KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Hinaan


__ADS_3

Saat sampai di warung pagi pagi sekali, aku terkejut mendapati warung sudah dibuka.


"Kak, apa Abang Akram sudah pulang?" tanya Mawar. Kami masih di atas motor.


"Ia, itu motornya parkir." Jawabku malas, suasana hatiku jadi buruk pagi hari ini. Aku jadi malas lihat si Akram.


"Kak, Abang Akram keluar kak!" ujar Mawar heboh. Dia seperti melihat hantu saja.


"Santai aja Mawar, gak usah kita tunjuk kan kalau kita tahu belangnya. Yang jelas kita harus hati hati." Ujarku pelan di telinga Mawar.


"Aku baru sampai, ini rencananya mau ke rumah jemput barang barang." Ujar Akram dengan senyum menyungging sempurna. Tangannya bergerak cepat, meraih keranjang yang ada di tengah motor.


Aku tak manyahuti ucapannya. Bahkan aku tak menatap nya saat bicara. Ingin rasanya kuusir saja. Malas berurusan dengan manusia munapik.


"Kalian kenapa? dari tadi diam terus?" tanya Akram dengan wajah cerianya, menatap ku dan Mawar secara bergantian.


Aku tak menggubris ucapan Akram. Sedangkan Mawar terlihat Ingin bicara. Tapi, ku cegah Mawar saat ingin bicara. Karena jika mawar menanyakan semua nya pagi ini, bisa bisa terjadi perdebatan. Cekcok di pagi hari, bisa membuat rezeki kabur.


"Eemmm.... Kalian marah ya? atau kangen ya..?" gak henti hentinya Akram menggoda kami, agar mau buka suara.


"Penasaran ya bang? tunggu saja nanti, ada waktu yang tepat, kami jawab pertanyaan abang. Sekarang kita kerja, kerja..!" ujar Mawar kesal pada Akram.


"Oouuww... Gitu, baik lah!" ia menyampirkan serbet ke bahu nya. Akram kini masuk ke dapur, bergabung dengan bibi Romlah memasak.


Di dapur ku dengar Bi Romlah dan Akram, bicara santai, tapi serius. Tapi, aku tak bisa mendengarkan semua yang mereka bicara kan. Hanya sewaktu ke dapur, mengambil barang yang perlu, aku mendengar pembicaraan mereka.


"Akram, sudah bagaimana keadaan orang tuamu?" aku yang sedang ambil gula, sengaja berhenti. Ingin menguping pembicaraan Akram dan Bi Romlah. Bi Romlah, tetap bersikap seperti biasa pada Akram. Karena Bi Romlah, itu punya jiwa yang tenang dan selalu berfikir positif.


"Masih sakit Bi. Tapi, sudah mau makan." Sahut Akram ramah.


Aku gak mau menguping lagi. Mending nanti sore. aku tanya kan semua nya secara langsung padanya. Aku pun kembali ke depan, dengan tangan membawa gula.


Akram, menata makanan di etalase. Pukul 10 pagi, pembeli sudah mulai berdatangan. Ia pun mulai sibuk melayani pembeli. Langganan banyak yang menanyakan kenapa Akram gak kerja semalam. Dengan ramahnya ia menjawab semua pertanyaan pelanggan. Suasana warung kembali semarak dengan kehadiran Akram.


Pukul dua siang, dagangan ludes semua. Kembali Akram menggoda kami.


"Huuuuuuuhhh... Aakkhhhh... Aaiiisshh...!" Sound dari tok tok, menarik perhatian. Ternyata Akram sedang main tik tok. Ia sedang membuat Vote, dirinya yang sedang minum juice jeruk dingin.

__ADS_1


"Haaahh... Abang ada Tok tok juga?" Mawar yang kecanduan main Tok tok, langsung heboh mendekati Akram. Ia lupa sudah, kalau semalam hingga pagi tadi ia sempat benci Akram.


"Ya adalah."


Ku lirik Akram dan Mawar yang kembali Akrab Bahkan mereka sudah saling follow.


"Iihh... Votenya Abang kren kren loh!"


Aku pura pura sibuk menghitung uang. Padahal menguping pembicaraan mereka. Dasar Mawar munafik juga. Gak bisa dipegang kata katanya. Kemarin dia kesal kali sama Akram. Lah gara tok tok, ia lupa dengan Sumpah serapahnya sama Akram.


"Loh, loh.... Ini vote abang di mana? kek kenal ini tempat?" tanya Mawar kepo, ia melirikku sekejap. Aku gak mau kepo dengan apa yang mereka bahas.


"Ini tempat Abang dulu kerja. Sebelum abang putuskan berhenti." Kulirik Akram yang bicara. Ternyata ia juga sedang menoleh ke arahku. Cepat cepat ku paling kan muka. Malas lihat muka munafiknya.


"Abang berhenti kerja kenapa? tanya mawar serius kepada Akram. Mawar tak berkedip menatap wajah tampannya Akram.


"Enggak apa-apa bosan saja aku mau buka usaha sendiri gitu mau Mandiri." Ujar Akram, kembali melirikku, sangat jelas terlihat mimik wajahnya Akram. Kalau dia malas bicara dengan Mawar.


