
Alda, aku belum mau menceraikanmu. Ku mohon, jangan buat laporan gugatan cerai ke pengadilan agama." Ujar Mas Evan lirih, wajahnya memelas menatapku.
Ku buang pandangan, tak mau melihat muka tak tahu malunya. Berlari keluar dari rumah itu dengan cepat, sebelum Mas Evan berhasil menyusulku. Ku pacu motorku cepat dengan perasaan yang kacau. Dulu ia bilangan, kalau mau cerai. Silahkan gugat aku, dan sekarang ia memelas agar aku tak menggugatnya.
Ya Allah... Berilah aku kemantapan hati. Keistikhomahan agar bisa lepas dari Mas Evan. Melihatnya tadi dalam keadaan terpuruk, hatiku hancur. Dulu begitu indah, penuh cinta dan kasih sayang mewarnai rumah tangga kami. Haruskah hancur karena kehadiran Juli.
Ku seka air mata ku yang menggenang di pelupuk mata. Karena pandanganku sudah berkabut olehnya. Hati sakit serasa dicabik cabik. Kenapa ujian rumah tanggaku seberat ini.
Tin
Tin
Tin
"TIDAK..... Aaauuuwww...!"
Gubrak...
Aku merasakan hawa surga yang buat hatiku tenang dan sejuk berhembus menerpa tubuhku, ku terbang tinggi jauh di langit yang cerah nan biru, adem, rilek serasa ingin terus terbang dan tak mau turun. Beginikah rasanya di surga? aku jadi ingin di surga ini selamanya. Tak mau turun ke dunia lagi. Hidup di dunia sangat menyakitkan.
"Bu, bangun Bu. Bangun!"
Terdengar samar samar suara memanggilku. Sesaat aku berfikir, siapa yang mau merusak acara terbangku.
"Bu, bangun..!"
Awww........
"Sakit.... Sakit.....!" teriakku kuat tanpa sadar. Aku merasa sekujur tubuhku seperti dikuliti. Sakitnya luar biasa, sakitnya melebihi sakit saat melahirkan Raisya.
"Syukurlah, ibunya sudah sadar." Ku dengar suara seorang wanita. Saat ini, aku belum bisa membuka kedua mataku. Rasanya sangat berat dan kepalaku juga sangat sakit, seperti di tokok dengan palu. Sangat sakit sekali.
"Ayo, angkat ibu ini." Lagi lagi suara seorang wanita yang ku dengar. Perlahan ku coba membuka mata, sambil menahan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku.
Ku sorot sekitar yang terjangkau mataku, ternyata aku berada di dalam sebuah angkutan umum. Terbaring di lantai angkutan itu, pantas aku merasakan tubuhku dari bawah seperti di dalam oven, merasa panas seperti dipanggang. Ternyata, aku tadi di baringkan di lantai angkutan tanpa alas.
"Aku, aku Kenapa? sakit...!" ujarku meringis kesakitan, air mata mengucur deras.
__ADS_1
"Kamu kecelakaan, dan kita sudah sampai di rumah sakit." Ujar seorang wanita yang tak ku kenal.
Hua
Hua
Aku merasa hidupku hancur. Tangisku pecah, saat ku rasakan tubuhku di pindahkan dari dalam angkutan, ke brankar dorong oleh tenaga medis. Bagian tubuhku sebelah kanan sangat sakit, perih nyeri, dan tanganku sebelah kanan tak bisa ku gerakan sama sekali.
Berarti tadi aku itu pingsan, terbang di awang awang, seperti berada di surga.
"Bu cepat hubungi keluarganya, ini pasien harus cepat ditangani." Ujar perawat laki laki yang mendorong brankar tempat ku terbaring sambil meringis kesakitan, kepada ibu ibu yang sama sekali tak ku kenal itu.
"Aku gak tahu ibu ini siapa. Dan nomor yang harus di hubungi aku juga gak punya." Jawab ibu itu cepat. Ku lihat ibu itu mengikuti perawat yang mendorong brankar tempat aku berbaring lemah. Aku yakin, ibu inilah yang membantuku, menolongku cepat dengan membawa ke rumah sakit. Dalam hati aku bersyukur, masih ada orang yang tergerak hatinya membawa ku cepat ke ramah sakit. Padahal biasanya, orang orang hanya akan menyaksikan korban kecelakaan, tak ada yang menolong, sebelum datang polisi. Bahkan biasanya orang orang akan sibum memvideokan kejadian.
Aku pun dibawa ke ruang IGD.
"Langsung ditangani aja pak, aku yang bertanggung jawab." Ujar ibu itu, aku hanya pasrah dengan hidupku sekarang. Aku belum tahu pasti apa yang ku alami. Apa saja luka yang ada di tubuhku, sehingga sakitnya seperti di kuliti.
