
Hari ini para pembeli heboh nanyain di mana keberadaan Akram. Ternyata Akram sukses membuat para pelanggan nyaman dengan nya. Mungkin karena Akram orang nya ramah dan baik. Pembeli ternyata cerewet cerewet juga. Minta banyakin sambal, kuah rendangnya maupun sayur. Maklum lah yang membungkus makanan ramas sudah beda orang nya. Aku yang belum bisa bekerja keras. Lebih banyak duduk di meja kasir. Karena memang di tulang ku masih ada penuh.
"Mawar, nanti kalau ada orang beli untuk dibungkus lagi, kamu banyak banyakin aja sambal, kuah dan sayurnya." Ujarku pada mawar. Aku terpaksa minta tolong lagi pada Mawar, untuk membantu berjualan. Karena ia sudah lama berhenti ikut kerja denganku. Ia lebih memilih cari uang di Tik Tok saja. Lagian, cintanya ditolak si Akram. Makanya ia gak mau lagi kerja denganku. Kata dia, kalau Akram mau jadi suaminya. Ia tetap mau bekerja di warung makan ini.
"Iya kak. Oh ya kak, memangnya Abang Akram ke mana?"
Mawar mendudukkan bokongnya di kursi dekat meja kasir. Pembeli sudah sepi, karena waktu makan siang sudah habis.
"Pulang kampung, katanya orang tuanya sakit " Jawabku, menatap lekat Mawar yang terlihat sangat serius menanti jawaban dari ku.
"Memangnya kampungnya Abang Akram di mana?"
"Mane ketehe..!" jawabku cepat. Aku jua kadang kesal sama Akram, yang tak mau menunjukkan identitasnya.
"Eemmm... Abang Akram nanti balik lagi gak sih?"
"Gak tahu Mawar, hapenya sampai sekarang gak aktif aktif." Sahutku jutek.
"Iihh.. Koq jawabnya ngegas mulu sih kak?" ujar Mawar menatapku kesal.
Ku tautkan kedua alis, heran dengan ucapannya. "Siapa juga yang ngengas."
"Kakaklah, aku nanyain baik baik kakaknya malah marah - marah tak jelas.
" Suka mu lah bilang apa. Itu ada pembeli." Ujarku.
Mawar pun bangkit dari duduk nya. Ia melayani pelanggan. Aku yang teringat akan Akram. Memutuskan kembali untuk menghubungi nya.
Tut..
Panggilan tersambung, aku terkejut akan hal itu. Refleks aku mati kan panggilan. Ku letakkan ponselku kembali di atas meja. Entah kenapa aku merasa gengsi menelpon nya. Lagian, Ngapain dia ku telpon telpon. Kan dia sudah pamit sama ibu.
Ngung..
Ngung..
Ponsel ku yang ada di atas meja bergetar. Aku dibuat jantungan di saat melihat siapa yang menelpon.
Akram..
Aku bingung dan gugup untuk mengangkat telepon itu. Kalau ku angkat ia pasti akan menggodaku.
Aahhkk... Persetan, dengan penilaian dia. Ku angkat panggilan suara itu.
"Assalamualaikum... !" Suaranya Kenapa terdengar sexy sih? koq beda, apa kupingku yang bermasalah.
"Walaikum salam..." Jawabku lembut dan sopan. Padahal hatiku dag dig dug saat ini. Kayak baru telponan dengan gebetan saja.
"Ada apa menelpon Dek Alda?"
Adek? kenapa dia panggil aku adek lagi. Dulu kata dia umurnya 27, aku saja sudah mau 29.
"Gak ada sih, ada yang mau ku tanyakan. Kenapa kamu pulang tanpa kasih tahu?"
__ADS_1
"Aku sudah izin pada ibu koq." Jawabnya cepat.
"Iya sih, kenapa gak pamit samaku.?"
"Napa emang? apa harus aku pamit sama mu?" terdengar suaranya mau menggodaku.
"Iya." Jawabku cepat.
"Kamu kangen aku kan? dari semalam sudah ratusan kali kamu telponin aku!"
Kan dia mulai lagi menggodaku.
"Enak saja, siapa juga yang kangen. Aku heran saja, kamu tiba tiba pulang." Jawabku cepat.
"Kangen bilang saja. Kalau kamu ngaku kangen. Besok aku pulang."
Tuutt
Ku matikan telepon nya. Siapa juga yang kangen.
"Kak, tadi ngomong sama Abang Akram ya?" Mawar yang sudah selesai melayani pelanggan menghampiriku, menyetor uang Pembeli.
"Iya." Ku masuk kan uang yang diberikan Mawar ke laci.
"Kak, ada hubungan dengan Abang Akram ya?" tanya Mawar penuh selidik.
"Bicara apa sih kamu Mawar. Aku ini sedang dalam proses perceraian. Aku gak mikirin asmara sekarang." Jawabku Tegas.
"Tapi, ku perhatikan Abang Akram suka loh sama kak."
"Kenapa gak suka samaku aja sih? aku gadis, cantik, montok." Jawabnya sendu.