" Oh itu, itu semalam di sini datang loh cewek yang namanya kak Yuli. Si Pelakor, Katanya dia kenal sama Abang." Akram terlihat terkejut dengan ucapan Mawar. Wajahnya tegang sudah saat ini. Tatapannya yang tadi ringan, kini terlihat berat dan berkabut. Kalau ia nampak sedih melihatku. Akunya malah menantang tatapannya itu.


"Di sini kan ada rokok Bang." Sahut Mawar.


Akram yang sudah melangkah, berbalik badan. "Ia maksudnya aduh itu, mau beli pulsa." Jawabnya dengan ekspresi wajah tegangnya. Akram pun pergi meninggalkan aku dan Mawar. Dengan bingungnya mawar menghampiriku.


"Kamu pulang duluan ya Dek. Tolong bawakan ini ember." ujarku pada mawar, menyodorkan ember warna merah pada mawar.


"Kak, itu abang Akram kenapa ya?" tanya Mawar.


"Mana kak tahu, kamu ya Mawar. Katanya benci si Akram. Ehhh kamunya malah kompak dengannya." Ujarku kesal pada mawar.


"Oohh.. Iya, hadeuhh.. Gara garaTok tok lah ini." Sahutnya nyengir kuda.


"Sudah sudah sana kamu pulang bawa embernya." Aku harus cepat mengusir Mawar. Hari ini aku harus dapat penjelasan dari Akram.


" Oke kak." Jawabnya, meraih ember merah di atas meja kasir.


Aku ingin membahas mengenai yang diucapkan oleh Juli tentang Akram makanya aku meminta mawar pulang terlebih dahulu

__ADS_1


10 menit kemudian Akram pun datang seperti biasa dia selalu tersenyum jika melihatku. Aku yang masih kesal padanya menampilkan ekspresi masam. Dan dya terus tersenyum. Sepertinya dia sudah tahu bahwa dia itu salah.


"Pasti ada yang perlu dibicarakan denganku?!"


Ya ampun ini cowok, tahu aja apa yang ada dibenakku.


"Perasaanku mengatakan ada hal yang tidak beres makanya aku pulang ke sini padahal keadaan orang tuaku masih sakit, penjagaan masih perlu." ujarnya dengan wajah sendu aku pun jadi tidak tega melihatnya. "Seandainya Ayah tidak sakit aku tidak akan pulang semalam. Karena aku ingin menjelaskan sesuatu hal penting padamu. ku bela-belain bergerak subuh tadi agar aku sempat menjelaskan sesuatu yang penting itu padamu, Sebelum informasi itu kau dapat dari orang lain."


Aku menatapnya lekat. Ku biarkan dia bicara sepuasnya Aku ingin mendengarkan apa yang akan jelaskannya padaku.


"sikapmu hari ini membuatku sangat yakin akan hal itu. Apakah Juli menemuimu?" tanyanya dengan begitu penasarannya.


"Iya." jawabku cepat.


Iya kembali menunduk takut menatap mataku yang penuh kesal padanya.


" Kamu sebenarnya siapa sih? Kenapa kamu bilang aku yang menabrak kamu saat kecelakaan itu. kenapa kamu mau menghabiskan uang untuk aku berobat? kenapa kamu tetap bertahan di sini? Kenapa kau mau tinggal di sini?" cecarku dengan begitu begitu banyaknya pertanyaan beruntun, menunjuk-nunjuk Akram yang masih menunduk.


"Aku sudah tahu kamu siapa. Juli sudah menceritakan semuanya. Apa sih maumu?"


Akram masih menunduk dia terlihat murung penuh penyesalan besar di wajahnya. Aku jadi sedikit kasihan malihatnya. Benarkah dia tidak salah? benarkah dia tidak seburuk yang dikatakan Juli.


"Kenapa diam? kamu sebenarnya siapa? Kenapa kau mau mengeluarkan uang untuk pengobatanku? Kalau benar aku yang menabrak kamu."


Dia tetap terdiam masih menunduk.


" jahat kamu, Kamu jahat, aku tak menyangka kau tega melakukan ini padaku? apa salahku? Kenapa kau minta Si Juli merayu suamiku? gara-gara ucapanmu itu gara-gara pertarunganmu itu gara-gara permainan itu, aku harus menderita seperti ini. Kamu sebenarnya siapa?" tanya aku dengan berderai air mata, sungguh hatiku bergetar hebat, ketakutan. Saat mengatakan semua hal yang bercokol di hatiku tentang Akram yang tidak jelas identitasnya. Tentang Akram yang misterius


kali ini dia mengangkat wajahnya menatapku


sendu penuh penyesalan. "Maaf kalau menurutmu aku lah penyebab hancurnya rumah tanggamu. Kalau aku menceritakan semuanya, aku yakin kamu tak akan percaya karena memang aku salah. Tak seharusnya aku melakukan itu." Ujarnya dengan penuh penyesalan.


"Jadi benar kamu membuat taruhan itu? kenapa?"


" karena aku benci pada suamimu. aku dendam padanya. Ia menyakiti perasaanku. dia merendahkanku. Siapa yang mau dikatakan impoten. Dia harus merasakan sakit, dia harus merasakan kehancuran seperti hancurnya hidupku. kamu tahu? ia menghinaku." Wajah putihnya Akram memerah sudah karena emosi.


TBc

__ADS_1


__ADS_2