"Aawww.... Sakit.... Sakit... Sus...!" Teriakku, di saat ku rasakan paha sebelah kananku disiram cairan. Ya paha sebelah kananku terasa sangat sakit sekali.
"Ya ampun kasihan ibu ini, sepertinya pergelangan tangannya patah ini." Ku sangat terkejut mendengar sesama perawat yang menanganiku berbicara.
"Ibu ini ada alergi bius, tubuhnya memerah. Ganti biusnya!"
Aku semakin kalut mendengar perbincangan para perawat yang menanganiku sekarang. Aku gak tahu lagi, apa ada Dokter di ruangan ini. Aku tak fokus lagi, karena sakit yang ku rasakan sangat menyita perhatian.
"Aww... Sakit sekali ya Allah......!" rintihku, di saat ku rasakan jarum menusuk pahaku.
"Iya bu, tahan ya? sudah dibius, sakitnya sudah berkurang koq bu."
"Sakit sus, masih sakit!" keluhku lagi merengek seperti anak kecil.
"Iya bu, jangan banyak gerak. Biar luka ibu, kita jahit ya?" Ujar perawat itu ramah. Aku pun terdiam, kembali ku sorot sekitar dengan pandangan buram, karena mataku tergenang oleh air mata. Ku gigit bibirku saat merasakan jarum menusuk dagingku. Ini pertama kali aku merasakan dijahit. Ternyata walau sudah dibius tetap terasa sakitnya.
"Ibu sudah menikah?" tanya seorang perawat wanita. Seperti sedang mengalihkan perhatianku.
"Iya dek." Jawabku lemah, dengan muka berkerut menahan sakit.
__ADS_1
Terus ku lihat perawat itu berbisik pada temannya. Kemudian ia menoleh padaku lagi. Perawat satunya lagi masih terlihat serius menjahit pahaku yang luka. Sepertinya lukanya dalam dan lebar. Buktinya, menjahitnya lama sekali.
"Kapan ibu terakhir menstruasi?" tanya perawat itu lembut penuh kehati hatian.
Seketika otak ku berputar mengingat ingat kapan aku terakhir menstruasi. Aku langsung lemas setelah mengingatnya. Sudah dua bulan aku gak menstruasi.
Astagfirullah, apakah aku hamil?
"Bulan ini aku belum haid dek." Sahutku lemah, tak usah ku jelaskan lagi detailnya berapa bulan aku telat datang bulan.
"Iya bu, baiklah. Dari pemeriksaan kami, ibu Sepertinya hamil muda. Untuk lebih jelas, kita akan lakukan nanti USG. Perlu kita periksa kepastiannya, apakah ibu hamil. Karena kita akan lakukan rontgen pada tubuh ibu. Padahal ibu hamil tidak disarankan untuk melakukan Rontgen." Jelas perawat itu serius. Aku dibuat panik mendegarnya. Berarti kondisiku sangat parah, ditambah aku hamil.
Apa anak dalam rahimku, ingin lahir ke dunia? Kenapa ia tak gugur saja, karena aku tak merasakan sakit di rahimku, atau di bagian perut. Hanya kaki, tangan sebelah kanan. Memang sakit semua sekujur tubuh. Mungkin tubuhku terbentur.
Aku dibawa keluar dari ruang IGD, setelah tubuhku yang luka parah dijahit. Dan aku langsung disambut oleh tangisan ibu di koridor rumah sakit itu.
"Anakku Alda, syukurlah nak kamu selamat." Ujar ibu, memelukku. Sudah parah begini, tetap harus disyukuri
"Aww... Sakit bu!" keluhku, di saat ibu menyentuh bahuku saat dipeluknya. Mungkin tulang bahuku ada yang patah. Karena sakit sekali di bagian itu.
"Ouuww... Iya sayang. Maaf!" ibu menjauh, dan melap air matanya.
"Baik bu, kami bawa pasien untuk di periksa." Ujar suster ramah pada ibu.
"Iya nak, tolong anakku!" tegas ibu.
Ku tatap sendu, ibu yang ada di sebelah brankar, ikut menemaniku ke ruang pemeriksaan. Dan Seketika, mataku tertarik melihat sosok pria di sebelah ibu. Pria yang tak ku kenal. Dan saat aku di bawa ke ruang Dokter Obgyn. Ibu dan pria itu masih mengikuti.
Sesampainya di ruang Dokter kandungan. Perutku langsung diperiksa. Dan aku dinyatakan Dokter hamil 7 minggu.
Hua...
Hua...
Hua..
Seketika aku menangis histeris, dada terasa sesak. Lama aku menanti anak kedua, hingga Raisya sudah berumur hampir lima tahun, Kenapa harus hamil sekarang? mana aku dalam keadaan tak sehat. Dan aku sudah ingin bercerai dengan mas Evan.
__ADS_1
TBC