KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Bantuan


__ADS_3

Aku membawa Raisya keluar dari pekarangan rumah sakit. Kami perlu menghirup udara segar. Perasaan ku sangat kacau saat ini. Memikirkan keadaan rumah tanggaku dan keadaan ayah yang Sebenarnya parah. Kalau keadaan ayah sudah stabil, maka akan dilakukan operasi pada jantung ayah. Syukur sekali, kami menggunakan fasilitas BPJS. Karena memang ayah dua tahun terakhir ini sudah penyakit jantung.


"Mama, kita mau ke mana?" Raisya yang ku gandeng, .enggoyang tanganku, aku pun tersadar dari lamunanku. Kedua mataku menyorot sekitar, ternyata kami sudah jauh dari rumah sakit. Tak terasa kaki yang menapaki trotoar jalan, sudah membawa kami jauh.


"Mau beli makanan sayang." Ujarku tersenyum manis pada putri malangku. Jika aku bercerai dari Mas Evan, putriku ini akan kehilangan sosok ayahnya. Akan kekurangan kasih sayang dari ayahnya.


"Oouuww.. Ma, aku mau ice cream. Sudah lama aku gak makan ice cream!" rengeknya.


Aku kembali memperhatikan sekitar. Tanda tanda penjual ice cream gak ada.


"Eemmm.. Ini sudah malam sayang. Ice cream dan habis. Gimana kalau diganti juice pokat saja." Tawarku dengan muka centil. Berharap Raisya terpengaruh dan tak menolak.


"Eemmm..!" anak ku itu nampak berfikir. "Iya deh." Jawabnya membahas senyumanku.


Kami pun menyebrang, karena di hadapan kami ada warung bakso, mie ayam gitu. Biasanya sih, pasti ada juice pokat.


Dengan perasaan senang, Raisya berlari di saat sudah dekat ruangan ayah dirawat. Ia senang, karena aku membeli banyak makanan. Termasuk makanan kesukaannya, sate madura. Ia terus saja berlari meninggalkan ku di belakang. Mengucap salam, dan langsung membuka pintu, sebelum ada sahutan dari dalam.


Deg


Aku cukup terkejut, mendapati Pak Armand ada di ruangan itu. Ku lempar senyum tipis, agar tak dibilang sombong.


"Eehh.. Muallim Armand." Ujarku dengan sedikit sungkan. Aku tidak terlalu dekat dengan Muallim Armand di sekolah. Karena ia memang tipe pemimpin yang seperti menjaga jarak dari bawahannya, terutama ibu ibu guru. Ia bukam tipe pria yang sok ramah. Ia tipe pria yang dingin.


"Iya Muallimah." Jawabnya cepat dan tersenyum tipis..


"Da, kalian dari mana saja? Kenapa lama sekali baru pulang?" tanya ibu dengan penuh kekhawatirannya. Dan kini ibu terlihat murung.


"Habis sholat Isya di mushollah. Aku mengajak Raisya menjenguk ayahnya ma." Ujarku, menatap ibu lekat.


"Tadi, si juli ke sini beserta abangnya. Mereka minta uang untuk pengobatan Evan." Jelas Ibu sedih, melirik ayah Yang terbaring lemah.


Ku terdiam sejenak, terkejut dengan perkataan Mama. Berarti tadi saat aku ke ruang mas Evan dirawat, Juli kesini.


"Iya ma." Jawabku lirih. Aku belum berani menatap Pak Armand. Yang masih duduk di kursi dekat bed ayah.

__ADS_1


"Baiklah Pak, bu, Muallim Alda.. Aku pamit dulu." Ujar Pak Armand. Mungkin ia sudah merasa tak nyaman di ruangan ini.


"Nak Armand, ibu ucapkan terima kasih." Ibu mendekati Pak Armand dan memeluknya. "Kamu juga sedang ada musibah. Tapi, sempat sempatnya bersilaturahmi kesini, dan mau membantu kami." Ujar Ibu dengan sesenggukan. Aku sedikit dibuat bingung, dengan arah pembicaraan Ibu kepada Pak Armand.


"Ya gak apa apa bu. Hanya sedikit koq." Ku lirik Pak Armand yang masih Bicara dengan ibu.


"Ya nak Armand, makasih banyak atas bantuannya." Ujar Bapak lagi. Aku semakin bingung.


Bantuan? bantuan apa?


"Iya bu, pak. Semoga dapat membantu. Baiklah aku permisi." Ujar Pak Armand. Beliau pun, akhirnya keluar dari ruangan itu.


Sepeninggalan pak Armand. Raisya merengek ingin makan sate dan juicenya. Aku pun harus menyiapkan peralatan makan pada putriku itu. Aku juga menyiapkan soto ayam untuk disantap ayah dan ibu.


Aku menyuapi ayah, senang rasanya. Ayah mau makan soto itu. Sedangkan ibu makan soto itu juha dengan lahap di dekat Raisya.


"Bu, Emang pak Armand beri bantuan apa pada kita?" tanyaku hati hati. Ayah sudah selesai makan soto. Begitu juga dengan ibu. Kini aku memberesi bekas makan kami.


