipis saja, kan sudah dipasang kateter." Sahut suster Dira ramah. Ia pun ku lihat menjongkok sedang memeriksa sesuatu yang gak ku tahu apa.


"Kantongnya belum penuh." Timpal suster Dira.


Ooww... Aku malah tak sadar, kalau sudah di pasang kateter. Suster Dira dan Ayu pun keluar.


"Bu, aku pamit keluar mau beli makanan dulu." Ujar pria yang ku tabrak itu, ramah pada ibu.

__ADS_1


Ku perhatikan pria itu lekat. Koq baik sekali, mau bertanggung jawab, padahal aku yang salah.


!


"Oohh iya nak." Sahut ibu dengan ragu. Ibu memperhatikan gerak gerik pria itu, yang kini sedang mengambil tas ranselnya di atas sofa. Pria itu tersenyum pada ibu.


"Tunggu sebentar, nak Akram gak mau lari kan?"


Pertanyaan ibu cukup membuatku terkejut. Kenapa ibu bicara seperti itu? kalau pria ini tersinggung, dan tak mau tanggung jawab lagi gimana?


Aku tatap lekat ibu, agar menoleh padaku. Aku ingin memberitahu ibu, agar jadi bicara macam macam.


"Ya gak lah bu, aku mau cari makan saja. Lapar ini perut, dari tadi siang sampai sekarang gak sempat makan." Jelasnya tersenyum tipis pada ibu. "Baiklah, kalau ibu takut aku lari. Aku tinggalkan tas ku di sini." Pria itu kembali meletakkan tas nya di atas sofa. "Di tas ini, ada uang 25 juta." Ia memukul pelan tas nya. Kemudian keluar dari ruangan dengan santainya.


"Bu..!" Ujarku lirih, sambil menahan sakit yang amat di tanganku. Ibu menoleh padaku dengan muka datarnya, menghampiriku dan duduk di kursi dekat Bed.


"Ya gak apa apa bu, kalau ia kabur. Kan kata ibu aku yang g salah." Ujarku dengan meringis kesakitan.


"Itu cerita dia, ibu yakin dia juga salah. Kalau gak salah, kenapa dia mau tanggung jawab."


Hhuufftt....


Ku tarik napas panjang, rasanya aku tak bisa menahan sakit di sekujur tanganku. Nyut nyut an, nyerih, pedih dan terasa panas.


"Bu, kalau dia gak mau tanggung jawab, biarlah. Nanti biaya operasi ku, ibu jual aja perhiasanku. Dan ada uang di tasku 2 juta ma. Tas ku dimana ma?" ku tatap mata ibu lekat.


"Tas mu ada di lemari. Syukur, sekali gak di ambil orang. Tapi, kalau hape mu rusak nak." Jelas ibu, beranjak dari duduknya, berjalan ke arah lemari yang ada di dekat kulkas. Mengambil tasku yang ternyata sudah banyak lecetnya. Bahkan tali yang bisa dibuat untuk selempang rusak.

__ADS_1


Ibu memeriksa uang yang ad di dalam tas itu. "Ibu bersyukur sekali, ada ibu ibu yang mau dengan cepat nolongin kamu bawa ke rumah sakit, Dari cerita ibu yang menolongmu. Ia meminta angkutan umum yang ia tumpangi membawamu ke rumah sakit. Penumpang lainnya disuruh turun." Jelas ibu dengan ekspresi wajah sedih.


"Iya kah bu?" tanya ku lirih, sangat bersyukur ada yang cepat membawaku ke rumah sakit. Sempat menunggu ambulance, mungkin aku sudah tak tertolong, karena kehabisan darah. Pasalnya luka di pahaku, sangat dalam. "Nanti, kalau sudah sembuh aku akan berterima kasih pada ibu yang menolongku."


"Iya, itu harus sayang." Sahut ibu, kini tas ku yang sudah rusak, ibu simpan di atas nakas.


"Terus pria yang nabrak aku itu gak ada luka - lukaya bu?" tanyaku, sangat penasaran dengan pria yang ku tabrak motornya. Masak ia gak cidera.


"Luka ringan, hanya lecet di kakinya. Terus tangannya keseleo katanya." Ujar Ibu, kini ibu menyiapkan makanan untukku. "Kamu makan dulu, terus minum obat. Ini sudah pukul 19.05 wib." Mataku menatap ke arah jam yang bertengger di dinding, yang tepat ada di depan mataku.


"Syukur kamu pakai helm Alda. Kalau gak bisa pecah kepalamu." Ibu bicara dengan serius, tangannya dengan sabaran menyuapi, yang kesusahan makan, karena dalam keadaan berbaring.


"Iya bu." Sahutku di sela sela aku mengunyah makanan. Gulai nya ayam semur dan tumis buncis, ada sambal tahu campur telur puyuh juga.


"Ngapain lagi kamu ke rumah Evan?" Kini ibu menatapku penuh tanda tanya.


"Mau memberikan uang sosial bu. Aku dapat banyak dari sekolah." Sahutku lemah, rasanya semakin tak berselerah untuk makan, karena bahas Mas Evan


Kalau Mas Evan tahu aku hamil, kira kira reaksinya seperti apa ya? apakah ia akan meninggalkan Juli? karena Mas Evan dulu ingin kami cepat punya anak lagi, Raisya punya adik.


"Ngapain kamu kasih, itukan hak mu. Emang ada pernah ia beri uang untuk bayar uang sosialmu selama ini di sekolah tempat kamu kerja? kan gak!" ketus ibu, makin kesini ibu sepertinya semakin ingin aku pisah dengan mas Evan. Padahal dulu, saat pertama kali ketahuan mas Evan selingkuh. Ibu ingin aku bertahan.


"Iya bu."


"Coba kamu gak pergi ke rumah pelakor itu. Kamu pasti gak akan alami musibah ini."


"Ini sudah takdir bu, aku gak menyesalinya." Sahutku lemah, menatap sendu ibu yang kini serius menatap makanan yang ada di atas piring.

__ADS_1


TBC


__ADS_2