KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Sakit


__ADS_3

Tidak dapat dipungkiri perasaan sakit, sedih dan kecewa menyelimuti hatiku saat ini. Kedua mataku sudah terasa panas, kabut yang mengepul di pelupuk mata, sudah tak bisa dibendung lagi. Kulirik Bu Hafizah, yang menatapku dengan penuh selidik. Kemudian dengan cepat ku menundukkan wajah dalam-dalam, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai berguguran di pipiku. Tapi, wanita paruh baya dengan kulit tembaga bermata bulat itu, menyadari ada yang tak beres denganku.


"Kamu kenapa Da?" tanya bu Hafizah, mendekatkan wajahnya ke padaku. Ingin mengetahui apa yang terjadi padaku. Mungkin ibu Hafizah, heran dengan ekspresi wajahku yang sedih mendadak itu.


"I, ini, ini bu Fizah, mataku kena sambal bu Rose." Kini aku mengucek mataku yang memang sudah berair itu. Berakting, seolah benar mataku kena sambal. "Aku ke toilet dulu!" aku beranjak cepat dari dudukku, berjalan tergesa gesa menuju pintu keluar.


"Bu Alda, kamar mandi di situ. Koq malah keluar? katanya mau ke kamar mandi."


Aku tak memperdulikan lagi ucapan Bu Hafizah, yang mengingatkanku, di mana letak kamar mandi. Ya, sebenarnya kamar mandi, ada di ruang guru itu.


Aku, aku perlu meluapkan kesedihanku. Aku tak sekuat dan setegar itu, bisa berdamai dengan diri sendiri, atas masalah yang ku hadapi sekarang. Video me sum itu, benar benar sukses memporak porandakan hatiku. Membuat suasana hatiku memburuk. Kenapa Juli mengirimkan video me sum itu. Di mana otak mereka saat merekam adegan itu.


Kakiku melangkah cepat menuju laboratorium. Sepertinya tempat itu sangat pas, untuk meluapkan kesedihan yang membuncah di hati ini. Tega sekali Mas Evan, melakukan ini padaku? benarkah ia kena guna guna seperti kata ibu? sehingga ia bisa diperdaya oleh wanita iblis itu. Memang tak bisa ku pungkiri, Juli wanita yang sangat pandai bicara. Saking pandainya merangkai kata, buah yang mentah bisa masak.


Huhuhu.... Hua... Hua....

__ADS_1


"Ya Allah... Kenapa kau beri aku cobaan seberat ini..!?" aku benar benar menumpahkan rasa sedih dan kecewaku di ruang laboratorium itu. Menangis sesenggukan Karena aku tak bisa menahan sesak di dada ini lagi. Tangan sibuk mengelus dada yang terasa perih, nyeri dan nyut nyutan, berharap rasa sakit yang teramat itu bisa hilang.


Tapi, semakin kuratapi nasib ini, rasanya ternyata semakin sakit dan menjadi jadi. Ku telungkupkan wajah di atas meja, dengan tangan memukul mukul kesal meja itu. Perasaan ini telah hancur lebur dan merasa semua ini telah berakhir.


Kreek...


Aku terkejut karena mendengar suara pintu dibuka. Jantungku rasanya mau copot. Sebelum melihat siapa yang masuk ke ruang laboratorium ini, dengan cepat ku seka air mataku, dan aku belum berani menatap ke arah pintu. Aku malu menunjukkan wajah sembabku.


Tak


Tak


Tak


Suara hentakan sepatu itu menggema di tuang kosong itu. Sehingga suasana di ruangan itu terasa sangat mencekam.

__ADS_1


"Muallimah Alda, anda kenapa?"


Deg


Suara itu sangat ku kenal. Ternyata yang masuk ke ruangan ini adalah Pak Armand. Kepala Madrasah kami.


Aku, aku dibuat sangat panik. Tak mungkin aku menoleh ke arah beliau. Penampilanku, sangat acak acakan.


"Muallimah Alda..? apa anda baik baik saja?"


Hadeuhh..


Kenapa sih kepala sekolah kami ini, gak keluar saja dari ruangan ini. Kenapa malah banyak tanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2