"Pak Armand, beri uang 10 juta."


"Iya nak, ibu bersyukur. Kita dapat bantuan." Ujar Ibu terisak.


"Alhamdulliah ya Allah." Aku pun tak mau membahas lebih panjang lebar, lagi Kenapa palsu Armand memberi uang sebanyak itu.


"Tadi saat si Juli dan abangnya datang ke sini. Pak Armand juga ada di sini. Pak Armand mendengar semuanya. Dan ibu juga sudah cerita semua yang terjadi pada keluarga kita pada Pak Armand." Jelas ibu masih sesenggukan.


Aku sedikit menyayangkan hal itu. Di tempat ku bekerja. Aku Menyembunyikan masalah rumah tanggaku. Bahkan, aku selalu mengingatkan bu Rose, agar jangan cerita pada orang lain.


"Iya bu." Jawabku lemah, tak mungkin ku salah kan ibu. Karena menceritakan aib dalam rumah tanggaku. Toh, seluruh indonesia raya sudah tahu masalahku. Perkelahian ayah dan Mas Evan sudah viral di media sosial.


"Nak Armand merasa berhutang budi. Karena dulu ayah pernah bantuin dia dari para perampok." Ujar ayah serius. Tatapan nata terlihat jauh menerawang.


"Hutang budi?" tanyaku tak kalah terkekutnya.


"Ia Nak, kalau gak salah sekitar 10 tahun lalu. Saat ayah kerja jadi supir lintas Sumatera. Di tengah hutan, keluarganya Nak Armand, di todong dan dirampok. Dan Kebetulan, ayah lewat. Ayah turun dan bantu keluarga mereka." Jelas ayah, 10 tahun lalu. Itu artinya, aku masih berusia 18 tahun. Baru lulus SMA.

__ADS_1


Ya, ayah sangat jago bela diri. Makanya Walau sudah tua. Sekali tonjok, matanya Mas Evan langsung hancur.


Aku Sebenarnya, bukanlah anak ayah satu satu nya. Aku punya dua saudara. Tapi, kedua saudara ku itu meninggal saat kecil. Dan hanya akulah anak ayah yang hidup. Dan sekarang usia ayah sudah 63 tahun.


"Oouuww... Terus ayah." Aku jadi sangat penasaran dengan kelanjutan cerita ayah.


"Dan beberapa bulan yang lalu. Kami bertemu di sekolahnya Raisya. Ternyata anak nya bernama Reza satu sekolah dengan Raisya. Dia masih kenal ayah. Padahal ayah tak ingat lagi, kalau keluarga Nak Armand pernah ayah tolong." Jelas ayah lagi dengan sumringah. Terlihat ayah senang menceritakan aksi heroiknya.


"Oouuww..!" jawabku.


Pak Armand memang kepala sekolah baru di tempatku kerja. Dan ternyata ayah pernah bantuin dia. Aku merasa sangat bersyukur sekali. Setidaknya, aku gak perlu menjual banyak perhiasanku. Apalagi sekarang harga mas lagi turun.


"Alda, kamu pegang uang ini. Besok, kamu berikan pada si Juli, setelah kamu tambahi ya nak. Ibu tak mau ayahmu di laporkan ke pihak berwajib." Ujar ibu menangis. Hatiku sangat sakit melihat Ibu menangis seperti itu, aku merasa jadi beban keluarga.


"Iya bu." Jawabku lemah. Menatap lekat, uang pemberian Pak Armand. Ternyata Pak Armand itu orang nya hangat dan dermawan. Sangat berbeda sifatnya saat di sekolah.


"Cepat urus perceraianmu dengan Evan. Tak ada guna nya kamu bertahan lagi dengan nya. Toh ia juga tak memikirkan Raisya lagi." Ujar ayah lemah, menatapku dengan sendu.


"Pak, jika Alda yang gugat cerai. Evan itu akan keenakan. Dia itu licik, bisa bisa Alda gak dapat nafkah Iddah." Jelas Ibu, melirik ku.


"Tak perlu uang nya bu. Yang penting status anak kita jelas. Gak digantung seperti ini. Lagian, tak ada adalagi kerukunan keharmonisan yang tercipta, setelah pertengkaran ini." Ujar ayah dengan muka bete nya.


"Iya bu, ayah. Itu sudah Ku pikirkan. Sekarang yang terpenting itu, ayah cepat sembuh." Ujarku, mendekati bed ayah. Aku pun duduk di kursi yang diduduki Pak Armand tadi. Mulai memijat kaki ayah.


"Benar ya nak. Ayah akan lebih bahagia, jika kamu bercerai dari pria kurang ajar itu."


"Iya ayah." Ujarku tersenyum tipis pada ayah.


Huufftt..


Ku tarik napas panjang. Sepertinya stok oksigen di rongga dada habis sudah. Memikirkan masalahku yang semakin amburadul ini.


TBC


Like coment positif dong say

__ADS_1


__ADS_2