KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Dikunjungi


__ADS_3

Setengah jam kemudian


"Assalamualaikum...!"


Suara seorang wanita mengucapkan salam terdengar dengan sopannya. Aku kenal suara itu. Yang datang adalah Bu Suci. Istrinya Pak Armand.


"Walaaikum Salam...!" Pak Armand yang dari tadi duduk di sofa sibuk dengan ponselnya. Kini bangkit untuk membuka pintu.


Huufftt


Aku merasa lemah sekali. Akhirnya Bu Suci datang juga. Aku dari tadi merasa tak enak an, karena Pak Armand betah di ruangan ini, walau sebenarnya ada Raisya yang tidur di bed satunya lagi.


Pak Armand merangkul istrinya. Mereka berdua menghampiriku. Jujur, ada rasa iri di hati. Kenapa aku tak seberuntung wanita di hadapanku ini. Pak Armand terlihat begitu mencintai istrinya.


"Pa kabar Dek Alda?"


Bu Suci memelukku sekejap. Kemudian memperhatikan diriku dengan seksama. Tatapannya membuatku jadi tak nyaman.


"Seperti yang ibu suci lihat." Ujarku lirih, mulutku terasa kaku, ludahku terasa pahit sekarang. Malas rasanya untuk bicara. Aku juga sudah merasa eneg dengan diri sendiri. Aku ini sudah jadi bahan gunjingan orang orang, baik di komplek rumah atau di tempat kerjaku dulu.


Bu Suci terlihat sedih. Seperti nya ia bisa merasakan penderitaan yang ku alami.


"Yang sabar ya dek." Ujarnya ramah.


"Iya bu." Dari tadi ibu suci selalu memanggilku dengan sebutan Dek. Biasanya juga Muallimah.

__ADS_1


"Sayang, aku tinggal kalian ya?!" Ku perhatikan lekat Pak Armand, yang menatap istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Dulu juga Mas Evan, jika menatapku penuh dengan cinta dan kasih sayang, seperti tatapan Pak Armand, pada Bu Suci. Tapi, endingnya aku dikhianati.


"Iya sayang, hati hati." Sahut bu suci, meraih tangan pak Armand dan mengecupnya. Jadilah aku obat nyamuk menyaksikan keromantisan mereka.


Huufftt


Sikap romantisme mereka, membuat jiwaku meronta ronta. Tak ingin melihat keromantisan seperti itu. Aku sakit hati dibuatnya.


"Muallimah Alda, semua biaya sudah ku bayar." Ujar Pak Armand menatapku dengan senyum tipisnya.


"Iya Muallim, terima kasih banyak. Semoga Muallimah berlimpah rezekinya." Ujarku lemah penuh ketulusan.


"Aminn..!' Pak Armand kembali melirik sang istri, yang masih berdiri di sisi bed." Abang pulang ya?!" Pak Armand mengelus lembut bahu Bu Suci, yang kini menatap sang suami manja.


Sikap mereka ini seperti memanas manasiku saja. Mereka tahukan aku ini korban dari pelakor.


"Eemmm.... Ini pertemuan kedua kita, sejak aku di operasi sebulan yang lalu ya dek." Ujar Bu Suci ramah, ia menyimpan buah tangannya di atas nakas, kemudian menarik kursi plastik agar dekat denganku dan mendudukinya.


"Iya bu." Sahutku lemah. Sebenarnya aku ingin tidur saja. Karena otakku panas memikirkan semuanya.


Hhuuffftt..


Bu Suci menghela napas berat. Ia terus saja menatapku dengan tatapan ibanya itu. Seolah, akulah wanita paling malang di dunia ini. Ya memang aku malang sekali.

__ADS_1


"Kamu harus sabar, gugurnya janin mu itu, adalah hal baik untuk hidupmu. Setelah ini kamu bisa gugat cerai suamimu itu. Aku punya adik seorang hakim. Sudah saatnya kamu bahagia Dek."


Aku cukup terkejut mendengar penuturan Bu Suci. Menurutku, ia sedikit ikut campur urusan orang lain. Apa ia seperti itu, karena ia sudah mengaggap ku saudara nya. Soalnya dari tadi, dia terus saja memanggilku dengan sebutan Adek.


"Iya Bu, aku memang sudah ingin berpisah dengan Mas Evan."


"Bagus... Aku bisa membantumu. Besok berkasmu bisa di daftarkan. Agar cepat kamu dapat status yang jelas. Kamu berhak bahagia dengan pria lain." Jelasnya lagi dengan semangat.


Ku tatap lekat wajah Bu Suci yang bicara serius itu


Apa dia pikir, aku tertarik lagi untuk menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis. Aku tak ingin lagi merasakan sakitnya jatuh cinta.


"Aku akan bantu kamu dek Alda, agar lepas dari suami gila mu itu." Ujar Bu Suci dengan semangat yang berkobar kobar.


"Iya bu, terimakasih." Sahutku lemah, ngapain berdebat. Ia kan saja apa katanya. Kalau benar memang Bu Suci mau membantu agar aku bercerai dari Mas Evan. Itu hal yang sangat bagus sekali.


"Iya dek Alda, aku itu sangat sedih dengar kabarmu. Kenapa wanita sebaik kamu, malah menderita. Ditinggal suami, ayah meningal, kamu mengalami kecelakaan dan sekarang kamu keguguran." Ujar Bu Suci sesenggukan. Ia memang terlihat peduli dengan keadaanku.


Aku tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya aku memilih diam saja. Membahas semua masalahku membuat hati ini semakin sakit dan dongkol. Aku sedang berusaha mengubur masalah beruntun ini. Dan aku tak ingin membahasnya.


Ceklek..


Tanpa ada ucapan salam. Terdengar suara pintu dibuka. Dan seorang pria berjalan cepat menghampiriku. Bu Suci terlihat kaget dengan keberadaan yang Akram yang kini menghampiri kami.


"Alda, kamu baik baik saja kan?" tanya Akram, menatapku lekat. "Bu Silvi datang ke rumah, disaat aku baru sampai di rumah. Habis bawa ibu berobat. Kata Bu Silvi, kamu keguguran, karena terjatuh di jalan. Kamu sih bandel. Sudah ku bilang tunggu di rumah saja. Gak kau dengar." Ujar Akram dengan ekspresi wajah paniknya. Menurutku kepanikannya itu sangat berlebihan. Aku ini sudah seperti istrinya saja, yang harus ia khawatirkan kesehatannya.

__ADS_1


"Mana ada orang yang dalam keadaan baik baik saja, setelah di kuret. Sakit tahu." Ujarku lemah, sembari menarik ke atas bibir, manyun tak jelas. Karena aku merasa pertanyaan Akram yang beruntun itu terdengar lebay.


TBC


__ADS_2