"Ngapain kamu mau sama Duda."
"Memangnya Abang Akram Duda?" tanya Mawar dengan penasaran nya.
"Gak tahu juga sih, tapi dari gestur tubuh nya. Dia itu pasti Duda." Jawabku menduga duga. Dari cara bicaranya Akram, aku menyimpulkan seperti itu. Ia terlihat sudah ahli dalam bicara merayu wanita. Lebih tenang dan sabar. Seperti budaya, yang tak tahu kapan datang menghampiri mangsanya. Dan langsung diterkam.
"Masak sih? padahal badannya masih ok. Gak ada lemak di perutnya." Ujar Mawar dengan takjub nya.
Ya tak bisa dipungkiri. Akram punya otot yang atletis. Kulitnya juga putih bersih. Rambut potong pendek cepak, seperti angkatan saja. Tubuh nya wangi sepanjang hari.
Hadeuhh.... Aku saja kadang mau bauk bawang.
"Kak, rayulah Abang Akram, agar mau nikah denganku.!" rengek Mawar memegang tangan ku.
Ku tatap lekat Mawar yang memelas. "Baik lah, nanti kalau dia datang, Kak bilangin. Tapi, ada syarat nya!" ku ajungkan telunjuk pada nya. Sebagai tanda peringatan.
"Syarat, syarat nya apa?" tanya nya penasaran.
"Syarat nya, kamu harus tetap kerja di sini sebelum Akram datang." Ujarku Tegas.
"Kalau Abang Akram mau samaku. Jadi kacungnya kakak aku mau sampai tua!" Ujar nya semangat.
__ADS_1
"Eemmm... Benar nih?"
"Ia."
"Ya sudah sekarang sana, bantu Romlah mencuci piring."
"Apa..? aku kan bukan bagian cuci piring. Aku kan jadi pelayan saja nya kak!" Mawar bicara dengan muka cemberut.
"Tadi katanya mau jadi kacungku!"
"Iya, kalau Abang Akram sudah jadi milikku!" Ujar nya dengan bibir dimayungkan.
"Heii.. Mawar, kalau kamu sudah jadi miliknya Akram. Kamu itu gak pernah jadi kacungku. Mana mau dia buat kamu jadi babu." Ujarku Tegas.
"Iya sih." Jawabnya dengan sudut bibir mulai tertarik sempurna kesamping. "Belum jadi istrinya, aku sudah merasa bahagia gini kak.
" Iya, sana layani. Ada itu yang mau beli." Sebuah mobil warna merah berhenti di depan warung.
Saat si pemilik mobil keluar dari mobil mewah itu. Kedua mata ini membelalak melihatnya. Perasaan langsung tak enak. Ternyata si pemilik mobil toyota Yaris berwarna merah itu adalah Juli. Astaga... Ternyata mereka sudah punya dua mobil. Kehidupan Mas Evan ternyata banyak berubah setelah bersama Juli. Mereka jadi kaya raya.
"Hai... Wanita malang!" tangannya mengibas ke arahku. Memamerkan ke lima jarinya yang dihiasi cincin. Ia mau pamer.
Hahhahaha...
Tadinya aku sempat tenang, dengan kedatangan wanita tak tahu malu ini. Karena ia pasti ingin berdebat. Tapi, karena tingkah nya yang konyol, aku malah tertawa keras. Begitu juga dengan Mawar.
"Wooii... OKB, Ngapain loe kesini, mau pamer...!'
Kwkwkwkwk.
Kini Mawar ikutan ketawa dengan terbahak bahak.
" Kalian...!"
Wajahnya Juli memerah, malu karena diledekin.
Hahhahhaha..
Hahahahaha..
Aku benar benar gak bisa menahan diri, agar tak ketawa. Sungguh penampilan Juli sangat norak, Make up nya juga terlalu berlebihan.
"Diam.... Diamm.. Diam kamu Alda....!" ia menunjuk kesal ke arah ku. Kemudian menunjuk ke arah Mawar. Kami berdua menutup mulut kami dengan kedua tangan. Agar suara tawa kami tak kedengaran. Tapi, jujur tubuh ini masih bergoyang goyang, karena menahan tawa.
"Kalau aku mengatakan fakta tentang Akram. Kamu pasti gak bisa tertawa lagi seperti ini!" ujarnya penuh kekesalan.
Aku sangat terkejut dengan ucapannya.. Tangan ini perlahan turun. Emang, fakta apa yang akan membuatku terkejut tentang Akram. Koq aku bisa terkejut mendengar nya. Apa hubungan Akram denganku.?
"Apa maksudmu?" tanyaku dengan penasaran. "Aku gak mau tahu tuh tentang Akram."
"Benar, gak mau tahu tentang Akram?" tantangnya dengan Tatapan sinis.
"Untuk apa aku kepo tentang Akram. Aku gak ada kepentingan dengan nya." Sahutku cepat.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kamu gak mau tahu tentang Akram. Aku pergi dulu!" Si Juli gila merapikan rambut pirang rebondingnya, sebelum membalik badan.
TBC