
Dua minggu sudah ayah meninggal dunia. Kesedihan mendalam masih menyelimuti hati kami sekeluarga. Cobaan datang beruntun, membuat hati hancur remuk redam, tak tahan lagi rasanya untuk melanjutkan hidup ini. Satu persatu orang yang dicintai pergi. Mas Evan yang berkhianat, yang sempat mengatakan agar aku jangan menggugat cerai dirinya, ternyata sampai sekarang tak ada kabarnya. Bahkan dia tak datang ke rumah untuk melayat ayah yang meninggalkan kami untuk selama lamanya.
Kalau tak mengingat wejangan Pak Ustadz saat malam takjiah, mungkin aku sudah gila. Syukurlah nasehat dari pak ustadz tentang kesabaran dan keihlasan masih melekat sedikit di hati dan pikiran, sehingga kesabaran dan keikhlasan di hati inilah yang jadi penguat untuk tidak terpuruk.
Walau sebenarnya sangat susah menerapkan sikap ikhlas dan sabar itu. Mengendalikan emosi dalam menghadapi kesulitan hidup memang sangat sulit. Tapi, aku bisa melewatinya. Karena aku harus tetap semangat dan bangkit. Ada Raisya putriku, ibu dan ada janin di dalam kandunganku yang harus ku pertahankan dan lindungi.
"Dek Akram, minta tolong bawa ibu berobat ya?" pintaku pada Akram. Akram sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Dia terlihat begitu tulus dalam bersikap. Aku jadi merasa aman dan nyaman bicara padanya akhir akhir ini. Apalagi sejak ayah meninggal. Dia jadi seperti sosok pengganti ayah.
Ibu sejak semalam gak enak badan. Disaat diajak berobat selalu menolak. Sikap ibu itu membuatku jadi sangat sedih. Aku gak mau ibu menyusul ayah. Ibu terlihat tak ada semangat hidup lagi, setelah ayah meninggal.
"Gak usah berobat. Gak ada gunanya. Toh ibu juga akan meninggal."
"Bu, jangan bicara seperti itu. Aku gak mau ibu meninggalkan kami. Aku sayang ibu..!" Ku peluk ibuku yang berbaring itu. Walau tanganku yang dioperasi pergerakannya terbatas.
"Sudah saatnya sayang." Ujar ibu lirih.
"Gak bu, gak ...!" menatap sendu ibu yang menitikkan air mata. "Tega ibu mau meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini, tega ibu pergi. Jangan bu, tunggulah cucumu ini lahir bu." Ujarku dengan berderai air mata. Rasanya hati ini sangat hancur mendengar kata kata ibu yang ingin menyusul ayah. Apa aku ini anak keterlaluan? hingga aku sudah berumah tangga tetap menyusahkan orang tua ku.
"Dek Akram, ayo bopong ibu." Aku tak mau meladeni ibu bicara lagi, dari tadi bicaranya ngaur.
__ADS_1
Akram menggendong ibu. Aku mengekor dengan langkah yang sangat cepat. Kalau berjalan cepat, kakiku yang dijahit memang masih terasa sakit. Walau sudah tiga minggu aku dalam masa penyembuhan.
"Bang Roy..." Ku panggil dengan cepat becak motor yang masih saudara kami yang kebetulan lewat. Akram mendudukkan ibu di dalam becak motor itu. Ia juga ikut di dalamnya. "Dari belakang kak menyusul." Ujarku lagi, aku akan mencari becak lain.
"Gak usah Alda. Aku bisa urus ibu berobat." Sahut Akram. "Ayo bang, kita ke klinik Hikmah" Ujar Akram, ya di daerah kami ada klinik Hikmah, yang bagus pelayanannya.
Aku akhirnya hanya bisa menatap becak motor yang membawa ibu ke klinik. Aku percaya pada Akram. Ia pasti bisa mengurus ibu. Aku tak boleh gegabah. Aku belum sehat betul. Kalau aku banyak gerak, aku takut tanganku yang dioperasi ada masalah.
Ku dudukkan bokongku di kursi plastik yang ada di teras rumah.
Huufftt..
Ku tarik napas panjang, dan menghembuskan nya berat. Ku usap usap dadaku yang masih berdebar debar hebat itu. Mentalku tak kuat menjalani ini semua.
Ku teriakkan umpatan penuh kebencian itu di dalam hatiku yang berkecamuk. Rasanya aku tak sabar lagi, aku tak ikhlas lagi dengan cobaan berat yang beruntun ini.
Astagfirullah....
Ku toyor kepalaku sendiri. Ku sesali sikapku yang berprasangka buruk pada Allah.
__ADS_1
"Ampuni dosaku ya Tuhan..! Aku salah...!" Ujarku dengan menutup wajahku dengan tangan kiriku. Aku masih duduk di kursi teras rumah.
"Aku tahu Ya Allah, musibah yang kamu beri ini, tujuannya untuk tiga hal." Ujarnya lagi dengan berderai air mata. Alda teringat dengan buku yang ia baca tentang hikmah dalam cobaan untuk ummat NYA. Cobaan datang dengan tujuan.
Mengangkat derajat bagi orang yang tertimpa musibah, karena kesabarannya terhadap musibah yang telah Alloh tetapkan.
Sebagai cobaan bagi dirinya.
Sebagai pelebur dosa, atas dosanya yang telah lalu.
Su’udzon Itu Tercela
Su’udzon (berprasangka buruk) pada Alloh merupakan sifat tercela yang harus dijauhi dari diri setiap orang yang beriman karena hal ini merupakan salah satu dari dosa besar. Sikap seperti ini juga merupakan kebiasaan orang-orang kafir dan munafiq. Mereka berprasangka kepada Alloh dengan prasangka yang buruk dan mengharapkan kekalahan dan kehancuran kaum muslimin. Akan tetapi Alloh membalik tipu daya mereka serta mengancam mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan akhirat.
Alloh berfirman yang artinya, “Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Alloh. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Alloh memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (Al-Fath: 6)
Adzab dunia yang akan diterima oleh orang kafir dan munafiq adalah berupa keresahan dan kegelisahan yang melanda hati mereka tatkala melihat keberhasilan kaum muslimin. Adapun adzab akhirat, mereka akan mendapatkan murka Alloh serta dijauhkan dari rahmat Alloh dan dimasukkan ke dalam neraka jahannam yang merupakan sejelek-jelek tempat kembali.
Berprasangka buruk pada Alloh merupakan bentuk cemooh atau ingkar pada takdir Alloh, Misalnya dengan mengatakan “Seharusnya kejadiannya begini dan begitu.” Atau ucapan, “Kok rejeki saya akhir-akhir ini seret terus ya? Lagi apes memang…” serta bentuk ucapan-ucapan yang lain. Banyak orang berprasangka buruk pada Alloh baik yang berkaitan dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Tidak ada yang dapat menghindar dari prasangka buruk ini kecuali bagi orang-orang yang memahami nama dan sifat Alloh. Maka sudah selayaknya bagi orang yang berakal dan mau membenahi diri, hendaklah ia memperhatikan permasalahan ini dan mau bertobat serta memohon ampun terhadap prasangka buruk yang telah ia lakukan.
__ADS_1
Untuk itu sekali lagi marilah kita instropeksi diri, apakah kita termasuk orang yang seperti ini (orang gemar berprasangka buruk pada Alloh) sehingga kita dijauhkan dari surga Alloh yang kekal? Kita berdo’a kepada Alloh agar menjauhkan kita semua dari berprasangka buruk kepadaNya. Wallohu a’lam.
TBC